NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:538
Nilai: 5
Nama Author: VeLynme

Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.

Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.

Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.

Melainkan kesepakatan.

Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.

Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.

Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?

Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Tidak Seharusnya Ada

"Dimas Pradipta."

Aruna membaca nama itu berulang kali.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Namun hasilnya tetap sama.

Nama itu tidak berubah.

Nama ayahnya.

Tangannya mulai gemetar hebat.

"Tidak..."

Suara itu keluar pelan.

Hampir seperti bisikan.

"Tidak mungkin."

Matanya kembali menelusuri isi surat.

Berharap ia salah membaca.

Berharap itu hanya kebetulan.

Namun tulisan tangan di atas kertas tua itu sangat jelas.

Sangat nyata.

Dan sangat menyakitkan.

Aruna mengangkat kepalanya perlahan.

Tatapannya langsung tertuju kepada Adrian.

"Ini palsu."

Suara Aruna terdengar dingin.

Lebih dingin daripada biasanya.

"Aruna—"

"Ini palsu."

Air mata mulai mengalir lagi.

"Katakan ini palsu."

Adrian terdiam.

Dan diamnya itulah yang paling menyakitkan.

Karena selama ini, setiap kali Adrian diam, selalu ada kebenaran buruk di baliknya.

"Aku sudah memeriksa surat itu berkali-kali."

Suara Adrian terdengar berat.

"Tulisan itu asli."

Aruna langsung berdiri.

"Tidak!"

Beberapa orang di taman menoleh.

Namun ia tidak peduli.

"Ayahku tidak mungkin melakukan itu!"

"Aku tidak pernah bilang dia pembunuhnya."

"Lalu kenapa namanya ada di sana?!"

Napas Aruna mulai memburu.

Dunia terasa berputar.

Seluruh hidupnya seakan sedang runtuh sedikit demi sedikit.

Adrian ikut berdiri.

"Aku belum selesai menjelaskan."

"Kalau begitu jelaskan!"

Tatapan Adrian berubah serius.

"Surat itu ditulis dua hari sebelum ibumu meninggal."

Aruna menggigit bibirnya.

"Dalam surat itu, ibumu mengatakan bahwa dia mulai curiga terhadap seseorang."

"Seseorang?"

Adrian mengangguk.

"Dan dia meminta ayahmu mencari bukti."

Aruna membeku.

Apa?

"Ayahku... mencari bukti?"

"Iya."

"Jadi dia bukan pelakunya?"

"Bukan."

Tubuh Aruna sedikit melemas.

Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik.

Karena Adrian melanjutkan kalimatnya.

"Tapi setelah ibumu meninggal, ayahmu menghilang selama tiga bulan."

Jantung Aruna kembali berdebar.

"Apa?"

"Dan saat dia kembali..."

Tatapan Adrian mengeras.

"...dia mengatakan kematian ibumu hanyalah kecelakaan."

Suasana menjadi sunyi.

Aruna mencoba mencerna semuanya.

Ayahnya mencari bukti.

Lalu ibunya meninggal.

Kemudian ayahnya menghilang.

Dan setelah itu...

Ayahnya menutup semuanya.

Kenapa?

 

Malam mulai turun.

Mereka kembali ke rumah Adrian.

Namun suasana terasa jauh berbeda.

Aruna hampir tidak berbicara sepanjang perjalanan.

Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Ia ingin mempercayai ayahnya.

Sangat ingin.

Namun terlalu banyak hal yang tidak masuk akal.

Sesampainya di rumah, Aruna langsung masuk ke kamar.

Ia duduk di tepi ranjang.

Menatap surat peninggalan ibunya.

Air mata kembali jatuh.

Ia merindukan ibunya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa begitu dekat dengan wanita yang telah meninggalkannya.

Namun di saat yang sama, ia juga merasa semakin jauh dari ayahnya.

Tok.

Tok.

Tok.

Pintu kamar diketuk.

Aruna tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka perlahan.

Adrian masuk.

Membawa segelas susu hangat.

"Kau belum makan."

"Aku tidak lapar."

"Kau harus makan."

"Aku tidak mau."

Adrian menghela napas.

Lalu meletakkan gelas itu di meja.

"Kau marah padaku."

"Bukankah itu jelas?"

"Aku bisa mengerti."

Aruna tertawa pahit.

"Bisakah?"

Tatapan mereka bertemu.

"Aku baru tahu ibuku dibunuh."

Air mata kembali muncul.

"Aku baru tahu ayahku mungkin menyembunyikan sesuatu."

"Sementara kau mengetahui semua ini selama bertahun-tahun."

