NovelToon NovelToon
ANOMALI SEKTOR LIAR

ANOMALI SEKTOR LIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMBERSIHAN SISA BADAI

​Matahari Hari ke-4 telah sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala kota, meninggalkan gumpalan awan kelabu yang perlahan menelan sisa cahaya jingga. Jam digital besar di area luar kompleks Stadion Utama Akademi Astra Nusantara menunjukkan pukul 19:30. Lorong-lorong tribun yang tadinya bising oleh puluhan ribu penonton kini telah sepi, menyisakan keheningan malam yang hanya diinterupsi oleh deru angin malam yang dingin.

​Arkan berjalan sendirian melintasi koridor beton menuju ke area parkir bawah tanah Blok A yang dikhususkan untuk peserta kelas bawah. Di sampingnya, Volt berjalan dalam wujud yang dikompresi menjadi seukuran serigala biasa, namun matanya yang kini berada di Level 13 sesekali memancarkan percikan listrik biru keputihan yang membelah kegelapan lorong. Arkan sengaja menyuruh Sky untuk pulang lebih dulu bersama pengawal keluarganya karena dia harus mengambil beberapa sisa logistik kristal energi miliknya yang tertinggal di loker bawah tanah.

​Begitu langkah kaki Arkan memasuki area parkir bawah tanah yang luas dan remang-remang, Volt mendadak berhenti melangkah. Telinga serigala raksasa itu tegak berdiri, mengeluarkan geraman rendah yang sangat dalam dari tenggorokannya.

​"Aku tahu, Volt. Indra tajammu tidak pernah salah," Arkan bergumam pelan, menghentikan langkah kakinya tepat di tengah area parkir yang dikelilingi pilar-pilar beton besar. "Keluar sajalah. Bersembunyi di balik bayangan pilar tidak akan mengubah fakta bahwa saku jiwamu sudah bergetar ketakutan."

​Tuk—Tuk—Tuk—

​Suara langkah kaki sepatu lars militer terdengar menggema dari balik kegelapan pilar nomor 12. Sosok Kevin melangkah keluar dengan seragam akademi yang sudah tampak kusut. Wajahnya yang biasa angkuh kini terlihat sangat kuyu, sepasang matanya merah menyala karena amarah dan rasa frustrasi yang telah menumpuk selama 2 hari terakhir. Di belakang Kevin, 4 orang pria bertubuh kekar mengenakan pakaian hitam polos tanpa lencana akademi ikut melangkah maju. Dari tekanan energi spiritual mereka, jelas bahwa mereka adalah tentara bayaran sewaan dengan tingkat kekuatan manusia rata-rata berada di Level 15.

​"Arkan... anak jalanan sialan!" Kevin berteriak, suaranya bergetar hebat karena emosi yang meluap. "Gara-gara kamu... faksiku di Kelas 1-S hancur berantakan! Harga diri keluargaku diinjak-injakan di depan Marsekal Wirya! Kamu mengacaukan seluruh skenario yang sudah kususun untuk turnamen ini!"

​Arkan membalikkan tubuh manusianya, menatap Kevin dengan pandangan yang teramat dingin dan datar. "Kamu hancur karena kebodohan dan kesombonganmu sendiri, Kevin. Menggunakan batu penguat ilegal di perempat final kemarin adalah bukti bahwa kamu memang tidak pernah layak berdiri di arena itu sejak awal."

​"Tutup mulutmu!" Kevin meraung gila. Dia langsung menghentakkan tangan kirinya ke depan, memicu 45% resonansi elemen kegelapan manusianya tanpa memedulikan rasa sakit di sarafnya lagi. Kegelapan pekat yang dingin langsung merembes dari bawah kakinya, memanggil Harimau Bayangan miliknya yang kini tampak kelelahan namun tetap memancarkan aura membunuh. "Kalian berempat, patahkan kedua kaki manusia bajingan ini! Hancurkan saku jiwanya! Aku yang akan menanggung seluruh biayanya!"

​4 orang tentara bayaran itu tidak membuang waktu. Mereka langsung memicu energi spiritual mereka, memanggil 4 ekor Astra bertipe serigala taring besi Level 14 yang langsung melesat maju mengepung Arkan dari 4 arah mata angin.

