NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Serangan di Lorong Gelap

Setelah keluar dari aula, Wang Hao berjalan dengan kedua tangannya di belakang tubuh. Ia meninggalkan kediaman Klan Sheng, menuju ke Balai Ramuan Giok Hijau dengan langkah santai. Langit pagi masih tampak cerah, dan jalanan Kota Lanyu sudah dipenuhi oleh para pedagang dan kultivator yang berlalu-lalang.

Saat berjalan di jalan besar, Wang Hao merasakan seseorang mengamatinya dari sebuah lorong sempit di sisi kiri jalan. Tatapan itu tajam, terfokus, dan tidak bergerak, jelas bukan tatapan orang yang sekadar kebetulan melihat. Wang Hao mengubah arah langkahnya tanpa ragu, memasuki lorong itu dengan langkah yang tetap santai.

Lorong itu gelap dan sempit, diapit oleh dua bangunan batu tua yang sudah retak di sana-sini. Sebuah gerobak rusak teronggok di sudut, sementara tumpukan kayu bekas berserakan di sepanjang dinding. Tidak ada siapa pun di sana, setidaknya tidak terlihat oleh mata biasa.

"Keluarlah," kata Wang Hao dengan suara datar. "Jangan buat saya menunggu."

Keheningan sesaat, lalu suara langkah kaki pelan terdengar dari balik gerobak rusak. Seorang pria tua muncul perlahan, mengenakan jubah abu-abu gelap yang lusuh di bagian ujungnya. Rambutnya setengah putih, wajahnya dipenuhi keriput, tetapi matanya setajam elang yang sedang mengintai mangsa. Kultivasinya berada di Kondensasi Qi lapis sembilan.

"Kau bisa menyadari penyamaranku di kondensasi qi lapis tiga," katanya dengan suara serak yang terdengar seperti gesekan batu. "Kau memang penuh kejutan, sesuai rumor yang beredar."

"Klan Gao atau Klan Wei?" tanya Wang Hao dengan nada malas, seolah pertanyaan itu hanya basa-basi yang tidak terlalu penting.

Pria tua itu menggeleng pelan. "Tidak penting aku dari mana. Aku datang hanya untuk mengujimu."

"Kau akan mati jika mencobanya," Wang Hao memperingatkan dengan suara yang tetap datar. "Sebaiknya urungkan niatmu."

Pria tua itu terkekeh, suaranya menggema pelan di dinding lorong. "Hehehe... aku datang dengan persiapan matang. Kau pikir orang tua sepertiku akan bertindak ceroboh seperti anak muda?"

"Tentu tidak," jawab Wang Hao, nadanya masih sama, tanpa perubahan sedikit pun.

Pria tua itu merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ketenangan di wajah Wang Hao bukanlah ketenangan pura-pura, bukan pula ketenangan orang yang tidak menyadari bahaya. Itu adalah ketenangan seseorang yang benar-benar tidak menganggapnya sebagai ancaman, dan hal itu membuatnya sangat kesal.

"Aku ingin lihat sampai kapan ketenanganmu ini bisa bertahan, bocah!" hardiknya.

Pria tua itu langsung melompat ke belakang, tubuhnya melesat ringan meskipun usianya sudah lanjut. Jarak di antara mereka kini menjadi sepuluh meter. Ia segera membentuk segel tangan, jari-jarinya bergerak cepat merangkai pola yang rumit. Begitu segel itu aktif, asap hitam pekat menyembur dari tubuhnya, menyebar dengan cepat ke seluruh lorong, menutupi pandangan Wang Hao sepenuhnya.

Wang Hao tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya berdiri dengan tangan masih di belakang tubuh, matanya menembus asap hitam yang semakin menebal.

Tak berselang lama, asap hitam itu mulai menghilang. Sosok pria tua itu telah berubah. Kini di hadapan Wang Hao berdiri seekor kalajengking raksasa setinggi dua meter dengan cangkang hitam mengilap. Capit-capitnya yang besar terbuka dan tertutup dengan bunyi klik-klik yang mengerikan, sementara sengat di ekornya melengkung ke atas, meneteskan cairan ungu pekat.

"Kalajengking Penakluk!" suara kalajengking itu menggelegar, menggetarkan dinding-dinding lorong.

Wang Hao tersenyum tipis, lalu mengeluarkan pedangnya dari cincin ruang.

