DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: GALA DINNER KONTRAKTOR NASIONAL**
**
Undangan itu datang lewat surat resmi berlapis emas di pinggirannya, dikirim langsung dari Asosiasi Kontraktor Nasional, mengundang David Wijayakusuma sebagai salah satu pembicara kehormatan dalam acara penghargaan tahunan, sebuah pengakuan resmi atas keberhasilan menyelesaikan proyek mal Bekasi yang sempat dianggap mustahil oleh seluruh industri.
"Anjir, ini acaranya mewah amat," David bergumam sambil membaca undangan itu, "dress code-nya formal, Tot. Gue harus pake jas?"
"Ya jelas, Vid. Ini gala dinner, bukan kondangan kampung," Anto menjawab sambil ikut membaca undangan dari balik pundak David.
Malam itu, hotel bintang lima di pusat Jakarta sudah dipenuhi lampu kristal yang berkilauan, karpet merah terbentang dari pintu masuk sampai ke ballroom utama, dan para tamu yang hadir bukan orang sembarangan, deretan CEO perusahaan konstruksi besar, investor properti ternama, hingga beberapa pejabat dari kementerian yang ikut hadir karena proyek-proyek strategis nasional.
David melangkah masuk mengenakan jas hitam yang dipilihkan khusus oleh Bunda Melati, rambutnya disisir rapi hasil belajar dari salon beberapa bulan lalu, dan di sampingnya, Camelia berjalan dengan gaun panjang berwarna biru tua yang membuat banyak kepala menoleh, sementara Anto mengikuti dengan jas yang sedikit kebesaran karena dipinjam dadakan dari lemari David, dan Rambo, badan besarnya dipaksa masuk ke dalam jas yang jahitannya hampir robek di bagian bahu.
"Tuan, ini jas sempit banget," Rambo berbisik sambil mencoba menggerakkan lengannya, "kayak baju anak SD yang dipakein ke gorila."
"Sabar, Bo, ini cuma semalam," David membalas, menahan tawa.
Begitu mereka memasuki ballroom, David langsung jadi pusat perhatian. Beberapa CEO senior mendekat, mengulurkan tangan dengan senyum penuh kekaguman.
"Saya dengar Anda yang menyelesaikan proyek Bekasi dalam waktu sepuluh hari. Luar biasa," salah satu investor besar berkata sambil menyalami David erat-erat.
"Terima kasih, Pak. Itu kerja tim, bukan saya sendirian," David menjawab dengan kalimat yang sudah dia pelajari dari Camelia, sopan tapi tetap percaya diri, jauh dari kekikukan David yang dulu selalu menunduk dan gagap setiap kali bertemu orang baru.
Camelia, yang berdiri tidak jauh dari situ, menatap David dengan dada yang entah kenapa terasa hangat. Diam-diam dia bangga, melihat sosok yang dulu dia kenal pemalu dan canggung, sekarang berdiri tegak di tengah orang-orang penting, berbicara dengan percaya diri yang sama sekali baru.
Saat David sedang berbicara dengan salah satu klien, dasinya sedikit miring akibat gerakan tangannya yang terlalu bersemangat menjelaskan sesuatu. Camelia, tanpa sadar, melangkah maju, tangannya bergerak otomatis merapikan dasi itu.
"Nah, gini lebih rapi," dia berkata, jarinya masih menyentuh kerah jas David.
Begitu sadar dengan apa yang baru dia lakukan, di depan banyak orang pula, wajahnya langsung memerah, "Eh, maaf, refleks aja tadi."
David hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa, tapi ada getaran kecil yang dia rasakan, sesuatu yang hangat dan asing, berbeda dari rasa sayang yang dulu dia rasakan untuk Kirana, tapi entah kenapa terasa nyaman untuk dibiarkan tumbuh perlahan.
Rambo, yang berdiri di belakang sambil mengawasi seperti biasa, melihat momen itu dan langsung menyikut Anto, "Eh, Tot, liat tuh."
"Liat apa?"
"Itu, Nona Camelia sama Tuan David. Mesra amat."
Anto mendengus geli, "Udah dari lama kali, Bo. Lo aja yang baru sadar."
Sepanjang malam, banyak perempuan yang berlalu-lalang melirik David dengan tatapan penuh minat, dan Rambo, yang selalu siap memberi komentar, sengaja menggoda.
"Tuan, ini banyak yang ngeliatin Tuan terus. Mau saya kenalin satu-satu?"
"Diem, Bo," David membalas sambil menahan senyum, "gue lagi fokus kerja."
Tapi dalam hati, Rambo justru semakin menghormati David. Bukan cuma karena kekuatan tarungnya yang luar biasa, tapi karena cara David memimpin, tegas tapi tetap rendah hati, sosok yang membuat Rambo, untuk pertama kalinya seumur hidup penuh kekerasan, merasa benar-benar punya seseorang yang layak dia ikuti dengan sepenuh hati.
Beberapa kali, ada tamu yang mencoba menjebak David dengan pertanyaan bisnis yang rumit, mencoba menguji apakah dia benar-benar mengerti seluk-beluk perusahaan atau cuma pewaris yang beruntung.
