Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Perhatiannya
Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela besar kamar rawat inap, memantul lembut di lantai putih yang bersih. Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma khas rumah sakit, obat-obatan dan antiseptik.
Di luar kamar, suara langkah perawat terdengar samar. Sementara di dalam, Keheningan memenuhi ruangan.
Aurel tertidur di sofa kecil dekat jendela. Posisi tidurnya tidak nyaman. Kepalanya bersandar miring dengan selimut tipis yang hampir jatuh ke lantai.
Semalam Aurel tidur sangat larut. Setelah memastikan Arvano minum obat, mengganti air minum, dan membereskan meja kecil di samping ranjang. Tubuhnya lelah, tapi entah kenapa Aurel tetap tidak bisa tidur nyenyak.
Di sisi lain ruangan, Arvano perlahan membuka mata. Pandangan pertamanya langsung jatuh pada sofa itu. Pada seseorang yang tertidur di sana, yaitu Aurel.
Beberapa detik, Arvano hanya diam. Tatapannya masih kosong karena baru bangun. Namun perlahan, Keningnya sedikit berkerut. Kenapa gadis itu tidur dengan posisi seperti itu? Dan sejak kapan dia tertidur di sana?
Arvano mengalihkan pandangan pelan. Namun, Tatapannya kembali lagi. Entah kenapa.
Aurel bergerak kecil. Matanya berkedip pelan.
Setelah itu langsung duduk tegak saat sadar Arvano sudah bangun. “Mas, sudah bangun?” Suaranya sedikit serak karena baru tidur.
Arvano hanya mengangguk pelan.
Aurel buru-buru berdiri. “Sebentar ya, saya panggil perawat.”
“Enggak usah.”
Aurel berhenti. “Hah?”
“Cuma bangun tidur.” Nada suaranya masih datar.
Namun kali ini terdengar lebih lemah dibanding biasanya.
Aurel mendekat ke meja kecil. Matanya langsung melihat kotak obat dan perban. “Oh iyaa, lukanya harus dibersihin.”
Arvano langsung mengernyit. “Nanti saja.”
“Enggak bisa nanti.” Aurel sudah mengambil cairan antiseptik. “Dokter bilang harus rutin dibersihin.”
“Gue, bisa sendiri.”
Aurel menatapnya ragu. Tatapannya turun ke lengan Arvano yang masih diperban. “Mas yakin?”
“Iya.”
Namun saat Arvano mencoba duduk lebih tegak, Wajahnya langsung berubah sedikit menahan sakit.
Aurel spontan mendekat. “Nah kan!”
“Gue, enggak apa-apa.”
“Mas keras kepala banget sih.” Ucapan itu keluar begitu saja dan begitu sadar apa yang ia katakan, Aurel langsung membeku. Matanya membesar.
“Eeh—maaf, saya nggak sengaja.”
Arvano justru diam. Entah kenapa, sudut bibirnya bergerak sedikit. Sangat sedikit. Hampir tidak terlihat. “Cepat bersihin lukanya.”
Aurel langsung bengong sesaat. Barusan, Apakah Arvano hampir tersenyum? Tidak mungkin. Mungkin matanya masih ngantuk.
Aurel cepat-cepat duduk di samping ranjang. Tangannya mulai membuka perban perlahan. Gerakannya hati-hati sekali.
“Kalau sakit bilang ya.”
“Hmm.”
Begitu luka itu terlihat, Aurel sedikit meringis. “Mas ini, masih merah.”
“Biasa.” Ucap Arvano yang singkat.
“Biasa dari mana.” Aurel mengomel kecil sambil mengoleskan obat.
Arvano diam saja.
Namun sesekali tatapannya jatuh pada wajah Aurel yang terlihat sangat serius membersihkan lukanya. Kening gadis itu sedikit berkerut. Bibirnya manyun kecil saat fokus. Dan entah kenapa, suasana pagi itu terasa lebih tenang dari biasanya.
Setelah selesai membersihkan luka, Aurel berdiri lagi. “Saya ambil bubur dulu.”
“Aku belum lapar.” Sahut Arvano dengan cepat.
“Harus makan.”
“Gak.” Sahut Arvano yang tegas.
“Harus.” Sahutan yang cepat itu membuat Arvano terdiam.
Aurel mengambil bubur hangat yang tadi pagi dibeli perawat rumah sakit. Kemudian duduk lagi di samping ranjang. “Sedikit aja.”
Arvano menghela napas kecil. “Lo, cerewet.”
Aurel langsung menjawab polos, “Kalau nggak cerewet, Mas nggak mau nurut.”
Arvano akhirnya membuka mulut menerima suapan bubur itu dengan Pelan. Sedikit demi sedikit. Dan anehnya, Arvano tidak protes lagi.
Setelah makan selesai, Aurel memberikan obat dan air minum. “Nih, obatnya.”
Arvano langsung meminumnya tanpa membantah kali ini.
Aurel diam-diam lega.
Tak lama kemudian, Arvano mencoba turun dari ranjang.
