NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Jebakan yang Dipaksakan

Sejak hari itu, suasana di Gedung Surya Pratama terasa berubah, meski tidak terlihat secara kasat mata. Rafael benar-benar menepati ucapannya — tiga hari kemudian, ia membawa satu tim keamanan khusus yang terdiri dari enam orang, semuanya berbadan kekar, berpakaian seragam lengkap dengan perlengkapan keamanan tingkat tinggi, dan wajah mereka terlihat dingin serta penuh kewaspadaan.

Mereka datang dengan alasan ingin “memperbarui dan memperketat sistem pengawasan”, tapi sejak hari pertama kedatangan mereka, sikap mereka terasa sangat berbeda. Mereka tidak mau bekerja sama dengan tim satpam lama, sering memeriksa barang-barang milik karyawan secara berlebihan, mengawasi setiap gerak-gerik orang di lobi, dan yang paling jelas — mereka selalu mengamati setiap langkahku dengan pandangan curiga dan penuh pengawasan.

Budi yang bekerja bersamaku sudah mulai tidak tahan dengan sikap mereka. Saat jam istirahat, dia mendekatiku sambil menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya terlihat kesal.

“Kaito, lihat saja mereka itu. Seolah-olah kita ini pencuri atau penjahat yang harus diawasi terus-menerus. Padahal kita sudah bekerja di sini bertahun-tahun, tidak pernah ada masalah. Sejak kedatangan calon suami Mbak Anin itu, rasanya udara di gedung ini jadi sesak saja,” keluh Budi sambil menyeruput teh manisnya.

Aku hanya tersenyum tipis, mencoba menenangkannya. “Biarkan saja, Budi. Mereka hanya menjalankan perintah atasannya. Selama kita bekerja sesuai aturan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Tapi rasanya mereka tidak hanya mengawasi semua orang. Kalau kau perhatikan, pandangan mereka selalu tertuju padamu, entah kau sedang berdiri, berjalan, atau sedang membantu orang lain. Seolah-olah kau ini sasaran utama mereka,” lanjut Budi dengan nada lebih pelan.

Aku mengangguk pelan, karena aku pun sudah menyadarinya. Bahkan, naluriku yang tajam bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Kehadiran mereka bukan hanya untuk memperketat keamanan — mereka sedang mengamati, menunggu, dan mencari celah untuk membuatku terlibat dalam masalah.

Dan benar saja, rencana jahat Rafael mulai dijalankan tiga hari kemudian, pada hari Jumat sore saat suasana mulai ramai karena banyak karyawan yang akan pulang kerja.

Sore itu, langit terlihat mendung, seolah ingin turun hujan kapan saja. Aku sedang berdiri di dekat pintu masuk, mencatat kendaraan yang keluar masuk, ketika tiba-tiba dua orang dari tim keamanan baru itu datang mendekatiku dengan langkah tegas dan wajah yang serius.

“Kaito Nakamura, ikut kami ke ruang pengawasan. Ada hal yang perlu diperiksa,” kata salah satu dari mereka, suaranya keras dan terdengar memerintah.

Aku menatap mereka dengan tenang. “Ada apa? Aku sedang bertugas di sini. Kalau ada yang perlu dibicarakan, bisa dibicarakan di sini saja.”

“Jangan banyak tanya! Ini perintah langsung dari Tuan Rafael. Ada laporan bahwa ada barang berharga yang hilang dari ruang penyimpanan lantai lima, dan ada rekaman yang menunjukkan seseorang yang mirip denganmu lewat di area itu beberapa jam yang lalu,” jawab orang itu dengan nada menuduh.

Mendengar perkataan itu, beberapa karyawan yang sedang lewat langsung menoleh dan berbisik-bisik. Wajah Budi langsung berubah pucat, dia segera melangkah maju.

“Kalian bicara apa? Kaito tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Dia orang yang jujur, kami sudah bekerja bersamanya selama ini!” bantah Budi dengan nada marah.

“Simpan omonganmu sendiri! Kami punya tugas dan bukti yang perlu diperiksa. Kalau dia tidak bersalah, dia tidak perlu takut untuk ikut kami,” potong orang itu dengan kasar, lalu menatapku tajam. “Bagaimana? Mau ikut dengan baik atau mau kami bawa dengan paksa?”

Aku menghela napas panjang, menyadari bahwa ini baru awal dari jebakan yang sudah disiapkan. Aku tahu mereka hanya ingin membuat keributan, memancing emosiku, atau membuatku terlihat bersalah di depan orang banyak. Tapi aku tidak ingin terlibat perkelahian di tempat umum jika bisa dihindari.

