Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PETA KEMATIAN
07:04:00
Vero melangkah melintasi lorong yang bergoyang. Kakinya kini berpijak mantap, tidak ada lagi keraguan atau kepanikan seperti orang gila di dua loop sebelumnya. Dia memiliki misi.
Dia berhenti tepat di depan wanita berkemeja flanel itu. Kursi di sebelahnya kosong—penumpang sebelumnya baru saja turun di stasiun transit, dan penumpang baru belum sempat mendudukinya. Vero langsung menghempaskan diri duduk di sana.
Wanita itu—Sarah, jika Vero menebak dari nama di kartu pers yang terbalik—bahkan tidak menoleh. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard laptop, mengetik naskah berita dengan kecepatan tinggi. Di layar laptopnya terpampang judul artikel setengah jadi: "Skandal Korupsi Dana Bansos: Siapa Bermain?"
"Jangan tulis paragraf itu," kata Vero datar.
Jari Sarah berhenti. Dia menoleh perlahan, menatap Vero dengan alis terangkat satu. Tatapan mata jurnalis yang khas: tajam, skeptis, dan sedikit terganggu.
"Maaf?" suaranya dingin.
"Paragraf ketiga. Tentang keterlibatan Menteri Sosial," lanjut Vero, matanya lurus menatap layar laptop Sarah. "Sumbermu akan membantahnya besok pagi. Kau akan membuang waktu 500 kata percuma."
Sarah menutup laptopnya sedikit, sikap defensif muncul. "Siapa kau? Kau mengintip layarku dari tadi?"
"Bukan mengintip. Aku sudah membacanya. Berkali-kali," bohong Vero. Dia belum pernah membacanya, tapi dia butuh hook yang kuat. "Namaku Vero. Dan aku butuh kau mendengarkan aku selama 60 detik tanpa memotong."
Sarah mendengus, hendak berdiri. "Dengar, Mas. Aku sedang deadline. Cari orang lain buat diganggu."
"Tunggu," tahan Vero, suaranya rendah tapi penuh otoritas. Dia melirik jam tangannya. 07:05:15. "Dalam sepuluh detik, anak SMA yang berdiri di sana itu akan menjatuhkan botol minumnya. Botol tumbler besi. Suaranya bakal nyaring."
Sarah mengerutkan kening, menatap anak SMA yang ditunjuk Vero. Anak itu tampak memegang tasnya erat-erat, botol minum terselip aman di saku samping.
"Kau mabuk?" tanya Sarah sinis.
"Lima detik," hitung Vero. "Empat. Tiga. Dua."
Kereta sedikit berguncang saat melewati wesel rel. Siku seorang bapak-bapak menyenggol tas anak SMA itu tanpa sengaja.
KLONTANG!
Botol tumbler besi itu terlepas, jatuh menghantam lantai gerbong, lalu menggelinding tepat ke arah kaki Sarah.
Mata Sarah membelalak. Dia menatap botol itu, lalu menatap Vero. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.
Vero tidak memberi jeda. "Tepat pukul 07:06, pengumuman stasiun akan berbunyi. Tapi suaranya akan glitch dan terputus di kata 'periksa'. Setelah itu, seorang pengamen di gerbong sebelah akan mulai menyanyikan lagu 'Bento' dengan gitar sumbang."
Sarah menatap jam di laptopnya. Detik berganti.
07:06:00.
"Stasiun berikutnya Cikini. Mohon perik—ssshhh—bip."
Suara speaker mati mendadak.
Dan sedetik kemudian, dari balik pintu penyambung gerbong yang sedikit terbuka, terdengar genjrengan gitar fals. "Namaku Bento... rumah real estate..."
Wajah Sarah memucat. Dia menatap Vero seolah-olah Vero adalah hantu atau pesulap hitam.
"Bagaimana..." bisik Sarah. "Itu... itu kebetulan yang sangat spesifik."
