NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. Amarah Karena Gairah

Mentari pagi menembus celah gorden sutra kamar utama, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi lantai marmer dan menyapu permukaan sofa beludru yang kini tampak sedikit berantakan. Kamar mewah itu kini terasa begitu hening, menyisakan aroma parfum Damian yang bercampur dengan kehangatan intens yang tercipta sepanjang malam tadi.

Valerian perlahan membuka kedua kelopak matanya yang terasa teramat berat. Seluruh tubuhnya terasa lelah, pegal, dan lemas akibat pergulatan gairah liar yang semalam ia serahkan seutuhnya di atas ranjang dan sofa kamar ini. Begitu ia menggeser posisinya, sepasang lengan kekar yang kokoh langsung mempererat pelukannya di pinggang ramping Valerian, menarik tubuh wanita itu kembali merapat tanpa jarak.

Damian terbangun. Pria yang biasanya langsung bangkit dengan wajah kaku dan dingin untuk bersiap ke kantor itu, kini justru masih betah berbaring. Sisa gairah semalam tampaknya telah mengubah sesuatu di dalam diri Damian. Tatapan matanya yang biasanya sekeras batu, pagi ini tampak sedikit melunak saat menatap wajah pias Valerian yang berada di bawah kungkungannya.

"Kau mau ke mana?" tanya Damian dengan suara baritonnya yang serak khas orang baru bangun tidur, terdengar begitu dalam di keheningan pagi.

Valerian menelan ludahnya yang terasa kesat, mencoba menarik selimut untuk menutupi bahunya yang polos. "Aku... aku harus turun ke bawah, Damian. Ibu dan Ayah pasti sudah menunggu di meja makan. Aku tidak enak jika terlambat lagi."

Damian tidak menjawab. Ia justru memajukan wajahnya, mengecup bahu indah Valerian yang masih menyisakan beberapa tanda kemerahan akibat hisapan kasarnya semalam. Sentuhan Damian pagi ini tidak lagi merendahkan, melainkan sarat akan kepemilikan yang mutlak.

Candu kehangatan sejati yang baru saja ia rasakan dari istrinya sahnya selama dua tahun pernikahan ini membuat ego maskulin Damian terikat sepenuhnya. Ia tidak lagi menganggap Valerian sebagai sekadar pajangan bisnis yang membosankan; ia menginginkan tubuh ini tetap berada di bawah kendalinya.

"Ingat posisimu, Valerian," bisik Damian parau di dekat telinga istrinya, mengusap perlahan rambut panjang Valerian yang berantakan. "Malam tadi telah membuktikan siapa pemilikmu yang sah di rumah ini. Mulai hari ini, aku tidak mau melihatmu berkeliaran di dekat Aksa lagi. Jika kau membutuhkan sesuatu, datanglah padaku."

Valerian hanya bisa terdiam membeku, membiarkan suaminya mengklaim tubuhnya kembali dengan kecupan-kecupan singkat sebelum akhirnya Damian bangkit untuk membersihkan diri ke kamar mandi.

Di dalam hatinya, Valerian didera kebingungan dan rasa bersalah yang teramat sangat besar. Logikanya tahu bahwa apa yang ia lakukan semalam adalah demi menyelamatkan bisnis orang tuanya, namun hatinya yang telah terikat jauh oleh kelembutan terlarang Aksa merasa telah melakukan pengkhianatan terbesar.

Tiga puluh menit kemudian, Valerian melangkah turun menuju ruang makan dengan langkah kaki yang sedikit canggung dan lambat karena rasa pegal yang masih mendera tubuhnya. Ia telah mengenakan gaun terusan berlengan panjang yang tertutup rapat hingga ke leher, mencoba menyembunyikan seluruh jejak malam panas bersama Damian dari pandangan mata orang-orang rumah.

Di meja makan, suasana sudah tampak ramai. Tuan Bagian Wardhana dan Nyonya Zen sedang menikmati sarapan mereka sembari berbincang ringan tentang saham gabungan. Di sudut lain meja, Dania duduk dengan santai sembari memainkan ponselnya.

Namun, yang membuat detak jantung Valerian seketika berhenti berdegup adalah keberadaan dua orang di ujung meja.

