( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasava's Land
Jahat
Jahat dan kejam adalah kalimat yang sangat cocok untuk menggambarkan Count Morian Rasava.
Ia memanfaatkan tenaga dan kemiskinan para petani yang ia perbudak dengan dalih “pekerjaan”.
Namun, para atasan dan bangsawan lain tidak pernah mengetahui kebusukan di Tanah Rasava, karena dari luar wilayah itu terlihat subur dan ekonominya sangat stabil.
Setelah kejadian Tano dan Baron Rotosa beberapa tahun lalu, keadaan itu membuat Rotosa semakin tertekan.
Ia berusaha mati-matian selama lebih dari 7 tahun untuk menaikkan pangkatnya menjadi Viscount di Tanah Rasava.
Namun semua itu terjadi sebelum insiden retakan langit dan kemunculan makhluk asing yang menyerang dunia.
Kini, Tanah Rasava berada dalam kondisi yang sangat buruk.
Para petani banyak yang mati, desa-desa kacau, dan para bangsawan yang berlindung di benteng, benar, hanya mereka yang selamat.
Anak-anak pun hanya bisa ketakutan tanpa tahu harus berbuat apa.
Siang hari setelah pertempuran di istana utama, Count Morian datang ke Tanah Rasava bersama beberapa pasukan yang ia bawa.
Saat tiba, pemandangan di sana benar-benar kacau balau.
Mayat dan darah memenuhi lahan pertanian yang dulu sangat subur, kini berubah menjadi tempat kematian.
Di gerbang Desa Anagi, banyak mayat warga berserakan.
Seolah mereka mencoba masuk ke benteng penjagaan untuk berlindung, namun pintu tetap tertutup rapat.
Benteng yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru terlihat seperti tempat yang kehilangan fungsinya.
Count Morian langsung memerintahkan pasukan untuk menyingkirkan mayat-mayat tersebut.
Setelah itu, mereka mendobrak pintu gerbang benteng.
Begitu pintu terbuka, di dalamnya sangat sepi.
Tidak ada petani, tidak ada warga, bahkan tidak terlihat penjaga di dalam ruang utama.
Count Morian lalu memerintahkan pasukan untuk menyisir seluruh bangunan, termasuk ruang bawah tanah.
Di sana, mereka menemukan para bangsawan yang tertidur pulas.
Ada yang masih memegang gelas wine, ada yang tidur dengan kaki di atas meja, bahkan ada yang menutupi makanan mewah dengan sepatu mahalnya saat tertidur.
Dan di dekat pintu, Baron Rotosa terlihat duduk tertidur sambil memegang erat tombaknya.
Count Morian membangunkannya dan langsung meminta penjelasan mengenai kejadian sebelumnya.
Rotosa langsung memberi hormat dan mulai menjelaskan kondisi saat insiden terjadi.
Rotosa menjelaskan bahwa ia sedang mengurus dokumen di ruang kerjanya ketika mendengar teriakan seorang petani dari luar.
Saat ia keluar, ia melihat para penjaga dan petani dalam keadaan panik menatap langit.
Ketika ia ikut melihat ke atas, ia juga merasakan hal yang sama—ketakutan.
Siapa yang tidak akan takut melihat langit yang retak?
Saat itu, ia langsung mengambil keputusan untuk menyuruh para petani berhenti bekerja dan kembali ke rumah masing-masing.
Namun ketika ia kembali menatap langit, retakan itu semakin membesar, hingga akhirnya pecah.
Rotosa langsung masuk ke benteng karena yakin ini bukan bencana biasa, bahkan mungkin tanda akhir dunia.
Ia segera menulis surat darurat dan menyiapkan merpati untuk dikirim ke istana utama.
Namun saat ia mengirim merpati tersebut, terdengar keributan besar di luar.
Saat ia menoleh, merpati yang ia kirim sudah jatuh, disambar oleh sesuatu.
Makhluk itu berukuran seperti manusia, bentuknya aneh, dan tidak bisa dikenali dengan jelas.
Apakah itu elang? Tidak mungkin. Bahkan Rotosa sendiri tidak yakin apa itu.
Rotosa segera menutup jendela dan menuju pintu benteng.
Di sana, ia melihat para penjaga mati-matian menahan pintu agar tidak ada yang masuk.
Sementara di luar, banyak orang memohon untuk masuk dan berlindung.
