Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Waspada
Ddrrtt ddrrtt
Gilang merogoh saku blazer-nya saat terdengar alat komunikasinya itu berbunyi. Dia baru saja memasuki ruang kerjanya setelah selesai istirahat makan siang bersama Jimmy.
Matanya seketika memicing, membentuk lipatan di kening, saat membaca nama Pak Satria yang menghubunginya saat ini. Tak menunggu lama, Gilang pun mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Selamat siang, Pak Satria. Apa kabar?" tanya Gilang berbasa-basi sebelum menanyakan tujuan Pak Satria menghubunginya siang ini.
"Semestinya saya yang menanyakan pada Anda, bagaimana kondisi perusahaan Mahesa Persada saat ini?" Pak Satria membalikkan pertanyaan pada Gilang, diikuti tawa kecil.
Gilang melangkah ke arah meja kerja, lalu duduk di kursi kebesarannya seraya merapatkan punggung di sandaran kursi.
"Alhamdulillah, Pak. Pasar mulai bergairah kembali, permintaan konsumen pun mulai berdatangan, semua itu atas bantuannya Bapak," ucapnya tak menganggap remeh bantuan Pak Satria.
"Bantuan saya tidak ada artinya jika tim Anda tidak bisa bekerja dengan maksimal. Keberhasilan ini tentu saja berkat kerjasama tim Anda juga." Pak Satria tak ingin dianggap terlalu berjasa oleh Gilang. Dia menunjukkan sikapnya yang rendah hati, walau menyandang predikat pengusaha terkenal yang mempunyai reputasi baik.
"Pak Satria bisa saja." Gilang tersenyum menanggapi sikap bersahaja Pak Satria. "Oh ya, Bapak menghubungi saya, apa ada sesuatu yang bisa saya bantu, Pak?" Gilang mulai menanyakan maksud dan tujuan Pak Satria menghubunginya.
"Begini Nak Gilang, boleh saya memanggil seperti itu?" Menyebut dengan panggilan 'Pak' pada Gilang dianggap terdengar aneh mengingat Gilang adalah calon menantunya, sehingga Pak Satria memanggil seperti tadi.
"Oh, tidak masalah, Pak. Silakan saja." Gilang tak mempermasalahkan Pak Satria ingin memanggilnya seperti apa.
"Begini, Nak Gilang. Saya ingin minta bantuan Nak Gilang untuk mempekerjakan anak dari kenalan saya di perusahaan Nak Gilang. Mungkin Nak Gilang bisa mempekerjakan dia sebagai sekretaris di kantor Mahesa Persada. Dia masih muda dan cantik. Anaknya humble dan punya public speaking yang baik. Saya rasa dia cocok untuk jadi sekretaris di sana. " Satria mulai menyampaikan rencananya memasukkan Bella sebagai karyawan di kantor Mahesa Persada sesuai permintaan putrinya.
Kedua alis tebal Gilang terangkat mendengar permintaan Pak Satria. Tapi, mana mungkin ia menolak permintaan tersebut, terlebih Pak Satria sudah membantunya keluar dari kesulitan keuangan perusahaan Mahesa Persada.
"Apa Nak Gilang keberatan?" tanya Pak Satria ketika Gilang tak langsung merespon permintaannya tadi.
"Oh, tentu saja tidak, Pak. Silakan saja, Pak. Kantor saya terbuka untuk orang pilihan Bapak." Memang wajar sebagai penanam modal besar, Pak Satria menaruh orangnya di perusahaan Mahesa Persada. Namun, Pak Satria meminta dirinya memberi posisi sekretaris yang sudah terisi oleh Dita, yang sudah lebih dari lima tahun memegang posisi itu. Ini yang membuat Gilang agak bingung.
Lagi pula, bukankah Pak Satria sendiri mempunyai beberapa anak perusahaan, kenapa tidak di perusahaan Pak Satria saja anak dari kerabat Pak Satria bekerja? Itu masih membuat Gilang bertanya-tanya.
"Kapan dia bisa mulai bekerja di sini, Pak?" Gilang kemudian bertanya.
"Besok atau lusa, nanti saya suruh dia langsung ke kantor Mahesa Persada menemui Nak Gilang," jawab Satria memprediksi waktu Bella bisa mulai bekerja.
"Baiklah, Pak. Saya tunggu kedatangannya."
"Terima kasih untuk kesediaan Nak Gilang membantu. Saya rasa itu saja yang ingin saya sampaikan. Selamat siang, Nak. Gilang." Setelah permintaannya disetujui, Pak Satria berniat mengakhiri komunikasi dengan Gilang.
