Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Menyesal
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel di atas nakas bergetar. Laki-laki yang masih duduk di ranjang dalam kondisi bertelanjang dada itu menoleh. Sebuah panggilan dari Talita, asistennya. Ini panggilan yang kesekian kalinya pagi ini. Wanita itu terus meneleponnya sejak tadi. Vincent tahu, Talita ingin mengingatkan kepadanya tentang meeting siang ini. Lantaran ini sudah jam sepuluh. Alih-alih berangkat ke kantor, pria itu justru belum keluar dari kamarnya sejak pagi.
"Batalkan meeting siang ini. Aku sedang tidak enak badan," tulis Vincent singkat. Ia lantas melempar ponsel itu ke atas ranjang tanpa memperdulikan lagi balasan dari Talita.
Vincent kembali mengarahkan fokus matanya ke arah layar laptop yang berada di pangkuannya. Menyaksikan rekaman CCTV yang menampilkan adegan brutal yang ia lakukan pada Alina semalam. Adegan dimana dengan lancang dan kasarnya ia menyentuh, hingga menyeret wanita itu dan memaksanya melayani naffsu birahi pria tampan dua puluh delapan tahun tersebut.
Vincent mengusap wajahnya kasar hingga ke kepala. "Anjeenk!" umpatnya. Laki-laki itu membuang nafas, lalu menoleh, menatap secarik kain robek yang masih tertinggal di atas ranjang putihnya. Ia merasa tak enak pada Alina. Dua kali gadis polos itu jadi korbannya. Ia takut terjadi hal-hal yang tak seharusnya pada gadis itu. Hamil misalnya. Ia tak mungkin menikahi Alina andai itu terjadi. Ia masih mengincar Alicia hingga saat ini. Ia masih bertekad untuk membawa Alicia pulang kembali ke rumahnya apapun yang terjadi. Ya, memang secinta itu Vincent pada mantan tunangannya tersebut.
Putra tunggal keluarga Oliver itu menutup laptopnya. Ia tak bisa begini terus. Laki-laki itu kemudian bangkit dan bergegas untuk membersihkan diri.
Selang beberapa menit berlalu. Vincent turun dari lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Ia berjalan menuju dapur. Ruangan itu nampak kosong. Sedangkan sarapan pagi sudah siap di atas meja makan.
Ini sudah terlalu siang. Ia sudah tak berselera untuk menyantapnya.
"Selamat pagi, Tuan!" Suara itu berhasil membuat Vincent menoleh. Dilihatnya di sana, Pak Supri nampak sudah berdiri di belakangnya. Vincent tak menjawab. Ia hanya mengangkat dagunya.
"Tuan mau sarapan? Biar saya panggilkan Alina," ucap Pak Supri.
Vincent menggelengkan kepalanya. "Tidak. Dimana dia?" tanya Vincent.
"Siapa, Tuan? Alina?" tanya Pak Supri. Vincent mengangguk sekali.
"Oh, ada di belakang, Tuan. Sedang membersihkan kolam renang," ucap Pak Supri. Vincent tak lagi menjawab. Laki-laki itu kemudian bergegas menuju kolam renang yang ada di bagian belakang rumah mewah itu. Laki-laki itu mengangkat dagunya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dilihatnya dari kejauhan Alina nampak membersihkan kolam renang tanpa semangat. Wajahnya nampak sedih. Tatapan matanya kosong menatap air kolam yang jernih. Rambut sebahunya terurai, menutupi bekas sesapan penuh gairah yang diberikan oleh Vincent semalam.
Vincent berjalan mendekati gadis yang semalaman ia peluk di bawah selimut tebalnya itu. Gadis yang saat ia terbangun masih sesenggukan dalam dekapan tubuhnya. Laki-laki kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku kolam renang di sana. Tak begitu jauh dari Alina yang belum menyadari kedatangannya.
"Aku sekali lagi minta maaf," ucap Vincent.
Alina terkejut. Ia reflek menunduk dan bergeser sedikit menjauh dari posisinya semula.
"Aku benar-benar khilaf," tambah Vincent. Alina tak menjawab.
"Jika kau tidak betah bekerja di sini, aku mengizinkanmu untuk pulang. Gajimu akan kubayar utuh dan masih akan ku tambahi. Anggap saja itu sebagai bentuk permintaan maafku," tambah Vincent pada wanita yang kontrak kerjanya masih tiga hari lagi itu.
"Aku tidak keberatan jika kau ingin pulang. Mungkin kau sudah tidak nyaman bekerja di sini." Laki laki itu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah cek, lalu meletakkannya di atas bangku kolam renang. Laki-laki itu kemudian bangkit.
"Pulanglah jika kau ingin pulang. Aku minta maaf, dan tolong, tetap rahasiakan tentang apa yang terjadi diantara kita!" Vincent kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Alina terdiam di tempatnya. Menatap lembaran kertas bertuliskan nominal yang belum ia baca itu.
Kok jadi begini? Kesannya Alina datang bukan lagi sebagai pembantu, melainkan seperti pelacur yang dipaksa melayani naffsu majikannya beberapa kali, lalu diminta pergi, dibayar, dan dibungkam setelah sang majikan merasa puas.
Ah...kok sakit rasanya?! Dada itu mendadak terasa sesak. Air mata itu jatuh. Berbagai pemikiran berkecamuk di benaknya. Niatnya datang mencari modal menikah justru berakhir dengan hilangnya kesucian yang ia jaga untuk sang calon suami.
Kini ia sudah tak suci lagi. Andai orang tuanya tahu, andai Adit tahu, andai orang tua Adit tahu, andai orang kampung tahu, andai suatu saat ternyata benih yang ditanam Vincent tumbuh di rahimnya, bagaimana???
Oh, tidak! Alina tak mampu membayangkannya. Itu sangat menakutkan! Tuhan...tolong lindungi gadis desa ini!!
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/