"Menarik sekali. Kultivator di Kondensasi Qi bisa menggunakan teknik perubahan spiritual, yang biasanya hanya dilakukan oleh seorang Pendirian Fondasi menengah. Jarang sekali melihat ini."

Kalajengking itu mengeluarkan suara tawa yang menggelegar. "Hahahaha! Apakah kau sekarang takut? Aku bisa melihat kau tersenyum, dan itu senyuman untuk menutupi ketakutan!"

Wang Hao tidak menjawab, ekspresinya tetap tenang tanpa emosi, dan justru ketenangan itulah yang membuat kalajengking itu semakin kesal.

Tanpa peringatan, kalajengking itu menembakkan racun dari sengatnya ke atas.

Wooosh!

Cairan ungu pekat melesat vertikal, mencapai ketinggian dua puluh meter di atas lorong, lalu tiba-tiba berubah menjadi jaring besar yang langsung turun ke bawah dengan kecepatan mengerikan, hendak mengurung Wang Hao dari segala arah.

"Angin yang menusuk," ucap Wang Hao pelan.

Ia menusukkan pedangnya ke atas dengan gerakan ringan. Dari ujung bilah pedang, energi putih berkumpul dalam sekejap, lalu menembakkan angin yang sangat kuat ke arah jaring racun itu.

Woooosshh! Splash!

Angin itu menghantam jaring racun dengan kekuatan yang tidak terduga, menghancurkannya menjadi percikan-percikan cairan ungu yang langsung terlempar jauh hingga keluar kota. Tidak ada setetes pun yang mengenai Wang Hao.

Kalajengking itu mundur, keterkejutan jelas dari caranya mundur. "Bagaimana bisa? Kondensasi lapis tiga memiliki kekuatan sekuat itu? Tidak mungkin!"

Ia langsung menembakkan racun lagi, kali ini langsung ke arah Wang Hao, cairan ungu pekat melesat lurus seperti anak panah.

Wang Hao menebaskan pedangnya ke depan dengan gerakan halus namun cepat. "Tebasan Harmoni!"

Slash!

Satu energi pedang berwarna hitam putih terbentuk dari bilah pedangnya, melesat ke depan menyambut racun yang datang.

Splash!

Racun itu pecah berkeping-keping di udara, sementara energi pedang harmoni terus melesat tanpa kehilangan kecepatan, langsung menuju tubuh kalajengking itu.

Kalajengking itu mengayunkan sengat belakangnya ke depan, menghantamkan ujung sengat yang keras langsung ke arah energi pedang harmoni.

Zzzzztt!

Keduanya beradu, menyebabkan percikan energi kecil yang beterbangan ke segala arah. Energi pedang itu terus menekan, mendorong sengat kalajengking mundur sedikit demi sedikit.

"Tidak... tidak mungkin!" raung kalajengking itu, dan di balik raungan itu terdengar suara pria tua yang marah dan panik.

Sreett!

Sengat itu terbelah rapi dan bersih, terpotong tepat di tengahnya seperti buah yang dibelah pisau tajam. Cairan ungu menyembur dari luka potongan, menggenang di lantai lorong.

Wang Hao tidak memberinya waktu untuk pulih. Ia menebas lagi dengan santai, dua kali tebasan berturut-turut, dan dua energi pedang melesat cepat ke arah tubuh kalajengking itu.

Sreet! Sreet!

Kedua energi pedang itu membelah tubuh kalajengking dengan mudah, memotong dua capitnya sekaligus, merobek cangkang hitamnya hingga terbelah. Tubuh kalajengking itu roboh, lalu asap hitam mengepul darinya, dan sesaat kemudian wujud pria tua itu kembali. Ia terhuyung-huyung dengan luka di sekujur tubuhnya, napasnya tersengal-sengal, tetapi matanya masih menyala penuh kemarahan.

"Kurang ajar... jangan pikir kau menang, bocah!" Ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah jimat, lalu mengaktifkannya dengan segel tangan. "Bangkitlah, Tengkorak Penghancur!"

Sesosok tengkorak raksasa muncul di belakangnya, tingginya mencapai dua meter, tulang-tulangnya berwarna putih kusam dengan retakan-retakan di sana-sini. Di tangannya tergenggam sebuah kapak besar yang terbuat dari tulang, dan dari rongga matanya memancarkan cahaya hijau yang menyeramkan.

