NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8

Pada akhirnya, mereka memutuskan menunggu di lantai bawah. Cafe yang beberapa jam lalu dipenuhi pelanggan kini hampir sepenuhnya sepi.

Lampu-lampu hangat masih menyala, namun suasananya jauh berbeda dari sebelumnya. Musik telah berhenti, sebagian besar staf juga mulai membereskan meja, dan area parkir yang semula penuh kini hanya menyisakan deretan mobil mewah milik mereka.

Waktu terus bergulir. Hingga menjelang dini hari. Sebuah sosok akhirnya muncul dari kejauhan. Seorang gadis. Ia berjalan cepat menuju kafe dengan napas yang nyaris habis.

Rambut panjangnya yang lembut sedikit berantakan tertiup angin malam, sementara langkahnya tampak terseok-seok.

Begitu menyadari kedatangannya, semua yang semula duduk langsung berdiri.

Riven menjadi orang pertama yang melangkah maju keluar dari ruangan cafe yang penuh dengan kaca setinggi bangunan sampai ke atas, Riven pun menghampiri gadis itu.

“Maaf…” ucap gadis itu di sela-sela napasnya yang tersengal. Ia meletakkan satu tangan di dada, berusaha mengatur pernapasannya. Keringat mengucur deras di pelipisz

“Sulit sekali menemukan kendaraan umum selarut ini.” Kata gadis itu meraup udara.

Tatapan Riven turun ke bawah. Ke arah kedua kaki gadis itu. Kulit di bagian belakang tumitnya tampak memerah dan sedikit lecet akibat gesekan sepatu hak tinggi yang dikenakannya.

Entah sejak kapan, kening Riven mengerut tipis. Ada perasaan tidak nyaman yang muncul begitu saja melihat kondisinya.

“Riv?” Suara Jack terdengar dari sampingnya. “Bagaimana?” Tanya Jack sembari menepuk punggung sahabatnya.

Riven belum sempat menjawab.

“Oh, iya…” Gadis itu seolah baru teringat sesuatu. Ia segera mengulurkan sebuah dompet dan ponsel. “Ini milikmu.”

Riven menerimanya.

“Aku baru menyadarinya saat hendak membawa bajumu ke laundry.” Napasnya masih belum sepenuhnya stabil. “Silakan periksa dulu. Aku tidak membuka dompet ataupun ponselmu.”

Riven hanya melirik sekilas barang-barang tersebut sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam saku.

Lalu ia menoleh ke arah Zayn dan yang lainnya.

“Bagaimana?” tanya Zayn yang berjalan mendekat.

Riven mengangguk pelan. Tanpa mengatakan apapun, dan kode itu sudah cukup untuk memberikan mereka pernyataan. “Tidak ada masalah.”

Melihat itu, suasana yang sempat tegang langsung mencair.

“Syukurlah.” Gavin meregangkan tubuhnya. “Kalau begitu aku pulang dulu.”

“Aku juga.” Sahut Kenzio. “Besok masih harus bekerja.”

Satu per satu mereka mulai berpamitan.

Jack yang membawa celemek, lalu memakainya dan menepuk bahu Riven. “Aku harus membantu staf membereskan sisa acara.” Kemudian matanya sempat melirik ke arah gadis yang masih berusaha mengatur napas tersebut. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Jangan pulang terlalu pagi.”

“Pergi sana,” balas Riven datar.

Jack tertawa sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam kafe.

Tak lama kemudian, area parkir yang luas itu mulai kosong. Mobil-mobil mewah satu per satu meninggalkan lokasi. Hingga akhirnya hanya tersisa Riven dan gadis itu. Malam terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara angin dan gemerisik dedaunan yang sesekali terdengar. Riven menatapnya beberapa saat.

“Kau berlari ke sini?”

Gadis itu tampak sedikit malu. “Tidak sepenuhnya.”

“Hmm?”

“Aku berjalan cukup jauh sampai ke kota sebelum akhirnya menemukan kendaraan, namun hanya itu yang tersisa.

Riven mengangguk pelan. “Tidak ada kendaraan umum jam segini.”

“Ya.” Jawaban gadis itu terdengar sederhana.

Namun entah mengapa membuat Riven kembali melirik pada kedua kaki gadis itu yang tampak memerah dan lecet.

“Siapa namamu?” Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Riven menanyakan hal itu. Sesuatu yang selama hidupnya belum pernah ia lakukan pada satu wanita manapun.

Gadis tersebut yang sedari tadi sedikit membungkuk karena kelelahan perlahan menegakkan tubuhnya. Lalu menatap Riven.

”Angelina Angie.” Suaranya kini terdengar jauh lebih stabil. Lembut. Jernih. Dan entah kenapa, sangat nyaman didengar. Tatapan mereka saling bertemu. Untuk sesaat. Hanya sesaat. Namun cukup untuk menghadirkan keheningan yang terasa aneh bagi keduanya.

Riven adalah orang pertama yang mengalihkan pandangan. Matanya kembali jatuh pada kaki Angie. Kemudian ia berjalan dan membuka pintu mobil BMW miliknya.

“Angelina.”

“Ya?”

“Aku akan mengantarmu pulang.”

Mata Angie langsung membesar. “Apa?”

“Sudah larut malam.” Riven berbicara dengan tenang. “Kakimu juga tidak dalam kondisi yang baik untuk berjalan jauh.”

“A-ah, tidak perlu.” Angelina buru-buru menggeleng.

“Aku bisa berjalan pelan-pelan.”

“Ini sudah lewat tengah malam.” Nada suara Riven tetap datar. Namun ada ketegasan yang sulit dibantah. “Tidak ada kendaraan umum. Dan aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian dalam keadaan seperti itu.”

Angelina terdiam.

