NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 8

Kanaya kembali dari rumah Amelia menjelang dini hari. Amelia sebenarnya khawatir melepaskan sahabatnya pergi di tengah kegelapan, tapi mereka tak memiliki pilihan lain dari pada nanti ketahuan. Masalahnya akan bertambah panjang jika Kanaya sampai bertemu dengan ibunya.

Perang dunia ke sekian bisa pecah. Amelia tak bisa membayangkannya. Ibunya temperamen, sama seperti Kanaya. Terakhir kali dia berhasil mencegah perdebatan lebih jauh, tapi belum tentu nasib baik memihak mereka jika terjadi lagi.

“Hati-hati, Nay. Langsung pulang dan jangan lakukan hal-hal yang membahayakan dirimu sendiri.” Amelia tak menyebutkan hal spesifik apa, tapi itu berhasil mengundang senyum jahil sahabatnya.

“Kamu mengkhawatirkan orang yang salah.”

“Terserah saja. Cepatlah pulang.” Amelia mengusir Kanaya pada akhirnya.

“Baiklah, ingat untuk tidak melupakanku saat kamu kesulitan.” Senyum Kanaya kali ini terlihat sangat tulus.

“Tentu, jika aku sudah tak mampu menanganinya, kuharap kamu masih mau menerimaku.” Amelia balas tersenyum.

“Jika aku mengabaikanmu, itu artinya aku sudah tidak bernapas. Sampai jumpa lagi, Mel.”

***

“Mama tidak setuju jika kamu menikahi Amelia, Hanan. Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah merestui.”

Penolakan tegas itu berasal dari ruang tamu keluarga Hanan. Sementara pria itu hanya duduk dengan tenang sembari menikmati minumannya yang mulai dingin.

“Kamu dengar Mama, ‘kan, Hanan?” Suara wanita itu kembali menggema.

“Aku akan tetap menikahinya. Mama tenang saja, aku akan setia pada Rosa. Aku hanya mewujudkan keinginan istri kecilku.” Hanan menjawab dengan tenang.

Ibu Hanan menggebrak meja hingga vas bunga di atasnya bergetar. Hal itu membuat Hanan menaikkan pandangannya yang sedari tadi menunduk pada ponselnya.

“Omong kosong apa yang kamu katakan? Mama sama sekali tak mengkhawatirkan hubunganmu dengan wanita itu. Mama hanya mengkhawatirkan Amelia. Gadis sebaik dia tidak pantas mendapatkan pria sepertimu yang tak bisa membedakan mana yang baik dan buruk.”

Siapa pun yang tak mengetahui awal perselisihan itu akan mengira bahwa Ibu Hanan tak merestui pernikahan kedua anaknya karena masalah pada pihak perempuannya, tapi nyatanya Ibu Hanan justru tak ingin Amelia terjebak dengan putranya yang sudah dia kenal bagaimana tabiatnya.

“Harusnya aku yang mengatakan itu, Mama masih tak bisa membedakan mana yang baik dan buruk.” Hanan beranjak dari sofa dan merapikan pakaiannya. “Dengan atau tanpa restu Mama, aku akan tetap menikahinya.”

“Hanan, tunggu! Mama belum selesai bicara.”

Tak peduli seberapa keras pun sang ibu meneriaki putranya, pria itu masih tak acuh dan melanjutkan langkahnya ke luar rumah.

Hanan berpapasan dengan kakaknya dengan suaminya yang baru saja kembali dari perjalanan luar negeri.

“Kamu masih saja selalu membuat Mama kesal.” Kamila berdecih pelan.

“Bukan salahku.”

Hanan mengendarai mobilnya dan pergi tanpa bertukar sapa lebih jauh dengan kakaknya itu.

“Anak itu benar-benar. Kapan dia akan sadar? Apa harus menunggu kehilangan dulu baru dia membuka matanya?” Kamila mengomel sepanjang langkahnya.

“Jangan terlalu memikirkannya. Itu mungkin bagian dari takdir Hanan. Dia harus menanggung hasil dari keputusannya di masa depan.” Pria di samping Kamila merangkul lembut tubuh istrinya.

“Aku hanya tidak ingin dia menyayangi orang yang salah.”

***

“Sudah selesai. Pengantinnya benar-benar cantik.” Sang MUA memuji kecantikan kliennya itu setelah langkah terakhir riasan wajah selesai.

Amelia mengerjap beberapa kali saat melihat pantulan wajahnya di cermin. Tidak berlebihan sebenarnya mendengar kalimat bangga sang MUA karena dia sendiri nyaris tak bisa mengenali dirinya sendiri dengan riasan di wajahnya.

“Apa ini tidak berlebihan, Kak? Acaranya hanya dibuat sederhana, tidak perlu riasan yang seperti ini.” Amelia mendadak gugup.