​Namun, Arkan sama sekali tidak memanggil jurus atau memasang posisi bertahan. Dia hanya menarik napas pendek, mengaktifkan sistem yang baru dia pelajari semalam.

​BZZZZZZZZZT—

​60% resonansi elemen petir murni meledak dari saku jiwa Arkan. Berbeda dengan di arena stadion, kali ini tidak ada kilatan cahaya biru yang membumbung tinggi ke langit. Arkan mengalirkan seluruh tekanan listrik tersebut keluar menembus pori-pori kulitnya secara konstan, membentuk lapisan tipis Aura Statis yang melingkari tubuh manusianya sedalam 1 meter. Efek bio-elektrik instan langsung memicu sistem saraf pusat Arkan bergerak di tingkat yang tidak bisa dicerna oleh manusia biasa.

​Dalam pandangan mata Kevin dan para tentara bayaran tersebut, tubuh Arkan mendadak lenyap begitu saja dari tempatnya berdiri.

​SHIIING—BOOM!

​Sebelum tentara bayaran di sebelah kanan sempat menggerakkan senjatanya, Arkan sudah bermanifestasi tepat di depannya. Sebuah pukulan fisik murni yang dilapisi aura statis petir menghantam telak rahang pria tersebut.

​CRACK!

​Lapisan pelindung energi pria itu hancur berantakan, dan tubuh kekarnya langsung terpental sejauh 10 meter, menghantam pilar beton hingga retak sebelum akhirnya tumbang pingsan dengan mata mendelik ke atas. Di saat yang sama, Volt yang telah berada di Level 13 bergerak seperti bayangan kilat murni. Dengan kecepatan barunya, Volt mencabik 4 ekor Astra serigala taring besi tersebut menggunakan jurus Thunderbolt Shredder, menghancurkan wujud spiritual mereka kembali menjadi serpihan cahaya dalam waktu kurang dari 2 detik.

​PANG! PANG! PANG!

​Tiga tentara bayaran sisanya bahkan tidak sempat berteriak saat Arkan bergerak laksana hantu di antara mereka. Pukulan jarak dekat dan tendangan fisik Arkan yang dikombinasikan dengan manipulasi katup tekanan listrik murni menumbangkan mereka semua ke lantai parkir dalam waktu total kurang dari 10 detik.

​Kini, di bawah temaramnya lampu parkir, hanya tersisa Kevin yang berdiri gemetar hebat dengan lutut yang lemas. Harimau Bayangan miliknya sudah terpaksa kembali ke dalam saku jiwanya akibat ketakutan melihat dominasi mutlak Volt Level 13.

​"T-Tidak mungkin... Bagaimana bisa tubuh manusiamu bergerak secepat itu tanpa hancur..." Kevin melangkah mundur hingga punggungnya membentur pilar, wajahnya pucat pasi bagai mayat melihat 4 petarung Level 15 disapu bersih seperti serangga oleh seorang anak Kelas 1.

​Arkan berjalan mendekat dengan langkah kaki yang tenang namun sarat akan tekanan maut. Aura statis petir di sekeliling kulitnya berderit halus, memercikkan hawa ozon yang pekat. "Pertanyaanmu sudah tidak penting lagi, Kevin. Permainanmu selesai di sini."

​Arkan mengangkat tangan kanannya, bersiap melepaskan satu pukulan terakhir untuk melumpuhkan Kevin secara permanen. Namun, sebelum kepalan tangan Arkan bergerak, sebuah suara langkah kaki yang sangat berat dan tegas mendadak menggema dari arah pintu masuk parkir bawah tanah.

​TAP—TAP—TAP—

​"Cukup, Arkan. Tahan tanganmu," sebuah suara berat yang sangat familiar memecah ketegangan.

​Sesosok pria bertubuh tegap dengan seragam militer formal berjalan keluar dari balik bayangan. Itu adalah Pak Guntur. Di belakangnya, sepasang tentara disiplin akademi bersenjata lengkap ikut berjaga.

