Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 8.
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar tamu. memaksa Kiara membuka matanya dengan berat. Dia meraba-raba nakas mencari ponselnya. begitu layar menyala, wajahnya berubah lesu.
"Ini kan hari minggu!" Kiara terduduk tegak, rambutnya berantakan.
"Aku benar-benar lupa. kenapa kemarin aku mau-mau saja disuruh lembur? harusnya aku protes dan hari ini aku menemani Ayah berjemur di rumah."
Kiara mendengus kesal. Dia beranjak menuju kamar mandi, namun baru sadar kalau dia tidak membawa baju ganti.
Semalam dia terlalu tergesa-gesa untuk memikirkan itu. dengan langkah jinjit Kiara keluar kamar menuju area jemuran tertutup di dekat laundry room. di sana ada beberapa kemeja putih milik Kenan yang sudah kering.
"Pak Kenan... pinjam satu," bisiknya sambil mengambil satu kemeja oversized Kenan dan dia bergegas mandi lalu memakainya.
Kemeja itu tenggelam di tubuh kecilnya, menutupi hingga tengah paha.
Di ruang makan, Kenan sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran digital.
Begitu mendengar langkah kaki, dia mendongak.
Uhukk!
Matanya membulat menatap Kiara yang berjalan santai dengan kemeja putih miliknya. yang hanya dikancingkan setengah dan rambut yang dicepol asal.
"Kiara! apa yang kamu pakai?" tanya Kenan, suaranya naik satu oktav.
"Kemeja pak kenan. baju saya bau keringat pak, sangat tidak nyaman." jawab Kiara tenang sambil menarik kursi di depan Kenan.
"Lagipula pak kenan jahat sekali. kenapa menyuruh saya lembur saat karyawan lain menikmati akhir pekan? saya kan mau di rumah menemani Ayah."
"Kau yang setuju," sahut Kenan singkat, mencoba mengalihkan pandangan dari paha jenjang Kiara yang terekspos.
"Ya saya yang salah?" Kiara merasa bodoh meladeni Kenan.
Ting tong! Ting tong!
Suara bel pintu yang ditekan bertubi-tubi memecah perdebatan mereka. Kiara mengerutkan kening.
"Pagi-pagi begini ada tamu? Bibi belum datang?"
"Bibi libur Minggu," jawab Kenan masih santai.
"Biar saya yang buka," Kiara berdiri sebelum Kenan sempat melarang.
Begitu pintu terbuka, seorang wanita cantik dengan pakaian bermerek dan riasan tebal berdiri di sana.
Wanita itu tampak siap menyemprotkan kemarahannya.namun terdiam saat melihat Kiara dengan kemeja pria yang jelas milik Kenan.
"Siapa kamu? di mana Kenan?" tanya wanita itu dengan nada tinggi.
Kiara menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat tangan di dada dengan penuh percaya diri. dia melihat ke dalam memastikan Kenan tidak ada disana.
"Oh halo. Kenannya sedang sarapan. ada keperluan apa ya sepagi ini?"
"Aku tunangannya! kamu pasti jalang yang dia sewa kan?"
Kiara tertawa kecil, suara tawa yang sangat nakal.
"Tunangan? Kenan tidak pernah cerita punya tunangan. kenalkan aku calon istri tercinta Kenan dan kalau kamu tanya kenapa aku pakai baju ini... karena semalam kami baru saja usai bercinta. capek sekali tahu." Kata Kiara.
Wanita itu pucat pasi. "Tidak mungkin! Kenan tidak pernah membiarkan wanita manapun menyentuhnya!"
"Untukmu memang tidak mungkin," balas Kiara tajam sambil tersenyum manis.
"Tapi untukku semuanya mungkin. sekarang silakan pergi. suamiku... maksudku calon suamiku benci suara bising."
Kiara menutup pintu dengan dentuman keras sebelum wanita itu sempat membalas. dia berbalik dan menemukan Kenan sudah berdiri di belakangnya dengan mata tajam.
"Dasar wanita tidak tahu malu," desis Kenan.
"Betul," sahut Kiara tanpa dosa. Ia melangkah melewati Kenan menuju meja makan.
"Daripada Pak kenan yang harus meladeni wanita itu kan mending saya yang beresin."
Kiara duduk kembali, mengambil selembar roti gandum.
"Ngomong-ngomong Pak. semalam juga ada yang ketuk-ketuk dan pencet bel apartemen
berkali-kali. saya sampai susah tidur."
Kenan kembali duduk, menghela napas panjang. "Oh... itu biasa."
Kiara berhenti mengunyah. "Maksudnya? biasa diteror? itu horor loh pak."
"Para wanita yang mengejarku sampai apartemen," jawab Kenan datar.
"Wah, keamanan apartemen Pak Kenan miris sekali ya kalau begitu... kenapa bisa jebol?"
