NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Aliansi Ganda di Balik Kabut

Langkah kaki Xavier Garrick terdengar menjauh dari paviliun faksi keempat, melintasi jalan setapak berbatu dengan ritme yang ringan dan dipenuhi kepuasan gila. Di bawah temaram sinar rembulan, sang pangeran kasino berjalan kembali menuju kemegahan Mansion Tengah miliknya. Jemarinya yang dihiasi cincin safir meraba saku dalam jasnya, memastikan rajutan pembatas buku beraroma melati itu tersimpan aman tepat di atas jantungnya. Otaknya yang ambisius langsung berputar cepat, menyusun rencana taktis untuk menggunakan otoritas keuangannya demi menjepit anggaran logistik militer faksi Eleanor. Xavier benar-benar terjebak dalam permainan ini, merasa bahwa dirinya adalah bandar yang sedang bertaruh besar, tanpa menyadari bahwa dia hanyalah bidak pertama yang digerakkan oleh adiknya.

Begitu suara pagar besi luar paviliun berderit menutup, pintu kamar kayu di dalam paviliun perlahan terbuka. Elena melangkah keluar dengan wajah yang masih seputih kapas. Tubuhnya gemetar hebat saat menatap Alana yang masih duduk dengan tenang di kursi kayu usang, seolah konfrontasi berbahaya dengan salah satu monster keluarga Garrick barusan hanyalah obrolan minum teh biasa.

"Alana... demi Tuhan, Nak..." Elena langsung berlutut di samping kursi putrinya, menggenggam tangan Alana dengan jemari yang dingin dan basah oleh keringat. "Apa yang baru saja kamu lakukan? Tuan Muda Xavier... dia adalah pria yang sangat berbahaya. Bagaimana bisa kamu berbicara sekasar dan selancang itu di hadapannya? Jika dia tersinggung, kita bisa dihabisi malam ini juga!"

Alana menurunkan pandangannya, menatap wajah ibunya yang dipenuhi gundukan kecemasan bawah sadar. Dia mengusap tangan Elena dengan lembut, memberikan remasan hangat yang menenangkan. "Ibu, dengarkan aku. Di rumah ini, bersikap lemah dan memohon tidak akan pernah menyelamatkan kita. Itu hanya akan membuat mereka menginjak kita lebih keras. Tuan Muda Xavier tidak tersinggung. Sebaliknya, dia baru saja setuju untuk menjadi perisai kita dari Eleanor selama satu bulan ke depan."

Elena membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Perisai? Pria egois seperti dia sudi melindungi kita?"

"Dia tidak melindungi kita karena belas kasihan, Ibu. Dia melakukannya karena bisnis," Alana menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan perhitungan dingin seorang profesional dunia modern. "Dan selama kita memiliki nilai jual yang menguntungkan baginya, dia akan menjadi perisai yang paling kokoh."

Namun, di dalam benak taktis Alana, dia tahu betul sebuah kebenaran universal di dunia mafia: Xavier Garrick adalah seorang narsistik yang egois. Pria itu memihaknya sekarang karena egonya sedang tertantang dan kerajaannya terancam. Tetapi jika di tengah jalan Eleanor menawarkan kesepakatan yang jauh lebih menguntungkan secara finansial, Xavier bisa saja membalikkan badannya dan mengorbankan Alana tanpa kedipan mata.

'Aku tidak boleh naif,' batin Alana dingin, matanya menatap lampu minyak yang berkedip-kedip di atas meja. 'Bergantung pada satu monster untuk melawan monster lain adalah tindakan bunuh diri. Aku butuh penyeimbang kekuasaan. Aku butuh aliansi ganda.'

Keesokan harinya, fajar hari keempat sejak transmigrasi Alana menyingsing dengan kabut tipis yang menyelimuti seluruh kompleks kediaman Garrick. Di Mansion Tengah, Xavier sedang berada di dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara. Pria itu sangat sibuk sejak pagi, dikelilingi oleh tumpukan berkas dokumen audit dan melakukan panggilan darurat internasional dengan para manajer kasinonya di Monaco. Terbakar oleh "gertakan setengah benar" yang diberikan Alana semalam, Xavier bergerak agresif memeriksa setiap celah keuangannya untuk mengantisipasi serangan dari Faksi Kedua. Kesibukan Xavier ini memberikan ruang gerak bebas yang sempurna bagi Alana.