Setiap kata yang keluar terasa seperti luka.

Dan Adrian menerimanya tanpa membela diri.

Karena ia tahu.

Aruna berhak marah.

Sangat berhak.

"Aku memang salah."

Aruna tidak menyangka mendengar itu.

"Apa?"

"Aku seharusnya memberitahumu lebih cepat."

Suara Adrian terdengar rendah.

"Tapi aku takut."

Untuk pertama kalinya Aruna melihat sesuatu yang jarang muncul di wajah pria itu.

Penyesalan.

Penyesalan yang nyata.

"Apa yang ditakutkan pria sepertimu?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Dan Adrian tersenyum tipis.

Senyum yang terasa sedih.

"Kehilanganmu."

Jantung Aruna langsung berdetak lebih cepat.

Suasana mendadak berubah canggung.

Mereka saling menatap beberapa detik.

Lalu Aruna segera memalingkan wajah.

"Aku sedang tidak ingin membahas itu."

"Baik."

Anehnya, Adrian tidak memaksa.

 

Sementara itu.

Di sebuah gudang tua di pinggiran kota.

Seorang pria duduk di kursi kayu.

Tangannya terikat.

Wajahnya tampak lelah.

Namun matanya masih tajam.

Pria itu adalah Dimas Pradipta.

Ayah Aruna.

Di depannya berdiri seseorang.

Pria bertubuh tinggi.

Mengenakan mantel hitam.

Wajahnya tertutup bayangan.

"Kau terlambat enam belas tahun."

Suara pria itu terdengar dingin.

Dimas menatapnya tanpa takut.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Aruna."

Pria itu tertawa kecil.

"Lucu."

"Dia tidak tahu apa-apa."

"Dan dia tidak akan tahu."

Pria misterius itu melangkah mendekat.

Senyumnya perlahan menghilang.

"Masalahnya..."

Tatapannya berubah tajam.

"...Adrian mulai membuka mulut."

Dimas langsung menegang.

"Apa yang kau lakukan?"

"Tidak banyak."

Pria itu mengangkat sebuah foto.

Foto Aruna.

"Lagipula, putrimu jauh lebih berguna daripada dirimu."

Darah di wajah Dimas langsung menghilang.

"Jangan sentuh dia."

"Kenapa tidak?"

Pria itu tersenyum.

"Sama seperti ibunya..."

Dimas langsung berusaha bangkit.

"Jangan berani-berani menyebut istriku!"

Namun dua orang penjaga segera menahannya.

Pria misterius itu justru terlihat puas.

Seolah menikmati kemarahan Dimas.

Kemudian ia berkata pelan,

"Besok pagi semuanya akan berakhir."

 

Keesokan harinya.

Aruna baru saja turun ke ruang makan ketika Rina berlari masuk dengan wajah panik.

"Nona Aruna!"

Aruna langsung berdiri.

"Ada apa?"

Rina tampak pucat.

Sangat pucat.

"Kami baru menerima paket lagi."

Jantung Aruna langsung berdebar.

Paket lagi.

"Isinya apa?"

Rina menelan ludah.

Kemudian menyerahkan sebuah flashdisk.

"Tuan Adrian sedang memeriksanya."

Tanpa berpikir panjang, Aruna langsung menuju ruang kerja Adrian.

Saat pintu terbuka, ia melihat Adrian sedang menatap layar laptop.

Wajah pria itu sangat gelap.

Sangat dingin.

Seolah baru melihat sesuatu yang mengerikan.

"Ada apa?"

Adrian tidak menjawab.

Ia hanya memutar layar laptop ke arah Aruna.

Dan dalam sekejap...

Seluruh tubuh Aruna membeku.

Karena video yang diputar memperlihatkan ayahnya.

Dimas.

Masih hidup.

Namun wajahnya penuh luka.

Dan di belakangnya berdiri seorang pria misterius.

Pria itu menatap kamera.

Kemudian tersenyum.

Lalu berkata,

"Jika kalian ingin melihat Dimas hidup..."

Pria itu berhenti sejenak.

Senyumnya semakin lebar.

"...datanglah ke tempat yang sama seperti enam belas tahun lalu."

Video terhenti.

Ruangan mendadak sunyi.

Namun yang membuat Adrian membeku bukan ancaman itu.

Melainkan sesuatu yang lain.

Sesuatu yang hanya ia sadari beberapa detik kemudian.

Pria dalam video itu...

Akhirnya memperlihatkan wajahnya.

Dan Adrian mengenalnya.

Sangat mengenalnya.

Karena pria itu adalah orang yang selama enam belas tahun dipercaya telah meninggal dunia.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!