Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan Palu dan Takdir yang Kembali
Ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dipenuhi oleh sesak gema bisik-bisik dari puluhan awak media, praktisi hukum, dan masyarakat yang mengawal kasus hukum paling menggemparkan di industri hiburan tanah air.
Di kursi terdakwa, Maya duduk kaku. Tidak ada lagi blazer merah menyala, gaun desainer mahal, atau kacamata berbingkai emas yang memancarkan aura dominasi. Wanita itu kini mengenakan kemeja putih polos dengan rompi tahanan berwarna oranye. Rambut bob-nya yang biasa tertata presisi tampak agak kusam, dan wajah cantiknya terlihat pucat dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata.
Di barisan kursi pengunjung terdepan, Ajo duduk berdampingan dengan Elsa. Tangannya menggenggam erat jemari Elsa, menyalurkan kehangatan yang menenangkan. Di sebelah mereka, Adam tampil rapi dalam setelan jas yang kembali klimis, didampingi Jimi dan Rina. "Tiga Jenderal" duduk bersanding di garis depan, menyaksikan puncak dari perjuangan mereka menyapu bersih benalu masa lalu.
Ruang sidang mendadak hening seketika saat Ketua Majelis Hakim mengetukkan palu kayu tiga kali.
"Sidang perkara tindak pidana atas nama Terdakwa Maya dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Ketua Majelis Hakim dengan suara berat nan berwibawa yang bergema di seluruh sudut ruangan.
Hakim Ketua membetulkan letak kacamatanya, lalu membacakan berkas putusan setebal ratusan halaman. Rincian pasal dan fakta persidangan dibacakan secara lugas tanpa cela:
"Menyatakan Terdakwa Maya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana berantai: peretasan sistem elektronik, pemalsuan dokumen hak cipta, manipulasi keuangan dan tindak pidana pencucian uang, penyebaran fitnah secara masif melalui media massa, serta permufakatan jahat melakukan perusakan aset tanah dan pembakaran kebun..."
Setiap kata yang diucapkan Hakim menusuk ulu hati Maya bagai sembilu. Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, jemarinya yang terborgol saling mencengkeram erat di atas pangkuan.
"Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Maya dengan pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun," tegas Ketua Majelis Hakim, membuat gema gumaman kaget dan helaan napas lega memecah keheningan ruang sidang.
Hakim melanjutkan dengan ketukan palu yang kian mantap. "Menghukum Terdakwa untuk mengembalikan seluruh aset, saham rumah produksi, dan hak cipta karya sepenuhnya kepada pemilik sah, yaitu Saudara Ajo dan Saudara Adam. Serta menghukum Terdakwa membayar denda dan ganti rugi materiil maupun immaterial sebesar 27 Miliar Rupiah kepada pihak korban."
TOK! TOK! TOK!
Ketukan palu sidang tiga kali menandai berakhirnya drama kelam yang telah menyiksa hidup mereka selama berbulan-bulan.
Isak tangis penyesalan akhirnya pecah dari bibir Maya. Saat petugas kejaksaan menggiringnya keluar dari ruang sidang menuju mobil tahanan, Maya sempat menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Ajo dan Adam yang berdiri di barisan depan. Tidak ada lagi dendam di mata kedua pria itu, hanya ada rasa iba dan ketegasan dari jiwa-jiwa yang telah terbebas dari rantai manipulasi. Maya menunduk pasrah, melangkah pergi menyongsong dinginnya dinding penjara selama satu setengah dekade ke depan.
Tiga bulan kemudian.
Gedung pusat rumah produksi Ajo-Adam Pictures di kawasan Jakarta Pusat kembali bergairah. Papan nama baru dipasang megah di dinding lobi utama, menandai kembalinya kepemilikan dan aset senilai puluhan miliar yang sempat direbut paksa.
Di lantai paling atas, ruang rapat utama dipenuhi oleh tawa dan pendar kebahagiaan. Ajo dan Adam kembali menduduki kursi pimpinan sebagai mitra kerja yang setara dan solid, dengan Jimi menjabat sebagai Direktur Operasional Perusahaan.
Bukan hanya kekayaan dan aset yang kembali utuh, tetapi reputasi Ajo, Adam, dan Elsa pulih sepenuhnya di mata publik nasional. Film Cinta Dua Batas yang dulu sempat dihentikan produksinya akibat skandal, kini resmi dirilis ulang dan memecahkan rekor sebagai film terlaris sepanjang sejarah bioskop tanah air.
Di sudut ruangan, Elsa berdiri anggun mengenakan gaun putih sederhana, menatap Ajo yang sedang tertawa lepas bersama Adam dan Jimi. Ajo melangkah mendekati Elsa, lalu menggenggam kedua tangan wanita itu di balik hangatnya pendar matahari sore yang menembus kaca jendela gedung.
"Terima kasih sudah tidak pernah menyerah padaku, Elsa," bisik Ajo dengan kelembutan yang teramat dalam, menatap lurus ke dalam manik mata jernih milik Elsa.
Elsa tersenyum, sebuah senyuman murni yang tak lagi dibayangi ketakutan atau topeng industri. "Langitku sudah kembali, Ajo. Dan aku tidak akan ke mana-mana lagi."
Di sebelah mereka, Adam sibuk mematut diri di depan kaca sambil memegang buket bunga mawar merah yang besar.
"Jo, Jim! Menurut kalian kemeja pink ini pas tidak kalau kupakai ke Gunung Salak sore ini?" tanya Adam heboh sambil salah tingkah sendiri. "Kata Juli kemarin dia suka warna cerah. Aku mau jemput dia dan warga desa untuk syukuran film kita!"
Ajo dan Jimi saling bertatapan, lalu tertawa lepas melihat kelakuan konyol sang sahabat yang mendadak menjelma menjadi pria kasmaran. Badai telah usai, luka lama telah sembuh, dan di atas puing-puing masa lalu yang runtuh, mereka akhirnya menemukan kedamaian, persahabatan sejati, dan cinta yang tak akan pernah goyah lagi.