"David, bagaimana strategi Anda menghadapi fluktuasi harga material dalam jangka panjang, mengingat ketergantungan impor baja yang masih tinggi?" salah satu CEO bertanya dengan nada yang sengaja dibuat menjebak.
David sempat terdiam sejenak, tapi sebelum dia salah menjawab, Anto, yang berdiri di sampingnya, langsung menyahut cepat, "Kami sedang mengembangkan kerja sama dengan beberapa pemasok lokal untuk mengurangi ketergantungan impor, Pak. David yang merancang langsung strateginya."
David melanjutkan dengan percaya diri, mengulang poin-poin yang baru saja dijelaskan Anto seolah memang sudah dia kuasai sejak awal, membuat CEO itu mengangguk puas, tidak menyadari sama sekali peran kecil Anto di balik jawaban itu.
"Makasih, Tot," David berbisik begitu CEO itu berlalu.
"Santai, Vid. Gue kan tim lo," Anto membalas dengan senyum bangga.
***
Di sisi lain ruangan, Reza berdiri kaku dengan segelas wiski di tangan, mengenakan jas terbaiknya, tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang membara setiap kali melihat David dikerubungi orang-orang penting.
Di sampingnya, Dimas Santos berdiri tenang, senyum ramah terpasang sempurna ke arah siapa pun yang lewat, seolah dia hanya tamu biasa yang menikmati malam, padahal matanya terus mengamati setiap gerak-gerik David dari kejauhan, menghitung, menilai, mencari celah.
"Lihat itu," Reza berkata pelan, suaranya bergetar menahan iri, "semua orang ngerubutin dia. Padahal minggu lalu dia hampir jadi tersangka korupsi."
"Sabar," Dimas menjawab tanpa menoleh, "dunia bisnis itu cepat lupa, Reza. Yang penting hasil akhir."
Ketika beberapa CEO besar mulai berebut mengajak David bekerja sama, bahkan ada yang langsung menawarkan kontrak proyek baru senilai ratusan miliar di tempat, wajah Reza memerah semakin parah, giginya bergemeretak menahan amarah yang ingin meledak.
"Saya gak tahan liat ini," Reza berbisik, "saya mau bikin keributan sekarang juga."
Dimas meletakkan tangannya di pundak Reza, menahan dengan tenang, "Tenang. Malam ini jangan bikin keributan. Saya sudah siapkan permainan yang lebih elegan. Untuk saat ini, biarkan dia bersenang-senang dulu."
"Permainan apa?"
"Nanti kamu akan lihat sendiri," Dimas menjawab singkat, lalu melangkah pergi, meninggalkan Reza yang masih berdiri dengan dada penuh dendam yang dipaksa tertahan.
***
Menjelang akhir acara, ketika sebagian besar tamu sudah mulai berpindah ke area lounge untuk minum-minum santai, Dimas melangkah keluar diam-diam menuju balkon hotel yang menghadap langsung ke gemerlap kota Jakarta. Di sana, sudah menunggu seorang pria berusia lima puluhan, berpakaian sama rapinya, dikenal luas sebagai salah satu CEO perusahaan konstruksi pesaing terbesar dari kelompok bisnis Wijayakusuma.
"Pak Hermansyah," Dimas menyapa dengan senyum tipis, mengulurkan tangan.
"Pak Dimas," pria itu membalas salaman dengan tatapan penuh perhitungan, "saya dengar Anda punya proposal menarik."
"David Wijayakusuma," Dimas memulai, suaranya pelan tapi tegas, "anak muda itu terlalu cepat naik. Kalau dibiarkan, dalam lima tahun dia bisa menggeser dominasi perusahaan Anda di sektor properti Jakarta Timur."
"Dan Anda punya solusinya?"
"Bukan lewat sabotase kasar seperti yang sebelumnya dicoba orang-orang bodoh," Dimas tersenyum, "tapi lewat jalur yang lebih elegan. Regulasi, izin, kebijakan tender yang bisa diarahkan. Saya punya koneksi, Anda punya modal. Kita bisa hancurkan dia secara perlahan, dari sistem, bukan dari jalanan."
Hermansyah terdiam sejenak, mempertimbangkan, lalu mengangkat gelas sampannya, "Kedengarannya menarik."
Mereka berdua mengangkat gelas, berjabat tangan erat di bawah langit Jakarta yang berkilau, menandai sebuah kesepakatan rahasia yang jauh lebih berbahaya dari apa pun yang pernah Reza coba lakukan, sebuah rencana yang tidak akan melibatkan tinju atau dokumen palsu murahan, melainkan permainan panjang yang dirancang untuk menghancurkan David bukan dalam semalam, tapi perlahan, sistematis, dan hampir mustahil dilawan dengan kekuatan fisik sekalipun.
Dari kejauhan, melalui kaca jendela ballroom yang memantulkan cahaya lampu kristal, David masih tertawa ringan berbincang dengan para tamu, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik balkon yang gelap itu, sebuah ancaman baru, jauh lebih licik dan jauh lebih besar dari Reza, baru saja resmi terbentuk untuk menghadangnya.
*(bersambung)*