"Hai guys! Biar petualangan MC kita makin epic dan nggak banyak gangguan kata-kata typo, Thor memutuskan untuk melakukan revisi dan perbaikan total pada bab-bab novel ini. Mohon ditunggu sebentar ya, Thor lagi ngebut mempercantik ceritanya!
Sembari nunggu novelnya selesai diperbaiki, yuk bantu amankan posisi novel kita dengan tetap klik LIKE, ramaikan KOMEN, dan klik FOLLOW profilku. Jangan lupa juga buat kasih rating BINTANG 5 di halaman depan, ya! Sampai jumpa di versi novel yang lebih mantap! 🚀"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel Ranah Jiwa Baru, Kegilaan Fisik Dewa Kuno
BUMMMM—!
Gerbang batu raksasa di ujung Koridor Tulang hancur berantakan menjadi jutaan serpihan debu tebal di bawah tekanan aura yang luar biasa masif. Dari balik reruntuhan tersebut, sebuah ruang aula utama yang berbentuk kubah raksasa terbuka di hadapan mereka. Di tengah aula, sebuah altar yang tersusun dari tulang-tulang binatang buas kuno menjulang tinggi, diselimuti oleh kabut hitam pekat yang berputar bagai pusaran badai.
Di atas altar tersebut, sesosok makhluk perlahan berdiri tegak.
Makhluk itu mengenakan jubah naga kekaisaran berwarna kuning emas yang telah usang, robek di beberapa bagian, memperlihatkan tubuhnya yang telah mengering bagai kayu purba. Kulit wajahnya yang keabu-abuan menempel ketat pada struktur tengkoraknya, namun sepasang matanya menyala dengan api jiwa berwarna merah menyala—bukan hijau hantu biasa. Di atas kepalanya, sebuah mahkota kaisar yang retak masih bertengger dengan kokoh.
Dialah Kaisar Pertama Kekaisaran Awan Merah. Ahli legendaris yang ribuan tahun lalu memimpin pendirian kekaisaran, kini berdiri kembali sebagai mayat hidup dengan basis kultivasi tirani: Ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) Fase Awal!
Urrgh...
Begitu Mayat Kaisar itu mengarahkan pandangannya yang merah menyala ke arah pintu masuk, sebuah tekanan spiritual absolut menyapu seluruh aula.
"Ah...!" Putri Zhao Linger mengerang perih. Lututnya seketika lemas, memaksanya jatuh berlutut di atas lantai batu yang dingin. Wajah cantiknya memucat tanpa darah. Basis kultivasi Ranah Inti Emas Tingkat 1 miliknya sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menahan intimidasi murni dari seorang ahli Ranah Jiwa Baru. Bahkan Dekret Burung Phoenix Giok di tangannya mulai retak, tidak mampu meredam amukan Qi Kematian yang meledak-ledak di dalam aula.
Lin Huang dengan cepat melangkah, menempatkan tubuh tegapnya tepat di depan Zhao Linger untuk memutus garis pandang Mayat Kaisar tersebut.
BZZZZT—!
[Peringatan Jam Kematian Ketujuh!]
[Target Utama: Mayat Kaisar Pertama memegang kendali atas aura penekan 'Lonceng Jiwa Penekan Langit'!]
[Waktu Tersisa: 00:09:59]
[Saran: Hancurkan inti kematian di dalam dadanya untuk memutuskan hubungan dengan pusaka ketiga!]
"Sembilan menit... waktu yang lebih dari cukup untuk membongkar kerangka tua ini," Lin Huang menyeringai liar. Gairah bertarung seorang anti-hero gila mendidih di dalam darahnya. Dia menatap ke samping, ke arah Ye Qingyue yang masih berdiri tegak dengan mata perak yang menyipit tajam.
"Yue'er manis, lindungi putri rubah itu. Biarkan aku yang maju untuk mencicipi rasa pukulan dari Ranah Jiwa Baru," Lin Huang mentransmisikan suaranya dengan nada yang penuh kelancangan dan kegembiraan primal.
"Jangan sombong, Lin Huang. Ranah Jiwa Baru di dunia fana ini memang cacat secara hukum alam, tapi kekuatan fisiknya yang telah ditempa ribuan tahun di makam tidak bisa diremehkan," Ye Qingyue memperingatkan, namun tangannya perlahan membentuk mantra es tipis di sekeliling tubuh Zhao Linger untuk mengisolasi tekanan udara.
Wusss—!
Sebelum kata-kata Ye Qingyue selesai, Mayat Kaisar Pertama mendadak lenyap dari atas altar. Kecepatannya telah melampaui batas persepsi visual mata fana.
Bahaya!
Insting bertarung dari Fisik Dewa Kuno Lin Huang berteriak gila. Tanpa ragu, Lin Huang menyilangkan kedua lengannya di depan dada, memicu lautan Qi emas murni dari Ranah Fondasi Jiwa Tingkat 5-nya untuk meledak sepenuhnya.
BANG—!!!
Sesosok bayangan berjubah naga usang mendadak muncul tepat di depan Lin Huang. Sepasang cakar hitam panjang yang dipenuhi oleh racun mayat kuno menghantam keras lengan Lin Huang. Benturan itu memicu gelombang kejut spasial yang meretakkan lantai batu aula dalam radius puluhan meter.
