DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: BAYANGAN YANG MENDATANG**
**
Rumah Mr. Jarwo, di balik gerbang besi yang sudah Reza lewati malam sebelumnya, ternyata jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Lorong-lorongnya dipenuhi lukisan tua bergaya Eropa, berdampingan aneh dengan ukiran kayu jati khas Jawa, seolah dua dunia yang dipaksa hidup berdampingan dalam satu atap.
Reza diantar masuk ke ruang kerja pribadi, dan di sana, Mr. Jarwo sudah menunggu, duduk di balik meja kayu besar, sebuah papan catur terbuka di pojok meja dengan beberapa bidak sudah berpindah posisi, seperti permainan yang sedang berjalan tanpa lawan.
"Duduk," Mr. Jarwo berkata pendek, tidak menawarkan teh, tidak menawarkan basa-basi apa pun.
Reza duduk, mencoba menjaga sikapnya tetap berwibawa walau dadanya berdebar tidak karuan.
"Saya dengar lo butuh bantuan saya buat hancurin adik tiri lo," Mr. Jarwo melanjutkan, suaranya tenang, tanpa nada menghakimi, "tapi saya gak kerja buat siapa pun yang cuma modal niat doang."
"Saya siap bayar berapa pun, Pak."
Mr. Jarwo tersenyum tipis, senyum yang justru membuat suasana makin dingin, "Uang itu murah, Reza. Saya udah cukup kaya buat gak peduli sama uang lo."
"Lalu, Bapak mau apa?"
"Saya mau tau, seberapa serius lo. Orang yang cuma main-main, gak pantas dapet bantuan saya."
Mr. Jarwo menggeser papan catur sedikit, memindahkan satu bidak tanpa alasan jelas, lalu menatap Reza lurus-lurus, "Serahkan akses penuh ke seluruh proyek konstruksi keluarga lo yang sedang berjalan. Bukan cuma data. Saya mau kendali penuh atas siapa yang masuk, siapa yang keluar, sampai siapa yang dapet untung dari setiap proyek itu."
Reza terdiam, dadanya berat. Itu bukan permintaan kecil. Itu sama saja menyerahkan jantung bisnis keluarganya sendiri ke tangan orang asing.
"Itu... itu terlalu besar, Pak."
"Kalau begitu," Mr. Jarwo berkata santai, kembali menatap papan caturnya, "lo bisa cari bantuan lain."
Reza menggigit bibirnya, mengingat wajah David yang sekarang dipuja semua orang, mengingat Dimas yang berkhianat, mengingat semua rencananya yang berakhir gagal total. Akhirnya, dengan tangan gemetar, dia mengangguk.
"Baik, Pak. Saya setuju."
Mr. Jarwo tersenyum lebih lebar kali ini, senyum yang justru membuat bulu kuduk Reza berdiri lebih hebat dari sebelumnya, "Bagus. Mulai sekarang, lo kerja buat saya, bukan saya kerja buat lo."
Kalimat itu menggantung di udara, dan untuk pertama kalinya, Reza menyadari, dia baru saja menukar satu masalah besar dengan masalah yang jauh lebih besar lagi, masalah yang bahkan dia sendiri belum bisa membayangkan ujungnya.
***
Sementara itu, di rumah Anto, suasana jauh lebih ringan walau topiknya tidak kalah serius. Dimas, yang sekarang resmi jadi bagian dari lingkaran dalam David, berdiri di halaman belakang sambil membawa sebuah pistol kosong tanpa peluru, niatnya mengajari David dasar-dasar penggunaan senjata api.
"Gue sih gak suka pake senjata tajam gini," David berkata sambil memegang pistol itu dengan kikuk, "sukanya tangan kosong. Lebih kerasa, lebih jujur."
"Tuan," Dimas menjawab serius, "musuh berikutnya gak selalu kasih kesempatan buat bertarung tangan kosong. Tuan harus belajar pakai ini, bukan buat ngebunuh, tapi buat jaga-jaga kalau keadaan udah di luar kendali."
David menatap pistol itu lama, lalu menghela napas, "Yaudah, ajarin aja. Tapi gue tetep lebih percaya sama tangan gue sendiri."
Tidak jauh dari situ, Anto, yang sejak tadi menonton dengan rasa penasaran yang tidak bisa dia tahan, akhirnya mendekat ke Rambo yang sedang duduk di kursi roda sementara, kakinya masih dibebat perban tebal.
"Bo, ajarin gue silat dong. Gue capek terus-terusan jadi yang lemah di antara kita semua."
Rambo, walau masih meringis kesakitan setiap kali bergerak, tersenyum lebar, "Akhirnya lo sadar juga, Tot. Sini, gue ajarin dasar-dasarnya."
Dia menunjukkan posisi pukulan sederhana, lalu menyuruh Anto mempraktikkannya ke arah telapak tangannya sendiri yang diangkat sebagai sasaran.
"Pukul yang bener!"
Anto melayangkan pukulan, tapi tenaganya begitu lemah, hampir seperti tepukan halus.
Rambo menggeleng kecewa, "Yaelah, Tot, lo kayak boti. Mana nyali cowok lo? Itu namanya ngelus, bukan mukul!"
"Eh, gue serius nih!" Anto protes, lalu mencoba lagi dengan tenaga lebih besar, tapi kali ini, karena terlalu memaksakan diri, badannya kehilangan keseimbangan, kakinya terpeleset sendiri di rumput, dan dia jatuh terjengkang ke belakang.
"BRUK!"
David, yang sedang memperhatikan dari kejauhan sambil masih memegang pistol kosong, tidak bisa menahan tawa, "Tot... musuh belum dipukul, lo udah KO duluan."
