Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Boleh Aku Mendekatimu?
Vira sedang menyusun minyak goreng kemasan di rak saat seorang anak laki-laki datang menghampiri.
"Kak Vira, beli sabun mandi."
Vira menoleh, lalu tersenyum ramah. "Boleh. Mau merek apa?"
Anak itu menyebutkan salah satu merek. Vira segera mengambilnya dari rak, memasukkannya ke dalam kantong plastik, lalu menyerahkannya.
"Ini, Kak. Uangnya." Anak itu menyodorkan uangnya.
Vira menerima uang itu. "Tunggu sebentar, ya. Kakak ambil kembaliannya dulu."
Anak itu mengangguk.
Tak lama kemudian, Vira menyodorkan selembar uang lima ribu. "Ini kembaliannya."
Anak itu menerimanya. Namun, Vira kembali mengeluarkan selembar uang lima ribu lagi dan menyodorkannya.
Anak itu mengernyit bingung. "Ini uang apa, Kak?"
"Ini buat kamu."
Mata bocah itu langsung berbinar.
"Tapi Kakak minta tolong satu hal."
"Minta tolong apa, Kak?"
"Tolong bilang ke Kak Arvin suruh datang ke toko Kakak. Mau?"
Anak itu mengangguk cepat. "Mau, Kak!"
"Bagus." Vira tersenyum. "Ini uangnya."
"Terima kasih, Kak!" Bocah itu langsung berlari kecil meninggalkan toko dengan wajah sumringah.
Vira hanya tersenyum melihat betapa bahagianya anak itu karena uang lima ribu.
Tak jauh dari sana, Yanti yang baru mulai menyapu halaman mengerutkan dahinya.
"Siapa Arvin?" batinnya.
Ia teringat pemuda yang kemarin berbicara dengan Vira.
"Yang itu, ya? Lumayan tampan juga."
Kemarin ia sempat melihat Vira berbincang cukup lama dengan Daril, sehingga mengira pemuda itulah yang sedang dibicarakan. Maklum, ia baru tinggal di desa itu dan belum mengenal siapa pun. Lagipula, hampir sepanjang hari ia sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Sekitar lima menit kemudian, seorang pemuda memasuki halaman rumah Vira.
Yanti yang masih menyapu spontan menoleh.
"Ih..." Ia bergidik. "Yang ini Arvin?"
Yanti menatap kulit Arvin yang legam terbakar matahari. Lalu rambutnya yang memerah karena sering terpapar panas. Kemudian ke pakaian sederhananya, dan langkahnya yang sedikit pincang.
"Merusak pemandangan aja," gumam Yanti dalam hati. "Apa di kampung ini gak ada pemuda yang bisa buat cuci mata?"
Sementara itu, Arvin melangkah hingga berhenti di depan etalase toko.
"Ra..." panggilnya pelan. "Katanya kamu nyariin aku. Ada apa?"
Sepanjang perjalanan tadi, rasa penasaran terus memenuhi pikirannya. Ia tak mengerti mengapa Vira tiba-tiba mencarinya.
Vira yang sedang menghitung uang di dalam laci kasir mengangkat wajah.
"Ah, iya." Ia menutup laci itu, lalu tersenyum tipis. "Besok aku mau belanja stok buat toko."
Arvin mengangguk pelan, masih belum mengerti.
"Aku mau minta tolong. Kamu mau gak bantu angkat barang ke mobil, terus nanti bantu nurunin lagi waktu sampai di rumah?"
Sesaat Arvin membeku. "Hah... aku?"
"Iya."
"Kenapa... harus aku?"
Vira mengangkat bahu kecil. "Soalnya kamu sudah biasa kerja angkat barang, 'kan?"
Arvin menatap Vira beberapa detik tanpa berkedip. Dadanya berdegup semakin cepat. Sejak lama ia diam-diam mengagumi gadis itu. Namun, ia tak pernah sekali pun berani mendekat. Baginya, Vira terlalu jauh untuk diraih.
Cantik, baik hati, memiliki toko sendiri, dan hampir seluruh desa tahu gadis itu menjalin hubungan dengan Daril.
Sedangkan dirinya...
Hanya pemuda pekerja serabutan yang hidup bersama ibu yang mengalami gangguan jiwa.
Perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi. Karena itu, selama ini Arvin selalu memilih mengagumi dari kejauhan.
Ia sama sekali tidak menyangka, hari ini justru Vira yang lebih dulu memanggilnya.
"Aku... tentu mau," jawab Arvin gugup. "Kalau memang tenagaku dibutuhkan."
Senyum Vira melebar. "Bagus. Besok berangkat habis Subuh, ya. Kita belanja agak banyak."
Arvin mengangguk cepat. "Baik."
