NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Gedung Astralis yang Terkunci

Kabut tipis masih menyelimuti Akademi Aetherion ketika matahari mulai muncul dibalik pegunungan timur. Suasana pagi disana terasa begitu tenang, suara burung-burung sihir yang berterbangan di antara menara saling menyahut, berpadu dengan dentingan lonceng kecil yang tertiup angin.

Meski terasa tenang, namun ketenangan itu tidak berlaku bagi Aurelia, karena sejak kejadian kristal sihir yang pecah kemarin, ia hampir tidak bisa memejamkan matanya. Berkali-kali ia memikirkan tatapan para murid yang penuh keheranan, dan ia juga mengingat cahaya putih yang keluar dari tubuhnya.

“Sebenarnya aku ini apa?” Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

“Aurelia.” Suara Lyra membuyarkan lamunannya. Gadis berambut merah muda itu berlari kecil seraya membawa dua potong roti hangat. “Buat sarapan.” Lyra menyerahkan satu potong roti itu pada Aurelia.

“Terima kasih.” Balas Aurelia dengan ramah.

Keduanya duduk dibawah pohon besar dekat asrama. Para murid berlalu-lalang menuju gedung kelas masing-masing, sebagian masih mencuri pandang ke arah Aurelia, dan bisik-bisik kembali terdengar.

“Itu dia, gadis yang menghancurkan kristal.”

“Benar itu orangnya, aku dengar dia langsung masuk kelas khusus.” Bisikkan-bisikkan itu terdengar di telinga Aurelia, Aurelia hanya menundukkan kepalanya dan Lyra yang melihat itu langsung menghela napasnya pelan.

“Jangan dihiraukan, mereka itu cuma iri.”

“Kau selalu berhasil membuatku merasa lebih tenang.” Tutur Aurelia seraya tersenyum kecil.

“Itu karena aku temanmu.” Balas Lyra membalas senyuman Aurelia.

Jawaban sederhana itu membuat hati Aurelia terasa hangat, mungkin ditempat asing tersebut, ia tidak benar-benar sendirian. Tidak lama kemudian, seorang professor berjubah hijau datang menghampiri mereka, di dadanya tersemat lambang bintang emas.

“Aurelia Evandria?” Aurelia lekas berdiri saat professor tersebut menyebut namanya.

“Ya Profesor.”

“Kepala Akademi ingin bertemu denganmu.” Mendengar kalimat itu membuat Lyra langsung membelalakkan kedua matanya.

“Kepala Akademi?” Aurelia memastikan dan professor tersebut mengangguk singkat.

“Ikutlah denganku.” Pintanya dan jantung Aurelia kembali berdetak lebih cepat dari biasanya.

Sepanjang perjalanan menuju gedung utama, ia hanya bisa menebak-nebak alasan dirinya dipanggil. Apakah karena kristal yang ia pecahkan? Atau karena kejadian ditaman kemarin? Semua pikiran itu berkecamuk menjadi satu dipikiran Aurelia saat ini.

Lorong-lorong akademi terlihat tampak megah, dindingnya dipenuhi lukisan penyihir legendaris. Sementara langit-langitnya di hiasi rasi bintang yang terus bergerak perlahan seperti langit malam sungguhan.

Keduanya menaiki tangga spiral yang sangat tinggi, hingga mencapai lantai paling atas. Di ujung lorong hanya ada satu pintu besar berwarna putih, professor itu pun berhenti. “Kepala Akademi menunggumu didalam.” Aurelia mengangguk gugup dan perlahan ia mengetuk pintu.

“Masuk.” Suara berat namun lembut terdengar dari dalam dan Aurelia mencoba untuk membuka pintu tersebut.

Ruangan itu jauh lebih sederhana dari pada yang dibayangkan olehnya. Rak-rak buku memenuhi seluruh dinding, ada jendela besar yang menghadap ke arah pegunungan. Ditengah ruangan berdiri seorang pria tua berjubah putih dengan rambut panjang berwarna perak serta tatapan tajam tetapi penuh dengan ketenangan, ialah Kepala Akademi Aetherion.

“Aurelia. Silakan duduk.” Pria tua itu tersenyum tipis dan Aurelia menuruti perintahnya. Suasana mendadak hening, hanya suara jam tua yang terdengar berdetak pelan. “Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu?” Tanya pria tua tersebut.

“Tidak.” Aurelia menggeleng pelan. Kepala Akademi memandang langit dan mengambil posisi memunggungi Aurelia.

“Sudah berapa lama kau menggunakan liontin itu?”

“Sejak kecil.” Jawab Aurelia cepat, dan tanpa sadar tangannya langsung menyentuh liontin di lehernya.

“Siapa yang memberikannya?”

“Aku tidak ingat.” Jawaban Aurelia membuat pria tua itu menutup kedua matanya untuk sesaat, seolah jawaban itu sudah ia duga sebelumnya.

