Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Pengepungan Halus dan Rasa Frustrasi
Langkah kaki Elleanor menghentak keras di atas lantai ubin koridor lantai satu. Napasnya memburu, bukan karena lelah berlari, melainkan karena amarah yang sudah membakar seluruh akal sehatnya. Dipegangnya ponsel putih di tangan kanan dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rooting sistem gila. Pembatasan administrator. Jayden benar-benar telah mengubah benda yang seharusnya menjadi alat komunikasinya dengan dunia luar menjadi sebuah alat pelacak sekaligus bel pemanggil pribadi.
"Sialan! Bajingan psikopat!" umpat Elle setengah berteriak saat ia sampai di area koridor belakang yang menuju ke arah gerbang belakang LHS—jalur penyelamatan darurat yang biasa ia gunakan untuk menghindari Pak Bambang.
Gerbang besi berkarat itu sudah terlihat di depan mata. Biasanya, jam-jam begini satpam magang sedang asyik menyeruput kopi di pos kecilnya. Elle mempercepat langkahnya, berniat memanjat gerbang itu jika memang dikunci. Ia harus keluar dari area LHS sekarang juga, pergi ke markas Wolfangs atau langsung pulang ke rumah untuk meminta Kenzie menghancurkan ponsel sialan ini.
Namun, begitu jaraknya tersisa sepuluh meter dari gerbang, langkah Elle mendadak melambat hingga akhirnya berhenti total.
Di depan gerbang besi itu, tidak ada satpam magang. Sebagai gantinya, lima orang anggota VULTURES bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam berlambang burung hering sedang berdiri berbaris. Salah satu dari mereka—seorang cowok kelas XII dengan bekas luka kecil di alisnya—sedang memutar-mutar kunci gerbang di jarinya sambil bersandar pada tiang beton.
Begitu melihat kehadiran Elle, kelima cowok itu serentak menegakkan tubuh. Tidak ada pandangan melecehkan atau bersiul genit. Mereka menatap Elle dengan ekspresi dingin dan patuh yang luar biasa, seolah sedang menyambut kedatangan seorang ratu.
"Maaf, Non Elle," ucap cowok yang memegang kunci gerbang, suaranya terdengar sopan namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Perintah langsung dari Bos Jayden. Mulai siang ini, Non Elle gak diizinkan keluar dari area sekolah lewat jalur mana pun sebelum jam pulang sekolah tiba."
Elle mengepalkan tangannya, melangkah maju dengan berani hingga jaraknya hanya tersisa satu meter dari cowok itu. "Minggir gak lo?! Gua mau keluar! Lo semua gak ada hak buat ngatur-ngatur gua!" semprot Elle barbar.
Cowok itu menunduk sedikit, tetap pada posisinya tanpa bergeser satu sentimeter pun. "Kalau kami lepasin Non Elle, taruhannya nyawa kami di tangan Bos Jayden. Tolong jangan bikin posisi kami susah, Non. Mending Non balik ke kelas sekarang sebelum Bos Jayden sendiri yang turun ke sini buat jemput Non."
Mendengar nama Jayden disebut dengan nada se-sakral itu oleh anak buahnya, Elle merasakan sebuah himpitan tak kasat mata di dadanya. Pengaruh Jayden di sekolah ini ternyata jauh lebih mengerikan dari apa yang ia bayangkan. Cowok bermuka tembok itu tidak perlu mengurungnya di dalam ruangan sempit; ia telah mengubah seluruh area Loren'z High School menjadi sangkar emas raksasa untuk Elle.
Dengan dengusan kasar yang dipenuhi rasa frustrasi, Elle berbalik arah. Ia menghentakkan kakinya dengan emosi meluap-luap, berjalan kembali menuju koridor utama. "Awas lo ya, Muka Tembok! Gua gak bakal nyerah segampang ini!" makinya dalam hati.