“Baiklah, aku ikut. Tapi ingat, kalau ternyata tuduhan ini tidak benar, aku harap kalian bisa mempertanggungjawabkannya,” kataku dengan nada tenang namun tegas.

Kami berjalan menuju ruang pengawasan yang terletak di lantai dasar, ruangan yang tertutup dan hanya ada satu pintu masuk. Begitu masuk, aku melihat Rafael sudah duduk di sana dengan santai, dikelilingi oleh empat orang pengawal lainnya. Begitu melihatku masuk, dia menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan.

“Nah, akhirnya datang juga. Terima kasih sudah bersedia datang dengan tenang, Kaito,” ucap Rafael sambil menatapku dari atas ke bawah.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Pak Rafael. Katakan saja apa yang sebenarnya kau inginkan, jangan buat alasan tentang barang yang hilang itu,” jawabku langsung tanpa basa-basi.

Rafael tertawa kecil, lalu menepuk tangan perlahan. “Pintar sekali. Benar saja, kau bukan orang yang mudah dibohongi. Baiklah, tidak perlu lagi berpura-pura di antara kita. Aku sudah tahu siapa dirimu, Kaito Nakamura. Aku tahu kau menyembunyikan kekuatan yang luar biasa, dan aku tahu rahasiamu dijaga oleh banyak pihak agar tidak terungkap ke dunia.”

Dia berdiri dari kursinya, berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapanku, jaraknya hanya sekitar satu meter.

“Tapi dengarkan aku baik-baik. Aku tidak peduli dengan perjanjian ribuan tahun itu. Aku tidak peduli siapa yang melindungimu. Yang aku tahu, kekuatan sebesar itu tidak boleh disia-siakan hanya untuk menjaga pintu gedung dan mengangkat barang orang lain. Kekuatan itu harus digunakan untuk meraih kekuasaan, menguasai segalanya, dan menjadi yang terkuat di antara semua orang!”

Aku menatapnya dengan pandangan datar, tidak tergoyahkan oleh ucapannya. “Kekuatan itu bukan untuk dikuasai, Rafael. Itu adalah amanah. Leluhurku sudah mengajarkan selama seribu tahun bahwa kekuatan hanya berarti jika digunakan untuk melindungi, bukan untuk menindas atau menguasai orang lain. Kalau kau menginginkan kekuatan seperti itu, kau tidak akan pernah bisa memilikinya, karena hatimu sudah dipenuhi oleh keserakahan dan keinginan berkuasa.”

Jawaban itu membuat wajah Rafael memerah karena marah. Dia mengepalkan tangannya, lalu menunjuk dadaku dengan jari telunjuknya.

“Jangan sok bijak padaku! Aku tidak butuh nasihat dari orang asing yang hanya bisa bersembunyi di balik topeng kesederhanaan! Kalau kau tidak mau menyerahkan kekuatan itu padaku, atau mau bekerja di bawah perintahku, maka aku akan buat kau tidak punya tempat lagi di kota ini, bahkan di seluruh negeri ini!”

Dia melangkah mundur sedikit, lalu memberi isyarat dengan tangan. “Kalian dengar dia bicara sombong itu? Tunjukkan padanya bahwa dia tidak bisa berbuat sesuka hati di sini! Buat dia mengeluarkan kekuatan aslinya, agar semua orang tahu siapa dia sebenarnya!”

Tanpa menunggu perintah kedua, enam orang anggota tim keamanan itu segera mengelilingiku, membentuk lingkaran rapat. Mereka langsung mengeluarkan tongkat pengaman yang terbuat dari bahan kuat dan dilengkapi arus listrik kejut, lalu menyerangku secara bersamaan dari segala arah.

“Kaito! Menyerahlah saja! Jangan melawan, nanti kau terluka!” teriak salah satu dari mereka, padahal mereka sendiri yang mulai menyerang lebih dulu.

Tongkat-tongkat itu diayunkan dengan kecepatan dan kekuatan yang cukup besar, ditambah dengan arus listrik yang bisa melumpuhkan orang biasa dalam hitungan detik. Namun, bagiku, semua gerakan itu terlihat lambat dan mudah ditebak. Aku hanya menggerakkan tubuhku sedikit ke kiri dan ke kanan, menghindari setiap serangan dengan gerakan yang sangat halus dan anggun, seolah sedang menari, bukan menghindari serangan.

