Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Sruuppp... ah! Akhirnya bisa nyeruput es doger Pak Ilham. Emang beneran sedep ini es doger, nggak ada lawan," ucap Ziva sambil mengaduk-aduk sisa serutan es di dalam gelas plastiknya. Ia menghela napas puas, menyandarkan punggungnya di kursi kantin yang mulai ramai.
Karlota yang duduk di hadapannya hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Lo ya, urusan perut emang nomor satu. Tapi bener sih, setelah terpanggang satu jam di lapangan, ini es doger rasanya kayak air dari surga."
Tragedi kepanikan masal saat upacara bendera tadi pagi memang membawa berkah tersendiri bagi para siswa. Setelah Ziva memicu kericuhan dengan teriakan "ular kobra"-nya, upacara langsung dibubarkan tanpa babibu. Pihak sekolah, mulai dari guru piket sampai satpam, sibuk menyisir lapangan meski hasilnya nihil. Imbasnya, jadwal pelajaran jam pertama dan kedua ditiadakan.
Para guru tengah berkumpul di ruang rapat bersama pemilik yayasan, entah membahas masalah keamanan sekolah atau mencari tahu siapa provokator di balik isu ular fiktif tersebut.
Sambil menopang dagu dengan tangan, Karlota menatap Ziva lamat-lamat. Pikirannya masih berputar pada kejadian tadi.
"Eh Ziv, tapi menurut lo emang beneran nggak ada ular ya? Masa sekolah elit kayak Cakra Buana bisa kemasukan reptil begitu?"
Ziva melirik malas. Ia menyedot sisa sirup merah di dasar gelasnya sampai mengeluarkan suara berisik. "Menurut lo aja gimana, Kar? Lo beneran bego apa emang efek dehidrasi tadi?"
"Menurut gue sih nggak mungkin. Kalaupun ada ular, kayaknya pawangnya banyak di sini, termasuk elo, Ziv," seloroh Karlota santai.
Ziva hampir tersedak. Ia melotot, menatap Karlota dengan tatapan tajam yang dibuat-buat.
"Heh! Apa lo bilang? Gue jadi pawang ular? Najis banget! Daripada pawang ular, lebih baik gue jadi pawangnya duda anak satu kaya raya, Kar!" Ziva memperagakan gerakan tangan seperti ular yang meliuk-liuk, lalu mengarahkannya ke wajah Karlota.
"Ck, duda masih banyak yang muda, ngapain nyari yang ada 'buntutnya'? Nggak laku lo?" sindir Karlota.
"Gue nggak laku? Hey, Karlota Salsabila! Perlu diinget ya, gue bukannya nggak laku karena nggak cantik. Tapi setiap kali ada cowok yang mau deketin gue, lo selalu ceramahin dulu tuh cowok sampai kupingnya bernanah! Makanya mereka mikir dua kali sebelum berurusan sama kita!" tekan Ziva dengan nada dramatis.
Karlota meringis, merasa sedikit bersalah namun tetap merasa tindakannya benar. "Hehehe... lo itu masih bocah, Ziv. Gue nggak mau lo salah pergaulan. Kehidupan lo masih panjang, dan gue nggak mau lo jadi bodoh atau nangis-nangis bombay cuma karena masalah cowok."
Karlota memang sangat protektif. Sebagai sahabat yang sudah seperti kakak, ia tidak ingin Ziva terjerumus dalam hubungan toxic. Apalagi Karlota tahu Ziva sudah cukup menderita dengan drama ibu tirinya di rumah. Ia ingin Ziva mendapatkan yang terbaik—meskipun menurut Karlota, sejauh ini belum ada cowok yang cukup layak untuk sahabatnya yang bar-bar tapi lembut ini.
"Aduh Kar, tapi gue juga pengen ngerasain punya pacar yang banyak uang. Biar cita-cita gue jadi istri CEO tercapai!" Ziva kembali berkhayal, matanya berbinar-binar membayangkan dompet tebal.
"Matre banget lo," Karlota mendesah pasrah.
"Lagian siapa juga yang nggak mau jadi istri CEO? Tapi ya realistis dikit lah. Kalau seleranya CEO muda, belum tentu CEO-nya selera sama bocah tukang bolos kayak lo."
"Bukan matre, Kar, tapi ini namanya kebutuhan. Hari gini nggak ada uang, kita nggak bisa beli kebahagiaan—minimal nggak bisa beli es doger dua porsi," sahut Ziva filosofis.
"Eh, tadi kita ngomongin apa sih? Kok jadi nyasar ke CEO?"
"Ular," jawab Karlota singkat.
"Nah iya, itu gimana?" tanya Karlota lagi, kembali ke topik utama.
"Gimana apanya?" Ziva pura-pura tidak tahu.
"Itu... kenapa bisa ada ular di lapangan tapi anehnya gue nggak lihat bentuknya sama sekali? Bahkan ekornya pun nggak kelihatan."
Ziva mendekatkan wajahnya ke Karlota, lalu membisikkan sesuatu dengan senyum penuh kemenangan. "Gimana mau ada ular, Kar, kalau itu cuma modal teriakan gue doang?"
Karlota spontan menutup mulut dengan telapak tangan, matanya membulat sempurna.
"Jangan bilang lo...?"
