Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.
—
Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.
Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.
—
5 Tahun setelah Tragedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Perjalanan Menuju Hutan Nacht
Sosok yang berjalan keluar dari balik kabut fajar itu mengangkat kedua tangannya ke udara, menyunggingkan senyum lebar yang terlihat teramat santai.
"Hey, tenanglah... Aku di sini untuk memberikan sesuatu sebelum kalian berangkat," ujarnya dengan sedikit nada candaan, seolah tidak terganggu oleh hawa waspada yang diarahkan padanya.
"Senior Nolan?" bisik dua saudara Vynloc kompak, langsung mengenali wajah salah satu anggota elit lingkaran dalam putra mahkota tersebut.
Mengetahui bahwa sosok itu adalah bagian dari faksi elit senior, mereka berempat pun perlahan menegakkan tubuhnya kembali, mencoba membuat pembawaan mereka menjadi lebih rileks agar tidak terlihat terintimidasi. Namun, begitu melihat Nolan melangkah maju dan mendekat secara khusus pada Elouis, tubuh mereka kembali menegang. Sepasang mata Kael, Kazel, Vincent, dan Eric menatap tajam setiap jengkal pergerakan sang senior.
"Kau membutuhkan alat komunikasi. Ini akan langsung terhubung dengan Ketua... Putra Mahkota Ludwig," ucap Nolan dengan nada bicara yang terdengar sangat ramah, hampir menyerupai seorang senior penyayang yang mengkhawatirkan keselamatan juniornya.
Dengan gerakan elegan, ia menjulurkan sebuah artefak sihir berbentuk cakram perak kecil bersenjata runcing ke hadapan Elouis.
"Ah, kau dapat menggunakannya bila terjadi sesuatu yang di luar dugaan. Misalnya..." Nolan menjeda kalimatnya, senyum ramah di wajahnya mendadak berubah menjadi sebuah seringai tipis yang sarat akan kelicikan yang dingin. "...terjebak, atau kehilangan para rekan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di dalam sana, benar kan, Lady Elouis?"
Kalimat provokatif yang dibungkus topeng perhatian itu seketika menghantam atmosfer di sekitar gerbang belakang. Kata-katanya bukan lagi sekadar peringatan, melainkan sebuah ancaman pembunuhan terselubung bahwa Ludwig telah menyiapkan skenario terburuk untuk menghabisi rekan-rekan Elouis di dalam hutan.
Hal tersebut langsung mengundang tatapan mata yang teramat tajam dan menusuk dari kelima orang di dekatnya. Seolah dalam satu petikan jari, hawa keberadaan mereka semua berubah drastis menjadi sedingin es abadi. Bahkan dua bersaudara Vynloc yang biasanya bertingkah konyol dan haus pujian, kini mengeluarkan aura beast-kin yang sangat pekat dan berbahaya—siap mencabik leher Nolan jika sang Lady memberikan perintah.
Eric di barisan belakang mengepalkan tangannya di balik jubah, mata elangnya berkilat haus darah. Mereka semua dihina secara terang-terangan sebagai beban yang akan mati dalam misi ini.
Di tengah kepungan hawa membunuh yang mencekam itu, Elouis tetap berdiri kokoh tanpa emosi. Mata peraknya menatap lurus pada artefak komunikasi di tangan Nolan, lalu perlahan beralih menatap tepat ke dalam manik mata sang senior elit.
Elouis tidak menunjukkan secuil pun keraguan atau rasa takut. Dengan gerakan yang teramat tenang dan anggun, ia mengulurkan tangan kirinya untuk menerima artefak perak tersebut. Namun, sebelum menarik tangannya kembali, Elouis sedikit mencondongkan tubuh kecilnya ke depan, mendekat tepat di samping telinga Nolan.
Di bawah kepungan kabut fajar yang dingin, Elouis berbisik dengan suara yang teramat pelan, namun setiap katanya terdengar sedingin belati yang menusuk langsung ke gendang telinga sang senior.
"Anda tahu, Senior... hal remeh seperti ini akan mengganggu Anda ke depannya. Karena setelah kami kembali... semuanya akan berbeda."
