Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebaikan Hati
"Iya, Ibu. Ini Suci sedang siapkan," jawab Suci manis, nadanya dibuat selembut mungkin, memancarkan aura menantu idaman yang selama tujuh tahun ini tidak pernah didapatkan Anne dari Sintia.
Suci melirik Rian yang baru saja turun tangga dengan setelan kerja yang rapi. Pria itu tampak lebih segar, seolah-olah beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit bahunya telah menguap bersama kepergian Sintia semalam.
"Mas Rian, kopinya sudah siap," sapa Suci, bangkit dari duduknya untuk menyambut sang suami dengan kecupan di pipi—sebuah gestur yang dulu selalu dilakukan Sintia, namun kini telah beralih kepemilikan.
Rian tersenyum, mengacak rambut Arka pelan sebelum duduk. "Terima kasih, Suci. Rasanya rumah ini jadi jauh lebih hidup sekarang."
Mendengar pujian itu, dada Suci membusung penuh kebanggaan. Ia merasa telah memenangkan seluruh pertempuran ini. Di dalam hatinya, ia menertawakan Sintia yang malang.
Kamu lihat, Sintia? batin Suci bersorak penuh kedengkian yang berkobar. Tujuh tahun kamu bertahan di sini hanya untuk menjadi pajangan mandul yang dibenci. Sedangkan aku? Aku hanya butuh memberikan Rian seorang anak, dan seluruh isi rumah ini, termasuk kasih sayang mertuamu, jatuh ke tanganku tanpa perlawanan!
Suci merasa posisinya kini sekeras baja, tak tergoyahkan. Ia disanjung oleh Anne, dicintai oleh Rian, dan yang paling penting, ia memegang kartu as tertinggi: Arka, darah daging keluarga Mahesa. Ia tidak perlu lagi khawatir akan didepak atau disingkirkan. Di matanya, Sintia hanyalah seonggok masa lalu yang menyedihkan, yang saat ini pasti sedang menggelandang di sudut kota, menangis meratapi nasibnya di bawah kolong jembatan atau halte bus yang dingin.
Sambil menyodorkan cangkir kopi ke hadapan Rian, Suci merapatkan duduknya. Ia memasang wajah penuh keprihatinan yang palsu, bersiap meluncurkan serangan berikutnya untuk memutus sisa-sisa ikatan antara suaminya dan Sintia.
"Mas..." bisik Suci lembut, jemarinya yang lentik mengusap lengan Rian dengan gerakan persuasif. "Bagaimana dengan kelanjutan hubunganmu dengan Sintia? Maksudku... status kita kan masih nikah siri. Arka juga butuh akta kelahiran yang mencantumkan nama Mas Rian secara resmi demi masa depannya di sekolah."
Rian menghentikan sesapan kopinya, menatap Suci dalam-dalam.
"Aku mau Mas segera mengurus perceraian dengan Sintia ke pengadilan agama. Jangan ditunda-tunda lagi, Mas. Aku tidak tenang kalau wanita itu masih memegang status sebagai istri sahmu. Lagipula, dia sudah pergi dari rumah ini, kan? Berarti dia sudah menyetujui perpisahan ini," lanjut Suci, matanya berkedip manja namun terselubung desakan yang tajam.
Anne yang mendengarkan percakapan itu langsung menimpali dengan ketus, "Benar itu, Rian! Ibu setuju dengan Suci. Segera urus cerai talak untuk si mandul itu. Jangan biarkan dia berlama-lama menyandang nama Mahesa. Bikin sial saja! Biarkan dia menderita di luar sana menikmati kebodohannya."
Rian terdiam sejenak, membayangkan wajah hancur Sintia semalam. Namun, saat melihat wajah polos Arka yang sedang menatapnya, ego maskulin dan ambisinya mengalahkan sisa-sisa rasa bersalahnya.
"Kamu tenang saja, Suci. Hari ini juga aku akan menghubungi pengacaraku untuk mendaftarkan gugatan cerai. Aku akan pastikan dalam beberapa bulan ini, kamu akan menjadi satu-satunya Nyonya Mahesa yang sah di mata hukum," jawab Rian tegas.
Suci tersenyum lebar, matanya berkilat puas. Kemenangannya kini hampir mutlak. Sintia telah benar-benar lenyap dari kehidupannya, menyisakan ruang baginya untuk bertahta di atas puing-puing kehancuran sahabatnya sendiri.
