Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.
Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Alif memperhatikan pria paruh baya di depannya dengan saksama. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian dia teringat jika kemarin juga bertemu dengan orang itu yang ternyata adalah kakeknya Fajar. Mendengar nama musuh bebuyutannya itu, membuat Alif jadi kesal sendiri. Padahal seharian ini mood-nya sudah baik. Alif juga tidak mengganggu Fajar juga.
"Maaf, Kakek, ada apa Kakek datang mencariku? Apa Kakek marah pada saya karena sudah memukul Fajar?" tanya Alif.
"Tidak. Saya tidak marah sama kamu."
"Terus kenapa? Mau menasehati saya? Percuma, nggak mempan, Kek! Orang tua saya saja sudah lelah menasehati saya, Kakek yang sudah tua mau sok-sokan jadi pahlawan. Sebaiknya Kakek memikirkan waktu pensiun saja, tidak usah ikut campur urusan anak muda."
"Kamu salah paham karena saya datang ke sini untuk mengajak kamu jalan-jalan. Kamu mau pergi ke mana pun dan mau membeli apa pun akan saya belikan."
Alif dan teman-temannya saling berpandangan, mereka merasa heran dan aneh dengan tingkah pria di depannya. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Bertemu juga baru dua kali ini, tapi tiba-tiba saja pria itu mau mengajaknya pergi. Apalagi mau menuruti semua keinginannya. Alif jadi prasangka jika pria di depannya ini memiliki maksud tersembunyi.
"Bagaimana? Kamu mau tidak?"
Alif berpikir sejenak. Sebenarnya dia malas berurusan dengan pria di depannya yang sudah pasti sedang ingin memanfaatkannya. Dia sangat ingat jika pria itu yang kemarin mengejar dirinya dan sang oma. Apakah mungkin pria itu sedang ingin mengambil hatinya untuk mendapatkan omanya.
Kemarin Oma Ainun juga enggan untuk bercerita. Entah ada apa sebenarnya di antara mereka. Kalau dari pemikiran Alif sepertinya mereka adalah mantan kekasih. Opanya Fajar masih ingin kembali dengan Oma Ainun, tapi sepertinya Oma Ainun sendiri tidak mau kembali. Jangankan untuk bersama, untuk bertemu saja tidak mau.
"Boleh, Kek, tapi aku ingin mengajak teman-temanku semuanya, bagaimana?" tanya Alif.
Dia sengaja mengajak semua temannya untuk mengerjai pria itu. Salah sendiri datang karena ingin memanfaatkan dirinya, jadi sekarang giliran dirinya yang akan memanfaatkannya. Siapa tahu nanti dia bisa mendapatkan banyak barang yang bagus.
"Boleh, tidak apa-apa semuanya juga akan Opa traktir. Kalian mau apa pun akan Opa belikan."
"Wah! Beneran, Opa?" tanya salah satu teman Alif dengan wajah berbinar.
"Tentu saja, saya tidak pernah berbohong."
Mereka semua pun pergi menuju sebuah mall terbesar di kota itu. Tempatnya memang cukup jauh, tapi Alif tidak mempermasalahkannya. Apalagi dia akan mendapatkan barang bagus, mau sejauh apa pun dia akan datangi.
Alif dan teman-temannya membeli banyak barang dan semuanya branded. Malik sama sekali tidak keberatan meski sekarang sedang dimanfaatkan oleh cucu wanita yang dicintainya. Ini pertama kalinya dia menghabiskan banyak uang dan itu tidak masalah baginya, Malik tidak mempermasalahkan.
Selama ini dia juga jarang sekali membelanjakan uangnya, jadi tabungannya tentu masih sangat cukup untuk menuruti keinginan Alif dan teman-temannya. Selama ini penampilan Malik juga biasa saja. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi wanita yang mendekatinya. Dia terlalu malas jika selalu harus mengusir para wanita yang datang padanya.
"Alif, apa kita tidak keterlaluan pada kakek itu? Kita semua beli barang banyak, aku jadi nggak enak sama dia," bisik salah satu teman Alif.