Wang Hao menatap tengkorak itu dengan ekspresi yang tidak berubah. "Ini kesempatan terakhir. Siapa yang memerintahkanmu?"

Pria tua itu meludah ke samping, ludahnya bercampur darah. "Kau tidak akan pernah tahu, bocah! Habisi dia!" Ia menunjuk ke arah Wang Hao, dan tengkorak itu segera bergerak, melangkah maju dengan langkah berat yang menggetarkan tanah, kapak tulangnya terangkat tinggi siap menghantam.

Melihat reaksi pria tua itu, yang tidak ingin memberikan informasi, Wang Hao sudah tidak tertarik lagi. Ia mengangkat pedangnya ke atas, lalu mengerahkan seutas niat pedang ke bilahnya. Itu adalah batas maksimal yang bisa ia kerahkan dengan kultivasinya saat ini, tetapi cukup.

Melihat itu, pria tua itu menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang berbeda dari aura pedang itu, sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding.

Wang Hao langsung menebas ke depan.

SLASH!

Energi pedang putih murni melesat dengan kecepatan yang jauh melampaui tebasan-tebasan sebelumnya. Tengkorak itu mengayunkan kapaknya untuk menyambut, tetapi gerakannya terlalu lambat.

Duar!

Ledakan keras terjadi saat energi pedang itu menghantam tubuh tengkorak, menghancurkannya menjadi serpihan tulang yang beterbangan. Energi pedang itu tidak berhenti, terus melesat melewati puing-puing tulang, langsung mengarah ke pria tua itu.

Pria tua itu panik, dengan cepat ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan jimat lain, mengaktifkannya dengan segel tangan, ingin memblokir serangan itu.

Namun energi pedang itu sudah mendarat di dadanya sebelum jimatnya sempurna aktif.

Sreett!

Koyakan sangat lebar menganga di dada pria tua itu, dari bahu kanan hingga pinggang kiri, begitu dalam hingga tulang-tulangnya terlihat. Darah menyembur deras, membasahi seluruh tubuhnya.

Pria tua itu terhuyung mundur beberapa langkah, tangannya terulur ke atas seolah mencoba meraih sesuatu yang tidak terlihat, mulutnya terbuka tetapi tidak ada suara yang keluar. Kemudian tubuhnya ambruk ke lantai batu, dan napasnya berhenti. Kedua matanya masih terbuka, menatap kosong ke langit-langit lorong.

Wang Hao memasukkan pedangnya ke dalam cincin ruang, lalu berjalan mendekati mayat pria tua itu. Ia mengambil cincin ruang dari jarinya dan memeriksanya. Isinya beberapa jimat yang tidak sempat digunakan, beberapa senjata tingkat rendah, dan lima ratus batu roh tingkat rendah. Wang Hao memindahkan batu roh itu ke cincin ruangnya sendiri, lalu mengembalikan cincin ruang itu ke jari pria tua tersebut.

Ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan lorong.

"Mengecewakan," gumamnya pelan sambil terus berjalan.

Dulu, di kehidupan sebelumnya, banyak sekali orang yang berteriak-teriak saat bertarung, mengatakan bahwa mereka sudah mempersiapkan banyak hal, bahwa mereka tidak mungkin kalah, bahwa lawan mereka akan menyesal telah melawan mereka. Tapi mereka selalu berakhir kalah paling cepat.

Orang-orang seperti itu adalah orang yang paling membuat Wang Hao geli melihatnya. Sebab orang yang benar-benar bersiap tidak akan berteriak paling keras jika dirinya benar-benar telah siap. Semakin keras seseorang menyatakan kesiapannya, semakin besar keraguan yang ia sembunyikan di balik kata-katanya sendiri.

Wang Hao terus berjalan santai keluar dari lorong, kembali ke jalan besar yang terang. Ia sadar di belakangnya ada dua orang yang muncul dari kegelapan dan mulai menyeret mayat pria tua itu, tetapi ia tidak begitu peduli. Biarkan mereka membersihkannya. Itu bukan urusannya.

Ia terus berjalan menuju Balai Ramuan Giok Hijau. Langit pagi masih tampak cerah di atas kepalanya.

1
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🥛
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🙏
Jojo Shua
44
Jojo Shua
4
Agus Rose
Cerita yang cukup baik tapi update nya yg kurang.
Zerro One: Terimakasih penilaian nya.

saya ragu karena novel ini slow plotnya.
total 3 replies
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
✅️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!