Suara benturan tongkat dengan tembok dan lantai terdengar berulang kali, tapi tidak satu pun yang menyentuh tubuhku. Dalam waktu singkat, mereka sudah terengah-engah, keringat membasahi seluruh tubuh mereka, sedangkan aku masih berdiri di tempat yang sama, napasku tetap teratur dan tenang.

Rafael menonton dengan mata terbelalak, wajahnya makin marah dan kesal. “Kenapa kalian tidak bisa menyentuhnya? Dia hanya satu orang! Hajar dia lebih keras lagi! Kalau perlu gunakan semuanya yang kalian punya! Aku tidak mau dia bisa keluar dari ruangan ini tanpa menunjukkan kekuatannya!”

“Kau tidak mengerti, Rafael,” kataku dengan suara yang tenang namun terdengar jelas memenuhi ruangan itu. “Aku tidak mau melukai mereka. Mereka hanya mengikuti perintahmu. Dan aku tidak mau mengeluarkan kekuatanku, karena kalau aku melakukannya, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku, dan bisa melukai mereka sampai parah.”

“Jangan berlagak hebat! Kalau kau memang punya kekuatan itu, keluarkan saja! Kalau tidak, berarti semua itu hanya omong kosong belaka!” teriak Rafael dengan suara meninggi, lalu memberi isyarat lagi. “Gunakan bom asap dan alat pelumpuh! Buat dia tidak bisa bergerak, sampai dia terpaksa menggunakan kekuatannya!”

Mendengar perintah itu, dua orang dari mereka segera mengeluarkan tabung berisi asap tebal dan semprotan bahan kimia yang dirancang untuk membuat mata perih, sesak napas, dan melemahkan tubuh. Mereka melemparkannya ke lantai di sekelilingku.

DOR!

Asap putih tebal segera menyebar dengan cepat, memenuhi seluruh ruangan dalam hitungan detik. Bau yang menyengat dan menyakitkan segera tercium, membuat mata dan hidung terasa perih. Orang-orang di luar lingkaran segera menutup hidung dan mata mereka, terbatuk-batuk karena tidak tahan.

Namun, bagi aku yang sudah terlatih mengendalikan aliran energi dalam tubuh dan mengatur napas selama ribuan tahun, hal itu tidak menimbulkan efek apa pun. Aku hanya mengatur napas dengan ritme khusus, membuat energi di dalam tubuhku membentuk lapisan pelindung tipis di sekitar hidung, mulut, dan mata, sehingga udara yang masuk tetap bersih dan tidak ada zat berbahaya yang bisa menembusnya.

Melihat aku masih berdiri tegak di tengah asap tebal itu tanpa terlihat terganggu sedikit pun, Rafael semakin terkejut dan semakin geram. Dia sudah kehabisan akal untuk memancingku, dan akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan cara yang paling berbahaya.

“Baiklah! Kalau kau tidak mau mengeluarkan kekuatanmu untuk melindungi dirimu sendiri, lihat saja apakah kau akan tetap diam kalau nyawa orang lain terancam!” teriak Rafael dengan nada yang penuh kejam.

Dia mengambil telepon genggamnya, lalu berbicara dengan cepat ke dalamnya. “Jalankan rencana cadangan sekarang juga! Jangan ragu!”

Aku langsung merasa ada sesuatu yang salah. Naluriku berteriak keras, memberitahuku bahwa dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dan berbahaya.

Belum sempat aku bertanya, suara teriakan panik terdengar dari luar ruangan, disertai suara keributan dan benturan keras.

“Tolong! Ada api di ruang penyimpanan lantai lima! Ada anak kecil terjebak di dalam!”

Suara itu terdengar jelas, membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku langsung menatap Rafael, mataku kini mulai memancarkan cahaya yang tajam dan serius.

“Kau lakukan ini? Kau membakar ruangan itu hanya untuk memaksaku bertindak?” tanyaku dengan suara yang lebih berat dan rendah.

Rafael hanya tersenyum sinis, lalu mengangkat bahu seolah tidak bersalah. “Siapa yang tahu? Mungkin saja ada korsleting listrik. Lagipula, bukankah kau selalu mengaku ingin melindungi orang lain? Kalau kau benar-benar punya kekuatan itu, pergilah selamatkan anak itu. Tapi ingat, kalau kau melakukannya, semua orang akan melihat apa yang sebenarnya bisa kau lakukan. Rahasiamu akan terbongkar selamanya, dan itu yang aku inginkan!”

