Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8 Orang Asing yang Mulai Menjadi Bagian Desa
Pagi itu, Desa Sekar diselimuti oleh cuaca yang sangat cerah. Matahari baru saja naik dari ufuk timur, memancarkan sinar hangat yang perlahan membakar sisa-sisa embun pagi.
Langit biru bersih membentang tanpa awan, menaungi kesibukan di dermaga kecil desa tempat Kael sudah berada di antara beberapa nelayan sejak subuh. Meski Hana masih melarangnya keras untuk melakukan pekerjaan berat, pria itu tetap bersikeras membantu apa saja yang bisa ia lakukan.
"Kael, tolong pegang ujung jaring itu!" teriak Pak Syukur dari atas perahu.
Kael hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Dengan gerakan tangan yang cekatan, ia langsung membantu menarik dan merapikan jaring kusut yang baru saja diangkat dari dasar laut.
Beberapa nelayan paruh baya di sekitarnya memperhatikan gerakan Kael secara diam-diam. Sudah beberapa hari terakhir ini mereka mulai terbiasa melihat pria misterius itu berada di sekitar pantai. Awalnya, memang banyak warga yang menaruh rasa waspada dan curiga.
Namun perlahan-lahan, sikap dingin warga mulai mencair karena Kael yang pendiam ternyata tidak pernah menolak setiap kali dimintai bantuan.
"Kalau begini terus, sebentar lagi kau bisa jadi warga resmi desa ini," canda Pak Syukur, memecah keheningan dengan tawa riuhnya.
Beberapa nelayan lain yang mendengar ucapan itu ikut tertawa lepas. Kael sendiri hanya mengulas senyum tipis di wajah tegasnya. Entah kenapa, candaan sederhana dari pria tua itu membuat dada Kael mendadak terasa hangat sebuah perasaan nyaman yang perlahan mulai ia kenali.
Matahari kian meninggi di langit, memancarkan udara pesisir yang mulai terasa hangat saat waktu bergerak menjelang siang. Kael memutuskan untuk melangkah kembali ke arah Poskesdes.
Di sana, tepat di kursi kayu teras, Rani rupanya sudah duduk menunggu.
Gadis kecil itu tampak sangat asyik menggoreskan pensilnya, menggambar di atas sebuah buku tulis lusuh miliknya. Begitu menyadari langkah kaki Kael yang mendekat, wajah Rani langsung berbinar gembira. Ia segera berdiri dan menyodorkan halaman kertas yang baru saja selesai dibuatnya tepat ke depan dada Kael.
Gambar itu memperlihatkan sosok seorang pria bertubuh tinggi kekar yang sedang memanggul sebuah karung ikan berukuran besar. Tepat di samping coretan pensil tersebut, terdapat sebuah tulisan cakar ayam yang dibentuk dengan rapi, Kael.
"Kau menggambar ku?" tanya Kael.
Suaranya yang serak terdengar melembut. Rani mengangguk cepat dengan mata berbinar-binar, lalu mengulas senyum bangga yang sangat lebar.
Belakangan ini, Rani memang semakin sering menghabiskan waktu luangnya bersama Kael. Karena dunia sunyinya yang membuat ia tidak bisa berbicara, gadis kecil itu selalu menggunakan buku tulisnya sebagai jembatan untuk berkomunikasi. Dan entah bagaimana keajaibannya, Kael selalu bisa mengerti dengan tepat apa saja yang ingin disampaikan oleh anak itu melalui isyarat dan coretannya.
Sore pun tiba Kael dan Hana kebetulan sedang berjalan bersama melewati lapangan desa saat sebuah kejadian kecil mendadak memicu kembali kecurigaan sang dokter. Sore itu, beberapa anak kecil sedang asyik bermain bola. Namun, akibat tendangan yang terlalu keras, bola plastik itu melambung tinggi ke arah jalanan setapak yang dipenuhi batu karang tajam.
Salah satu bocah laki-laki berlari kencang mengejar bola tanpa memperhatikan langkahnya. Sial bagi anak itu, kakinya mendadak tersandung akar pohon yang mencuat dari tanah. Tubuh kecilnya seketika terlempar ke depan, melayang pasrah tepat menuju tumpukan batu karang yang runcing.
"Awas! Tidak!" jerit Hana spontan.
Mata dokter muda itu membelalak panik karena menyadari jaraknya terlalu jauh untuk menolong. Namun sebelum tubuh si bocah sempat menyentuh kerasnya batu karang, sebuah bayangan hitam melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Itu Kael.
Gerakannya begitu kilat, bahkan Hana nyaris tidak bisa menangkap dengan mata telanjang kapan pria itu mulai menghentakkan kakinya untuk berlari. Dalam hitungan sepepersekian detik, Kael sudah berada di posisi yang tepat dan menangkap tubuh anak itu di udara sebelum membentur tanah.
Gerakan penyelamatannya begitu presisi, mengalir alami, dan sangat efisien sebuah refleks protektif yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang sudah terlatih menghadapi bahaya selama bertahun-tahun.
