Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkitnya Kesadaran
Beberapa menit sebelum lautan energi dari ratusan batu spiritual itu ditumpahkan ke atas tubuhnya, sebuah peperangan sunyi telah terjadi di dalam batas-batas mikrokosmos tubuh Wu Xuan.
Selama satu minggu terakhir, Wu Imperial Guild telah memberikan asupan batu spiritual tingkat tinggi tanpa henti. Namun, semua energi itu seolah tidak berarti. Alasan sebenarnya bukanlah karena tubuh itu rakus akan kekuatan, melainkan karena sebuah kegagalan sistematis.
Pada desain awalnya, tubuh fana ini diciptakan oleh Wu Xuan versi Dao Agung sebagai sebuah menara pemancar hidup.
Rencananya sederhana, namun berada jauh melampaui logika makhluk biasa: tubuh ini—atau lebih tepatnya triliunan sel di dalam diri Wu Xuan yang sebenarnya merupakan parasit—akan terus menyerap energi dari Bumi, lalu menggunakannya untuk menyambungkan kembali kesadaran tertingginya yang terputus di seberang dimensi.
Namun, realitas menolak skenario tersebut. Pemutusan yang dilakukan oleh entitas Mata Merah raksasa di lorong dimensi itu terlalu brutal, terlalu mutlak. Dinding dimensi telah dikunci. Jembatan sebab-akibat (kausalitas) telah dihancurkan menjadi abu.
Tubuh fana Wu Xuan yang berada di bumi benar-benar terisolasi. Tidak peduli seberapa banyak energi yang ia serap selama seminggu ini, sinyal itu tidak akan pernah menembus langit untuk memanggil "kesadaran tertinggi"-nya.
Berdasarkan hukum dao dan spiritual yang normal, sebuah wadah tanpa jiwa yang gagal terhubung dengan kesadaran hanya memiliki satu takdir: membusuk dan mati
Namun, tubuh ini adalah anomali yang menolak untuk tunduk pada kematian.
Triliunan sel di dalam tubuh itu bukanlah sel manusia biasa. Mereka hidup, berpikir, dan berbagi satu kesadaran yang sama. Setiap sel diciptakan dari intisari hukum realitas, membawa jejak genetis, naluri, bahkan ingatan yang identik dengan Wu Xuan.
Dan ketika mereka menyadari bahwa kesadaran tertinggi sang pemilik tidak akan pernah turun dari seberang dimensi, mereka tidak runtuh. Mereka tidak putus asa.
Karena di dalam setiap untaian keberadaan mereka, tertanam insting bertahan hidup yang arogan, kejam, dan tiranik—insting milik Wu Xuan sendiri.
Maka sel-sel itu mulai bergerak atas kehendak mereka sendiri. Berevolusi. Beradaptasi. Saling terhubung layaknya sebuah peradaban hidup yang lahir dari daging dan hukum semesta.
Sebab pada hakikatnya… setiap sel di tubuh itu adalah Wu Xuan itu sendiri dalam wujud paling mikroskopis.
Lalu, tibalah momen di mana Wu Jiang, dalam keputusasaannya, menghancurkan ratusan batu spiritual Kelas B hingga Kelas S sekaligus—sebuah lautan energi senilai lebih dari satu miliar yuan yang ditumpahkan langsung ke atas tubuhnya.
Di titik itulah, sebuah keajaiban terjadi.
Triliunan sel itu tidak menggunakan lautan energi ini untuk memperkuat otot, tidak untuk membentuk inti mana, dan tidak untuk meningkatkan stats layaknya hunter pada umumnya. Bagi sebuah wadah, kekuatan fisik tidak ada gunanya jika tidak ada yang mengendalikannya.
Layaknya sebuah kecerdasan buatan (AI) yang dipaksa menyala oleh perangkat kerasnya sendiri.
Seluruh energi itu dibakar murni untuk satu tujuan: Booting. Menghidupkan ulang pecahan kesadaran yang tersisa.
Kesadaran Wu Xuan akhirnya terbangun sepenuhnya dan beroperasi tanpa jiwa. Ia hanyalah eksistensi yang digerakkan secara langsung oleh kesadaran kolektif dari triliunan sel di tubuh fisiknya sendiri. Sebuah kesadaran yang terputus dari sumber utamanya, namun memiliki ingatan dan kecerdasan yang utuh tanpa ada satu memori pun yang tertinggal.