"Yap! Emang gue pelakunya. Gimana? Akting gue tadi pro banget, kan? Menyakinkan banget! Lo harus liat mukanya Pak Agus pas gue teriak kakinya mau dipatok, lari-nya udah kayak marmut kejepit, lucu banget! Hahaha!" Ziva tertawa lepas, rasa puas membuncah di dadanya.
"Gila lo, Ziv! Kalau ketahuan gimana? Tapi jujur, itu keren banget sih! Coba tadi lo bilang ke gue dulu, pasti gue tambahin biar makin heboh, gue pura-pura pingsan kek biar makin drama!" ucap Karlota antusias, kini ia malah mendukung ide gila tersebut.
"Lonya aja yang lemot tadi, otaknya ketinggalan di parkiran ya?" dengus Ziva.
"Ya kan gue kepanasan, otak gue langsung lag! Lain kali kompromi dulu ya, kita bikin skenario yang lebih hot!" Karlota sudah mulai merancang rencana nakal berikutnya. Memang, kalau sudah sefrekuensi, moral terkadang menjadi nomor sekian.
"Iya, kalau gue inget," jawab Ziva santai.
"Eh tapi Ziv, sekolah kita kan kedatangan murid baru tadi pagi. Gila nggak sih, hari pertama mereka masuk malah dapet sambutan 'ular' buatan lo. Pasti mereka langsung ilfeel sekolah di sini."
Ziva mengangkat bahu cuek. "Gue sih nggak peduli mereka mau ilfeel apa nggak. Salahin aja Pak Agus, pidato kok panjangnya ngalahin rel kereta api. Ngeselin."
"Bener juga. Gue juga kesel sama tuh guru. Kenapa ya kalau udah pegang mic bawaannya pengen ceramah terus, cerewetnya ngalahin emak-emak di komplek gue kalau lagi rebutan tukang sayur," timpal Karlota.
Sementara itu, di tempat yang jauh lebih tenang namun tersembunyi, suasana kontras terlihat di rooftop sekolah. Di atas sana, terdapat beberapa sofa usang yang sengaja diletakkan untuk tempat bersantai. Itulah markas baru bagi para siswa baru yang tadi pagi menjadi pusat perhatian.
Mahendra duduk diam di sudut sofa, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Di sekelilingnya, teman-temannya sedang heboh membahas kejadian di lapangan.
"Gila! Padahal hari ini hari pertama kita di sekolah ini, dan sambutannya nggak main-main, Bro! Ular, Bro! Ular!" ucap salah satu dari mereka sambil geleng-geleng kepala.
"Hahaha, bener banget! Gue tadi kaget denger teriakan cewek itu. Refleks gue hampir mau nendang ular-nya, tapi ternyata nggak ada barangnya," sahut yang lain sambil tertawa kecil.
Seorang pria dengan jaket kulit hitam menyahut,
"Eh, tapi gue rasa emang nggak ada ular di sana."
"Maksud lo?"
"Gue sempet perhatiin sekeliling pas semua orang lari. Nggak ada tanda-tanda reptil lewat. Gue curiga ada salah satu siswa yang sengaja teriak iseng buat ngebubarin upacara. Dan kalau bener gitu, itu orang nekat banget."
"Gila, kita dibohongin masal! Tapi ini bakal jadi sejarah sih, hari pertama pindah dapet sambutan istimewa kayak di film komedi," mereka tertawa terbahak-bahak, merasa kejadian tadi sangat menghibur di tengah kebosanan hari pertama.
"Eh, Bos... lo diem-diem bae. Ngobrol ngapa, Bos," tegur salah satu teman Mahendra melihat pemimpin mereka hanya diam membisu seperti patung.
"Hm," jawab Mahendra singkat tanpa membuka mata.
"Percuma lo ngomong sama kulkas berjalan, nggak bakal ditanggepin, Bro," bisik temannya lirih.
"Entah siapa cewek yang kuat jadi bini ni bocah nantinya."
"Yang pastinya harus cewek yang tahan mental, Bro. Moga aja ada cewek di sekolah ini yang bisa buat si Bos tertarik, biar dia nggak kaku-kaku amat kayak kanebo kering."
Mahendra sebenarnya mendengar semua percakapan itu. Namun, pikirannya terfokus pada satu hal: suara teriakan melengking yang memicu kericuhan tadi. Ia ingat betul arah suara itu berasal dari barisan kelas XI. Di kepalanya terbayang kembali sosok gadis mungil dengan pipi mengembung yang berjalan menghentakkan kaki tadi pagi.
"Ziva..." Mahendra membatin nama itu lagi.
Meskipun ia terlihat dingin dan tidak peduli, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh. Baginya, sekolah ini mungkin tidak akan se-membosankan yang ia kira jika ada 'hantu ular' yang bisa membuat guru-guru lari terbirit-birit. Ia hanya perlu mencari tahu seberapa jauh gadis itu bisa berbuat onar sebelum akhirnya masuk ke dalam jangkauan radar-nya.
Upacara Senin yang terik kini berganti dengan misteri baru di mata Mahendra. Dan bagi Ziva, ia tidak pernah menyadari bahwa keisengannya hari ini telah menarik perhatian predator yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ular kobra imajiner. Mahendra bukan sekadar murid baru; dia adalah seseorang yang jika sudah menandai "miliknya", tidak akan membiarkan siapa pun mendekat.
Ziva yang sibuk dengan es doger-nya benar-benar harus waspada, karena cita-citanya menjadi "istri CEO" mungkin akan segera berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih intens dalam sosok Mahendra.