NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Langkah kaki Hani terasa begitu ringan sekaligus rapuh saat ia berlari membelah dinginnya aspal jalanan. Detak jantungnya berdegup kencang, memekakkan telinga mengalahkan gemuruh mesin truk yang baru saja berlalu.

Namun, semua itu seakan berhenti ketika matanya catching siluet tubuh yang ambruk di samping pintu mobil sport hitam. Pria misterius berjaket hitam itu langsung melesat hilang ke dalam kegelapan gang, meninggalkan sebilah pisau yang berkilat kemerahan di bawah temaram lampu jalan.

"Reza!" Jeritan Hani memecah kesunyian malam yang mencekam.

Ia menjatuhkan lututnya di atas aspal, mengabaikan rasa sakit yang menusuk. Kedua tangannya gemetar hebat saat menyentuh bahu Reza yang sudah terkulai lemas.

Telapak tangan Hani mendadak terasa hangat dan basah. Ketika ia menarik tangannya di bawah sorot lampu jalan, warna merah pekat yang segar langsung menyapa pandangannya. Darah. Begitu banyak darah yang merembes keluar dari balik kemeja bagian belakang Reza.

"Hani... kamu... tidak apa-apa?" bisik Reza parau. Kesadaran pria itu berada di ambang batas, namun sepasang matanya yang sayu masih sempat memastikan keselamatan wanita di depannya sebelum akhirnya terpejam rapat.

"Reza! Buka matamu, aku mohon! Jangan seperti ini!" Hani berteriak histeris, air matanya menetes deras berbaur dengan noda merah di jemarinya. Dengan kepanikan yang memuncak, ia menoleh ke arah sekitar rumahnya yang sepi. "Tolong! Siapa saja, tolong!"

Mengingat tidak ada tanda-tanda orang keluar secepat itu, Hani meraba sakunya dengan tangan bergetar, mengambil ponselnya yang sempat ia bawa. Jari-jarinya yang berlumuran darah menekan nomor darurat ambulans rumah sakit. "Halo? Ambulans! Tolong, ada korban penusukan di Jalan Anggrek nomor 12... Tolong cepat, dia kehilangan banyak darah!"

Suara sirine ambulans yang meraung-raung membelah malam menjadi latar belakang dari kecemasan yang membakar jiwa Hani.

Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat Jakarta, rumah sakit yang sama dengan tempat ayahnya mengembuskan napas terakhir beberapa jam lalu, Hani terus menggenggam tangan Reza yang terasa kian mendingin. Ia tidak berhenti merapal doa dalam hati, memohon agar Tuhan tidak mengambil satu nyawa lagi dari hidupnya hari ini.

Kini, Hani terduduk lemas di kursi tunggu koridor depan ruang tindakan darurat. Tubuhnya yang ringkih dibalut oleh jaket milik salah satu perawat, menyembunyikan noda darah yang mengering di pakaiannya. Pikirannya kosong, matanya menatap nanar ke arah lantai ubin yang putih bersih.

Drap! Drap! Drap!

Suara langkah kaki yang terburu-buru dan berat menggema di koridor rumah sakit yang sunyi. Hani mendongak dan mendapati sosok Narendra Baskara melangkah cepat ke arahnya. Wajah pria paruh baya itu tampak sangat tegang, guratan kecemasan seorang ayah tercetak jelas di balik penampilannya yang biasanya selalu rapi dan berwibawa.

"Hani! Apa yang terjadi dengan Reza? Kenapa anak saya bisa sampai seperti ini?" tanya Narendra dengan suara yang bergetar menahan luapan emosi.

Hani bangkit berdiri dengan perlahan, meskipun seluruh persendiannya terasa lemas. Ia menatap Narendra dengan pandangan sendu. "Pak Reza... dia ditusuk oleh orang tidak dikenal di depan rumah saya, Pak. Kejadiannya sangat cepat. Pria itu keluar dari kegelapan gang dan langsung menyerang punggung Pak Reza saat beliau sedang lengah."

Narendra tertegun, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Matanya yang tajam sempat memperhatikan kondisi Hani yang begitu kacau, wajahnya yang pucat pasasi, mata yang bengkak, dan jejak-jejak trauma yang begitu dalam dari rentetan kejadian hari ini.

Kemarahan yang sempat ingin ia luapkan mendadak menguap begitu saja. Narendra tahu, tidak ada alasan baginya untuk menyalahkan gadis di depannya ini.

Narendra mengembuskan napas berat, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Anak bodoh itu... untuk apa dia pergi ke rumahmu lagi setelah pulang ke rumah?" gumam Narendra lirih, lebih kepada merutuki keras kepalanya putra tunggalnya sendiri.

Narendra memandang Hani kembali. Melihat gadis itu berdiri dengan tubuh yang gemetar menahan dingin dan ketakutan, dinding keangkuhan di hati pemimpin Baskara Group itu benar-benar runtuh sepenuhnya.

Peristiwa di kantor tadi pagi, kabar meninggalnya ayah Hani, dan kini putranya sendiri yang terbaring di dalam ruangan, semua itu seperti tamparan keras yang menyadarkannya akan rapuhnya kehidupan.

Narendra melangkah satu kali mendekati Hani, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Nak Hani... saya minta maaf," ucapnya dengan nada suara yang teramat tulus dan sarat akan penyesalan.

"Saya minta maaf atas ketidakadilan dan tuduhan kejam yang saya lontarkan kepadamu di kantor tadi pagi. Saya benar-benar tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi. Dan... saya juga turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian ayahmu."