****
Di belahan kota yang lain, sebuah dunia yang jauh lebih megah dan dingin sedang menyambut Sintia Arunika.
Sebuah lift pribadi berdentang pelan, membuka pintunya langsung ke dalam sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai 45 salah satu gedung pencakar langit paling eksklusif di ibu kota. Kamar apartemen itu begitu luas, didominasi oleh desain interior minimalis modern dengan sentuhan marmer Italia hitam-putih dan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan lanskap pemandangan kota dari ketinggian.
Sintia melangkah keluar dari lift dengan ragu. Tubuhnya sudah bersih, mengenakan pakaian tidur sutra berwarna putih gading yang telah disediakan oleh kepala pelayan Kenzi sesampainya mereka semalam. Rambutnya yang semalam basah kuyup kini sudah kering dan tergerai rapi, meskipun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa menyembunyikan badai emosi yang baru saja dilaluinya.
Di dekat dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota yang berkabut pagi, Kenzi Hutama berdiri tegak. Pria tampan berwajah oriental itu telah rapi mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan jam tangan Patek Philippe yang melingkar mewah di pergelangan tangan kokohnya. Di tangan kanannya, ia memegang secangkir cangkir porselen berisi teh hangat yang mengepulkan uap tipis.
Mendengar langkah kaki Sintia, Kenzi membalikkan tubuhnya. Sepasang mata sipitnya yang tajam menatap Sintia, menilai setiap inci perubahan pada wajah wanita itu.
"Bagaimana tidurmu? Apakah tempat tidurku cukup nyaman untuk membungkam hantu-hantu dari masa lalumu?" tanya Kenzi, suaranya berat dan terdengar seperti melodi yang tenang namun sarat akan teka-teki.
Sintia berjalan mendekat, namun menjaga jarak aman beberapa langkah di belakang Kenzi. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menatap keluar kaca, memandangi mobil-mobil di bawah yang tampak sekecil semut. Di tempat setinggi ini, dunia terasa begitu sunyi, sangat berbeda dengan hiruk-pikuk neraka yang baru saja ia tinggalkan di rumah Rian.
"Aku tidak bisa tidur, Kenzi," jawab Sintia jujur, suaranya parau. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat wajah mereka. Aku mendengar tawa Suci... dan hinaan Ibu Anne. Hatiku... hatiku rasanya masih terbakar."
Kenzi berjalan mendekati Sintia, langkah kakinya tanpa suara di atas karpet tebal. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja marmer, lalu berdiri tepat di samping Sintia, ikut menatap hamparan gedung pencakar langit di hadapan mereka.
"Bagus," ucap Kenzi pendek.
Sintia menoleh, mengernyitkan alisnya yang indah. "Bagus? Kamu senang melihatku tersiksa oleh rasa sakit ini?"
Kenzi menatap Sintia, tidak ada guratan canda di wajahnya yang tampan bak porselen. "Rasa sakit adalah bahan bakar terbaik untuk sebuah pembalasan, Sintia. Jika kamu tidur nyenyak semalam dan melupakan apa yang mereka lakukan padamu, maka kamu tidak layak berada di sini. Kamu hanya akan menjadi wanita lemah yang kembali mengemis cinta pada pria yang telah menginjak-injakmu."
Sintia terdiam. Kata-kata Kenzi kejam, namun menusuk tepat pada kebenaran yang harus ia hadapi.
"Mulai hari ini, ini adalah tempat tinggalmu," kata Kenzi, melambaikan tangannya dengan santai ke sekeliling penthouse megah itu. "Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara waktu. Semua kebutuhanmu, mulai dari pakaian, makanan, hingga fasilitas kesehatan, sudah diatur oleh orang-orangku. Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun."
Sintia menatap sekeliling apartemen yang nilainya pasti mencapai puluhan miliar rupiah ini. Rasanya terlalu tidak nyata. Tujuh tahun lalu ia menolak pria ini, menorehkan luka pada harga diri keluarga Hutama, namun kini pria yang sama justru menjadi satu-satunya orang yang mengulurkan tangan saat ia berada di titik nadir.
"Kenapa, Kenzi?" tanya Sintia, matanya mulai berkaca-kaca oleh rasa bingung dan haru yang bercampur aduk. "Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Aku pernah menolakmu. Aku pernah mempermalukan keluargamu demi pria yang ternyata adalah seorang iblis. Harusnya kamu menertawakanku, menghinaku seperti yang dilakukan Ibu Anne. Tapi kenapa kamu malah membawaku ke tempat semewah ini?"