“Ingatanmu hilang sebelum usia enam tahun, bukan?” Aurelia membeku untuk sesaat.

“Itu benar.” Aurelia tampak bingung. Ia tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun di akademi, lalu bagaimana Kepala Akademi bisa mengetahuinya? Pria tua itu pun kembali tersenyum kecil.

“Ada banyak hal di dunia ini yang belum kau ketahui. Suatu hari nanti, kau akan mencari jawabannya sendiri.”

Setelah percakapan singkat itu, Kepala Akademi mengajak Aurelia berjalan keluar melalui pintu belakang. Keduanya berjalan melewati taman yang belum pernah ia lihat sebelumnya, semakin jauh mereka berjalan, suasana semakin terasa sunyi.

Disana tidak ada murid maupun professor, hanya pepohonan tua yang menjulang tinggi. Di ujung jalan batu berdiri sebuah bangunan besar yang dipenuhi tanaman rambat, bangunannya tampak kuno dan sebagian dindingnya retak dimakan usia, serta di atas pintunya terukir lambang bintang berujung tujuh.

Gedung Astralis

Aurelia kembali terpaku, itu adalah gedung yang disebut oleh Profesor Cedric kemarin, gedung yang sudah puluhan tahun tidak digunakan. “Apa aku akan belajar disini?” Tanya Aurelia penasaran dan Kepala Akademi mengangguk pelan.

“Mulai minggu depan kau akan mulai belajar.”

“Tapi, kenapa gedung ini kosong?” Pria tua itu tidak langsung menjawab, ia hanya memandang pintu besar yang tertutup rapat.

“Dulu ada seseorang yang belajar disini, hanya satu orang dan dia adalah penyihir paling kuat yang pernah dimiliki oleh akademi.” Pria itu menerangkan dan Aurelia secara spontan menelan ludah.

“Lalu sekarang dia dimana?” Tatapan Kepala Akademi langsung berubah.

“Sudah lama menghilang.” Jawabnya.

Tanpa sadar ia melangkah mendekati pintu, tangannya terangkat perlahan, begitu ujung jarinya menyentuh permukaan batu, cahaya putih menyebar dari telapak tangannya. Ukiran bintang dipintu mulai bersinar, seluruh tanah bergetar pelan.

Brummm…

Tanaman rambat yang menutupi gedung perlahan layu dan terlepas satu per satu. Debu-debu tua berterbangan ke udara, Kepala Akademi pun sampai membelalakkan kedua matanya, segel yang selama puluhan tahun tidak pernah bereaksi itu kini akhirnya terbuka.

Klik~ pintu rakasasa itu bergerak perlahan, suara gesekan batu memenuhi udara, celah kecil terbuka di antara kedua daun pintu dan dari dalam keluar cahaya lembut berwarna keperakan. Aurelia mundur beberapa langkah.

“Aku… aku tidak melakukan apa-apa.” Ujar Aurelia dan Kepala Akademi tidak langsung menjawab, tatapannya justru dipenuhi kekhawatiran. Ia tahu, hanya satu garis keturunan yang mampu membuka gedung Astralis dan gadis itu baru sja membuktikannya.

Di waktu yang bersamaan, dari balkon menara timur, seorang pemuda berjubah hitam menyaksikan semuanya—Orion. Angin menerbangan rambut hitamnya, mata abu-abunya tidak pernah lepas dari sosok Aurelia dan ia perlahan mengepalkan kedua tangannya.

“Segelnya terbuka, itu benar-benar lebih cepat dari yang seharusnya.” Kini, seorang pria tua yang berdiri dibelakangnya ikut menatap ke arah gedung Astralis.

“Kau harus menjauh darinya.” Ucapnya dan Orion langsung menggeleng pelan.

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?” Tanyanya penasaran.

Tatapan Orion kini berubah menjadi lembut, karena dibalik bayangan masa lalu, ia masih mengingat seorang gadis kecil yang menangis sambil menggenggam tangannya. Gadis yang pernah berjanji akan bertemu lagi dengannya, meski kini gadis itu bahkan tidak mengingat namanya. Kemudian, Orion menatap langit yang dipenuhi awan putih.

“Kali ini, aku tidak akan terlambat.”

Sementara itu, tepat di depan gedung Astralis, Aurelia masih berdiri memandangi pintu yang perlahan terbuka. Tanpa ia sadari, dibalik kegelapan gedung tua itu, terdapat sebuah ruangan yang selama puluhan tahun tertutup rapat.

Di tengah ruangan tersebut, sebuah tongkat sihir berwarna perak mulai memancarkan cahaya untuk pertama kalinya sejak dua dekade terakhir, seolah tengah menyambut kepulangan pemilik sejatinya.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!