"Sudah, tidak apa-apa. Kapan lagi kita dapat beli barang sebanyak ini dan bermerek pula. Kalau nanti dia keberatan kita tinggal balikin barangnya saja."
"Tapi aku merasa berdosa karena sudah memanfaatkan kakek-kakek tua."
Tidak dipungkiri Alif pun sebenarnya juga merasa tidak enak. Padahal tadinya dia berniat untuk mengerjai pria tua itu, tapi melihat barang bawaannya dan teman-temannya, dia jadi merasa bersalah. Entah berapa uang yang sudah dikeluarkan oleh pria itu.
Seharusnya uang itu untuk masa tuanya saja, sekarang malah dihabiskan untuknya dan teman-teman. Alif pun mengajak teman-temannya untuk menyudahi belanjaan mereka. Melihat ekspresi Malik yang biasa saja sepertinya mau seberapa banyak yang mereka beli, pria itu sepertinya akan senang-senang saja.
Padahal niat Alif ingin membuat pria itu menyerah dan menjauhi omanya. Entah bagaimana nanti reaksi Oma Ainun saat tahu dia dan teman-teman memanfaatkan Malik. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, pria tua itu cukup baik, tapi dia juga perlu waspada, siapa tahu itu hanya topeng saja.
Setelah selesai belanja, Malik mengajak Alif dan teman-temannya untuk makan siang di sebuah restoran. Alif sebenarnya ingin menolak, tapi teman-temannya malah menyetujui karena mereka merasa sudah kelaparan. Alif yang kasihan pun akhirnya mau juga. Dia juga perlu bertanya sesuatu pada Malik.
"Sebenarnya Kakek ingin apa dariku? Tidak mungkin 'kan Kakek memberiku semua ini dengan cuma-cuma, pasti ada alasan di baliknya," tanya Alif saat mereka sedang menunggu makanan datang.
Alif sudah tidak tahan ingin bertanya banyak hal pada pria di depannya. Terserah jika dirinya dikatakan tidak sopan, dia pun tidak suka dimanfaatkan oleh orang lain. Apalagi mereka juga tidak saling kenal satu sama lain.
Malik bisa melihat tatapan ketidaksukaan dari mata Alif. Dia pun mencoba untuk tersenyum dan berkata, "Baiklah, saya akan jujur. Sebenarnya saya mendekati kamu karena ingin mendapatkan oma kamu."
"Oma? Kakek kenal dengan oma saya?"
"Tentu saja. Kalau kamu ingin tahu banyak hal tentang saya dan omamu, nanti saya akan ceritakan. Yang pasti saya benar-benar ingin mendapatkannya. Dia sudah tidak memiliki suami, kan?"
"Kakek saja tidak tahu tentang apa pun tentang oma saya, kenapa kakek ingin sekali mendapatkan oma saya?"
"Karena saya tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya."
"Maksudnya?"
"Sudah saya katakan, kapan-kapan saya akan ceritakan, tidak di depan umum seperti ini dan dengan banyak orang begini," jawab Malik sambil memperhatikan sekitar dan teman-teman Alif.
Alif pun mengangguk, seharusnya tadi dia tidak mengajak teman-temannya jadi dirinya bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi antara pria tua di depannya dengan sang oma. Dia yakin ada sesuatu cerita yang menarik dibaliknya. Alif pun tidak bertanya lagi.
Setelah makanan datang mereka pun mulai menikmatinya. Alif berterima kasih pada Malik karena sudah membelikan banyak barang dan sudah mentraktirnya. Pemuda itu pun pamit undur diri, tidak lupa juga Malik meminta nomor Alif agar mereka bisa berkomunikasi.
Tadinya Maliki ingin mengantar Alif pulang, tapi pemuda itu menolak karena sudah membawa motor sendiri. Lagian dia juga tahu jika itu hanya modus Malik yang ingin tahu tempat tinggalnya saja. Alif juga tidak mau jika dimarahi Oma Ainun karena menunjukkan rumah mereka pada Malik. Biarlah para orang tua sendiri yang menyelesaikan masalahnya.
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