Dalam hati, ia masih sulit percaya. Sepanjang hidupnya, baru kali ini Vira meminta bantuannya secara langsung.
"Tunggu sebentar," kata Vira.
Ia membuka rak telur, lalu memilih beberapa butir yang cangkangnya retak sangat tipis. Setelah memasukkannya ke dalam kantong plastik, ia menyodorkannya kepada Arvin.
"Ini."
Arvin mengernyit bingung. "Apa ini, Ra?"
"Telur."
Arvin terkekeh canggung. "Aku tahu itu telur."
Vira ikut tersenyum tipis. "Cangkangnya retak dikit. Masih aman dimakan, kok. Cuma kalau dijual biasanya pembeli sudah gak mau. Daripada kebuang, lebih baik kamu bawa pulang."
Arvin tidak langsung menerima. Tangannya justru tetap menggantung di samping tubuh.
"Tapi... ini banyak."
"Gak apa-apa."
"Nanti aku bayar."
Vira menggeleng pelan. "Gak usah. Kalau dibiarkan, telur-telur ini juga gak bakal laku. Kalau ada yang makan 'kan gak mubazir."
Arvin masih tampak ragu. "Tapi..."
"Besok kamu sudah bantu angkat barang buatku, 'kan?" potong Vira lembut. "Anggap saja ini bonus."
Mendengar itu, Arvin akhirnya menerima kantong plastik tersebut dengan kedua tangan.
"Terima kasih, Ra."
Sorot matanya kembali berbinar. Namun kali ini bukan hanya karena telur di tangannya, melainkan karena untuk pertama kalinya seseorang memikirkan dirinya tanpa memandangnya sebelah mata.
"Aku pasti datang besok pagi."
Vira mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan."
Arvin membalas anggukan itu sebelum berbalik melangkah pergi.
Vira memandang punggungnya yang perlahan menjauh. Langkahnya masih sedikit pincang, tetapi tidak pernah terlihat malas. Ia mengembuskan napas panjang.
"Aku belum bisa bantu banyak," gumamnya lirih.
Tatapannya beralih ke rak telur.
Beberapa menit sebelumnya, ia sengaja membenturkan beberapa butir telur ke sisi rak dengan sangat pelan hingga hanya menimbulkan retak tipis pada cangkangnya. Tidak sampai pecah, tetapi cukup membuat telur-telur itu sulit dijual.
Dengan begitu, ia punya alasan untuk memberikannya kepada Arvin tanpa melukai harga diri pemuda itu.
Sementara itu, Yanti yang hampir selesai menyapu halaman melirik punggung Arvin yang semakin jauh, lalu menatap Vira bergantian.
"Sama orang dekil begitu aja dia kelihatan iba banget," gerutunya dalam hati. "Tapi sama aku, sepupunya sendiri, malah tega jadiin aku babu."
Yanti mendengus pelan. "Kalau nanti aku sudah dapet kerjaan, ogah aku tinggal di rumah ini lagi."
Namun beberapa detik kemudian, sapunya bergerak semakin pelan.
"Tapi... kalau pergi sekarang, aku mau tinggal di mana?"
Pertanyaan itu membuat wajahnya langsung berubah masam. Ia sadar, untuk saat ini, rumah Vira masih menjadi tempat paling nyaman yang bisa ia tumpangi.
Treng.. teng.. teng...teng.. teng...
Sebuah motor bebek legendaris bermesin 2-tak memasuki halaman rumah Vira. Suaranya memecah keheningan sore. Kendaraan roda dua dengan merek Yamaha F1ZR itu berhenti tepat di depan toko.
Seorang pemuda bertubuh tegap turun dari atas motor. Ia mengenakan celana jeans yang dipadukan dengan kemeja lengan pendek. Wajahnya cukup tampan dan terlihat rapi.
Pemuda itu langsung menghampiri etalase. "Ra."
Vira yang sedang menata barang menoleh. "Ya? Mau beli apa?"
Pemuda itu menggeleng pelan. "Aku nggak mau belanja."
"Terus?" Vira mengangkat sebelah alis.
Pemuda itu menarik napas sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
"Aku dengar... kamu sudah putus sama Daril."
Vira tidak menjawab.
Tatapan pemuda itu tetap lurus ke arahnya. "Kalau begitu..." Ia tersenyum tipis. "...boleh gak kalau aku mulai deketin kamu?"
...✨"Kebaikan bukan tentang memberi kepada orang yang paling banyak meminta, melainkan kepada mereka yang tetap berjuang meski tak pernah meminta."...
..."Ada orang yang menganggap pengorbananmu sebagai kewajiban. Ada pula yang menghargai perhatian sekecil apa pun seumur hidupnya."...
..."Saat kita berhenti mempertahankan orang yang salah, hidup diam-diam mulai mempertemukan kita dengan orang-orang yang tepat."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu