Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkitnya Sang Tiran
Hanya butuh waktu kurang dari dua belas jam sejak tubuh Wu Xuan diangkat dari fasilitas penelitian di Beijing, dan dunia seolah baru saja dijatuhi meteor tak kasat mata.
Daratan Tiongkok digemparkan oleh sebuah badai informasi yang merobek seluruh jaringan komunikasi. Dari layar holografik raksasa yang menempel di gedung-gedung pencakar langit Shanghai, hingga radio-radio di distrik kumuh para hunter kelas bawah, semuanya menyiarkan satu berita tunggal yang diulang-ulang bak mantra suci:
Putra Mahkota Wu Imperial Guild, Tuan Muda Wu Xuan yang hilang lima belas tahun lalu pada hari Bencana Awal, telah kembali.
Tidak ada yang tahu bagaimana pemuda itu bisa selamat. Tidak ada yang tahu di mana ia berada selama satu setengah dekade terakhir. Namun bagi umat manusia yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan monster dari Gate dan Tower, kembalinya darah daging dari dua pilar terkuat Tiongkok adalah sebuah euforia masal.
Di era kelam ini, genetika dan garis keturunan adalah segalanya. Wu Jiang adalah monster Country Tier dengan bakat alami Kelas S. Wu Yuena adalah sang Dewi Penyembuh dengan bakat Kelas S. Bahkan para tetua dan paman di garis keturunan keluarga Wu memegang bakat Kelas A dan B. Secara logika biologis dunia yang baru ini, perpaduan dari dua gen Kelas S tidak mungkin melahirkan manusia biasa.
Para netizen, analis hunter, dan rakyat jelata di forum-forum rahasia mulai menciptakan spekulasi yang meledak liar.
"Jika ayah dan ibunya adalah Kelas S... bukankah anak itu berpotensi menjadi Kelas SS pertama dalam sejarah umat manusia?"
"Dunia akhirnya memiliki harapan! Jika dia mewarisi kekuatan seperti ayahnya dan penyembuhan seperti ibunya, kita bisa menaklukan Tower!"
Mereka berdoa pada eksistensi yang belum pernah mereka lihat. Harapan mereka begitu tinggi, buta, dan putus asa. Mereka tidak tahu bahwa entitas yang sedang berbaring di dalam Fasilitas Medis itu bukanlah seorang pahlawan penyelamat yang akan turun tangan demi kemanusiaan. Ia adalah seorang ahli strategi yang bertindak berdasarkan keuntungan.
Ia adalah sosok yang mampu menjadi lebih mulia daripada para pahlawan yang diagungkan umat manusia… namun juga lebih kejam daripada iblis paling mengerikan yang pernah lahir dari kegelapan. Sebab ia tidak pernah berjalan di satu sisi dunia—melainkan berdiri di antara keduanya, menguasai cahaya dan kegelapan dalam satu napas yang sama.
Di tengah hiruk-pikuk dan perayaan masal yang mengguncang negara, di sebuah sudut kota yang sepi dan steril, realitas berjalan dengan jauh lebih pedih.
Di Rumah Sakit Pusat Afiliasi Hunter—sebuah fasilitas elit yang biaya per malamnya bisa membuat seorang pekerja biasa gantung diri—Butong duduk di atas kursi tunggu berbahan polimer putih. Zirah besi tuanya yang berlumuran darah monster telah ditanggalkan, digantikan oleh kemeja katun lusuh yang terlihat terlalu kecil untuk tubuh besarnya.
Tangan kasarnya yang dipenuhi bekas luka genggaman palu tempur, kini memegang sebuah ponsel layar retak dengan gemetar.
Di layar kecil itu, terpampang berita utama. Wajah pemuda berambut hitam yang tertidur di dalam es, yang baru beberapa belas jam lalu ia panggul di pundaknya melintasi badai salju planet mati, kini terpampang sebagai wajah dari Putra Mahkota Wu Imperial Guild.
