NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagar Pembatas Tuan Kresna

Getaran di atas telapak tangan Cinta Alisya seolah menghentikan seluruh pasokan oksigen di dalam ruang Kepala Sekolah SMA Bina Karya. Nama yang tertera di layar ponsel itu bukan sekadar nama seorang ayah, melainkan simbol kasta, kekuasaan mutlak, dan tembok besi yang selama ini mengurung kebebasan Cinta. Di ruangan yang baru saja lega setelah kepergian Nicholas, atmosfer mendadak kembali mencekam, bahkan jauh lebih menyesakkan dari sebelumnya.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Cinta perlahan menggeser tombol hijau di layarnya. Dia mendekatkan ponsel itu ke telinga dengan napas yang tertahan. Rangga yang berdiri di sampingnya bisa mendengar dengan jelas suara bariton yang berat dan dingin dari seberang telepon.

"Keluar sekarang, Cinta. Papa sudah di depan gerbang," ucap Tuan Kresna. Suaranya tidak melengking marah, melainkan sebuah perintah datar yang begitu dingin, yang justru jauh lebih menakutkan daripada bentakan biasa.

Nicholas rupanya langsung menghubungi bapaknya begitu keluar dari ruangan dengan muka hancur, dan detik itu juga, bapaknya Nicholas menggunakan kuasa bisnisnya untuk menekan Tuan Kresna. Pengusaha properti raksasa itu tidak sudi nama baik keluarganya tercoreng di sekolah yang dianggapnya kumuh ini.

"Klik.

Sambungan telepon diputus sepihak. Cinta perlahan menurunkan ponselnya, menatap kosong ke arah lantai dengan tubuh yang mendadak lemas. Air matanya yang tadi sempat mengering kini kembali mengambang di sudut kelopak matanya. Tuan Kresna telah datang sendiri untuk menyeretnya kembali ke dalam sangkar emas.

"Rangga... Papa ada di depan," bisik Cinta dengan suara yang parau, dipenuhi rasa takut yang amat sangat.

Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Dia langsung menggenggam jemari tangan Cinta yang terasa sedingin es, lalu menatap Pak Subroto dan Bu Lastri sejenak. "Pak, Bu, saya izin mengantar Cinta ke depan."

Langkah kaki mereka terasa begitu berat saat menyusuri koridor sekolah menuju gerbang utama. Di luar pagar besi SMA Bina Karya yang sedikit berkarat, sebuah pemandangan kontras telah menunggu. Dua mobil sedan mewah berwarna hitam metalik terparkir dengan mesin yang menderu halus. Empat orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam berdiri siaga di samping mobil.

Di tengah-tengah mereka, berdirilah Tuan Kresna. Pria paruh baya itu tampil sangat necis dengan setelan kemeja mahal tanpa dasi, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan matanya yang tajam bak elang langsung mengunci sosok Rangga begitu mereka keluar dari gerbang.

"Papa..." lirih Cinta, perlahan melepaskan genggaman tangan Rangga karena ketakutan.

Tuan Kresna melangkah maju dua kali. Tatapannya tertuju pada seragam putih-abu-abu Rangga yang sedikit kusut, lalu beralih ke wajah anak laki-laki itu dengan pandangan yang dipenuhi rasa jijik dan meremehkan.

"Jadi, ini cowok jalanan yang sudah membuat kamu berani membangkang pada Papa, Cinta?" tanya Tuan Kresna, suaranya terdengar sangat tenang namun menghujam ulu hati.

Rangga memberanikan diri melangkah satu kaki di depan Cinta, mencoba melindungi gadis itu secara jantan. "Selamat pagi, Tuan Kresna. Saya Rangga. Soal kejadian kemarin di SMA Garuda Bangsa, saya terpaksa memukul Nicholas karena dia mencoba berbuat kurang ajar dan melecehkan Cinta di tempat sepi. Saya murni membela anak Tuan."

Tuan Kresna tiba-tiba terkekeh sinis, sebuah tawa merendahkan yang membuat darah Aldi yang berdiri di belakang Rangga ikut mendidih.

"Kamu tidak usah berlagak jadi pahlawan di depan saya, anak muda," ketus Tuan Kresna, melangkah lebih dekat hingga aroma parfum mahalnya menusuk hidung Rangga. "Saya tidak peduli dengan drama remaja kalian. Yang saya tahu, gara-gara aksi sok jagoan kamu ini, investasi senilai puluhan miliar untuk perusahaan saya terancam batal karena keluarga Nicholas tidak terima! Kamu tahu apa soal tanggung jawab? Kamu hanya anak miskin dari sekolah pinggiran yang tidak punya masa depan!"

Tuan Kresna kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Cinta, lalu merenggut pergelangan tangan anak gadisnya dengan kasar. "Masuk ke mobil, Cinta! Pulang!"

"Papa, sakit, Pa! Rangga gak salah!" jerit Cinta sambil menangis, mencoba memberontak namun tenaganya kalah jauh.