"Sama-sama, Pak. Senang bisa membantu Bapak. Selamat siang." Gilang membalas sebelum sambungan telepon mereka terputus.
Gilang menghela nafas panjang dan perlahan menghembuskannya kembali. Masih memikirkan tentang permintaan Pak Satria tadi.
Tangannya yang masih memegang ponsel kini membuka log panggilan keluar mencari nama Jimmy.
"Jim, kemarilah!" Setelah menemukan nama Jimmy, Gilang segera menghubungi Jimmy untuk menyuruh asistennya itu menghadap ke ruangannya.
Tidak sampai lima menit, Jimmy sudah muncul di ruangannya.
"Apa kau nggak bisa jauh-jauh dariku, Bos? Belum sepuluh menit berpisah udah kangen lagi aja." Dengan terkekeh Jimmy berjalan menghampiri Gilang. Menarik kursi di hadapan meja bosnya itu dan kemudian mendudukinya.
"Pak Satria baru saja menghubungiku, Jim," Gilang menjawab pertanyaan Jimmy yang meledeknya.
"Apa Pak Satria mau menanamkan modalnya lagi?" Jimmy menduga-duga.
"Beliau justru ingin aku menerima orangnya untuk bekerja di sini," sahut Gilang.
Kening Jimmy berkerut beberapa detik, setelahnya lipatan di keningnya pun memudar. "Mungkin supaya Pak Satria bisa memantau kondisi kantor Mahesa, Bos." Jimmy berpikiran sama dengan Gilang.
"Iya, aku juga soal itu. Sekarang ini beliau punya saham besar di sini. Hanya saja, yang bikin aku heran, justru orang yang dikirim Pak Satria itu seorang wanita dan beliau minta aku untuk menjadikan wanita itu sebagai sekretarisku, Jim." Gilang menjelaskan soal orang yang akan dikirim Pak Satria bekerja di perusahaannya.
Seketika Jimmy tertawa saat mengetahui orang yang dimaksud adalah seorang sekretaris, membuat Gilang meliriknya dengan tajam.
"Apa ada yang lucu?" tanyanya heran.
"Pak Satria ingin menempatkan mata-mata di kantor ini, ya? Kau harus hati-hati, Bos!" Jimmy memperingatkan Gilang agar waspada dengan rencana Pak Satria.
"Apa yang mesti aku takutkan? Aku nggak memanipulasi apapun," bantah Gilang, karena ia merasa tak melakukan kecurangan.
"Kalau Pak Satria mengutus wanita yang bekerja di sini, kemungkinannya kalau nggak memata-matai, ya ditugaskan itu menggoda kau, Bos." Jimmy meledek Gilang, "Kau 'kan calon menantunya, jadi Pak Satria mungkin ingin lihat sikapmu, tipe setia apa mudah goyah digoda cewek lain," sambungnya masih dibarengi tawa kecil meledek.
Gilang mengerutkan keningnya. Masuk akal apa yang dipikirkan Jimmy tadi. Tapi, untungnya dia bukan tipe pria yang senang menggoda dan tidak mudah tergoda wanita, sehingga ia merasa dirinya cukup aman seandainya apa yang diduga Jimmy memang benar adanya.
***
Gilang memperhatikan foto yang dikirimkan Pak Satria di ponselnya. Foto Pak Satria dengan seorang wanita paruh baya mengenakan hijab mengapit seorang wanita muda berambut agak pirang sebahu.
Pak Satria memperkenalkan foto itu adalah Kathy, anak Pak Satria yang ingin dijodohkan dengannya. Wajah wanita itu cantik, tapi, Gilang tak merasakan apa-apa saat melihat sosok wanita yang akan menjadi calon istrinya itu.
Gilang menaruh ponsel di tempat tidur lalu melipat tangan di bawah kepala. Tak menyangka garis hidupnya tentang asmara ditentukan dengan perjodohan dan terpaksa menikah dengan wanita yang tak ia cintai sebelumnya.
Sementara di kamar lain di rumah kediaman Pak Satria, Bella pun baru saja mendapatkan foto Gilang dari papanya.
"Hmmm, ganteng juga." Wajahnya seketika berbinar ketika mengetahui pria yang dipilih papanya seorang pria yang mempunyai wajah tampan.
"Pantas saja Papih ngebet mau jadiin menantu." Jemari rampingnya membelai wajah tampan Gilang di layar ponselnya itu.
"Kita lihat aja, kamu tipe pria seperti apa!? Karena penampilan fisik nggak menjamin bisa aku terima sebagai calon suamiku," gumamnya kemudian.
❤️❤️❤️
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
.