Aurel langsung panik. “Mas mau apa?”
“Kamar mandi.”
“Tunggu, saya bantu.”
“Gak, usah.”
“Tapi kaki Mas masih sakit.”
“Gue, bisa sendiri.”
Aurel berdiri di depannya. Tetap keras kepala. “Kalau jatuh gimana?”
“Gue, gak selemah itu.”
Aurel menghela napas panjang. Namun tetap berjalan di sampingnya. “Yaudah, minimal saya jagain.”
Arvano melirik sekilas. “Terserah.”
Langkahnya memang masih sedikit goyah. Dan itu membuat Aurel makin khawatir. Namun Arvano tetap memaksa masuk kamar mandi sendiri.
Pintunya ditutup.
Aurel berdiri di luar sambil menggigit bibir. “Kalau jatuh gimana…” Beberapa menit terasa lama. Sangat lama. Sampai akhirnya pintu terbuka lagi.
Arvano keluar dengan wajah sedikit pucat. Aurel buru-buru memegang lengannya. “Nah kan… masih lemes.”
“Gue, cuma pusing.”
“Iya, iya.” Aurel membantu Arvano kembali ke ranjang. Lalu menarik selimut sampai menutupi tubuh pria itu.
“Tidur lagi.” Ucap Aurel.
“Gue, bukan anak kecil.” Sahut Arvano yang gensian.
“Tapi lagi sakit.” Sahutan itu membuat Arvano diam. Akhirnya Arvano memejamkan matanya lagi.
Aurel kembali duduk di sofa. Matanya memperhatikan Arvano yang mulai tertidur lagi. Dan tanpa sadar, perasaannya mulai berubah sedikit demi sedikit.
Awalnya Aurel hanya takut pada Arvano. Karena Pria dingin, Sulit ditebak, tatapannya tajam. Tapi sekarang, Aurel mulai melihat sisi lain dari pria itu.
Sisi lelahnya, sisi diamnya, dan sisi yang sebenarnya tidak sekuat yang selalu ditunjukkan.
Sementara bagi Arvano, entah sejak kapan, keberadaan Aurel di ruangan itu mulai terasa menenangkan. Tidak berisik, tidak memaksa terlalu jauh, tapi selalu ada.
Malam datang perlahan. Lampu kota mulai terlihat dari balik jendela. Dan tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Indah dan Bagaskara datang. Mereka terlihat baru pulang kerja.
Indah langsung menghampiri ranjang. “Bagaimana badan kamu?”
“Baik.” Jawaban khas Arvano yang singkat.
Bagaskara berdiri di dekat pintu. “Besok jangan pikirkan kantor dulu.”
Arvano tidak menjawab.
Indah lalu menoleh ke Aurel. “Kamu jagain dari tadi?”
Aurel mengangguk. “Iya, Bu.”
“Arvano, sudah makan?”
“Sudah.”
“Obat?”
“Sudah juga.”
Indah tersenyum kecil. “Terima kasih ya.”
Aurel buru-buru menggeleng. “Enggak apa-apa, Bu.” Mereka berbincang sebentar.
karena sudah malam, Indah dan Bagaskara akhirnya pulang. “Kami balik dulu.”
“Hm.” Sahut Arvano yang singkat. Sedangkan Aurel mengangguk dengan cepat kemudian tersenyum lebar.
Pintu kembali tertutup. Ruangan menjadi sunyi lagi.
Malam semakin larut. Lampu kamar diredupkan.
Aurel yang sejak tadi menahan ngantuk akhirnya tertidur di sofa. Tangannya masih memegang ujung selimut tipis. Posisinya tidak nyaman.
Dan kali ini, Arvano belum tidur. Matanya terbuka pelan. Tatapannya mengarah ke sofa, Ke arah Aurel.
Arvano hanya diam. Kemudian perlahan duduk.
Menahan sedikit sakit di tubuhnya. Arvano turun dari ranjang pelan. Langkahnya lambat. Mengambil selimut yang terlipat di kursi. Kemudian berjalan mendekat ke sofa. Tatapannya turun ke wajah Aurel yang tertidur lelap, tenang dan polos.
Sangat berbeda dari orang-orang yang biasa ada di sekelilingnya. Tanpa berkata apa-apa, Arvano menyelimuti tubuh Aurel pelan. Dengan Gerakannya hati-hati. Seolah takut membangunkannya.
Begitu selesai, Arvano terdiam sebentar. Tatapannya masih belum berpindah. Akhirnya kembali ke ranjang, langsung berbaring.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arvano tidur dengan perasaan sedikit lebih tenang.
Namun, tidak ada yang tahu. Di luar kamar itu, seseorang baru saja melihat semuanya.
Dan wajah orang itu, langsung berubah gelap. Yaitu Erika. Tangannya mengepal kuat. Matanya dipenuhi rasa marah yang mulai sulit disembunyikan. Karena sekarang, Erika mulai sadar. Aurel bukan lagi sekadar pembantu biasa.