Seluruh halaman pecah dalam tawa, bahkan Dimas yang biasanya serius sampai ikut tersenyum geli melihat kekonyolan itu.
***
Sore harinya, suasana lebih tenang. Camelia datang membawa kotak P3K, niatnya mengganti perban di lengan David yang masih ada luka kecil sisa pertarungan di gudang.
"Sini, biar aku ganti," dia berkata, duduk di samping David, tangannya bergerak lembut membuka perban lama.
David diam saja, membiarkan Camelia bekerja, tapi diam-diam memperhatikan wajah perempuan itu yang serius berkonsentrasi, alisnya sedikit berkerut setiap kali membersihkan luka dengan kapas.
Tidak lama, ganti Camelia yang melirik ke arah David, dan begitu mata mereka bertemu, suasana jadi hening sebentar, ada sesuatu yang hangat mengambang di antara mereka, sebelum Camelia cepat-cepat memalingkan wajah, pura-pura fokus lagi ke perban.
Anto, yang lewat membawa segelas air sambil masih meringis pegal akibat jatuh tadi, melihat momen itu dan langsung menggoda, "Mel, kalau tatapannya lebih lama dikit, David bisa gosong."
"APAAN SIH, TOT!" Camelia langsung salah tingkah, wajahnya memerah, cepat-cepat menyelesaikan perban dengan gerakan yang jadi sedikit kasar karena gugup.
David hanya tersenyum kecil, tidak berkata apa-apa, tapi hatinya terasa hangat dengan cara yang sulit dia jelaskan.
***
Malam harinya, suasana berubah serius mendadak ketika ponsel David berdering, nomor tidak dikenal muncul di layar.
"Halo?"
"David Wijayakusuma," suara pria tua yang tenang terdengar dari seberang, berat, penuh kontrol.
David, dengan gaya santainya yang khas, langsung menjawab, "Siapa nih? Pinjol? Atau tawaran judol?"
Suara itu tetap tenang, tidak terpancing sama sekali, "Saya Mr. Jarwo."
"Oh," David mengangguk-angguk sendiri, "kirain Pak RT Sujarwo."
Telepon itu ditutup tanpa kata lain dari seberang, meninggalkan David yang menatap ponselnya dengan ekspresi datar.
Dimas, yang mendengar nama itu disebut, langsung berubah tegang, wajahnya pucat seketika.
"Tuan," dia berkata serius, "dia bukan musuh sembarangan. Gue tau, karena gue dari dulu hidup di dunia gelap. Nama itu udah jadi legenda yang ditakuti, bahkan sebelum gue lahir di dunia ini."
David malah tersenyum santai, "Jangan kan Mr. Jarwo doang..."
Semua yang ada di ruangan menoleh penuh perhatian.
David melanjutkan sambil nyengir lebar, "Kalaupun dia bawa si Sopo... sama si Adit... gue juga gak takut."
Ruangan itu hening sejenak.
Anto, yang bingung total, langsung bertanya, "Sopo sama Adit siapa, coba?"
David mengangkat bahu santai, "Ya mana gue tau. Tadi cuma nyari nama yang kedengarannya cocok aja buat bikin tegang."
Seluruh ruangan langsung pecah dalam tawa, termasuk Rambo yang sampai meringis menahan sakit di rusuknya, tapi tawanya tidak berhenti.
Belum sempat tawa itu mereda, tiba-tiba Rambo menjerit, "KYAAAA!"
Semua kaget menoleh ke arahnya, dan ternyata seekor kecoa kecil baru saja masuk ke dalam kerah bajunya, membuat tubuh besar yang biasa ditakuti seantero Jawa Barat itu menjerit seperti perempuan yang baru lihat hantu, tangannya mengibas-ngibas panik berusaha mengeluarkan serangga itu.
Tawa di ruangan itu makin meledak, sampai air mata keluar dari sudut mata masing-masing.
Tapi begitu suasana mulai tenang lagi, Dimas tetap memegang ekspresi serius, "Bercanda boleh, Tuan. Tapi kali ini kita benar-benar sedang menghadapi orang yang berbeda."
David menatapnya, ekspresinya berubah lebih tenang, lebih dalam, "Gue tau, Dimas. Tapi gue gak takut. Yang gue takut cuma sama Sang Maha Pencipta. Dia yang layak ditakuti, bukan makhluknya, sekuat apa pun makhluk itu."
Kalimat itu membuat seisi ruangan terdiam sejenak, bukan karena kaget, tapi karena merasakan ketenangan yang aneh menjalar dari kata-kata sederhana itu, ketenangan yang membuat semua orang di ruangan itu, termasuk Dimas yang sudah malang melintang di dunia gelap, merasa sedikit lebih yakin bahwa apa pun yang akan datang, mereka tidak akan berdiri sendirian menghadapinya.
***
Jauh dari rumah itu, di ruang kerjanya yang sunyi, Mr. Jarwo masih duduk sendirian di depan papan caturnya, menggerakkan satu bidak dengan tenang, seolah lawan di hadapannya hanya bayangan yang dia ciptakan sendiri.
Seorang ajudan masuk, melapor dengan suara hati-hati, "Tuan, David tidak takut."
Jarwo tidak menjawab langsung, hanya memindahkan satu bidak lagi, gerakannya pelan, penuh perhitungan.
"Bagus," dia berkata akhirnya, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Lalu, dengan suara yang lebih pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, dia menambahkan, "Kalau begitu, waktunya dia belajar arti kehilangan. Kita bungkam mulut besarnya itu."
Papan catur di depannya tetap diam, hanya bayangan lampu yang berkedip pelan di atasnya, menemani rencana yang baru saja mulai disusun, jauh lebih sunyi dan jauh lebih berbahaya dari segala ancaman yang pernah David hadapi sebelumnya.
*(bersambung)*