Memanfaatkan titik buta patroli pengawal yang sudah dipetakannya dengan sangat cermat pada hari pertama, Alana menyelinap keluar dari paviliun belakang. Dia tidak mengenakan gaun putihnya kali ini, melainkan gaun terusan berwarna abu-abu kusam yang membuatnya mudah menyatu dengan bayang-bayang pepohonan dan dinding batu kompleks.

Tujuannya siang ini adalah Mansion Kedua—wilayah kekuasaan Nyonya Valerie dan putranya, Julian Garrick.

Jika Cedric dari faksi pertama adalah otot dan kekuatan militer, dan Xavier dari faksi ketiga adalah uang dan finansial, maka Julian dari faksi kedua adalah otak dan racun. Julian terkenal sebagai pemuda berkacamata yang tenang, kutu buku, jarang keluar mansion, namun memiliki reputasi sebagai ahli strategi yang manipulatif, kejam, dan sangat jeli melihat kelemahan lawan.

Alana berjalan menembus taman belakang faksi kedua yang dipenuhi oleh tanaman rambat berduri. Menggunakan celah waktu saat pergantian shift penjaga pada pukul dua siang, dia berhasil menyelinap masuk melalui pintu utilitas pelayan di bagian bawah, lalu menaiki tangga melingkar menuju perpustakaan pribadi Julian di lantai dua.

Pintu perpustakaan kayu jati yang besar itu tidak dikunci sepenuhnya. Alana mendorongnya perlahan tanpa menimbulkan suara, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh ribuan buku tua dan bau kertas yang pekat.

Di ujung ruangan, di balik sebuah meja kerja besar yang diterangi oleh lampu meja bercahaya kuning, duduk seorang pemuda dengan kemeja putih rapi yang lengannya digulung hingga siku. Dia mengenakan kacamata berbingkai perak tipis, jemarinya yang pucat sedang bergerak lincah di atas keyboard laptop, sementara matanya yang tajam membaca barisan kode dan data dengan fokus mutlak. Julian Garrick.

Alana tidak menyembunyikan langkah kakinya lagi. Dia sengaja melangkah dengan ketukan sepatu yang jelas di atas lantai kayu, menginterupsi keheningan perpustakaan.

Gerakan jemari Julian seketika terhenti. Tanpa mengubah posisi duduknya atau menunjukkan keterkejutan yang berlebihan, pria itu perlahan menaikkan pandangannya dari layar laptop. Di balik lensa kacamatanya, sepasang mata gelap milik Julian menatap tajam ke arah sosok gadis abu-abu yang berdiri di tengah ruangannya.

Julian tertegun sesaat saat mengenali wajah pucat dengan memar keunguan di pipinya itu. Alana. Si tikus kecil dari paviliun belakang yang terisolasi.

"Menarik," suara Julian terdengar sangat datar, dingin, dan monoton—tipikal suara seorang sosiopat yang pandai menyembunyikan emosi. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, melipat kedua tangannya di depan dada. "Bagaimana bisa seekor tikus tanah berhasil menembus tiga lapis sistem keamanan pengawal faksi kedua dan berdiri di ruang kerjaku tanpa memicu alarm?"

Alana tidak terintimidasi oleh tatapan dingin Julian yang seperti pisau bedah. Dia berjalan mendekati meja kerja Julian, berhenti tepat tiga langkah di depannya.

"Sistem keamanan Anda memiliki celah statis setiap pukul dua siang saat pergantian shift, Tuan Muda Julian," balas Alana dengan nada suara yang tak kalah datar dan tenang. "Terlalu mengandalkan algoritma digital sering kali membuat manusia melupakan variabel fisik."

Julian menaikkan satu alisnya, batinnya tersentak kecil mendengar analisis teknis yang keluar dari bibir adik tirinya yang terkenal bodoh dan cengeng ini. Namun, dia dengan cepat menguasai dirinya kembali dan menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Dan untuk apa kamu mempertaruhkan nyawamu menyelinap ke sini, Alana? Jika aku memanggil pengawal sekarang, kamu akan diseret keluar dan Eleanor mungkin akan memotong kakimu karena berani berkeliaran di luar wilayahmu."

"Anda tidak akan memanggil pengawal, Julian," Alana meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja kayu mahoni milik Julian, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga bayangan wajahnya jatuh di atas laptop Julian. "Karena jika Anda melakukannya, Anda akan kehilangan satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan diri dari amukan Xavier Garrick."