Mata Butong membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan.
Jantungnya berdebar sangat kencang, nyaris menghancurkan tulang rusuknya sendiri. Pria yang ia tarik dari neraka es itu... bukanlah sekadar manusia malang. Pemuda itu adalah pewaris dari kekuatan paling mematikan di seluruh daratan Tiongkok.
Butong menurunkan ponselnya perlahan. Ia bisa saja berteriak pada dunia, mendatangi markas besar Wu Imperial Guild dan menuntut penghargaan tertinggi karena dialah orang pertama yang menyelamatkan nyawa pemuda itu. Ia bisa saja menghancurkan karir Prof. Zhu Liang yang pasti telah mencuri seluruh kredit penemuan itu demi mengamankan lehernya sendiri.
Namun, Butong hanya tersenyum getir. Senyum seorang pria kecil yang tahu diri di hadapan kekuatan para penguasa.
Di era ini, kebenaran dari mulut seorang Awakening buatan kelas rendahan tidak akan pernah didengar. Jika ia berani mengusik nama Zhu Liang atau keluarga Wu, ia mungkin akan lenyap tanpa jejak malam ini juga. Terlebih lagi... ia tidak butuh pengakuan itu.
Butong menolehkan kepalanya yang besar, menatap melalui jendela kaca ruangan perawatan intensif di depannya.
Di dalam sana, berbaring seorang gadis kecil berusia tujuh tahun. Kulitnya sepucat susu, tubuhnya sangat kurus, dipenuhi oleh puluhan selang medis bercahaya biru yang menembus kulitnya, menghubungkan aliran darahnya ke sebuah mesin "Pompa Mana" mutakhir yang tidak bersuara.
Ini bukan lagi ranjang berkarat di rumah sakit kumuh pinggiran kota. Ini adalah ruangan tingkat tertinggi yang berhasil ia sewa menggunakan uang yang ia terima. Gadis kecil itu kini tertidur lelap. Tidak ada lagi jeritan kesakitan yang merobek pita suaranya. Obat penstabil sirkulasi tingkat tinggi telah menenangkan jantungnya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, wajah putrinya terlihat damai.
Mata Butong memanas. Setetes air mata jatuh membasahi kemeja kasarnya. Ia menempelkan telapak tangannya yang besar ke permukaan kaca yang dingin, seolah sedang membelai pipi putrinya.
"Seharusnya kau ada di taman sekarang... berlari mengejar kupu-kupu, atau memakan permen kapas hingga gigimu sakit," bisik Butong, suaranya parau, dipenuhi oleh rasa bersalah dan kesedihan yang menghancurkan jiwa seorang ayah. "Bukannya terbaring di sini..."
Ia menatap wajah damai putrinya dengan tatapan yang memancarkan tekad sekeras baja murni.
Bagi dunia, pemuda di dalam es itu mungkin adalah calon dewa baru, seorang pangeran Kelas SS yang akan menaklukkan Tower di masa depan. Tapi bagi Butong, pemuda itu adalah malaikat yang secara tidak langsung telah memberikan perpanjangan napas bagi putrinya.
"Aku tidak peduli siapa yang mengambil nama atas penyelamatanmu," gumam Butong, menatap langit-langit rumah sakit, bersumpah pada udara kosong. "Uang tiga juta yuan itu... bagi mereka mungkin hanya uang kecil. Tapi bagiku, itu adalah nyawa anakku. Hutang nyawa... harus dibayar dengan nyawa. Jika suatu saat namaku dipanggil, paluku akan menghancurkan tulang siapa pun yang mencoba menyentuh, Tuan Muda itu."
Sementara itu, di distrik pusat kota Beijing.
Langit sore yang mulai menggelap dihiasi oleh awan merah. Di tengah kota, menjulang sebuah pilar hitam raksasa yang menembus atmosfer—Tower Beijing. Pintu dimensi di dalam menara itu berpusar dengan energi kosmik ungu yang tidak stabil.