Di dalam Fasilitas Medis Guild, suara detak jantung itu tidak lagi bersembunyi.
Deg. Deg. Deg.
Suara itu menggema di dinding-dinding titanium, terdeteksi oleh monitor penyokong kehidupan yang seketika menyala dengan grafik hijau yang melompat stabil.
Wu Jiang, yang sedari tadi baru saja membalikkan punggungnya dalam keputusasaan yang kelam, membeku di tempat. Guild master yang mampu menghancurkan barisan pegunungan itu berbalik dengan gerakan patah-patah, seolah udara di sekitarnya telah membeku menjadi beton padat.
Di samping ranjang, Wu Yuena menahan napasnya hingga dadanya terasa sakit. Kedua tangannya mencengkeram tepi ranjang kristal hingga buku-buku jarinya memutih, tidak berani berkedip. Dokter kepala di sudut ruangan menjatuhkan tablet holografiknya ke lantai hingga pecah berantakan, kakinya gemetar melihat tubuh Wu Xuan kini mulai berdenyut dengan energi kehidupan.
Di atas ranjang kristal yang dingin itu, gerakan kecil di jari telunjuk Wu Xuan perlahan menjalar. Otot-otot lengannya yang kaku mulai beradaptasi. Aliran darah yang dipompa oleh jantungnya membawa kehangatan baru ke permukaan kulitnya yang sepucat kertas.
Dan kemudian... untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun waktu bumi, kelopak mata pemuda itu bergetar.
Bulu matanya yang lentik perlahan terangkat.
Sepasang mata hitam kecoklatan itu terbuka, menatap langsung ke langit-langit metalik ruangan. Tidak ada kebingungan di dalam tatapan itu. Tidak ada kepolosan atau rasa linglung layaknya seseorang yang baru bangun dari koma panjang. Yang ada hanyalah kedalaman jurang tak berdasar, tatapan tajam yang menyimpan kecerdasan, kalkulasi, dan ketenangan dari seorang tiran yang sistemnya baru saja aktif secara penuh.
Yang terbangun saat ini bukanlah pecahan kesadaran tertinggi Wu Xuan, melainkan kesadaran inti dari sistem miliknya—karena Wu Xuan dan sistem itu sejak awal memang merupakan satu entitas yang sama.
Wu Xuan mengerjap pelan, lensa matanya menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang terang, mengkalibrasi jarak dan suhu ruangan.
"Xuan'er..."
Panggilan itu sangat lirih, bergetar hebat, dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang mengiris nurani.
Wu Xuan perlahan memutar bola matanya, lalu menolehkan kepalanya sedikit ke arah sumber suara tersebut. Ia melihat wajah seorang wanita cantik, yang kini dipenuhi oleh air mata. Dan di belakang wanita itu, berdiri seorang pria yang mirip dirinya dengan tampilan yang lebih tua, wajahnya sedingin es namun kini tampak seolah pertahanannya baru saja runtuh total.
Sebelum Wu Xuan bahkan sempat menggerakkan rahangnya untuk menguji pita suaranya...
Wush!
Sebuah pelukan yang teramat erat menabraknya. Wu Yuena melesat dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan manusia biasa, mengabaikan seluruh etiket dan keagungannya sebagai Saint Penyembuh, menubruk tubuh putranya di atas ranjang medis. Wanita itu memeluk leher putranya dengan putus asa, menyembunyikan wajahnya di perpotongan bahu Wu Xuan sambil menangis sejadi-jadinya.
"Kau kembali... kau kembali padaku..." isak Yuena, suaranya pecah berkeping-keping, membawa kepedihan belasan tahun yang akhirnya tumpah. "Anakku... putraku..."
Bersamaan dengan pelukan itu, cahaya keemasan yang sangat hangat dan menyilaukan meledak dari tubuh Yuena. Bakat Laut Suci miliknya diaktifkan hingga melampaui batas kewarasan. Gelombang mana penyembuhan yang paling murni dan dipenuhi kasih sayang dialirkan ke dalam jaringan sel putranya, membasuh sisa-sisa kerusakan fisik dan mengusir rasa dingin yang tertinggal di kedalaman tulangnya.
Wu Xuan sedikit tersentak. Sensasi energi ini begitu nyata, begitu meluap-luap oleh emosi yang tidak logis namun sangat menenangkan. Sistem sarafnya menerjemahkan energi itu bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk perlindungan penuh.