Melihat Cinta diperlakukan kasar, insting petarung Rangga kembali bangkit. Dia reflek memegang lengan Tuan Kresna. "Tuan, tolong jangan kasar sama Cinta!"

Dua pengawal berbadan tegap langsung bergerak cepat, mendorong dada Rangga dengan kasar hingga cowok itu mundur beberapa langkah. Tuan Kresna berbalik, menatap Rangga dengan kilatan amarah yang mengerikan.

"Jangan pernah berani menyentuh saya dengan tangan kotor kamu! Dan denger baik-baik, anak jalanan... sekali lagi kamu berani mendekati anak saya, atau mencoba mencari tahu tentang dia, saya tidak akan segan-segan menggunakan kekuasaan saya untuk menjebloskan kamu ke dalam penjara seumur hidup! Kamu dan saya... kita hidup di dunia yang berbeda!"

Tuan Kresna kemudian merebut paksa ponsel dari tangan Cinta, lalu dengan kejam melempar ponsel itu ke atas aspal jalan dan menginjaknya dengan sepatu pantofel mahalnya hingga layarnya hancur berkeping-keping di depan mata Rangga.

"Masuk!" perintah Tuan Kresna lagi.

Cinta diseret masuk ke dalam kabin mobil penumpang. Sebelum pintu mobil ditutup rapat oleh pengawal, Cinta sempat menatap Rangga dari balik kaca jendela yang perlahan tertutup. Wajahnya dipenuhi air mata, matanya memancarkan keputusasaan yang mendalam seolah itu adalah perpisahan terakhir mereka untuk selamanya. Mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan kepulan debu tipis dan kehancuran harga diri seorang Rangga di pinggir jalan.

Rangga berdiri terpaku di depan gerbang sekolah. Rahangnya mengeras begitu kuat hingga urat-urat di lehernya menonjol, dan kedua tangannya mengepal sangat kencang sampai tubuhnya bergetar menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya. Kata-kata Tuan Kresna tadi berputar-putar di otaknya seperti kaset rusak, meremukkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Dia merasa sangat tidak berdaya karena kenyataan pahit tentang perbedaan kasta sosial yang menghantamnya begitu telak.

Aldi langsung melangkah maju, memungut sisa-sisa hancuran ponsel Cinta di aspal sambil mengumpat habis-habisan. "Sialan! Benar-benar keterlaluan itu si tua bangka! Mentang-mentang kaya bisa seenaknya injak-injak orang!"

Di tengah kemarahan Aldi, sesosok gadis perlahan mendekati Rangga dari samping. Dia adalah Tasya. Sejak awal kejadian di depan gerbang, Tasya hanya diam memperhatikan. Namun, tatapan matanya sama sekali tidak tertuju pada kemewahan mobil Tuan Kresna, melainkan terpaku sepenuhnya pada sosok Rangga.

Ada debaran emosi yang aneh dan berbeda di dalam dada Tasya saat melihat bagaimana Rangga berdiri tegak, berani menantang tatapan mematikan dari seorang penguasa seperti Tuan Kresna demi melindungi Cinta. Rasa kagum yang mendalam, rasa iba, sekaligus sebuah ketertarikan yang tidak biasa perlahan tumbuh di hati Tasya sejak pandangan pertama mereka di kafe *The Glasshouse* tempo hari. Tasya menyadari, dia diam-diam telah jatuh hati pada sahabat sepupunya itu.

Tasya mengulurkan tangan kanannya, lalu perlahan menyentuh pundak Rangga dengan sangat lembut. Sentuhan itu membuat Rangga sedikit tersentak dari lamunannya. Begitu Rangga menoleh, dia mendapati sepasang mata Tasya yang menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam dan menenangkan.

"Ngga... lu jangan dengerin omongan bokapnya Cinta," bisik Tasya dengan suara yang sangat lembut, berbeda dari gaya bicaranya yang biasanya ceplas-ceplos. "Lu gak usah merasa minder. Di mata gue, lu adalah cowok paling berani dan paling jantan yang pernah gue kenal. Cinta beruntung banget punya cowok kayak lu."

Rangga hanya bisa tersenyum kecut, menarik napas dalam-dalam untuk menekan sesak di dadanya. "Makasih, Sya. Tapi kenyataannya, gue gak bisa berbuat apa-apa saat dia dibawa pergi."

Tasya merasakan secuil kepedihan di hatinya saat melihat betapa besarnya rasa peduli Rangga hanya untuk Cinta. Ada rasa cemburu yang halus, namun Tasya memilih untuk mengubur perasaan itu dalam-dalam demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.

Malam harinya, suasana di warung kopi Mak Iyoh tampak remang dan sepi. Rangga duduk menyendiri di bangku pojok, menatap cangkir kopinya yang sudah mendingin tanpa disentuh sama sekali. Jiwa badungnya seolah terbang entah ke mana, menyisakan kekosongan akibat kehilangan akses untuk mengetahui kabar Cinta. Ponsel Cinta sudah hancur, dia dikurung di dalam rumah, dan Rangga benar-benar buta akan situasi gadis itu.