Clarissa Narendra masih berada di sana, duduk anggun dengan senyuman licik yang kian misterius. Dan tepat di hadapannya, Aksa duduk bersandar dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, menampilkan rahang tegasnya yang mengeras rapat. Sepasang netra gelap Aksa tampak begitu pekat, dikelilingi oleh guratan lelah dan amarah yang mendalam akibat siksaan desahan yang terpaksa ia dengar sepanjang malam dari balik dinding kamar sebelah.

Begitu Valerian melangkah masuk ke area ruang makan, pandangan mata Aksa langsung mengunci sosok wanita itu dengan tatapan yang teramat tajam, posesif, dan penuh dengan tuntutan yang membakar. Aksa memperhatikan cara berjalan Valerian yang sedikit lambat, dan insting lelakinya langsung tahu apa yang telah terjadi di dalam kamar utama semalam. Kemarahan dan kecemburuan yang teramat pekat seketika meledak di dalam dada Aksa, membuat aura di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi.

"Selamat pagi, Ibu, Ayah," sapa Valerian dengan suara yang diusahakan tetap tenang, meski jemarinya meremas kain gaunnya di bawah meja dengan sangat kuat untuk menahan rasa gugup.

"Pagi, Valerian. Duduklah, wajahmu masih tampak sangat pucat. Apakah Damian tidak menjagamu dengan baik semalam?" tanya Nyonya Zen dengan nada bergurau yang langka, mengacu pada fakta bahwa menantunya itu tidak keluar kamar sama sekali sejak malam tadi.

Clarissa langsung terkekeh pelan, sebuah tawa yang sarat akan maksud terselubung. "Ah, Tante Zen... sepertinya Kak Damian dan Kak Vale memang sedang sangat sibuk semalam. Kamar tamu tempatku menginap kan kebetulan berada di koridor yang sama, dan sepanjang malam aku terus mendengar suara-suara yang cukup... berisik dari arah kamar mereka. Kurasa hubungan mereka sedang sangat hangat," sindir Clarissa dengan mata yang melirik tajam ke arah Aksa, sengaja ingin memprovokasi pria yang telah menolaknya itu.

Mendengar sindiran telak dari Clarissa, wajah Valerian seketika memucat sempurna, berubah sekaku mayat. Ia menunduk dalam, tidak berani menatap siapa pun di meja makan tersebut.

Klong!

Suara pisau makan yang bergesekan keras dengan piring porselen terdengar nyaring dari posisi Aksa. Pria itu menurunkan pisaunya dengan gerakan yang teramat kasar, hingga membuat Dania tersentak kaget di sebelahnya. Wajah tampan Aksa menggelap seutuhnya, dipenuhi oleh aura membunuh yang sangat pekat. Sisi protektif dan keposesifannya yang gelap telah berada di ambang batas kendali setelah mendengar provokasi Clarissa tentang malam panas milik Valerian dan Damian.

"Aksa? Kau kenapa, Nak? Pagi-pagi sudah emosional sekali," tegur Tuan Bagian Wardhana dengan kening berkerut dalam, menatap putra keduanya dengan pandangan menyelidik.

Aksa tidak langsung menjawab ayahnya. Ia menegakkan tubuh jangkungnya, menatap lurus ke arah Valerian yang masih menunduk ketakutan di seberang meja. Senyuman humorisnya telah lenyap total, digantikan oleh kilat amarah seorang pria yang tidak sudi lagi membiarkan miliknya disentuh oleh orang lain.

"Aku tidak apa-apa, Ayah," ucap Aksa, suaranya terdengar begitu rendah, serak, dan penuh dengan penekanan yang berbahaya. "

Tepat di saat situasi di meja makan kian meruncing menuju titik ledakan, langkah kaki Damian terdengar menuruni tangga dengan tegas. Suami sah Valerian itu berjalan masuk ke ruang makan dengan aura kemenangan yang penuh keangkuhan. Damian melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sengaja dibuat di depan Aksa dan Clarissa, ia meletakkan tangannya di atas bahu Valerian, mengusapnya perlahan sebelum akhirnya duduk di sebelah istrinya.