Hani menatap pria paruh baya di depannya dengan perasaan campur aduk. Mendengar permintaan maaf yang begitu tulus dari orang sekelas Narendra Baskara di tengah situasi kritis ini membuat sebagian rasa sesak di dadanya sedikit berkurang.

"Terima kasih, Pak Narendra," bisik Hani pelan, bibirnya tersenyum miris. "Semua sudah terjadi. Saya hanya berharap Pak Reza bisa melewati masa kritisnya."

Tidak lama kemudian, pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter paruh baya keluar sambil melepas masker medisnya. Narendra dan Hani langsung melangkah maju secara bersamaan dengan raut penuh harap.

"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?" tanya Narendra cepat.

Dokter itu tersenyum menenangkan, sebuah hembusan napas lega terdengar dari mulutnya. "Bapak tidak perlu khawatir. Beruntung luka tusuk di punggungnya tidak mengenai organ vital. Pisau itu tertahan oleh otot punggungnya yang cukup tebal, meskipun luka robeknya memang cukup lebar dan membutuhkan beberapa belas jahitan. Kondisi pasien saat ini sudah stabil, obat biusnya masih bekerja, namun beliau sudah melewati masa kritisnya."

"Alhamdulillah..." Hani berbisik lirih, air mata kelegaan meleleh di pipinya. Beban berat yang sempat menghimpit dadanya seolah terangkat seketika.

"Terima kasih, Dok. Apakah saya sudah bisa menjenguknya?" tanya Narendra.

"Silakan, Pak. Pasien sudah dipindahkan ke ruang pemulihan. Tapi mohon pastikan untuk tidak terlalu berisik karena beliau masih butuh banyak istirahat," jawab dokter itu sebelum berpamitan pergi.

Narendra berbalik menatap Hani, lalu mengisyaratkan dengan tangannya. "Mari, Hani. Ikutlah masuk ke dalam untuk melihat keadaannya."

Hani menatap pintu ruang pemulihan itu dalam diam. Ada gejolak besar di dalam hatinya yang menyuruhnya untuk melangkah masuk, menggenggam tangan pria yang telah mengorbankan nyawanya demi menjaganya malam ini. Namun, logika dan benteng pertahanan dirinya kembali menariknya mundur ke realita yang ada.

Hani menggelengkan kepalanya perlahan, memberikan senyuman tipis yang sarat akan jarak. "Tidak, Pak Narendra. Silakan Bapak saja yang masuk. Pak Reza membutuhkan keluarganya saat ini."

Narendra mengernyitkan dahi. "Tapi kamu yang menyelamatkannya, Hani. Reza pasti ingin melihatmu saat dia bangun nanti."

"Saya di sini... bukan siapa-siapa bagi Pak Reza, Pak," ucap Hani dengan suara datar namun tegas. "Saya hanya pegawai di kantor, itu pun jika saya masih diizinkan bekerja. Hubungan kami tidak lebih dari rekan profesional. Keberadaan saya di dalam mungkin hanya akan membuat suasana menjadi canggung. Tolong sampaikan terima kasih saya kepada beliau karena telah berjaga di depan rumah saya."

Mendengar ketegasan di suara Hani, Narendra tidak bisa memaksakan kehendak. Ia mengangguk paham, menghormati keputusan dan harga diri gadis itu yang begitu tinggi. "Baiklah kalau itu maumu. Kamu pulanglah, Hani. Istirahatlah. Saya akan meminta sopir keluarga kami untuk mengantarmu pulang dengan aman."

"Terima kasih, Pak," ucap Hani sambil membungkuk sopan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan koridor rumah sakit.

...****************...

Rumah tua peninggalan orang tuanya kembali menyambut Hani dengan kesunyian yang sama. Hani duduk di kursi ruang tamu, menatap kosong ke arah pecahan cangkir teh chamomile yang masih berserakan di lantai, belum sempat ia bersihkan sejak kepanikannya tadi malam.

Suasana luar rumah sudah mulai terang oleh semburat cahaya fajar, namun pikiran Hani justru semakin tenggelam dalam kegelapan yang pekat.

Ia memeluk tubuhnya sendiri yang masih menyisakan rasa dingin. Pertanyaan demi pertanyaan mulai berputar di kepalanya bagai benang kusut yang tidak memiliki ujung. Siapa sebenarnya sosok yang melukai Reza semalam?

Mengingat kembali detail kejadian mengerikan itu, Hani menyadari satu hal yang membuat tengkuknya meremang. Penyerang itu sama sekali tidak melirik ke arah jendela rumah, ataupun menunjukkan tanda-tanda terkejut saat melihat ada orang lain di sana.

Tatapan pria misterius itu terkunci mutlak pada Reza. Gerakannya begitu dingin, efisien, dan penuh dengan kebencian yang terarah. Pria itu tidak sedang merampok, dan dia juga tidak peduli siapa yang sedang bersama Reza. Targetnya sejak awal, dari detik pertama dia melangkah keluar dari kegelapan, memang adalah Reza Baskara.

Hani mencengkeram jemarinya kuat-kuat, meresapi kebenaran mengerikan itu. Reza diserang bukan karena kebetulan berada di depan rumahnya, melainkan karena ada seseorang di luar sana yang sengaja mengincarnya.

Siapa yang begitu membenci pewaris tunggal Baskara Group itu hingga ingin menghabisi nyawanya? Apakah ini terkait dengan persaingan bisnis, ataukah ada rahasia kelam dari masa lalu Reza sendiri yang belum ia ketahui?

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!