Setelah membisikkan kalimat mengerikan itu, Elouis menarik kembali tubuhnya dan melangkah mundur dengan gestur yang sangat elegan. Ia dengan sengaja menahan kepalanya untuk tidak memberikan anggukan hormat sedikit pun pada Nolan, meruntuhkan formalitas hierarki senior-junior yang sangat diagungkan akademi.
"Terima kasih atas peringatannya, Senior. Saya akan memberikan kabar bahagia bila saya sempat," ucap Elouis datar, dibarengi dengan usahanya menyunggingkan sebuah senyuman ramah palsu yang justru terlihat teramat intimidatif.
Sementara Elouis berbicara dengan ketenangan mutlak, keempat anggota tim di belakangnya tidak menurunkan kewaspadaan mereka sama sekali. Kael, Kazel, Vincent, dan Eric masih menatap Nolan dengan pandangan mata yang mengerikan. Hawa mencekam dan aura haus darah yang begitu pekat menguar hebat dari tubuh mereka berempat, berputar di udara fajar seperti badai tak kasat mata yang siap meledak.
Di sisi lain, bulu kuduk Nolan mendadak berdiri. Seringai kelicikan yang tadinya terpatri di wajah tampannya perlahan-lahan luntur, digantikan oleh ketegangan di area rahangnya. Di bawah tekanan aura haus darah yang begitu masif dari keempat junior di depannya—terutama tatapan mata elang Eric yang seolah mengunci urat nadinya—Nolan mulai merasakan firasat buruk yang teramat nyata.
Detik itu juga, Nolan menyadari satu hal. Ia telah melakukan kesalahan fatal. Ia salah karena telah meremehkan tim ini dan memprovokasi sekumpulan monster yang sedang menahan diri di bawah kendali seorang gadis berusia sebelas tahun.
"Kalau begitu... kami permisi, Senior," ucap Elouis pendek.
Tanpa menunggu balasan dari Nolan yang kini terpaku diam, Elouis membalikkan tubuhnya dengan jubah hitam yang berkibar anggun.
Kelima siluet hitam itu melangkah keluar dari batas perimeter akademi, tepat saat mereka mulai masuk satu per satu ke dalam gerbong kereta kuda hitam yang telah disiapkan sebelumnya oleh pihak faksi elit sebagai transportasi resmi misi. Begitu pintu gerbong tertutup rapat dengan bunyi debukan keras, roda-roda kereta pun mulai bergerak dinamis. Kendaraan itu melaju membelah kabut fajar, membawa mereka keluar dari area akademi, terus bergerak lurus ke depan meninggalkan hiruk-pikuk area kota dan desa yang mulai terbangun, menuju wilayah tak bertuan di mana Hutan Nacht berada.
Suasana di dalam gerbong terasa begitu padat oleh ketegangan yang tertinggal dari gerbang belakang tadi.
"Heeyy... Aku benar-benar marah dengan orang itu," ujar Kael tiba-tiba, memecah keheningan sembari menatap tajam ke luar jendela kereta kuda, memperhatikan pohon-pohon yang bergerak mundur dengan cepat. Gigi taring rubahnya mencuat tipis akibat menahan gejolak emosi.
"Benar, aku juga sangat marah," sambung Kazel yang memilih memejamkan matanya rapat-rapat dan bersandar lelah pada dinding gerbong kereta kuda, mencoba meredam gejolak mananya yang sempat tidak stabil akibat provokasi Nolan.
Mendengar keluhan dari kedua pengawalnya, Elouis yang duduk tenang di depan mereka perlahan membuka suara. "Tahan saja amarah kalian berdua. Akan ada baiknya jika kalian menyimpan tenaga itu untuk membasmi Hutan Nacht fajar ini," sahut Elouis datar. Nada suaranya yang stabil bertindak sebagai penenang alami yang seketika membuat atmosfer gerbong menjadi lebih terkendali.
Di dalam gerbong yang berguncang pelan itu, posisi duduk mereka terbagi secara taktis. Kael, Kazel, dan Vincent duduk berdampingan di satu sisi kursi panjang. Sedangkan Elouis duduk bersama Eric di kursi depan, berhadapan langsung dengan mereka bertiga.
"Nolan itu... benar-benar sampah," celetuk Eric tiba-tiba dengan nada suara yang teramat dingin dan penuh rasa jijik.
Kata-kata kasar yang meluncur mulus dari bibir pemuda berambut cokelat itu seketika membuat Kael, Kazel, Vincent, bahkan Elouis sekalipun, menolehkan kepala dan menatapnya dengan pandangan heran. Mereka tidak menyangka Eric yang baru saja bergabung dan terkenal sangat tertutup, akan menunjukkan kebencian yang begitu personal dan vokal terhadap salah satu anggota elit lingkaran dalam Ludwig.
Vincent membetulkan letak kacamatanya, sepasang mata burung hantunya menyipit menyelidik. "Apa kau tahu sesuatu tentangnya, Eric? Sesuatu yang tidak tercatat dalam arsip reguler?" tanya Vincent rendah, insting intelijennya langsung bekerja.
Eric menyandarkan punggung tegasnya pada kursi kereta, menatap lurus ke arah jendela dengan rahang yang mengetat kuat.
"Tidak, aku tidak tahu apa pun," balas Eric singkat, memotong rasa penasaran Vincent dengan nada datar yang kembali menutup diri.
Namun, sepasang mata elangnya bergerak sekilas, menatap tajam ke arah artefak komunikasi perak yang masih berada di dalam genggaman tangan kiri Elouis. "Kau akan terus memegang itu?" tanyanya kemudian, mengalihkan topik pembicaraan dengan fokus yang beralih pada benda berbahaya pemberian Nolan tersebut.
Elouis menurunkan pandangannya, menatap artefak magis bersenjata runcing yang masih berkilat redup di tangannya.
"Tidak, aku punya rencana untuk alat komunikasi ini," balas Elouis tenang, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman samar yang sarat akan muslihat cerdas.
"Apa yang akan kau lakukan dengan itu, El?" tanya Kael yang langsung mencondongkan tubuhnya maju karena penasaran, diikuti oleh tatapan Kazel yang ikut mengantisipasi jawaban sang Lady.
"Menggantungkannya di salah satu pohon Nacht... atau melemparkannya ke dalam gua yang ada di sana," sahut Elouis santai tanpa beban.
Mendengar jawaban itu, keheningan di dalam gerbong kereta kuda sempat bertahan selama beberapa detik sebelum Vincent mendadak menganggukkan kepalanya dengan binar mata yang berkilat kagum di balik lensa kacamatanya.
"Itu... rencana yang sempurna," puji Vincent dengan nada suara yang mantap.
Sebagai seorang spesialis informasi, Vincent langsung menangkap kejeniusan taktik Elouis. Jika mereka membuang artefak itu di tempat berbahaya, kubu Ludwig yang mengawasi dari jauh pasti akan mengira bahwa tim Elouis sedang terpojok, diserang monster, atau bahkan sudah tewas di dalam gua. Hal itu akan membuat Ludwig menurunkan kewaspadaannya, memberikan tim Elouis kebebasan mutlak untuk bergerak menyisir Hutan Nacht melalui rute rahasia tanpa gangguan dari mata-mata elit.
"Dengan begitu, kita bisa membalikkan keadaan dan membuat mereka terjebak dalam tebakan mereka sendiri," gumam Eric rendah, menyetujui rencana taktis sang Lady sembari melipat kedua tangannya di dada.
SREEEKK— BRRAAK!
Kereta kuda yang mereka tumpangi mendadak melambat dengan hentakan yang cukup keras. Suara ringkikan kuda terdengar samar di luar, beradu dengan lolongan angin yang terdengar ganjil dan mencekam. Roda kereta akhirnya berhenti berputar sepenuhnya.
Dari balik jendela gerbong, kabut tebal berwarna merah darah kini telah menyelimuti seluruh pemandangan, menelan sisa-sisa cahaya fajar. Mereka telah tiba di perimeter paling luar dari Hutan Nacht yang mengerikan.
Tok! Tok!
Suara ketukan keras pada papan kayu pembatas gerbong membuyarkan fokus mereka. Dari balik celah kecil, suara parau sang kusir berjubah hitam terdengar meredam di antara lolongan angin hutan yang ganjil.
"Tuan-tuan muda dan Nona muda sekalian, saya hanya dapat mengantarkan sampai di sini saja," ujar kusir yang berada di luar. Nada suaranya menyiratkan ketakutan yang mendalam; ia tidak berani memajukan kereta kudanya bahkan hanya untuk satu jengkal lagi mendekati batas kabut merah Hutan Nacht yang mengerikan.
"Kami mengerti," balas Kazel dengan nada suara yang kembali tenang dan siaga.
Pintu gerbong kereta kuda pun dibuka dari dalam. Hawa sedingin es yang pekat langsung merangsek masuk, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa energi magis kuno yang menyesakkan dada. Satu per satu dari mereka mulai turun melompat ke atas tanah berbatu yang diselimuti lumut hitam. Kael, Kazel, dan Vincent turun terlebih dahulu untuk memastikan perimeter di sekitar kereta aman dari jangkauan monster, disusul oleh Eric.
Elouis bergerak turun paling terakhir. Begitu sosok kecilnya muncul di ambang pintu gerbong dengan jubah hitam yang melambai ditiup angin dingin, Eric yang sudah berdiri di atas tanah mendadak membalikkan tubuhnya. Dengan gerakan yang teramat sopan namun taktis, pemuda berambut cokelat itu menjulurkan tangan kanannya ke atas, menawarkan bantuan agar sang Lady tidak kesulitan melompati pijakan kereta yang cukup tinggi bagi ukuran tubuh sebelas tahunnya.
Tindakan spontan Eric sempat membuat Kael dan Kazel yang sedang mengawasi semak-semak menoleh serentak dengan alis yang menukik tajam, refleks protektif mereka sebagai pengawal pribadi Elouis langsung terusik.
Namun, di luar ekspektasi semua orang, Elouis tidak menolak. Tanpa ragu sedikit pun, ia dengan senang hati menerima bantuan sederhana itu, meletakkan telapak tangan kecilnya di atas telapak tangan Eric yang kokoh, lalu melangkah turun dengan anggun ke atas tanah Hutan Nacht. Begitu kakinya menapak dengan sempurna, Elouis menarik tangannya kembali dan memberikan anggukan tipis pada Eric sebagai tanda terima kasih yang teramat samar.
"Kusir itu sudah memutar keretanya kembali," bisik Vincent sembari menatap siluet kereta kuda hitam yang kini dengan cepat menghilang ditelan kabut fajar ke arah kota, meninggalkan mereka berlima sepenuhnya terisolasi di depan gerbang tak kasat mata dari hutan terkutuk ini.
Elouis membetulkan posisi tali kantong sihir di pinggulnya, lalu mengeluarkan artefak komunikasi perak pemberian Nolan yang kini berkilat dingin di bawah temaram kabut merah. Sepasang mata peraknya menatap lurus ke dalam kegelapan jajaran pohon Nacht yang meliuk-liuk mengerikan di depan mereka.
Di bawah kepungan kabut merah Hutan Nacht yang mulai merayap naik, Elouis mengedarkan pandangan tajamnya ke sekeliling formasi. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat taktis dan disiplin.
"Baiklah, dengarkan," suara Elouis memecah keheningan fajar dengan nada dingin yang sarat akan otoritas mutlak. "Eric, kau di depan. Aku dan Vincent di belakangmu, lalu kalian berdua, Kael dan Kazel, berada di belakangku."
Mendengar pembagian formasi berlapis tersebut, mereka berempat serentak mengangguk patuh. Eric yang bertindak sebagai ujung tombak langsung menempatkan posisinya di paling depan, siap memanfaatkan memori spasialnya untuk memetakan jalur.