​Kevin yang melihat kedatangan Pak Guntur langsung berteriak histeris seolah melihat malaikat penolong. "Pak Guntur! Tolong saya! Anak jalanan ini mencoba membunuh saya di luar area turnamen! Dia menggunakan kekuatan terlarang untuk menyerang saya!"

​Pak Guntur berjalan mendekat, sama sekali tidak melihat ke arah Kevin. Sepasang mata tajam militer miliknya menatap ke arah 4 tentara bayaran yang terkapar pingsan di lantai, lalu beralih menatap Arkan yang perlahan-lapan memadamkan aura statis petirnya dengan sangat tenang.

​"Aku sudah memantau area parkir ini melalui sistem kamera pengawas taktis sejak 20 menit yang lalu, Kevin," Pak Guntur berucap dingin, suaranya memotong harapan terakhir Kevin hingga berkeping-keping. Pria militer itu beralih menatap Kevin dengan pandangan yang penuh akan rasa jijik. "Membawa petarung luar faksi komersial ke dalam kompleks militer akademi, melakukan penyerangan fisik ilegal kepada peserta turnamen aktif di luar jam tanding... Tindakanmu malam ini bukan lagi sekadar pelanggaran disiplin sekolah."

​Pak Guntur memberi isyarat tangan kepada dua tentara disiplin di belakangnya. "Borgol dia. Sita seluruh saku jiwanya dan amankan Astra miliknya untuk sementara waktu."

​"T-Tidak! Pak Guntur, Anda tidak bisa melakukan ini pada saya! Keluargaku adalah donatur besar untuk faksi militer kota ini!" Kevin berteriak meronta-ronta saat kedua tangan manusianya dipiting secara paksa dan dipasang borgol penekan energi spiritual.

​"Donatur atau bukan, hukum militer tidak mengenal pengecualian," Pak Guntur mendengus dingin. "Mulai detik ini, nama Kevin resmi dicoret dari daftar murid Akademi Astra Nusantara secara permanen. Hak partisipasimu di sisa turnamen Hari 5 hingga Hari 7 dibatalkan secara mutlak, dan faksi keluargamu akan menerima surat tuntutan dewan pengadilan militer besok pagi. Bawa dia pergi dari hadapanku."

​Kevin diseret keluar dari area parkir bawah tanah dengan tubuh yang lemas dan air mata frustrasi yang mengalir di wajahnya. Reputasi, masa depan, dan nama besar yang selama ini dia banggakan di sekolah resmi hancur lebur di dalam kegelapan parkiran malam itu.

​Setelah suasana kembali sepi, Pak Guntur berjalan mendekati Arkan, lalu menepuk pundak anak didiknya itu dengan cukup keras. "Aplikasi aura statis yang bagus, Arkan. Joshua pasti akan tersenyum jika melihat bagaimana kamu membersihkan sampah akademi ini dalam waktu kurang dari sepuluh detik."

​Arkan menyeka keringat tipis di pelipisnya, Volt kembali berjalan mendekat dan mendusel di kakinya. "Terima kasih sudah mengurus sanksinya, Pak Guntur."

​"Itu memang sudah tugasku untuk memastikan mental kalian tidak diganggu oleh tikus-tikus seperti dia sebelum laga besar esok hari," Pak Guntur berbalik, berjalan menuju pintu keluar sambil melambaikan tangannya. "Sekarang, pulanglah dan tidur yang nyenyak. Besok pagi adalah Hari ke-5, babak Semifinal kategori Tim 2vs2 melawan faksi api murni Flamewing. Persiapkan wadah jiwamu, karena Ignis tidak akan semudah Kevin malam ini."

​Arkan menatap kepergian Pak Guntur, lalu mengusap kepala besar Volt dengan seulas senyuman dingin yang terukir di bibirnya. Pembersihan sisa badai malam ini telah selesai, dan esok pagi, panggung turnamen yang sesungguhnya telah menanti untuk mereka hancurkan kembali.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Salam Segitiga ∆ 🚬🗿
Zapdos: ∆ nguengg~
total 1 replies
Zapdos
Jangan lupa dibaca, Update bab setiap hari!
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!