Puluhan van transmisi berita, ratusan wartawan, dan ribuan pasang mata netizen melalui kamera drone melayang-layang di luar garis perimeter baja yang dijaga ketat oleh pasukan Pengawal dari Wu Imperial Guild. Mereka semua menunggu dengan napas tertahan, layaknya anjing liar yang menunggu sepotong daging jatuh dari meja sang majikan.
Tiba-tiba, pusaran ungu di dalam Tower meledak ke arah luar, menciptakan gelombang kejut yang membuat kaca-kaca gedung di sekitarnya bergetar.
Dari balik tirai dimensi itu, sekelompok sosok melangkah keluar.
Di posisi paling depan, berjalanlah Wu Jiang.
Penampilannya saat ini jauh dari kata elegan. Jas mahalnya telah hancur. Zirah tingkat tinggi yang ia kenakan dipenuhi oleh noda darah hijau, hitam, dan biru milik monster-monster tingkat pulau. Rambutnya berantakan, dan udara di sekitarnya membeku secara harfiah, menciptakan badai salju tipis setiap kali sepatu botnya menghantam aspal. Matanya memancarkan niat membunuh yang begitu kental hingga udara terasa amis.
Di belakangnya, belasan Hunter elit Kelas A dari guild-nya berjalan dengan napas terengah-engah, tubuh mereka dipenuhi luka dan kelelahan ekstrem.
Ini adalah hasil dari sebuah kegilaan mutlak.
Selama satu minggu penuh secara nonstop, tanpa tidur sedetik pun, Wu Jiang membawa pasukan intinya berburu monster di lantai 70—Island Tier—hanya untuk satu tujuan gila: memanen batu spiritual tingkat tinggi.
Melihat sang penguasa keluar, para wartawan yang sedari tadi menunggu di luar barikade segera berteriak kegirangan, mendorong maju mikrofon mereka, mencoba menembus pertahanan para penjaga bersenjata.
"Tuan Wu Jiang! Apakah benar Tuan Muda Wu Xuan telah kembali?!"
"Tuan! Apakah berita tentang bakat Kelas SS-nya benar adanya?! Dunia menunggu pahlawan baru!"
"Guild Master! Mengapa Anda melakukan raid secara brutal tanpa henti selama tujuh hari terakhir? Apakah ada hubungannya dengan kepulangan Tuan Muda?!"
Suara mereka berdengung seperti lalat di telinga Wu Jiang. Sang guild master itu menghentikan langkahnya. Ia hanya menolehkan kepalanya sedikit ke arah kerumunan wartawan itu.
Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Hanya sebuah tatapan.
Tatapan dari sepasang mata Penguasa Samudera Beku.
Seketika, radius lima ratus meter dari tempat itu berubah menjadi keheningan yang dingin. Udara di tenggorokan ratusan wartawan itu mendadak beku. Mikrofon terlepas dari tangan mereka yang gemetar hebat. Insting bertahan hidup mereka sebagai manusia biasa berteriak, memperingatkan bahwa satu langkah lagi, pria di depan mereka akan mengubah mereka menjadi patung es berdaging.
Melihat keheningan itu, Wu Jiang mendengus pelan dan kembali berjalan lurus menuju mobil lapis baja anti-gravitasi yang telah disiapkan.
"Jangan ada satu orang pun yang berani mengganggu Guild Master. Buat pingsan siapa pun yang mencoba membobol barikade!" teriak komandan Pengawal dengan suara lantang, mengarahkan mana forcenya ke udara, untuk menakuti kerumunan.
Di dalam mobil lapis baja, Wu Jiang duduk di kursi kulitnya, memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya yang letih.
Xu Xin, yang duduk di kursi seberang dengan tablet holografiknya, menelan ludah sebelum melaporkan situasi.