Dia melangkah mendekat lagi, suaranya dibuat rendah hanya untuk didengar olehku. “Pilihlah, Kaito. Diam saja dan biarkan anak itu terbakar, atau keluarkan kekuatanmu dan buktikan siapa dirimu yang sesungguhnya. Pilihan ada di tanganmu.”

Pertarungan batin berkecamuk hebat di dalam diriku. Ajaran leluhurku jelas: jangan gunakan kekuatan secara terbuka, jangan biarkan identitas diketahui orang banyak, agar amanah tetap terjaga. Tapi di sisi lain, nyawa seorang anak sedang terancam. Bagaimana mungkin aku bisa berdiri diam dan membiarkan dia terluka atau bahkan mati, hanya karena ingin menjaga rahasia?

“Kau memang kejam, Rafael. Tapi kau lupa satu hal,” kataku perlahan, mataku mulai berubah, memancarkan cahaya yang samar namun terasa menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya. “Aturan yang dijaga oleh leluhurku dan dunia bukan untuk membiarkan kejahatan menang dan nyawa orang tak berdosa hilang. Aturan itu ada untuk melindungi, bukan untuk menyakiti.”

Aku menoleh ke arah pintu, lalu melangkah maju dengan langkah yang terasa ringan namun penuh kekuatan. Saat itu juga, energi yang selama ini kusimpan dan kendalikan mulai mengalir dengan bebas ke seluruh tubuhku. Udara di sekelilingku terasa berubah, menjadi lebih dingin, dan asap tebal yang memenuhi ruangan itu seolah terhempas menjauh, terpisah dan tersebar ke sisi-sisi ruangan hanya karena aliran energi yang keluar dari tubuhku.

“Tahan dia! Jangan biarkan dia keluar!” teriak Rafael panik, melihat perubahan yang terjadi.

Enam orang itu segera menyerang lagi dengan sekuat tenaga, mengayunkan tongkat mereka bersamaan ke arahku. Namun kali ini, aku tidak lagi hanya menghindari. Dengan satu gerakan tangan yang sangat cepat dan ringan, aku menepis setiap serangan itu.

DUG! DUG! DUG!

Suara benturan terdengar keras, tapi tidak ada rasa sakit yang terasa di tanganku. Sebaliknya, tenaga yang keluar dari tepisanku membuat tubuh enam orang itu terlempar mundur beberapa meter, menabrak dinding dan jatuh terguling ke lantai, terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Mereka hanya bisa memandangku dengan mata terbelalak, tidak mampu bergerak lagi karena terkejut dan tertekan oleh energi yang terasa begitu besar namun tidak menyakiti mereka secara berlebihan.

Aku tidak berhenti. Dengan kecepatan yang jauh melampaui batas manusia biasa, aku melesat keluar dari ruangan itu, berlari menuju tangga darurat. Setiap langkahku terasa melayang, dan dalam hitungan detik saja aku sudah sampai di lantai lima, tempat api mulai membesar dan menjilat dinding serta barang-barang yang ada di dalam ruangan penyimpanan.

Asap hitam tebal mulai memenuhi lorong, membuat pandangan menjadi kabur dan udara terasa sangat panas. Dari balik pintu yang terbuka sedikit, terdengar suara tangisan ketakutan seorang anak kecil.

“Tolong… Mama… tolong…”

Aku segera mendorong pintu itu dengan satu tangan saja. Kunci dan engsel pintu yang terbuat dari besi kuat itu langsung terlepas dan terlempar ke samping hanya dengan tekanan energi yang cukup. Di dalam ruangan itu, api sudah membakar tumpukan kardus dan barang-barang, membuat suhu ruangan naik sangat cepat. Di sudut ruangan, terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun terjebak di balik tumpukan kayu yang roboh, menangis ketakutan.

Aku melangkah masuk, dan seketika energi yang melingkupi tubuhku menyebar ke sekeliling. Panas yang menyengat seolah terhalang oleh dinding energi tak terlihat, sehingga tidak menyentuh kulitku sedikit pun. Aku mendekati anak itu, lalu dengan satu gerakan ringan, aku mengangkat tumpukan kayu yang beratnya mencapai ratusan kilogram itu dan memindahkannya ke samping seolah mengangkat selembar kertas tipis.

“Sudah aman, Nak. Jangan takut,” kataku dengan suara lembut, lalu mengangkat tubuh anak itu dan memeluknya erat di dadaku.