"Seseorang membocorkan alamat apartemen ini secara sengaja," Kenan menatap kopinya
dengan tatapan kosong.
"Pak Kenan kan bisa pindah?" Kata Kiara penasaran.
"Aku tidak ingin pindah, apartemen ini penuh dengan kenangan." Balas Kenan.
Kiara terdiam sejenak, rasa ingin tahunya memuncak. "Kenangan apa Pak? dengan keluarga atau mantan?"
"Bukan urusanmu!" potong Kenan cepat.
Kiara mengerucutkan bibirnya.
"Ihhh pelit informasi." Kiara lalu memperhatikan wajah Kenan yang tampak segar.
"Berarti Pak kenan nyenyak tidurnya semalam? tidak terganggu suara bel?"
"Kamarku pakai alat pereda bising kualitas terbaik," jawab Kenan tenang.
"Jadi aku tidak mendengar apa-apa dari luar."
Kiara melongo lalu melempar remahan roti ke arah Kenan.
"Jadi Bapak enak-enakan tidur nyenyak di dalam sana sementara saya di kamar tamu ketakutan setengah mati karena ada yang gedor-gedor pintu? Pak Kenan agak sialan!"
Kenan menghindar dari remahan roti itu dengan tangkas. "Kamu!"
"Pokoknya hari ini Bapak harus antar saya pulang dan belikan Ayahku buah-buahan yang paling mahal sebagai permintaan maaf!"
Kenan menatap Kiara, dari rambutnya yang berantakan sampai kemejanya yang kebesaran.
Entah kenapa pemandangan Kiara yang marah-marah di meja makannya terasa jauh lebih tenang daripada kebanyakan wanita yang mendekatinya dengan cara yang sama.
"Hanya buah?" tanya Kenan pelan.
"Dan martabak manis nanti malam!" tambah Kiara semangat.
"Rakus!" Ejek Kenan dengan senyum smirknya sepersekian detik.
****
"Pak Kenan benar-benar mau menunggu martabaknya?" tanya Kiara saat mereka sudah kembali di dalam mobil beberapa jam kemudian.
Hari sudah mulai gelap dan mereka kini sedang mengantre di depan gerobak martabak manis paling legendaris yang ditunjuk Kiara.
"Iya." jawab Kenan. dia menurunkan kaca mobil sedikit dan menghirup aroma mentega dan adonan yang sedang dipanggang.
"Biar aku yang turun pesan. bapak di dalam saja.... nanti kalau bapak turun, tukang martabaknya bisa minder lihat ketampanan Pak Kenan," goda Kiara sambil membuka pintu mobil.
Sepuluh menit kemudian, Kiara kembali dengan sekotak martabak manis spesial yang masih panas. aroma cokelat dan kacangnya memenuhi kabin mobil.
"Nah, ini dia! ayoo Pak Kenan juga icip. kalau sudah dingin tidak enak," Kiara membuka kotak itu dan menyodorkan sepotong pada Kenan.
Kenan menatap martabak yang penuh dengan mentega itu dengan ragu. "Ini... kolesterol!"
"Aduh, Pak Kenan! sesekali tidak akan bikin Bapak langsung masuk rumah sakit. buka mulutnya!" Kiara hampir menyuapkan martabak itu ke mulut Kenan.
Kenan akhirnya menyerah dan menggigit martabak tersebut. matanya sedikit membelalak. "Manis sekali."
"Tapi Enak kan?"
"Lumayan," jawab Kenan singkat, padahal dalam hati dia mengakui ini adalah makanan terbaik yang pernah dia makan.
Di bawah lampu jalan yang temaram, di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, Kenan dan Kiara berbagi kotak martabak dalam suasana yang nyaman.
"Bagi ya... dengan Pak sopir." Kata Kiara tidak enakan.
"Aku masih mau!"
"Dasar pelit!"
"Pak.. terima kasih ya," bisik Kiara tiba-tiba.
"Tadi sudah mau mampir ke rumah, ajak saya jalan jalan. belikan buah untuk Ayah."
Kenan menoleh, menatap Kiara yang sudut bibirnya terkena sedikit cokelat. tanpa sadar, Kenan mengulurkan tangannya mengusap cokelat itu dengan jempolnya.
"Sama-sama," ucap Kenan pelan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.
Kiara terpaku... jantungnya berdegup tidak keruan.
'Sepertinya aku yang bakal jatuh cinta duluan.' Batin Kiara mengontrol dirinya.
"Pak..."
"Hm?"
"Bapak ada cokelat di bibir juga." Kiara tersenyum nakal, mencoba memecah ketegangan.
Kenan segera menarik tangannya kembali dan berdehem kaku.
"Aku bisa bersihkan sendiri." Kenan menepis tangan Kiara.
"Dih.. pelit banget! ya sudah bapak antar saya pulang. besok masih hari senin, harus kerja lagi!" Kata Kiara.
Bersambung....
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