Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 pagi
Pagi itu Ibusya Flower Studio sudah lebih dulu hidup sebelum jam operasional dimulai.
Lampu hangat di lantai bawah menyala pelan satu per satu, memperlihatkan bunga-bunga segar yang baru datang dari supplier pagi-pagi sekali.
Wulan sudah di sana.
Lebih cepat dari biasanya.
Apronnya terikat asal, rambutnya diikat cepat, dan tangannya sibuk memisahkan bunga di meja kerja panjang yang ada di tengah lantai bawah.
Meja itu panjang, membentang dari area depan sampai mendekati gudang bunga di belakang. Di sisi kanan kiri terdapat rak bunga rendah berisi bucket bunga yang sudah dipilah. Di dekat tangga ada area packing lengkap dengan kertas pembungkus, pita, dan gunting.
Suara gunting kecil terdengar ritmis.
Srat. Srat.
Wulan menguap kecil. “Kenapa gue jadi rajin begini sih… gara-gara orang itu juga.”
Jam di dinding menunjukkan 08.10.
Masih lama sampai jam sembilan.
Tapi entah kenapa, tangannya tetap bekerja lebih rapi dari biasanya.
Lebih teratur.
Lebih hati-hati.
Seolah ada sesuatu yang ditunggu.
Sekitar 08.25.
TING.
Bel pintu berbunyi.
Wulan refleks menoleh,Dan langsung berhenti.
Saka masuk.
Sendiri.
Lebih awal.
Kemeja putih rapi, lengan sedikit dilipat, jam tangan di pergelangan, dan kopi di tangan kirinya. Di tangan satunya ada map kecil.
Matanya menyapu ruangan, Lalu berhenti.
Di Wulan.
Yang sedang berdiri di meja kerja, memegang bunga yang belum selesai dirangkai.
Wulan langsung salah tingkah.
Saka mendekat perlahan. “Pagi.”
Wulan buru-buru meletakkan bunga.
“Pagi, pagi banget .”
Saka mengangguk kecil.
“Saya biasa datang lebih awal.”
Wulan mengangguk cepat. “ waw disiplin banget yaa”
Saka tidak langsung menjawab. Matanya sempat memperhatikan meja kerja Wulan—bunga yang masih setengah jadi, pita yang belum rapi, dan beberapa tangkai yang sudah dipotong.
Wulan sadar lalu langsung gugup. “Eh saya lanjut kerja.”
Saka mengangguk. "Silakan.”
Wulan kembali ke pekerjaannya, tapi gerakannya sedikit lebih kaku dari tadi.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
Saka lalu berkata pelan. “Sarah hari ini tidak masuk?”
Wulan mengangguk “Iya, beliau ada urusan bisnis lain.”
Saka mengangguk. “Saya mengerti.”
Hening lagi.
Tapi kali ini tidak canggung Hanya… tenang.
Sekitar 08.40, Saka berdiri.
“Meeting tetap jam sembilan di lantai atas?”
Wulan mengangguk “Iya, biasanya di ruang meeting.”
Saka mengarah ke tangga.
“ saya pamit keruang meeting ya”
Wulan langsung mengangkat kepala.
“ ah iya silakan ”
Saka mengangguk.
lalu naik ke lantai dua.
Ruang meeting kaca di atas terlihat kosong. Sarah memang tidak ada, jadi ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Dari atas, mereka bisa melihat lantai bawah dengan jelas.
Saka berdiri di dekat kaca.
Melihat Wulan dari atas.
Wulan di bawah mulai bekerja lagi.
Tangannya cepat, tapi tidak sembarangan. Dia memilah bunga berdasarkan warna, memotong batang, lalu menyusun ulang komposisi tanpa ragu.
Saka memperhatikan cukup lama.
Tidak langsung bicara.
Wulan sempat melirik ke atas Dan langsung salah fokus sendiri. “ kalo diliatin begini ya jadi ngga fokus jirss”
Saka akhirnya turun lagi ke bawah.
Berhenti di dekat meja kerja. “Biasanya kamu yang menangani semua ini?”
Wulan mengangguk. “Iya, tapi kadang dibantu kalau sedang ramai.”
Saka melihat rangkaian bunga yang sedang dibuat.“Komposisinya rapi.”
Wulan langsung berhenti. “…serius?”
Saka mengangguk. “Iya.”
Hening sebentar.
Wulan berusaha santai, tapi gagal. " kata kak sarah sih aku jago nya sihh "
Saka melirik sekilas. “ setuju sih.”
Singkat.
Tapi cukup bikin Wulan diam beberapa detik.
Saka tidak banyak bicara setelah itu, tapi tetap memperhatikan cara Wulan bekerja.
Tidak mengganggu.
Tapi juga tidak melepas perhatian.
Jam mendekati siang.
Saka pamit lebih dulu.
“Besok jam delapan saya akan datang lagi.”
Wulan langsung refleks. “HAH? BESOK LAGI?”
Saka mengangguk. “Iya. Saya ingin melihat progres lanjutan.”
Wulan menghela napas kecil.“…baik.”
Saka pergi.
Pintu tertutup.
Wulan berdiri di tempat.
Menatap meja bunga di depannya. “…ini kerja atau saya diawasi terus?”
sore harinya studio kembali sibuk seperti biasa.
Wulan kembali membuat buket pesanan pelanggan—ceplas-ceplosnya balik lagi.
“Ini kenapa semua maunya bunga putih…”
“Yang ini harusnya gampang, jangan drama.”
Tapi di sela itu, pikirannya masih sering melayang.
Pagi tadi.
Cara Saka diam memperhatikan.
Cara dia bilang “setuju sih.”
Dan cara dia tidak banyak bicara, tapi selalu memperhatikan.
“Stop, Wulan, Kerja.”
malam harinya wulan duduk di depan toko, seperti biasanya menunggu Siwi.
Motor berhenti.
“Besti, malming gas?”
Wulan langsung berdiri. “Gas.”
Siwi melirik. “Gimana orang itu?”
Wulan mendesah. "Jangan dibahas.”
“Berarti parah.”
“Bukan parah… ganggu.”
Siwi ketawa. “Ganggu gimana?”
“Dia itu diam, tapi bikin orang jadi kepikiran terus.”
Siwi langsung “masa sih”.
Wulan langsung menepuk bahu Siwi. " STOP ya kamprett Saya cuma kerja.”
Siwi ketawa lagi.
Di tempat lain. Saka membuka catatan kecilnya Terdiam sebentar, Lalu menulis satu kata.
“Rapi.”
Lalu menambahkan lagi.
“Tidak ragu saat bekerja.”
Dia menutup catatan itu.
“…menarik.”