Sebelum mereka melangkah lebih jauh, Elouis meraba kantong sihir di pinggulnya. Ia mengeluarkan beberapa botol ramuan sihir khusus yang telah diracik oleh Edith sebelum subuh tadi. Dengan gerakan tangan yang taktis, ia membagikan ramuan berwarna ungu berpendar itu satu per satu ke tangan rekan-rekan timnya.
"Minum ini. Aku tahu kalian semua kuat," sambung Elouis sembari menatap tajam ke sepasang mata mereka bergantian. "Tapi aku ingin kalian bisa melepaskan amukan kalian sepuasnya di dalam sana tanpa perlu mengkhawatirkan stamina."
Mendengar kalimat yang begitu provokatif namun membakar semangat itu, seringai liar seketika terukir di wajah Kael dan Kazel. Taring rubah mereka mencuat samar. Eric dan Vincent pun menatap botol ramuan di tangan mereka dengan kilat mata yang berubah drastis. Ini adalah izin resmi dari sang pemimpin bagi mereka untuk menjadi monster yang sesungguhnya di medan tempur.
Tanpa ragu, Elouis membuka sumbat botolnya sendiri dan meminum cairan ramuan itu hingga habis dalam sekali teguk. Tindakan tegas sang Lady langsung disusul serentak oleh keempat anggota timnya hingga tak tersisa setetes pun. Efek instan dari sihir Edith langsung terasa; aliran mana di dalam tubuh mereka bergolak hangat, melipatgandakan kekuatan fisik dan kepekaan indra mereka dalam sekejap.
Setelah menyeka bibirnya, Elouis melemparkan botol kosong itu ke dalam saku dan menatap jauh ke depan, menembus kepekatan kabut merah yang menutupi mulut hutan.
"Kita akan gunakan jalur utama terlebih dahulu," ucap Elouis, menetapkan langkah awal yang sengaja ia rancang untuk mengecoh kubu Ludwig.
Eric memberikan anggukan mantap. "Dimengerti, Kapten."
Dengan Eric yang memimpin di barisan paling depan, kelima siluet berjubah hitam itu mulai melangkah mantap, menapakkan kaki mereka di atas tanah basah jalur utama Hutan Nacht. Mereka bergerak seperti bayangan yang menantang bahaya, siap memancing musuh masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih mematikan.
Selang beberapa menit setelah mereka melangkah masuk lebih dalam ke jantung Hutan Nacht, keheningan yang janggal mendadak mencekik atmosfer di sekitar mereka. Kabut merah darah semakin menebal, mengurangi jarak pandang hingga tersisa beberapa meter saja.
"Apa-apaan ini?" gumam Kael berbisik rendah sembari mengawasi bagian belakang. Bulu kuduk di tengkuk rubahnya meremang tipis, mendeteksi distorsi aneh di udara.
Vincent yang berjalan di tengah pun mulai merasakan hal serupa. Ia membetulkan posisi kacamatanya yang mulai berembun. "Terlalu sunyi. Berdasarkan data ekologi Hutan Nacht, setidaknya harus ada beberapa monster tingkat rendah yang menyerang penyusup di perimeter luar. Tapi saat ini, tidak ada satu pun pergerakan," sambungnya dengan analisis yang tajam.
"Ini... Sepertinya ada yang janggal," lanjut Kazel yang menajamkan pendengaran rubahnya yang sensitif, sembari mencoba mengendus aroma di sekitar mereka melalui embusan angin malam yang tersisa. "Bau darahnya terlalu pekat, tapi bukan darah segar."
Di barisan paling depan, Eric menghentikan langkah kakinya secara mendadak. Sepasang mata elangnya berkilat tajam membelah kepekatan kabut, menatap lurus ke arah jajaran pohon raksasa yang meliuk di hadapan mereka. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, memberikan isyarat taktis agar seluruh anggota tim berhenti bergerak.
"Tentu saja tidak ada apa pun selama beberapa menit ini," ucap Eric dengan suara yang teramat rendah namun terdengar begitu konstan. "Mereka semua sedang berlindung dari pemangsanya."
