"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
Masih seperti hari-hari sebelumnya, Rea bertugas di lantai yang sama. Ia sengaja membersihkan kamar sang artis paling akhir. Ia dengar ini hari terakhirnya menginap di hotel ini, besok pagi pria itu sudah akan check out.
"Housekeeping."
"Masuk."
Rea pun membuka pintu. "Selamat pagi, boleh saya bersihkan kamarnya?"
"Hmmm."
"Mau saya ganti seprainya sekalian?"
"Ya." Dewa menjawab setiap pertanyaan Rea tanpa meninggalkan aktifitasnya yang tengah bersiap pergi.
Semua ucapan Rea adalah standar pekerjaan. Sebenarnya ia ingin membicarakan tawaran pria ini kemarin, tapi bingung harus mulai dari mana. Lagi pula, waktunya tidak pas. Ini masih jam kerja. Tidak etis membicarakan urusan pribadi.
"Sudah kamu pikirkan?"
"Ya?" Rea menoleh.
"Apa keputusan kamu?"
"Bisa kita bicara ini nanti, setelah saya selesai kerja."
"Di mana?"
"Terserah Bapak."
"Ok."
Usai memastikan semua siap, Dewa pergi begitu saja meninggalkan kamar, dan Rea melanjutkan pekerjaannya.
Di loby hotel, Luky sudah menunggu Dewa untuk pergi ke acara soft opening gerai skin care milik Galih di sebuah pusat perbelanjaan. Semua memang sudah diatur Galih untuk efisiensi waktu. Begitu kontrak deal, Galih sudah menyiapkan berbagai aktifitas untuk Dewa. Mulai dari syuting produk, diajak untuk live media sosial sekaligus promo tipis-tipis. Dan kini puncaknya sebelum sang artis balik ke Ibu Kota, Galih mengundang Dewa untuk jadi guest star di acara opening gerai skin care miliknya.
"Wa, kayaknya beritanya makin liar, deh. Lo liat nih!" Luky menyodorkan ponsel pintar miliknya. Yang menampilkan sebuah portal berita online, dengan narasi yang begitu meyakinkan. Judulnya; Hubungan terlarang antara Dewangga dan Sherly semakin mesra. Siap jadi pebinor.
Dewa hanya mengembuskan napas kasar. Terlihat masih santai saja. Ia mengulurkan kembali ponsel managernya itu.
"Wa, gue rasa lo harus kasih garis batas yang tegas buat Sherly agar beritanya nggak makin ngaco. Cewek itu cuma mau manfaatin popularitas lo doang buat ngedongkrak namanya. Gue nggak yakin dia beneran cinta sama lo."
Dewa masih terdiam. Ia belum bisa cerita karena belum tahu apa keputusan Rea pada tawarannya. Rencananya ia baru akan menceritakan tentang Rea setelah gadis itu setuju dengan tawarannya.
"By the way, semalem lo ke mana?"
"Jalan aja."
Luky menatap Dewa heran. "Wa, lo sadar nggak sih, di Surabaya ini lo beda banget. Lo sering pergi sendiri, banyak diem. Nggak kayak biasanya gitu."
"Gue lagi mikir gimana caranya meredam berita itu agar nggak naik. Gue juga nggak mau karir gue hancur. Gue juga mikirin nyokap gue."
Mendengar jawaban Dewa, Luky jadi ikut prihatin. Tapi semua juga karena salah Dewa sendiri, yang meladeni istri orang yang kegatelan. Niat mau main-main malah jadi boomerang.
"Kira-kira kita bakal ketemu cewek yang mau kerjasama sama kita di mana, ya, Wa. Kayaknya susah cari cewek begitu."
Sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan yang Luky bicarakan hanya soal penyelesaian masalah Dewa dengan skandal yang dibuat artis itu.
"Jam berapa acara di mall selesai?" Pertanyaan Dewa mendistrak cerita Luky soal masalah skandalnya.
"Jam makan siang udah selesai. Kita kembali ke hotel, dan makan malam nanti kita di undang ke rumah Pak Galih untuk makan malam terakhir kita sebelum balik ke Jakarta. Katanya putri tunggal Pak Galih akan hadir karena ngefans banget sama kamu. Kemarin-kemarin dia masih sibuk kuliah, baru malam ini bisa hadir."
Dewa menanggapinya hanya dengan anggukan kepala.
"Denger-denger putrinya Pak Galih cantik banget, Wa. Gue harap lo nggak langsung cinlok di sana nanti."
"Lo pikir gue apa?"
"Lah, lo kan buaya. Sama siapa aja tebar pesona."
"Bukan gue yang tebar pesona, tapi mereka aja yang terpesona."
Luky tertawa. "Bener juga, ya. Kira-kira ada nggak sih, Wa, yang nggak terpesona sana ketampanan lo?"
Ucapan random Luky justru membuat Dewa terdiam kembali. Yang terbersit di otaknya langsung pegawai hotel bernama Reana. Ya, gadis itu terlihat biasa saja saat menatapnya. Tidak ada raut tertarik apa lagi terpesona akan parasnya. Setidaknya begitu yang Dewa tangkap sejak ia pertama kali bertemu dengan Rea.
"Wa, turun." Luky sampai menepuk bahu Dewa untuk menyadarkan pria kalau mereka sudah sampai pada tujuan.
*
Di HK office, Rea lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya yang selalu ramah dengan sapaannya pada siapa pun juga.
"Kon ngopo je, meneng wae?" tanya Hana. (Kamu kenapa, kok diam saja?)
"Han, kalau aku keluar dari hotel ini kira-kira kita bakalan masih bisa sedeket ini nggak, ya?"
"Ngomong opo seh kon iki?" (Ngomong apa sih kamu, ini?)
"Lagian ono opo kon pengen metu kerjo, mengko nek kon gak kerjo, mbak ipar e kon iku sopo sek arep menehi duit. Opo ra malah soyo diuring-uring kon."
(Lagi pula ada apa kamu ingin keluar kerja, nanti kalau kamu nggak kerja, kakak iparmu itu siapa yang mau ngasih duit. Apa nggak malah tambah diomelin kamu nanti.)
"Aku bilang kan seandainya. Aku itu kepikiran terus sama Mas Rusli. Aku ingin bisa membantu dan merawat Mas Rusli sampai sembuh. Aku nggak tega melihat Mas Rusli dalam kondisi menyedihkan. Meski udah dirawat sama Mbak Tatik, tapi kok aku masih ragu gitu ."
"Wes, ra usah pikiran neko-neko. Golek duit wae sek akeh, ben isoh ngerawat masmu kanggo biaya berobat." ( Wes, nggak usah punya pikiran macam-macam. Cari duit saja yang banyak, biar bisa merawat kakakmu untuk biaya berobat.")
Mendengar jawaban Hana, Rea urung cerita yang sebenarnya.
*****
Seperti kemarin, Dewa sudah menunggu Rea di parkiran saat gadis itu selesai bekerja. Dewa segera menghampiri dengan mobil, dan Rea langsung naik saat tahu pria di dalam mobil itu adalah Dewa.
Kali ini Dewa langsung bicara begitu Rea masuk ke mobil. "Jadi, apa keputusan kamu?"
Rea ragu, tapi ia berusaha untuk menjawab. "Saya mau menerima tawaran Bapak."
Dewa menoleh sekilas. Terlihat senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.
"Tapi saya tidak mau nikah kontrak."
Ucapan Rea seketika membuat Dewa tersentak.