Sementara itu, di dalam kelas XI-IPA 3, suasana tampak lengang karena sebagian besar murid berada di kantin. Jayden duduk di kursinya, memutar-mutar sebuah pulpen perak dengan jemari panjangnya yang lentik. Matanya menatap lurus ke arah pintu kelas yang terbuka, menunggu sebuah kepulangan yang sudah ia prediksi dengan matang.
Shaka yang duduk di sebelahnya melirik sekilas dari balik buku catatannya. "Lo gak keterlaluan, Jay? Membatasi ponselnya dan menutup semua gerbang... Elle itu tipe cewek liar yang hobi berontak. Makin lo kekang, perlawanannya bakal makin brutal."
Gerakan pulpen di tangan Jayden berhenti. Cowok itu menatap Shaka dengan sepasang netra hitam yang begitu pekat, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
"Gua tahu dia bakal berontak, Shaka," ucap Jayden, suaranya mengalun sangat rendah, dingin, namun sarat akan kepuasan yang aneh. "Justru itu yang bikin gua gak bisa lepasin pandangan gua dari dia. Sifat liarnya itu yang bikin gua penasaran. Dan gua punya seluruh waktu di dunia ini buat mastiin kalau semua perlawanan dia... bakal berakhir di pelukan gua."
Shaka menghela napas pendek, menggelengkan kepalanya pelan. Sisi obsesif Jayden sudah berada di tahap yang sangat berbahaya. Ini bukan lagi sekadar cinta monyet anak SMA, melainkan sebuah insting kepemilikan yang mutlak dari seorang predator jalanan.
Brak!
Pintu kelas yang tadinya terbuka lebar dilewati oleh Elle yang masuk dengan napas memburu. Wajah cantiknya memerah padam karena amarah yang tertahan. Tanpa memandang ke arah mana pun, Elle langsung berjalan menuju barisan paling depan, berniat menduduki kursi dekat meja guru yang ia pilih tadi pagi.
Namun, pemandangan di depan matanya membuat Elle melotot sempurna. Meja dan kursi yang tadi ia duduki sudah raib dari tempatnya. Bahkan seluruh barisan meja depan kini telah digeser sedemikian rupa, menyisakan hanya satu-satunya meja kosong dengan dua kursi yang terletak tepat di barisan belakang dekat jendela.
Meja nomor tiga. Tepat di sebelah kursi milik Jayden Xeno Frederick.
"JAYDEN!!!" Teriak Elleanor frustrasi, suaranya menggema memenuhi ruang kelas. Ia berbalik, menatap Jayden yang kini sedang menatapnya balik dengan seringai tipis yang begitu tampan namun menyebalkan.
Jayden berdiri dari duduknya, melangkah perlahan mendekati Elle yang berdiri di tengah kelas. Ia berhenti tepat di depan gadis itu, mengikis jarak hingga Elle kembali terperangkap dalam kuasanya.
"Gua udah bilang tadi pagi, Elleanor," bisik Jayden rendah, tangannya terangkat untuk merapikan kerah seragam Elle yang sedikit berantakan karena emosi. Sentuhan dingin jemarinya membuat Elle membeku sesaat. "Ke mana pun lo pergi siang ini, lo bakal tetep balik ke sini. Di samping gua. Duduk."
Elle menatap meja kosong di sebelah Jayden, lalu menatap kilat mata cowok itu yang begitu posesif menguncinya. Rasa kesal, lelah, dan frustrasi karena terus-menerus dikepung secara halus membuat Elle akhirnya menghentakkan kakinya kasar.
Sambil merutuk dengan segala makian kasar yang ia tahu dalam bahasa Inggris dan Indonesia, Elle berjalan mendekati meja nomor tiga itu, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kursi di sebelah Jayden dengan kasar, membanting tas ranselnya ke atas meja sebagai tanda protes.
Jayden tersenyum puas, sebuah senyuman langka yang sangat jarang diperlihatkan kepada orang lain. Ia kembali duduk di kursinya, menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah meja Elle, menikmati aroma wangi stroberi yang menguar dari rambut gadis barbar yang kini telah resmi duduk di dalam area kekuasaannya.