Saat aku berbalik ingin keluar, sepotong balok kayu besar yang terbakar jatuh dari atas, tepat di jalan yang akan kulalui. Aku hanya mengangkat satu tangan ke atas, dan energi yang keluar dari telapak tanganku menahan balok itu di udara, lalu mendorongnya menjauh ke sisi lain ruangan.

Begitu keluar dari ruangan itu, aku meniupkan napas panjang ke arah api yang menyebar. Aliran energi yang terkumpul di napasku berubah menjadi hembusan angin yang sangat kuat namun terkontrol, langsung mengarahkan api itu ke satu titik, memadamkan nyala apinya dalam waktu singkat hanya dengan menekan oksigen yang dibutuhkan api untuk menyala.

Dalam waktu kurang dari dua menit, api yang tadinya mengancam menjadi bencana besar itu sudah padam total, hanya menyisakan asap dan bau hangus yang perlahan hilang.

Orang-orang yang sudah berkumpul di lantai bawah dan tangga, termasuk Budi, Pak Suryo, dan juga Anindya yang baru saja tiba mendengar keributan, berdiri terpaku melihat apa yang baru saja terjadi. Mereka melihatku keluar dari ruangan itu dengan membawa anak yang selamat, tubuhku tidak ada sedikit pun luka atau bekas terbakar, dan api yang tadinya besar sudah mati seketika hanya dengan satu gerakan tanganku.

Tidak ada suara yang terdengar selama beberapa detik. Semua orang masih terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru mereka lihat.

Aku menurunkan anak itu ke dalam pelukan ibunya yang datang berlari sambil menangis haru, lalu menoleh ke arah Rafael yang baru saja naik ke lantai itu, berdiri di belakang kerumunan orang dengan wajah pucat pasi dan matanya terbelalak tak percaya.

“Kau lihat sendiri, Rafael. Kau berhasil memaksaku mengeluarkan kekuatanku. Tapi lihatlah hasilnya. Bukan untuk menghancurkan atau berkuasa, tapi hanya untuk menyelamatkan nyawa orang yang tidak bersalah,” kataku dengan suara yang tenang namun terdengar sangat jelas sampai ke telinga semua orang yang ada di sana.

Aku melangkah maju sedikit, menatap langsung ke arahnya. “Ingatlah ini. Kekuatan yang dimiliki keluargaku bukanlah mainan, bukan alat untuk mencapai keinginan pribadi. Dan kau sudah membuat kesalahan besar dengan mencoba memanfaatkan situasi ini untuk menjatuhkanku. Sekarang rahasiamu juga terbongkar — kau yang merencanakan semua ini hanya untuk memuaskan keinginanmu sendiri.”

Rafael mencoba berbicara, tapi suaranya tersendat dan tidak bisa keluar. Dia merasa tertekan oleh pandanganku, dan juga melihat tatapan curiga serta kecewa dari orang-orang di sekitarnya, terutama dari Anindya yang berdiri di sampingnya dengan wajah pucat dan pandangan yang penuh kekecewaan mendalam.

Anindya menatapku, lalu menatap Rafael, dan akhirnya dia mengerti semuanya. Semua tuduhan, semua keributan, dan bahkan kebakaran itu hanyalah bagian dari rencana jahat untuk memaksaku mengungkapkan jati diriku.

“Rafael… apakah benar semua ini rencanamu?” tanya Anindya dengan suara yang bergetar, mencoba memastikan.

Rafael hanya menunduk, tidak berani menatap matanya. Dia tahu dia sudah terjebak dalam rencananya sendiri. Dia berhasil membuatku mengeluarkan kekuatan asliku, tapi dia juga membongkar sifat jahat dan kejamnya sendiri di depan semua orang.

Sementara itu, aku berdiri di tengah kerumunan itu, merasakan energi yang mulai kembali masuk ke dalam tubuhku, mengembalikan diriku ke keadaan semula. Aku tahu rahasia yang selama ini kujaga rapat sudah terbongkar di depan banyak orang. Tapi di dalam hatiku, aku tidak merasa menyesal. Karena aku memilih untuk melindungi nyawa orang lain, bukan hanya mempertahankan kerahasiaan semata.

Aku hanya berdoa semoga ajaran leluhurku mengerti, dan semoga perjanjian yang telah ada selama ribuan tahun itu masih bisa melindungiku, meski sebagian dari identitasku sudah terlihat oleh mata dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!