Ia belum selesai memproses data pelukan ibunya ketika sebuah bayangan menutupi cahaya di atas mereka.
Wu Jiang, salah satu pilar umat manusia, pria yang dapat membekukan lautan dan memenggal raja-raja monster tanpa sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya, jatuh berlutut di sisi ranjang. Kedua lengannya yang terbiasa mencengkeram leher bos dungeon, kini melingkar merangkul istri dan putranya sekaligus dengan kehati-hatian yang luar biasa.
Pria itu menyandarkan keningnya ke lengan Wu Xuan. Bahunya yang lebar bergetar hebat. Tidak ada kata-kata kebesaran. Tidak ada otoritas mematikan. Yang terdengar hanyalah suara isakan tangis tertahan yang bergemuruh dan akhirnya meledak dari tenggorokan seorang ayah.
Wu Jiang, sang tiran berdarah dingin itu, menangis bagaikan anak kecil. Air matanya jatuh menetes membasahi seprai kristal, menghancurkan topeng penguasa yang selama ini ia kenakan di hadapan dunia.
Melihat pemandangan itu, semua orang di dalam ruangan segera membalikkan badan dan melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu otomatis pun tertutup rapat di belakang mereka. Sebagai bawahan keluarga ini, mereka memahami bahwa ada momen yang terlalu suci dan rapuh untuk disaksikan oleh orang luar.
Di tengah pelukan hangat yang menyesakkan namun sangat nyaman itu, Wu Xuan terdiam.
Kesadarannya yang baru saja dirajut masih dalam tahap stabilisasi. Otaknya yang jenius bekerja memetakan ulang seluruh fungsi biologisnya.
Namun, rasa hangat yang mengalir dari air mata ibunya dan rengkuhan gemetar ayahnya menyerap masuk ke dalam jaringan kesadarannya yang dingin, memberikan sebuah variabel baru yang tidak bisa dihitung oleh alat ukur mana pun.
Di dalam kesunyian pikirannya yang terstruktur, Wu Xuan tersenyum. Bukan senyum tipis mematikan yang biasa ia gunakan untuk menghancurkan mental lawannya, melainkan senyum santai, tulus, dan dipenuhi oleh kenyamanan yang terasa begitu melegakan.
'Sangat tidak mencerminkan diriku... tapi aku menyukai ini.' batin Wu Xuan dalam keheningannya, menatap langit-langit ruangan sementara kedua orang tuanya masih memeluknya erat seolah takut ia akan menghilang menjadi asap.
'Meski, aku adalah Dao Agung. Eksistensi yang tak tersentuh di alam surgawi. Aku merobek ruang, waktu, dan kausalitas. Dengan tujuan: pulang ke bumi untuk melunasi hutang budiku pada mereka berdua, agar aku bisa melangkah ke alam dewa tanpa beban.'
Wu Xuan merasakan mana penyembuhan ibunya terus mengalir tanpa henti, berusaha memperbaiki sel-selnya yang sebenarnya sudah utuh. Dan pelukan ayahnya... itu adalah genggaman seorang pria yang siap membantai separuh bumi jika ada yang berani mengambil putranya lagi.
"
'Tapi lihatlah ini...' lanjut kesadaran Wu Xuan, senyum di bibirnya perlahan melebar, membawa nuansa humor namun sangat damai. 'Mereka rela membuang harta, menumpahkan seluruh air mata, dan cinta mereka tanpa bertanya bagaimana aku bisa bertahan atau makhluk apa aku ini sekarang.'
Sistem saraf motoriknya telah sepenuhnya aktif. Tangan kanan Wu Xuan yang terasa berat perlahan terangkat. Dengan gerakan yang sangat pelan dan sedikit kaku, jari-jarinya membalas pelukan ibunya, mengusap punggung Yuena yang bergetar. Tangannya yang lain terulur, menepuk lembut bahu ayahnya.
'Bukannya melunasi hutang karma ini, aku justru baru saja memperbesar hutang ini menjadi angka yang mustahil untuk dilunasi,' batin Wu Xuan, memejamkan mata merasakan kedamaian yang sangat membahagiakan dan menenangkan.
'Dan ironisnya... aku sama sekali tidak keberatan jika aku harus menjadi penghutang abadi pada mereka untuk selamanya.'
Bersambung...