Tiba-tiba, suara deru motor matik berhenti di depan warung. Aldi datang bersama Tasya. Gadis itu malam ini mengenakan pakaian santai, namun wajahnya tampak membawa sebuah kabar yang sangat penting. Mereka berdua langsung duduk di hadapan Rangga.

"Ngga, lu jangan patah arang dulu. Detektif Tasya bawa informasi emas buat lu," ucap Aldi sambil menyenggol lengan sepupunya.

Tasya menghela napas pendek, lalu mengeluarkan ponselnya sendiri dan meletakkannya di atas meja, menampilkan sebuah gambar undangan digital (e-invitation) yang sangat mewah dengan nuansa warna emas dan hitam.

"Ngga, gue tahu lu lagi frustrasi karena gak bisa hubungi Cinta. Makanya gue coba cari tahu lewat sirkel anak-anak elite Garuda Bangsa," buka Tasya, matanya menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan—antara ingin membantu atau menahan diri dari rasa perih di hatinya sendiri. "Sabtu depan, hari Sabtu malam jam delapan, Nicholas bakal mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke-17 secara besar-besaran di Grand Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta."

Rangga langsung mendongak, matanya kembali fokus. "Pesta ulang tahun Nicholas? Terus hubungannya sama Cinta apa?"

Tasya menelan ludah, dadanya terasa sedikit sesak saat harus menyampaikan kalimat berikutnya. "Tuan Kresna bakal membawa Cinta ke pesta itu secara resmi. Bokapnya Cinta mau mengumumkan di depan semua kolega konglomerat kalau Cinta bakal dijodohkan dengan Nicholas setelah mereka lulus sekolah nanti. Dan yang lebih parah, Ngga... seminggu setelah pesta itu, Tuan Kresna berencana langsung memindahkan Cinta ke sebuah boarding school (sekolah asrama) super ketat di London untuk menyelesaikan kelas 11 dan 12-nya di sana. Cinta bakal diisolasi total biar bener-bener bersih dari masa lalunya. Bersih dari lu, Ngga."

Mendengar informasi dari Tasya, jantung Rangga bagai dihantam gada besi untuk yang kedua kalinya. Ini bukan lagi sekadar perpisahan biasa, melainkan sebuah rencana pemisahan paksa yang terstruktur. Pesta di hotel mewah minggu depan adalah kesempatan terakhir dan satu-satunya bagi Rangga jika dia tidak ingin kehilangan Cinta untuk selamanya.

"Gue harus datang ke pesta itu," ucap Rangga lirih, namun nadanya dipenuhi dengan determinasi yang luar biasa tajam.

"Lu gila, Ngga?! Itu hotel bintang lima! Penjagaannya ketat berlapis, pakai undangan digital barcode segala! Dan lu tahu sendiri, sirkel mereka itu isinya orang-orang jas mewah, bukan anak putih-abu-abu yang naik Vespa butut!" sahut Aldi dengan mata melebar, menganggap rencana Rangga terlalu nekat.

Tasya menatap wajah Rangga yang kembali dipenuhi oleh kobaran tekad. Di dalam hati kecilnya, Tasya merasa terluka karena menyadari betapa gilanya Rangga dalam mencintai Cinta Alisya. Namun, cinta Tasya yang tulus justru membuatnya tidak tega melihat cowok di depannya ini hancur dalam keputusasaan.

Tasya perlahan menggeser sebuah kartu akses berwarna silver di atas meja menuju ke arah tangan Rangga.

"Gue bisa bantu lu buat dapat akses masuk ke area backstage ballroom lewat bantuan teman gue yang kerja di EO acara itu, Ngga," ucap Tasya dengan suara yang agak bergetar, mencoba menahan emosi emosional di dadanya. "Tapi setelah masuk ke dalam, lu harus berjuang sendiri. Lu harus cari cara buat menghadapi Tuan Kresna dan Nicholas di tengah ratusan pasang mata kaum elite."

Rangga menatap kartu akses itu, lalu beralih menatap mata Tasya dengan rasa terima kasih yang teramat sangat. "Tasya... gue gak tahu harus ngomong apa. Makasih banyak. Lu baik banget sama gue."

Tasya hanya bisa memberikan senyuman tipis yang menyembunyikan sejuta rasa perih di dalam hatinya. Gue ngelakuin ini karena gue pengen liat lu bahagia, Ngga, meskipun kebahagiaan lu itu bukan sama gue," batin Tasya lirih.

Rangga menggenggam kartu akses silver itu dengan sangat kuat. Skenario nekat yang jauh lebih besar kini resmi dimulai. Hubungan mereka yang sempat terpisah oleh pagar pembatas kasta Tuan Kresna kini bersiap menghadapi ledakan terbesar di menara gading kaum elite. Perang terakhir demi mempertahankan kata cinta akan segera pecah di bawah gemerlap lampu kristal hotel mewah.

1
Kam1la
kabur, Rangga!
Kam1la
berjiwa besar. si Tasya ya...
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!