"Wah! Keren sekali!" sorak anak-anak lain yang melihat kejadian itu dengan gembira.
Bocah yang ditangkap Kael selamat total tanpa luka gores sedikit pun di tubuhnya. Namun di sisi lain jalan, Hana sama sekali tidak ikut tersenyum. Tatapan matanya justru terkunci rapat pada sosok Kael dengan dahi yang berkerut dalam.
Lagi-lagi, kemampuan fisik aneh itu muncul. Refleks itu terlalu cepat dan terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Hana tahu pasti, ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Malam kini jatuh sepenuhnya, menyelimuti pesisir dalam kegelapan yang pekat. Angin laut bertiup lebih kencang dan dingin, membawa suara deburan ombak malam yang memecah kesunyian pantai.
Di dalam ruangan Poskesdes yang mulai sepi setelah semua pasien pulang, Hana sedang sibuk merapikan botol-botol obat di lemari kerja ketika langkah kaki Kael terdengar memasuki ruangan.
"Kau melihatku seolah-olah sedang berusaha memecahkan sebuah teka-teki yang rumit," ujar Kael tiba-tiba, memecah keheningan.
Hana tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan botol obat di tangannya.
"Apa maksudmu?" tanya Hana, berusaha menutupi kegugupannya.
"Sejak tadi sore, kau terus-menerus memperhatikanku dengan tatapan seperti itu," sahut Kael tenang, menatap lurus ke arah sepasang mata dokter muda itu.
Hana berdeham kecil, mencoba mengontrol detak jantungnya yang mendadak berpacu.
"Aku ini seorang dokter, Kael. Aku hanya ingin memastikan bahwa kondisi fisikmu benar-benar sudah membaik," kilah Hana perlahan.
Kael menatap Hana selama beberapa saat, seolah sedang membaca apakah wanita di depannya sedang berbohong atau tidak. Namun pada akhirnya, ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh dan berbalik arah. Karena jauh di dalam lubuk hatinya sendiri, Kael juga mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak normal dengan kekuatan tersembunyi yang dimiliki oleh tubuhnya.
Malam semakin larut. Kael berjalan masuk ke kamar mandi sederhana di sudut Poskesdes untuk membersihkan tubuhnya dari sisa keringat. Saat ia perlahan membuka sisa perban yang menempel di bahu kirinya, pandangan matanya tanpa sengaja kembali tertambat pada cermin retak yang menggantung kusam di dinding tembok.
Di sana, pantulan cahaya lampu yang temaram memperlihatkan kembali lambang tato hitam pekat di bagian punggungnya sebuah bentuk mahkota gelap bersayap yang terasa begitu asing, namun di saat bersamaan juga terasa sangat dekat.
Kael membeku di tempatnya berdiri. Jemari tangannya bergerak pelan, menyentuh permukaan kulit yang dihiasi tato tersebut. Tepat di bawah lingkaran mahkota itu, sebuah deretan huruf kapital mulai terlihat jelas akibat kulitnya yang menghitam karena bekas luka.
SHADOW CROWN
Jantung Kael mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan tanpa aba-aba, sebuah kilatan memori hitam mendadak muncul dan menghantam benaknya dengan sangat kejam.
Dalam kilasan memori itu, ia melihat sosok seorang pria misterius berpakaian hitam yang sedang berdiri tegak di tengah-tengah ruangan yang sangat luas. Di dinding besar yang menjadi latar belakang tempat itu, terpampang jelas lambang mahkota bersayap yang persis sama. Lalu, sebuah suara berat yang dingin menggema hebat di dalam kepalanya.
"Ingat satu hal baik-baik. Shadow Crown tidak pernah mengenal kata gagal dalam kamusnya."
"Akhh...!" erang Kael tertahan.
Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga membentur dinding kamar mandi dengan keras. Kepalanya mendadak terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum yang membara, memaksanya menunduk dalam-dalam dengan napas yang memburu pendek.
Namun luar biasanya, kali ini ia berhasil mempertahankan kesadarannya dan menangkap satu fakta kunci sebelum memori itu kembali menghilang ke dalam kegelapan otaknya. Ia yakin bahwa ia pernah melihat lambang itu secara langsung. Ia yakin bahwa ia pernah berdiri di dalam ruangan gelap tersebut. Dan ia tahu pasti, Shadow Crown bukanlah sekadar tato hiasan biasa di tubuhnya.
"Shadow Crown..." bisik Kael dengan suara lirih yang bergetar.
Sementara itu di luar ruangan, Hana yang kebetulan baru saja melangkah kembali ke Poskesdes karena ingin mematikan lampu teras yang masih menyala, mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di depan celah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Kedua kening dokter muda itu langsung berkerut sangat dalam. Jantungnya berdebar kencang. Sebab untuk pertama kalinya sejak pria misterius itu tersadar dari komanya, Hana mendengar sendiri Kael mengucapkan sebuah nama yang menjadi kunci dari masa lalunya yang terkunci rapat.
Bersambung...