NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

Ivy yang sangat membenci Laura menimpali, "Palingan Emma dibuat sedih sama Luis."

"Stt," Sofia menyuruh sahabatnya itu diam, karena ia tidak ingin ayahnya ikut dipusingkan dengan urusan anak muda.

Sementara Tofan hanya tersenyum, lalu tangannya mengelus ke arah paha Ivy.

Ivy sendiri sebenarnya jijik dengan ayah Sofia, tapi ayah Sofia sudah tahu identitasnya yang hanya sebagai putri supir bis.

Ia tidak ingin dikucilkan teman-temannya di sekolah.

Emma ijin ke kamar mandi, saat berdiri tatapannya tak sengaja melihat ke arah tangan Tofan dan Ivy yang bergandengan.

Akhirnya Emma menyadari sesuatu, kalau ini alasannya kenapa setiap dapat proyek. Tofan selalu menganjak sahabat anaknya untuk makan di restoran mewah tanpa mengajak ibunya Sofia.

Tiba-tiba rasa mual menyergap Emma. .

Sofia yang melihat Emma berlari menahan mual sontak mengejarnya.

Sementara Ivy menatap ke dua sahabatnya dengan senyuman sinis. Bagaimana pun juga ia sangat membenci Emma dan Sofia, lebih tepatnya sangat iri dengan kehidupan mereka berdua sebagai orang kaya.

Sedangkan dirinya, jadi anak supir bis yang selalu hidup susah.

Sejak kecil di kucilkan orang-orang.

***

Luis duduk di sudut kafe dengan tangan mengepal di atas meja, matanya menatap pintu masuk yang perlahan terbuka.

Ketika sosok wanita paruh baya itu melangkah masuk, jantungnya seakan berhenti sesaat.

Ibunya.

Setelah empat tahun menghilang tanpa kabar, kini dia ada di hadapannya.

Tanpa ragu, Luis berdiri dan memeluk ibunya erat-erat, seolah ingin menutup semua waktu yang hilang dalam satu pelukan.

"Ibu, tolong jangan benciku karena ayah selingkuh dan punya anak lain," suara Luis bergetar, penuh harap sekaligus takut.

Arina, yang berdiri membeku, menatap Luis dengan mata yang penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin anaknya berkata seperti itu, padahal dialah yang memilih pergi dan mengkhianati pernikahannya?

Dalam hati, Arina bergumam pelan, "Sepertinya Luis belum tahu semuanya."

Wajahnya menunjukkan campuran kebingungan dan kesedihan, mengingat luka lama yang tak kunjung sembuh.

Luis menatap ibunya dengan mata basah, memohon agar diberi kesempatan lagi. "Ibu aku mohon kembalilah!!"

Arina, walau hatinya remuk dan membayangkan ternyata selama ini suaminya lebih parah darinya, akhirnya mengangguk pelan.

Bayangan tangan kasar selingkuhannya yang sering memukulnya membuat dia yakin, mungkin inilah jalan untuk memperbaiki segalanya.

Mengingat baik dirinya maupun Wilson sama-sama salah, jadi keluarga besarnya tidak akan mungkin terus-menerus menyalahkan dirinya.

Mereka duduk berhadapan, suasana kafe yang hangat seolah menjadi saksi bisu dari sebuah reuni yang penuh harap dan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Luis menggenggam tangan ibunya, seakan berjanji bahwa kali ini dia tak akan pernah melepaskan.

Bahkan akan melawan ayahnya.

Arina mengangguk.

"Bu sekarang ikut aku pulang!!" Ujar Luis.

Arina terdiam.

"Ibu kenapa diam?" Tanya Luis bingung.

Bagaimana pun juga Tuhan sekarang ini mengirimkan putranya agar dia menutupi kesalahannya di masa lalu, jadi ia tidak boleh membiarkan celah kesalahannya karena selingkuh di ketahui oleh Luis.

Johan adalah orang yang sangat licik, kalau tahu dirinya dengan mudah kembali ke keluarga Lucian bahkan di terima disana.

Pria itu pasti akan memanfaatkannya untuk mengerus harta keyaaan Wilson.

Arina tahu kalau ia salah, tapi ia tidak bisa membiarkan pria bajingan seperti Johan menguras harta yang harusnya menjadi milik Luis.

Jadi ia harus bercerai dengan Johan dulu, kalau mau kembali pada Wilson.

Luis memegang pergelangan tangan ibunya dan kembali memanggil namanya.

Ia salah mengira, kalau ibunya pasti masih merasa sakit hati karena perselingkuhan ayahnya.

Lamunan Arina buyar akan sentuhan tangan Luis, sontak ia pun mendongak menatap putranya.

"Biarkan ibu menyelesaikan urusan ibu dulu," ujar Arina.

Luis menyahut, "urusan apa? Biarkan aku membantumu."

Arina terpaksa berbohong, agar putranya tidak terus mencercanya dengan pertanyaan yang lain lagi. "Hanya urusan pekerjaan."

Sementara Luis kembali salah paham, mengingat sebelumnya ibunya tidak pernah bekerja. Dan sekarang harus susah bekerja.

"Ibu pasti kekurangan uang," ujar Luis, lalu menyerahkan kartu hitam Laura pada ibunya. Sebelumnya Luis merasa enggan mengambil kartu itu, setelah ayahnya mengatakan jika kartu itu berasal dari ibu Laura.

Tapi Luis bisa menebaknya, kalau ayahnya pasti bohong. Kartu itu pasti pemberian ayahnya sendiri.

Arina langsung menolak pemberian putranya. "Luis, kamu lebih membutuhkan."

Luis menggeleng, lalu menunjukkan kartu miliknya. "Ayah sudah memberikannya padaku."

Kedua bola mata Arina membelalak sempurna, ia menatap putranya penuh tanda tanya.

Luis yang mengerti pun menjawab, "ini milik Laura."

"Laura ... ?!" Ujar Arina terkejut, ia merasa familier dan tidak asing dengan nama tersebut, tapi ia lupa. "Siapa itu Laura?"

Wajah Luis terlihat sangat serius, lalu ia berkata, "Laura adalah anak ayah dari selingkuhannya."

"Jadi kartu itu diberikan ayah pada Laura."

Sontak saja, wajah Arina berubah marah.

"Kalau ibu ingin melakukan perhitungan pada gadis itu, aku akan membantumu." Tawar Luis.

Walaupun ia suka pada Laura, tapi rasa sukanya tidak sebanding dengan kebenciannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!