Lin Huang terlempar terbang mundur sejauh belasan langkah, kedua lengannya mengeluarkan asap hitam korosif akibat racun mayat yang mencoba menggerogoti kulitnya. Namun, detik berikutnya, tato emas di sepanjang tulang lengannya menyala terang. Fisik Dewa Kuno mengaktifkan kemampuan regenerasi murninya, membakar habis racun tersebut menjadi uap putih dalam satu kedipan mata.
"Hahaha! Keras juga tulangmu, Kekek Tua!" Lin Huang meraung gila. Dia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun; tubuh tegapnya justru melesat maju kembali, memicu Langkah Bayangan Langit tingkat maksimal.
Boom! Bak! Boom!
Duel jarak dekat yang teramat brutal meledak di tengah aula utama. Lin Huang melepaskan seluruh penyamaran kekuatannya. Setiap pukulan dan tendangannya membawa bobot puluhan ribu ton kekuatan fisik mentah dewa kuno yang dipadukan dengan Qi emas Fondasi Jiwa Tingkat 5. Di sisi lain, Mayat Kaisar membalas dengan cakar dan hantaman Qi Kematian abu-abu yang sanggup merobek ruang hampa.
Mereka bertarung bagai dua monster purba. Gerakan mereka menciptakan badai angin yang menghancurkan sisa-sisa pilar aula.
KREK!
Cakar Mayat Kaisar berhasil menembus pertahanan Lin Huang, merobek pundak kirinya hingga memperlihatkan tulang emasnya yang retak. Namun, di saat yang sama, tinju kanan Lin Huang yang berkilau emas transparan berhasil menghantam tepat di rahang bawah Mayat Kaisar dengan telak.
PRAK—!
Rahang bawah dari makhluk Ranah Jiwa Baru itu pecah berantakan, dan tubuhnya terdorong mundur lima langkah. Lin Huang terengah-engah, darah emas segar menetes dari pundaknya, namun stimulasi rasa sakit itu justru membuat garis darah dewa kunonya bergejolak semakin liar. Kecepatan regenerasinya meningkat berkali-kali lipat; luka di pundaknya kembali menutup dengan desis pelan.
"Mati... Penyusup... Mati...!"
Mayat Kaisar Pertama mengeluarkan raungan parau dari tenggorokannya yang hancur. Api jiwa di matanya mendadak meledak menjadi kobaran api hitam yang mengerikan. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memadatkan seluruh Qi Kematian di dalam aula menjadi sebuah telapak tangan raksasa berwarna hitam pekat yang dipenuhi oleh wajah-wajah jiwa yang menangis—teknik pamungkas kekaisaran: [Telapak Naga Kematian].
Teknik ini mengunci seluruh ruang di sekitar Lin Huang, berniat menghancurkan Dantian dan jiwanya secara absolut.
"Lin Huang!" Dari sudut ruangan, Zhao Linger berteriak histeris. Dia bisa merasakan bahwa serangan ini berada di tingkat yang sanggup memusnahkan satu kota besar dalam sekali hantam.
Lin Huang mengepalkan tangannya, bersiap mengaktifkan Domain Ilusi Batil untuk menahan hantaman tersebut dengan risiko domainnya akan hancur berantakan. Namun, tepat sebelum telapak tangan hitam raksasa itu turun menimpa kepalanya, sebuah hawa dingin yang teramat suci dan agung mendadak meledak dari arah belakangnya.
Ting—!
Sesosok bayangan anggun bergaun pelayan melesat melintasi kepalanya. Ye Qingyue telah berdiri di garis depan, rambut hitam ilusinya kembali berubah menjadi warna perak berkilau yang suci. Sepasang mata periknya menyala dengan otoritas seorang penguasa Alam Atas yang sesungguhnya.
"Makhluk mati dari dunia fana... berani-beraninya kau bertindak lancang di hadapanku," Ye Qingyue berbisik sedingin es kutub abadi.
Dia mengangkat tangan kanannya, membentuk sebuah segel pedang kuno dengan jemarinya. Dalam sekejap, jutaan bilah es murni yang memancarkan cahaya biru surgawi tercipta di udara, langsung berbenturan dengan Telapak Naga Kematian milik Mayat Kaisar.
BLAAASSSS—!!!
Ledakan es dan kegelapan menggoncang seluruh dasar Makam Leluhur. Di tengah kabut salju yang membekukan aliran Qi Kematian tersebut, Ye Qingyue menoleh sejenak ke arah Lin Huang, cadar sutranya berkibar memperlihatkan senyuman tipisnya yang teramat indah.
"Sekarang, Lin Huang! Naiklah ke atas altar dan ambil pusaka ketigamu!"
Lin Huang menyeringai lebar penuh kegilaan sejati. "Mengerti, Istriku!"
Dengan satu hentakan kaki murninya, tubuh Lin Huang melesat bagai anak panah emas menembus badai es, langsung menuju ke arah puncak altar tulang di mana takdir ketiga telah menantinya.
jos gandos
Mak nyusss
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
🗿🗿🗿🗿
👻👻👻👻👻
🐉🐉🐉🗿🗿👻👻👻🗿🗿🐉🐉🐉
Sembari nunggu novelnya selesai diperbaiki, yuk bantu amankan posisi novel kita dengan tetap klik LIKE, ramaikan KOMEN, dan klik FOLLOW profilku. Jangan lupa juga buat kasih rating BINTANG 5 di halaman depan, ya! Sampai jumpa di versi novel yang lebih mantap! 🚀"