"Guild Master... seluruh batu spiritual yang Anda dapatkan dari lantai 60 hingga 70 telah kami masukkan ke dalam Inventory Sistem bersama-sama. Total nilainya jika dilelang mungkin setara dengan anggaran militer satu negara," lapor Xu Xin, suaranya sedikit bergetar menyadari betapa gilanya sumber daya yang baru saja mereka kumpulkan.
"Ditambah lagi..." Xu Xin ragu-ragu sejenak. "Sesuai perintah Anda, kami telah memborong seluruh pasokan batu spiritual Kelas B, Kelas A, dan bahkan Kelas S di pasar gelap maupun pelelangan publik Asosiasi. Kita menghabiskan lebih dari satu miliar yuan uang tunai hanya dalam waktu satu minggu."
Bagi guild kekaisaran sebesar mereka, satu miliar yuan memang bukan uang yang bisa membuat mereka bangkrut. Itu hanyalah biaya operasional bulanan. Namun, netizen di luar sana membesar-besarkan tindakan ini, menganggap bahwa Tuan Muda Wu Xuan membutuhkan energi mana dalam jumlah mustahil karena bakat dewanya sedang beradaptasi dengan dunia.
Mereka memuja kemustahilan itu.
Namun realitasnya jauh lebih mengerikan dari sekadar "bakat dewa".
Wu Jiang melakukan semua kegilaan ini bukan karena putranya sedang melatih bakat baru. Ia melakukannya karena batu emas Kelas S minggu lalu ternyata tidak cukup.
Sejak batu emas itu dilahap utuh oleh triliunan sel-nya, tubuh Wu Xuan bagaikan mesin yang baru saja dihidupkan setelah mati selama ribuan tahun. Metabolisme pasifnya berputar dengan kecepatan yang melanggar hukum biologi. Sel-sel kelaparan itu mengaum meminta lebih, dan jika mereka tidak diberi makan, dokter mendiagnosis bahwa sel-sel itu mungkin akan saling memakan hingga Wu Xuan lenyap.
"Langsung kembali ke Fasilitas Medis," titah Wu Jiang tanpa membuka matanya, suaranya dipenuhi oleh tekad yang tak tergoyahkan. "Kita akan memberi makan sel-sel putraku hari ini. Bahkan jika aku harus menguras setengah cadangan mana di dunia ini, aku akan membuatnya membuka mata."
Tiga puluh menit kemudian. Di Fasilitas Medis, bawah tanah Wu Imperial Guild.
Ruangan itu dipenuhi oleh uap energi spiritual yang sangat pekat hingga udara terlihat berwarna putih kebiruan. Di atas ranjang kristal, tubuh Wu Xuan masih terbaring tanpa bergerak.
Wu Jiang dan Wu Yuena berdiri di sisi ranjang. Di belakang mereka, ratusan batu spiritual dengan berbagai ukuran—dari sebesar kerikil hingga sebesar tengkorak manusia, semuanya bersinar terang dengan kualitas Kelas A hingga Kelas S—telah dikeluarkan dari Inventory Sistem dan ditumpuk layaknya gunung harta karun di lantai ruangan.
Ini adalah kekayaan yang bisa memicu perang antar negara. Namun di ruangan ini, tumpukan itu tidak lebih dari sekadar makanan anjing yang disajikan untuk seekor predator tak kasat mata.
Wu Jiang tidak menggunakan tangan kali ini. Ia menggunakan tekanan mananya.
Dalam satu hentakan kehendak Country Tier-nya, puluhan batu spiritual Kelas A hancur menjadi bubuk kristal bercahaya, dan secara paksa didorong menyelimuti tubuh Wu Xuan.
SYUUUT!
Pemandangan mengerikan seminggu yang lalu kembali terulang.