Selamat pagi, semuanya. Maaf aku terlambat bergabung," ucap Damian dengan suara baritonnya yang mantap, melirik Aksa dengan tatapan meremehkan.

Aksa yang melihat tangan Damian di bahu Valerian tidak lagi bisa menahan kegilaannya. Ia berdiri dari kursinya dengan kasar, hingga kursi kayu mewah itu bergeser ke belakang menimbulkan suara decitan yang memekakkan telinga.

"Aku selesai. Aku pergi ke kantor sekarang," desis Aksa parau, menatap Damian dengan pandangan mata yang menyala oleh permusuhan yang teramat nyata, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan amarah yang menggelegar.

Langkah kaki Aksa yang lebar dan berat menggema di sepanjang koridor menuju pintu keluar, meninggalkan keheningan yang mencekik di ruang makan. Suasana kembali mendingin, menyisakan ketegangan yang aneh di antara mereka yang masih bertahan di meja mewah tersebut.

Damian menatap arah kepergian adiknya dengan sepasang netra elang yang menyipit. Riak cemburu dan rasa curiga yang sempat diredam oleh kepuasan malam tadi kembali terusik melihat reaksi ekstrem Aksa. Damian menurunkan tangannya dari bahu Valerian, lalu beralih mengambil cangkir kopinya dengan gerakan yang teramat kaku.

"Aksa belakangan ini sering sekali tidak sabaran," ucap Nyonya Zen sambil menghela napas, mencoba mencairkan atmosfer yang canggung di depan tamu mereka. "Kuharap audit proyeknya tidak membuatnya stres berlebihan."

Clarissa yang sejak tadi memperhatikan setiap dinamika tersebut, perlahan meletakkan sendok garpunya.

"Tante Zen, kurasa Aksa hanya butuh sedikit waktu untuk menenangkan pikirannya," ujar Clarissa dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin, memancarkan pesona wanita berkelas yang penuh kepalsuan. "Bagaimana kalau siang ini aku menyusulnya ke kantor sub-holding? Aku ingin membawakan makan siang untuknya sekalian membicarakan ulang tentang konsep cincin pertunangan kami."

Nyonya Zen langsung mengangguk setuju dengan binar mata penuh harap. "Ide yang sangat bagus, Clarissa. Aksa pasti akan luluh jika kau terus memberikan perhatian seperti itu."

Damian melirik istrinya yang kembali memucat. Rasa kepemilikan mutlak yang baru saja ia kukuhkan semalam membuatnya langsung mencengkeram jemari Valerian di atas meja. "Kau tidak menyentuh makananmu sama sekali, Valerian. Habiskan, atau kau ingin aku menyuapimu di depan Ibu dan Ayah?" ucap Damian dengan suara baritonnya yang menuntut, terdengar penuh perhatian di telinga orang lain namun terasa seperti perintah yang merendahkan bagi Valerian.

"A-aku sudah kenyang, Damian," bisik Valerian lirih, menarik tangannya perlahan dengan rasa bersalah yang kian menggunung.

Sementara itu, di dalam mobil sport mewahnya yang melaju membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi, Aksa mencengkeram setir mobil dengan begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menegang. Kilas balik suara desahan Valerian yang memanggil nama Damian semalam kembali berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang menyiksa batinnya.

Sisi posesif dan protektif Aksa telah terbakar sepenuhnya hingga ke titik kegilaan. Ia tidak sudi lagi bermain petak umpet di balik pintu kamar sebelah. Jika Damian bisa menggunakan ancaman bisnis untuk menyentuh tubuh Valerian, maka Aksa akan menggunakan seluruh kekuasaan dan cara kotornya untuk merebut Valerian keluar dari sangkar emas itu seutuhnya.

Aksa menyambar ponselnya, menghubungi asisten pribadinya dengan napas yang memburu tajam.

"Batalkan semua jadwalku dengan Clarissa Narendra hari ini. Dan persiapkan seluruh dokumen pengalihan aset sub-holding atas namaku. Aku ingin menarik seluruh sahamku dari Wardhana Group minggu ini juga," perintah Aksa dengan suara parau yang sarat akan deklarasi perang terbuka terhadap kakaknya sendiri.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!