Rotosa marah dan bertanya kenapa mereka tidak diizinkan masuk.
Namun salah satu penjaga menjawab bahwa mereka diperintah oleh para bangsawan yang datang bersama Count Morian.
Jawaban itu membuat Rotosa bingung.
Karena secara posisi, dialah Baron Anagi, tetapi perintah justru datang dari pihak lain.
Ketika ia bertanya lebih jauh, penjaga itu menjawab bahwa yang memberi perintah adalah para bangsawan teman Count Morian.
Rotosa mengepalkan tangannya, mengingat anak dan istrinya yang ditahan oleh Count Morian.
Kemudian Rotosa bertanya lagi kenapa warga berbondong-bondong ingin masuk.
Salah satu penjaga menyuruhnya melihat ke atas benteng.
Saat ia melihat ke atas, ia terkejut.
Banyak makhluk asing beterbangan di langit, seukuran manusia dewasa, dengan bentuk yang menakutkan.
Mereka menyerang siapa pun yang terlihat tanpa alasan.
Kini jelas kenapa warga berusaha masuk ke benteng.
Di saat yang sama, seorang bangsawan di dalam benteng memerintahkan Rotosa untuk menyediakan wine dan makanan.
Bahkan di tengah kekacauan, mereka tetap meminta pelayanan seperti biasa.
Rotosa tidak bisa menolak, karena jika ia menentang, konsekuensinya akan lebih buruk bagi dirinya sendiri.
Dengan terpaksa ia melayani mereka sambil menyaksikan para bangsawan berpesta.
Sementara di luar, seorang anak menangis melihat ayahnya dimakan makhluk asing.
Tidak lama kemudian, anak itu juga mati dengan cara yang sama.
Dan para bangsawan hanya tertawa.
“Aduh, teriakannya berisik sekali… HAHAHAHA.”
Rotosa hanya berdiri diam, menahan amarah dan kesedihan yang tidak bisa ia keluarkan.
Akhirnya Rotosa meminta salah satu penjaga untuk menggantikannya menjaga pintu.
Ia sudah tidak sanggup lagi berada di ruangan itu.
Ia naik ke kamar mandi benteng dan muntah sambil menangis sendirian.
Ia mengingat masa kecilnya, impiannya untuk menjadi pemimpin, dan ucapan ayahnya yang percaya padanya.
Rotosa terseret kembali ke masa kecil yang tak pernah benar-benar ia lepaskan. Suara ayahnya kembali terngiang, pelan namun penuh harap, mengatakan bahwa suatu hari Rotosa akan menjadi pemimpin yang adil, seseorang yang melindungi orang lain dari ketidakadilan dunia.
Namun harapan itu runtuh bersamaan dengan ingatan tentang tubuh ayahnya yang terbujur tanpa nyawa, dan Rotosa kecil yang hanya bisa berdiri diam, terlalu lemah untuk menyelamatkan apa pun—bahkan janji yang pernah ia percaya.
sekarang semuanya terasa jauh.
Di luar kamar mandi, seorang penjaga bernama Alian Lanaste mendengar tangisan itu.
ia tidak masuk, karena ia sudah tahu siapa Rotosa sebenarnya.
Ia bahkan tahu rahasia Rotosa sejak lama, saat ia mendengar Rotosa mabuk dan mengungkapkan beban tentang anak dan istrinya yang ditahan oleh Count Morian.
Alian hanya diam, membiarkan Rotosa menangis sendirian.
Di tengah tangisannya, Rotosa mendengar teriakan dari luar.
Ia mengintip melalui ventilasi kamar mandi.
Dan ia melihat seseorang yang sangat ia kenal.
Taro Kusian.
Anak dari Tano Kusian.
Anak dari orang yang dulu ia bunuh secara terpaksa 7 tahun lalu.
Mata mereka sempat bertemu.
Namun hanya sesaat.
Karena beberapa detik kemudian, Taro Kusian mati dimakan oleh makhluk asing tepat di hadapan Rotosa.
Rotosa berteriak keras dari kamar mandi.
Bukan hanya karena kejadian itu, tetapi karena semua penyesalan yang selama ini ia tahan akhirnya pecah sekaligus.
Dan di tengah retakan langit serta dunia yang runtuh, Baron Rotosa hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apa pun.
Hanya bisa menangis, terdiam sambil terus melihat mayat Taro Kusian yang digerogoti oleh monster monster asing dari balik langit itu.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.