Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Benteng Pertahanan
Deru angin malam yang menusuk tulang perlahan berganti dengan keheningan saat motor matic milik Arka membelah jalanan kota yang mulai sepi. Setelah memastikan jarak mereka sudah cukup jauh dari sirkuit balap liar tempat Gavin berada, Arka memutuskan untuk membelokkan setang motornya menuju pelataran parkir sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam.
Arka mematikan mesin motor, lalu turun tanpa melepaskan pandangan matanya dari Kayla. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia melangkah masuk ke dalam minimarket dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua botol air mineral dingin di tangannya.
Cowok itu duduk di salah satu kursi besi yang disediakan di teras minimarket, lalu mengentakkan botol air itu ke atas meja kayu di depan Kayla. Amarah yang sejak tadi ia tahan di sirkuit akhirnya tidak bisa dibendung lagi.
"Lo bener-bener gila ya, Kay?!" omel Arka, suaranya naik satu oktav, menembus kesunyian malam. "Bisa-bisanya lo kepikiran buat pergi ke tempat kayak gitu sama cowok kayak Gavin? Lo tahu gak, kalau tadi gue telat semenjak beberapa menit aja, cowok-cowok berandalan di sana bisa aja ngelakuin hal buruk sama lo! Tempat itu bahaya, Mikayla! Lo mikir gak sih?!"
Arka tidak berhenti. Ia terus mengeluarkan kekesalannya, menceramahi ketidaksabaran dan kecerobohan Kayla yang dianggapnya sudah kelewat batas. Sepanjang Arka meluapkan amarahnya, Kayla hanya diam mematung di atas kursinya. Ia tidak membalas, tidak membentak balik, bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari ujung sepatunya yang kotor terkena debu jalanan.
Namun, omelan Arka perlahan-lahan mereda saat ia menyadari bahu Kayla mulai bergetar. Cowok itu menghentikan kalimatnya, menatap lekat-lekat pada kepala Kayla yang tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut panjangnya yang berantakan.
"Ka..." suara Kayla terdengar sangat lirih, nyaris tenggelam oleh deru angin malam.
Arka terdiam, memasang telinganya tajam-tajam.
"Kayanya... bokap gue mau nikah lagi," ucap Kayla akhirnya. Kalimat itu meluncur begitu saja, memecah keheningan di antara mereka.
Mendengar pengakuan tiba-tiba itu, Arka seketika membeku. Kata-kata ceramah yang sudah tersusun rapi di kepala dan kerongkongannya menguap begitu saja tanpa bekas. Ia menatap Kayla dengan tatapan tidak percaya, tidak tahu harus merespons apa atas berita sebesar itu.
Kayla perlahan mengangkat kepalanya, memperlihatkan kedua matanya yang sudah memerah dan berkaca-kaca. "Gue... kayaknya bakal kehilangan bokap gue deh, Ka. Setelah sebelumnya gue harus dipaksa kehilangan nyokap," tambah Kayla. Kali ini, seiring dengan kalimatnya yang terputus, setetes air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos begitu saja, membasahi pipinya yang pucat.
Melihat air mata itu, hati Arka mendadak mencelos. Rasa marah yang membakar dadanya beberapa menit lalu kini sirna, digantikan oleh rasa iba dan sesak yang teramat sangat.
"Apa gue salah ngelakuin semua ini, Ka?" tanya Kayla lagi, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang mulai mendesak keluar dari tenggorokannya. "Gue cuman mau keluarga gue utuh lagi kayak dulu. Gue cuman pengen pulang ke rumah yang ada Mommy sama Papih di dalamnya. Apa... apa permintaan gue itu terlalu berat buat mereka?"
Kayla mencengkeram ujung jaket hoodie-nya dengan sangat erat, meluapkan seluruh rasa frustrasi yang selama tiga tahun ini ia kunci rapat di dalam hatinya.
"Tapi... bokap gue malah ngajak orang asing masuk ke kehidupan dia, dan secara gak langsung memaksa orang itu masuk ke hidup gue juga," lanjut Kayla, tangisannya kini pecah sepenuhnya. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi. "Gue marah, Ka! Gue kecewa banget sama Papih! Gue benci situasi ini! Lo... lo bisa paham posisi gue gak sih?!"
Pada titik ini, emosi Kayla yang sudah ia bendung sejak melihat sosok Hesti di ruang tamunya tadi siang benar-benar meledak tak tertahan. Tembok es yang selama ini ia bangun di depan semua orang di sekolah, pertahanan kokoh yang membuatnya dikenal sebagai 'si jutek' yang angkuh, runtuh seketika di hadapan Arka.
Kayla tahu, hanya di depan cowok inilah ia bisa melepaskan seluruh topengnya. Karena hanya Arka yang paling mengetahui bagaimana cerianya seorang Mikayla dulu. Arka adalah saksi hidup saat masa-masa SMP mereka, di mana Kayla masih menjadi gadis penceria yang selalu tertawa lepas karena keluarganya masih utuh, hangat, dan bahagia.
Arka menatap gadis di hadapannya dengan pandangan mata yang melembut, dipenuhi rasa hangat dan perlindungan. Tanpa memedulikan botol air mineral yang mulai mengembun di atas meja, Arka menggeser kursinya hingga merapat ke sebelah Kayla.
Tanpa ragu, Arka mengulurkan kedua lengannya, menarik tubuh mungil Kayla ke dalam dekapannya. Ia membawa kepala Kayla bersandar di bahunya, membiarkan jaket denim gelapnya basah oleh air mata sahabatnya itu. Tangan kanannya bergerak perlahan, menepuk-nepuk punggung Kayla dengan gerakan teratur, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia miliki.
"Gue paham, Kay. Gue paham banget," bisik Arka lembut, tepat di samping pelipis Kayla. "Maafin gue karena tadi udah ngomelin lo. Gue cuma panik karena takut lo kenapa-napa."
Kayla tidak menjawab, ia hanya menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Arka, menumpahkan seluruh rasa sakit hati, rindu pada ibunya, dan rasa dikhianati oleh ayahnya lewat tangisan yang terdengar begitu memilukan di bawah remang-lampu minimarket malam itu.
Arka membiarkan Kayla menangis sepuasnya, membiarkan gadis itu mengeluarkan seluruh racun di dalam dadanya. Di dalam hati, Arka berjanji, apa pun yang akan terjadi di masa depan—baik itu kehadiran Hesti di rumah Kayla maupun gangguan dari Gavin di sekolah—ia akan tetap menjadi tempat bersandar pertama bagi Mikayla, menjaga sisa-sisa senyuman gadis itu agar tidak hilang sepenuhnya.