Mendengar nama Xavier disebut, sorot mata Julian seketika menegang. "Apa maksudmu?"

"Tuan Muda Xavier sudah mengetahui rencana Anda di Monaco," Alana menjatuhkan bom waktu pertamanya dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan—sebuah taktik manipulasi tingkat tinggi yang membalikkan fakta. "Dia tahu Anda sedang mengincar jalur pencucian uangnya, dan saat ini, di Mansion Tengah, Tuan Muda Xavier sedang mengaudit seluruh sistem keuangannya untuk menjebak Anda kembali. Jika dia menemukan bukti pergerakan intelijen Anda, faksi ketiga akan memotong seluruh pasokan dana untuk faksi kedua, membuat Anda dan ibu Anda kelaparan di mansion ini sebelum ayah pulang."

Keringat dingin samar mulai muncul di pelipis Julian. Informasi itu terasa begitu nyata karena dia memang sedang merencanakan hal tersebut, meski masih dalam tahap pengumpulan data awal. Bagaimana mungkin Xavier bisa tahu secepat ini? Dan yang lebih gila lagi, bagaimana mungkin Alana bisa menjadi pembawa pesan ini?

"Kenapa kamu memberi tahu aku tentang hal ini?" Julian menatap Alana dengan tatapan penuh kecurigaan yang mendalam. "Apa keuntunganmu menjadi pengkhianat bagi Xavier?"

"Saya tidak memihak Tuan Muda Xavier, dan saya juga tidak memihak Anda," Alana menegakkan kembali tubuhnya, menatap Julian dengan keangkuhan yang dingin. "Saya hanya memihak pada kelangsungan hidup saya sendiri. Nyonya Eleanor ingin menjual saya ke Eropa Selatan dalam dua minggu demi Tuan Muda Cedric. Saya menolak rencana itu. Jika Tuan Muda Cedric mendapatkan kekuatan militer dari Eropa Selatan, faksi Anda dan faksi Tuan Muda Xavier sama-sama akan tamat."

Alana mengetukkan jarinya ke atas meja Julian. "Tuan Muda Xavier sudah setuju untuk menahan pergerakan logistik Nyonya Eleanor dari sisi keuangan. Dan sekarang, saya butuh Anda untuk bergerak dari sisi administratif."

Julian menarik napas panjang, mencoba mencerna seluruh informasi gila yang membanjiri otaknya. Dia mengira dia adalah orang paling pintar di mansion ini, namun dalam waktu kurang dari lima menit, gadis dari paviliun belakang ini telah mengacaukan seluruh papan strateginya dan memaksanya untuk ikut ke dalam arusnya.

"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Julian, suaranya kini terdengar agak berat.

"Palsukan atau kacaukan dokumen legalitas pernikahan politik yang sedang disiapkan oleh pengacara Nyonya Eleanor. Buat otoritas hukum di Eropa Selatan menolak berkas pernikahan itu karena cacat administrasi," tuntut Alana dengan tegas. "Beri saya waktu tambahan di mansion ini. Sebagai imbalannya, saya akan membagikan data internal tentang titik lemah sistem pertahanan kasino Tuan Muda Xavier di Monaco yang saya ketahui, sehingga Anda bisa bergerak tanpa memicu kecurigaannya."

Julian menatap Alana dalam keheningan yang panjang. Di balik kacamata peraknya, otaknya yang jenius sedang menghitung untung rugi dari aliansi rahasia ini. Menipu Eleanor dan bekerja sama dengan Alana adalah langkah yang sangat berisiko, namun potensi untuk menghancurkan faksi pertama dan faksi ketiga secara bersamaan adalah tawaran yang terlalu indah untuk dilewatkan oleh si ahli strategi.

Perlahan, Julian membetulkan posisi kacamatanya, sebuah senyuman manipulatif yang penuh rasa hormat baru terukir di wajah pucatnya.

"Aliansi ganda di balik kabut... kamu benar-benar iblis kecil yang sangat menarik, Alana," bisik Julian, mengulurkan tangannya yang dingin di atas meja. "Kesepakatan diterima. Mari kita hancurkan faksi pertama bersama-sama."

Alana menyambut jabat tangan Julian dengan senyuman dingin yang tak terbaca. Bidak catur keduanya telah bergerak, mengunci dua monster terbesar mansion dalam satu genggaman tangannya yang tak terlihat.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!