"Satu lagi," kata Vero. Dia mencondongkan tubuh mendekat, merendahkan suaranya. "Di saku kanan kemejamu, ponselmu akan bergetar. Telepon dari kontak bernama 'Bos Redaksi'. Dia akan marah-marah soal naskah yang belum masuk."
Belum sempat Sarah menjawab, saku kemejanya bergetar panjang.
Sarah mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar.
Di layar, terpampang nama: BOS REDAKSI.
Dia tidak mengangkatnya. Dia mematikan panggilan itu, lalu menatap Vero dengan sorot mata yang berubah total. Ketakutan telah berganti menjadi rasa ingin tahu yang membara.
"Siapa kau sebenarnya?" tuntut Sarah. "Peramal? Atau kau yang mengatur ini semua?"
"Aku bukan peramal. Dan aku bukan yang mengatur ini," jawab Vero cepat. "Aku terjebak. Aku sudah menjalani pagi ini tiga kali. Dan setiap kali berakhir sama: jam 8 pagi, kita semua mati."
"Mati?"
"Ada bom di gerbong 4. Pria jaket hitam, tas ransel hijau," jelas Vero dengan efisiensi militer. "Bom C4, pemicu manual. Dia akan meledakkannya tepat pukul 08:00 saat kita sampai di Stasiun Pusat. Aku sudah mencoba menghentikannya, aku sudah mencoba melapor, aku sudah mencoba menarik rem darurat. Semuanya gagal. Dan setiap kali aku gagal, aku bangun lagi di sini, tapi waktuku berkurang satu menit."
Vero menunjukkan jam tangannya.
07:08.
"Aku butuh otakmu, Sarah. Aku butuh seseorang yang bisa berpikir logis, yang bisa mengumpulkan fakta, dan yang tidak akan menganggapku gila. Kau wartawan investigasi. Kau tahu cara menghubungkan titik-titik."
Sarah terdiam lama. Dia menatap botol minum di kakinya, lalu menatap Vero. Otaknya jelas sedang berputar keras, mencoba mencari celah logis dalam cerita gila ini. Tapi bukti-bukti tadi terlalu presisi untuk diabaikan.
"Oke," kata Sarah akhirnya, menghela napas panjang. Dia membuka kembali laptopnya, tapi kali ini dia membuka halaman kosong baru. "Anggaplah aku percaya—untuk saat ini. Karena alternatifnya adalah kau penguntit psikopat jenius yang meretas ponselku."
"Terima kasih," Vero menghembuskan napas lega.
"Kau bilang bom di Gerbong 4. Kita di Gerbong 2," kata Sarah, naluri jurnalisnya mengambil alih. "Kau bilang pemicu manual. Berarti kita tidak bisa menyerbunya begitu saja. Dia akan panik dan menekan tombol."
"Tepat," kata Vero. "Itu yang terjadi di loop terakhir. Aku menghentikan kereta, dia panik, kita meledak di tengah jalan."
Sarah mengetik cepat poin-poin itu.
Subjek: Pria Jaket Hitam.
Senjata: Bom C4 (Tas Hijau), Pemicu Manual.
Ancaman: Meledak jika diprovokasi atau pukul 08:00.
"Jadi," Sarah menatap Vero. "Kita tidak bisa menyentuhnya. Kita tidak bisa menghentikan kereta. Satu-satunya cara adalah menjinakkan bom itu tanpa sepengetahuannya, atau melumpuhkannya sebelum dia sadar dia diserang."
"Menjinakkan bom butuh waktu dan keahlian. Aku akuntan, bukan tim gegana," kata Vero pahit. "Dan melumpuhkannya... dia selalu waspada. Tangannya selalu di saku, memegang pemicu."
"Kalau begitu kita butuh informasi lebih," gumam Sarah. "Siapa dia? Kenapa dia melakukan ini? Setiap teroris punya motif atau pola. Kalau kita tahu siapa dia, mungkin kita bisa tahu kelemahannya."
"Gimana caranya? Kita nggak bisa tanya KTP-nya."
Sarah tersenyum tipis. Senyum licik seorang pemburu berita. Dia mengangkat ponselnya.