Kalimat Eric langsung memperjelas situasi. Monster-monster asli Hutan Nacht tidak sedang mengincar mereka, melainkan sedang bersembunyi ketakutan karena ada entitas yang jauh lebih mengerikan—sesosok predator puncak yang kemungkinan besar sengaja dipancing atau dilepaskan oleh kubu Ludwig untuk menghabisi mereka di jalur utama ini.
KREEEKK... SRAAAKK...
Suara dahan besar yang patah terdengar dari arah atas langit-langit pohon, diikuti oleh hawa membunuh yang teramat pekat yang mendadak jatuh menghujam tepat di atas posisi mereka. Sesuatu yang berukuran raksasa tengah mengintai dari balik kabut merah, siap untuk menerkam.
Merasakan ancaman yang sudah berada di ujung kepala, Eric melirik sekilas dari balik bahunya ke arah Elouis, menunggu instruksi final dari sang pemimpin tim untuk mengeksekusi strategi mereka.
Elouis tidak berkedip. Wajahnya tetap sedingin es, seolah kehadiran monster raksasa itu tidak lebih dari sekadar kerikil di jalanan. Jemari tangan kanannya perlahan menyentuh gagang pedang di pinggulnya.
"B*nuh," gumam Elouis pendek. Sebuah perintah eksekusi yang mutlak tanpa ada ruang untuk negosiasi.
Mendengar satu patah kata yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak fajar tadi, sepasang rubah Vynloc di barisan belakang langsung menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi taring mereka yang tajam seiring dengan efek ramuan Edith yang bergejolak hebat di dalam darah mereka.
"Kami mengerti, Kapten," sahut Kael dan Kazel kompak dengan nada suara yang dipenuhi rasa haus darah yang menggebu-gebu.
GROOOAAARRR!—
Sesosok makhluk berkaki delapan dengan ukuran sebesar kereta kuda melompat turun dari kanopi pohon, membelah kabut merah. Itu adalah Nacht Arachne—laba-laba raksasa berwajah monster dengan taring ganda yang meneteskan cairan hijau pekat berbau busuk yang pekat. Cairan itu seketika melepuhkan tanah berbatu begitu menyentuh permukaannya.
"Jangan terkena racun di air liurnya!" teriak Vincent memberikan peringatan keras dari barisan tengah, matanya yang setajam burung hantu langsung mengenali jenis racun korosif tingkat tinggi tersebut pada dua rubah yang sudah menghunuskan pedang tajam mereka.
"Baik, kami mengerti!" balas Kael dan Kazel kompak.
Tanpa ada rasa takut sedikit pun, mereka berdua melesat maju dan berdiri di bagian terdepan, memblokir jalur menerkam makhluk tersebut. Aliran mana sewarna jingga pekat mulai menyelimuti bilah pedang mereka, beresonansi dengan insting liar beast-kin yang dipicu oleh ramuan Edith.
Melihat garda depannya sudah siap bertempur, Elouis bergerak taktis. "Mundur," perintahnya rendah pada Eric dan Vincent.
Elouis dan dua lainnya segera mundur beberapa jarak ke belakang, memberikan ruang yang cukup luas agar kedua rubah Vynloc itu dapat leluasa bergerak dan bermanuver tanpa perlu mengkhawatirkan keselamatan barisan belakang.
Bersamaan dengan itu, Elouis mengangkat tangan kirinya ke udara. Dengan kontrol mana yang teramat halus dan presisi, ia merapalkan mantra pelindung tingkat tinggi.
Wush!
Sebuah dinding transparan sewarna perak yang tebal seketika membentang kokoh di depan mereka bertiga, mengisolasi area aman agar mereka tidak terkena cipratan racun maupun serangan dari luar akibat dampak pertempuran.
Dari balik dinding transparan, sepasang mata perak Elouis menatap lurus ke depan dengan tenang, mengawasi bagaimana Kael dan Kazel mulai mengeksekusi tarian kematian mereka.
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