Acara pernikahannya dan Hanan dibuat tertutup dan hanya mengundang keluarga penting. Ibu dan kakak Hanan, meski mereka merasa enggan, tapi tetap datang demi Amelia. Mereka sudah mengenal gadis itu sejak beberapa tahun lalu dan sangat menyukai sikapnya yang tenang.

Keduanya juga tahu bagaimana hubungan Hanan dan Amelia sebelumnya tak pernah membaik seolah bendera perang selalu berkibar di tengah keduanya.

“Tidak berlebihan. Ini sudah sangat bagus. Aku suka.” Rosa lah yang menyahut dari sudut kamar. Wanita itu berdiri di sana dan memperhatikan dari awal sampai akhir.

“Ini bagus. Aku tidak mau kamu sepertiku dulu yang menikah dengan persiapan seadanya karena kesehatan yang tak mendukung. Aku senang melihat penampilanmu sekarang seolah apa yang aku lewatkan telah terbayar.” Senyum Rosa begitu lebar menatap lekat penampilan adiknya.

“Ayo, kita tidak bisa terlalu lama. Acaranya akan segera dimulai.”

Amelia menarik napas panjang dan begitu kakinya menjejak ke luar kamar, pikirannya tak lagi bisa fokus pada acara. Semua hal tumpang tindih di kepalanya. Rangkaian acara terlewat tanpa gadis itu sadari dan begitu dia kembali pada realitas. Beberapa keluarga sudah mengucapkan selamat padanya, tak terkecuali Ibu Hanan dan kakaknya.

“Amel, maaf kamu harus terjebak di situasi ini. Kami tak bisa membujuk Hanan untuk membatalkan niatnya.” Wanita itu memeluk erat Amelia. Pelukannya terasa akrab dan tak membuat gadis itu risih.

“Tidak apa-apa, Bibi. Semua sudah terjadi. Aku akan berusaha menjalaninya dengan baik.”

“Panggil Mama, oke. Bagaimana pun juga sekarang kamu menantu Mama.”

“Benar, jangan terlalu sungkan adik kecil. Kamu keluarga kami dulu maupun sekarang.” Kamila menimpali dengan semangat. Dia begitu senang melihat Amelia dengan penampilannya yang begitu memukau.

Amelia tersenyum tanpa sadar saat merasakan usapan lembut di lengannya. Interaksi akrab di antara keduanya membuat kening Hanan berkerut tak senang, tapi dia tak mengatakan apa pun dan memilih tak peduli.

Jika diingat-ingat, Ibu Hanan dan kakaknya tak pernah seramah ini pada Rosa sejak pertama kali dia memperkenalkan perempuan pilihannya itu. Padahal seingatnya dulu, kedua wanita itu sangat senang setiap bertemu dengan Rosa saat kecil, tapi semuanya berubah saat mereka berpisah dan kembali bertemu bertahun-tahun kemudian.

Berkali-kali Hanan berusaha mencari alasannya, tapi kedua wanita itu hanya menjawab seadanya bahwa semuanya karena Rosa tampak tak jujur dan mereka tidak bisa menyukainya lebih jauh.

Hanan mengenal Rosa sejak kecil dan perasaannya semakin dalam tanpa dia sadari. Perempuan itu selalu lembut dan mengikutinya ke mana pun. Jika bukan karena keluarganya yang harus pindah keluar kota, mereka tidak akan berpisah. Pada akhirnya, takdir kembali mempertemukan mereka dan Hanan mengetahui penyakit milik Rosa—berjanji akan mendampingi apa pun keadaannya.

Rosa yang menyadari interaksi mertuanya dan Amelia begitu rukun menerbitkan senyum tipis. Dia tak bisa mengatakan bahwa ada perasaan iri dalam dirinya karena dia puas melihat adiknya itu diterima di keluarga suaminya.

Suasana yang awalnya masih berjalan baik mendadak gaduh. Keluarga itu dilanda kepanikan begitu Rosa pingsan setelah mengeluh pusing saat mencoba mengambil makanan untuk suami dan adiknya.

“Sudah kubilang untuk tidak meminta istriku bergerak ke sana ke mari. Dia baru saja membaik.”

Entah pada siapa kekesalan itu diluapkan oleh Hanan, tapi memang tadi Amelia lah yang secara tak sadar mengatakan bahwa dia merasa lapar. Dia tak menyangka jika kakaknya yang akan bergerak lebih dulu mengambil makanan.

Rasa tak nyaman melanda hati Amelia seolah dia lah penyebab dari situasi kacau ini.

Hanan benar-benar panik dan segera membawa Rosa ke rumah sakit, meninggalkan semua kegaduhan acara di belakangnya.

Amelia yang sedari awal kesulitan dengan gaun pernikahannya, memutuskan untuk melepas semuanya, meski acara belum benar-benar selesai.

Perasaannya tak karuan saat melihat ekspresi pucat kakaknya dan raut khawatir Hanan yang kini menjadi suaminya juga. Dia seolah terpinggir dan ditakdirkan untuk menjadi penonton di tengah cinta dan kasih sayang dua manusia yang saling mencintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!