"Kita tidak perlu tanya. Di era ini, wajah adalah identitas. Kalau kau bisa mendekat cukup dekat untuk memotret wajahnya—diam-diam—aku bisa menjalankan pencarian wajah lewat database kontributor kantorku. Atau setidaknya, media sosial."
Vero terdiam. Itu ide yang tidak terpikirkan olehnya.
"Tapi itu berisiko. Kalau dia lihat aku memotret..."
"Kau bilang kau sudah mati tiga kali, kan?" potong Sarah. "Apa ruginya mati keempat kali demi sebuah nama?"
Vero tertawa kecil. Tawa getir. Wanita ini sadis juga.
"Benar juga," kata Vero. Dia berdiri. "Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk melacak wajah?"
"Tergantung koneksi internet di terowongan sialan ini," jawab Sarah sambil mengecek sinyal. "Tapi kalau fotonya jelas, mungkin 10-15 menit."
Vero mengangguk. Dia melihat jam tangannya.
07:12.
"Oke. Aku akan ambil fotonya. Kau tunggu di sini. Kalau aku mati..."
"...aku tidak akan ingat percakapan ini, kan?" sambung Sarah.
"Ya. Aku harus meyakinkanmu lagi dari awal."
"Kalau begitu," Sarah menatapnya tajam, "pastikan pitching-mu sebagus tadi di loop berikutnya."
Vero berbalik, melangkah menuju gerbong 3, lalu gerbong 4. Jantungnya berdebar, bukan karena takut mati, tapi karena kali ini dia punya harapan. Dia punya rencana.
Kereta memasuki terowongan gelap menjelang Stasiun Cikini. Lampu gerbong berkedip-kedip.
Di ujung gerbong 4, Pria Jaket Hitam itu berdiri. Gelisah.
Vero mengeluarkan ponselnya, menyembunyikannya di balik telapak tangan seolah sedang mengetik pesan. Dia berpura-pura mencari sinyal, mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi.
Lensa kamera membidik.
Wajah pria itu masuk frame. Pucat, berkeringat, mata cekung.
Cekrek. (Suara shutter dimatikan, tapi getaran terasa di jari Vero).
Tepat saat itu, mata Pria Jaket Hitam itu melirik.
Tatapan mereka bertemu.
Pria itu tidak berteriak. Dia tersenyum. Senyum miring yang mengerikan.
Dia tahu dia difoto.
Tangan kanannya bergerak cepat di dalam saku jaket.
"Sial," umpat Vero.
Dia berbalik badan, mencoba melindungi ponselnya dengan tubuhnya. Dia harus mengirim foto ini ke Sarah sekarang, sebelum—
KLIK.
Kali ini tidak ada suara ledakan yang terdengar oleh Vero. Karena dia berada hanya tiga meter dari pusat ledakan. Tubuhnya terurai menjadi atom dalam sekejap mata.
Sentakan kasar.
Vero terbangun.
Langit-langit logam.
Suara penyiar cempreng.
Vero langsung melihat jam tangannya.
07:04:05
Dia mengumpat keras.
"BRENGSEK!"
Wanita tua di sebelahnya terlonjak kaget sampai menjatuhkan keranjang sayurnya. "Aduh, Mas! Kaget saya!"
Vero tidak peduli. Napasnya memburu. Dia baru saja mati lagi. Foto itu tidak terkirim. Dia gagal. Waktu berkurang lagi.
Tapi dia ingat wajah itu. Dia ingat senyum itu. Dan dia ingat reaksi pria itu. Pria itu sangat sensitif terhadap pengawasan.
Vero menoleh ke arah Sarah yang duduk dua baris di depan. Wanita itu sedang mengetik, sama seperti sebelumnya.
Vero harus mengulang semuanya. Menebak botol jatuh, menebak lagu Bento, menebak telepon bos.
Membosankan. Melelahkan.
Tapi kali ini, dia tahu dia tidak sendirian.
Vero bangkit berdiri, menyeka keringat di dahinya.
Ayo kita lakukan lagi, Sarah.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