Pori-pori kulit pemuda yang sedang koma itu bertindak layaknya lubang hitam. Kabut energi dari puluhan batu spiritual itu dihisap masuk ke dalam tubuhnya dengan suara desisan rakus. Garis-garis energi berwarna emas dan biru menjalar di sekujur kulit pucatnya, berdenyut agresif sebelum meresap masuk ke dalam tulang, daging, dan aliran darahnya.
Satu detik. Tiga detik. Lenyap tak bersisa.
Wu Jiang tidak berhenti. Ia menghancurkan seratus batu lagi. Dihisap habis.
Ia menghancurkan dua ratus batu. Ditelan tanpa sisa.
Gunung batu spiritual yang harganya mencapai lebih dari satu miliar yuan itu menyusut dengan kecepatan yang membuat sang dokter yang berdiri di sudut ruangan menahan napasnya hingga wajahnya membiru.
Ini bukan lagi penyerapan energi. Ini adalah jurang tanpa dasar. Entitas biologis macam apa yang sedang mereka bangunkan ini?
Tubuh Wu Xuan menyerapnya layaknya spons raksasa yang dilempar ke lautan energi, menjejalkan kalori kosmik itu ke dalam setiap atom selulernya untuk membangun kembali menara transmisi kesadarannya.
Ketika batu spiritual terakhir yang seukuran kepala manusia—batu paling murni yang didapat Wu Jiang dari bos lantai 70—diremukkan dan dihisap masuk ke dalam dada Wu Xuan...
Ruangan itu tiba-tiba jatuh ke dalam keheningan yang sangat janggal.
Tidak ada lagi suara desisan energi. Tidak ada lagi pendar cahaya yang masuk. Tubuh Wu Xuan kembali hening. Garis-garis energi yang menyala di kulitnya perlahan meredup dan menghilang di balik pigmen kulit manusianya.
Suhu ruangan kembali normal. Uap energi di udara lenyap, seolah keberadaannya baru saja dihapus oleh hukum alam.
Wu Jiang menurunkan tangannya yang sedikit gemetar karena kelelahan, napasnya memburu. Di sampingnya, Wu Yuena menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya saling meremas erat di depan dada.
Satu menit berlalu.
Dua menit berlalu dalam kebisuan yang menyiksa.
Tidak ada perubahan. Matanya tetap tertutup. Napasnya masih pelan.
"T-Tuan..." dokter kepala melangkah ragu-ragu ke depan, suaranya bergetar. "Apakah... apakah energinya masih kurang?"
Raut kekecewaan dan keputusasaan yang gelap perlahan merayap kembali ke wajah Wu Jiang. Satu miliar yuan, seminggu pembantaian, ratusan inti monster... dan tubuh ini masih belum memanggil kembali kesadarannya? Berapa banyak lagi batu spiritual yang ia butuhkan?
Wu Jiang memejamkan matanya erat-erat, menahan rasa sakit yang kembali merobek dadanya. Ia berbalik, bermaksud memerintahkan Xu Xin untuk kembali menjadwalkan raid di lantai 70, bahkan jika itu berarti mengorbankan seluruh kekayaannya.
Namun, di saat Wu Jiang baru saja membalikkan tubuhnya...
Di atas ranjang kristal yang dingin itu, sebuah suara pelan memecah kesunyian. Suara sekecil gesekan kain sutra, namun cukup keras untuk menghentikan putaran dunia bagi dua orang tua di dalam ruangan itu.
Srek.
Jari telunjuk di tangan kanan Wu Xuan... perlahan berkedut.
Lalu, di balik dadanya yang hening, irama jantung yang sebelumnya hanya berdetak satu kali dalam sepuluh menit, tiba-tiba berubah.
Deg. Deg. Deg.
Irama itu mulai berdetak dengan kecepatan manusia normal, memompa darah yang telah bercampur dengan jutaan kristal energi. Triliunan sel di dalam tubuhnya telah kenyang. Jaringan sarafnya telah dirajut ulang.
Bersambung...