“Di mana rumahmu?” Riven berdiri di samping mobil sambil tetap memegangi pintu yang telah dibukanya untuk gadis itu. Sikapnya tenang. Seolah keputusan itu adalah hal yang paling wajar di dunia.

Sementara Angelina hanya bisa berdiri mematung beberapa langkah darinya. Angin malam mengibaskan beberapa helai rambut panjangnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap pria itu tanpa berkedip. Pria yang baru ia lihat beberapa jam lalu. Pria yang sejak awal terlihat dingin dan terlihat sulit didekati, membuat jiwanya tergelitik untuk menyelami.

Namun, baru mengenalnya beberapa detik, ternyata pria di hadapannya diam-diam suka memperhatikan hal-hal kecil yang membuatnya terhibur.

Perlahan sudut bibir Angie terangkat. Senyum kecil yang sarat makna.

“Kalau begitu…” Ia melangkah mendekat.

“Panggil saja aku Angie.”

Suaranya terdengar lembut. Tatapannya bertahan beberapa saat pada wajah Riven.

“Aku lebih suka dipanggil begitu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Riven merasa bahwa nama tersebut memang cocok untuk gadis cantik yang berdiri di hadapannya. Gadis berambut panjang dengan tubuh yang ramping.

“Aku Riven.” Keadaan hening sejenak. Lalu Riven kembali membuka obrolan.

”Angie. Masuklah.” Perintah Riven.

Pada akhirnya, Angie menerima tawaran itu.

Dengan sedikit ragu, gadis tersebut melangkah mendekati BMW hitam yang terparkir di depan kafe. Sesaat ia menatap kendaraan mewah itu sebelum perlahan masuk ke dalam.

Pintu tertutup pelan. Beberapa detik kemudian, Riven menyusul masuk ke kursi pengemudi. Mesin mobil menyala dengan suara halus. Tak lama kemudian, mobil itu bergerak mundur meninggalkan area parkir.

Dari dalam kafe, Jack yang sedang membantu para staf membereskan sisa acara sempat melihat mobil sahabatnya melaju keluar dari halaman.

Sorot matanya mengikuti kendaraan tersebut beberapa saat. Kemudian ia kembali bekerja setelah mobil menghilang.

Sebagai pemilik kafe, Jack memiliki kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak membuka cabang pertamanya. Setelah tutup operasional, ia selalu memeriksa semuanya sendiri.

Mulai dari laporan keuangan harian, stok bahan baku, hingga rekaman CCTV.

Baginya, detail-detail kecil sering kali menjadi pembeda antara bisnis yang bertahan dan bisnis yang gagal.

Hampir satu jam kemudian. Kafe sudah benar-benar sepi. Sebagian besar staf telah pulang. Hanya tersisa beberapa lampu yang masih menyala di area kantor lantai atas. Jack duduk di depan meja kerjanya.

“Astaga lelahnya… Tapi hati ini sangat spesial.” Kata Jack mengingat bahwa ia bisa berkumpul lagi dengan sahabat-sahabatnya.

Di hadapannya terdapat tumpukan laporan harian yang baru saja diserahkan staf. Sesekali ia membaca laporan tersebut sambil memutar rekaman CCTV di layar komputer. Kebiasaannya sederhana. Memastikan tidak ada masalah yang terlewat selama operasional berlangsung.

Awalnya semua terlihat normal.

Hingga tanpa sengaja pandangannya jatuh pada rekaman area VIP lantai dua. Keningnya berkerut. Ia teringat percakapan dengan Riven beberapa jam lalu.

Tentang seorang gadis yang menabraknya hingga kopi tumpah ke seluruh kemejanya. Rasa penasaran membuat Jack menghentikan rekaman.

Bersambung

1
Hanima
Lanjut Rivvv
Hanima
😍😍
evanindia
paham, paham tpi d blkang lain lagii nihh c angie....
evanindia
iya wajar klo loyal am adek sndri mh....
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
afifah
Seru
evanindia
panggilan utk kaka.a luar biasa nii elana 😄
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor
wiliss
salting kk?
wiliss
😅😅
wiliss
perhatian bgt ya riv...
Rudy satria
nama "musang"begitu cocok untuk riven emak kelakuannya kaya musang🤣🤣🤣
Rahmat Soiku: bls apaan sih g terbaca dilayar hp
total 11 replies
Rudy satria
antara Maruk dan rakus beda dikit ya Riv,tapi entah kenapa dari awal nggk respek Ama pasangan yang satu ini,bang author bisa nggk sih di ganti alurnya tentang Gavin dengan cwe yang di jodohkan 😔😓
evanindia: wow baru tau gue sejak kapan dy ilang arah 🤣
total 26 replies
Rudy satria
boleh nggk si bilang" KAMU ITU MURAHAN RIF DUAKALI KETEMU DI RAYU DIKIT LANGSUNG BILANG SAYANG" kesel aku😓
afifah: aku mengakak so hard denger kata murahan🙏🤣
murahan itu kalau gonta ganti pasangan terus cowo nya mokondo miskin . ini gentle gini dikata murahan. tolong ya allah lulusan apa kak sskolahnya? 🙏🙏🙏
lagi pula ini cerita tidak tahu alurnya di percepat atau nggak. terus kalau boleh tanya kenapa lama kelamaan komenn nya nggak nyambung dan nggak mutu? nggak berdasar 🥲
total 4 replies
wiliss
merasa di cintai bgt sm riven aku klo jd angie
wiliss
😋😘😘😘😘
wiliss
gk papaa bang santae aja
Hanima
Lanjuttt
evanindia
Riven kerja² jgn kokopan trus am angie 🙊🙊
evanindia
ps tmen q juga samaa wehh 0 4x 😵😵😵
Hanima
🔥🔥
Hanima
Lanjut Akak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!