Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merintih Tanpa Ampun
“Pelan-pelan Christaly. Ya ampun. Kamu bernafsu sekali.”
“Emh! Aku bernafsu karena aku nggak tahu kapan lagi kita bisa bercinta seperti ini, Riko,” sahut Christaly sambil terus bergerak naik dan turun di atas tubuh pria tinggi besar itu. Dia tidak mengatakan kalau sebenarnya dia menjadi begitu bernafsu terhadap Riko karena terangsang setelah melihat Sean dan Vera bercinta dengan begitu menggebu-gebu sebelumnya.
“Setelah aku di Malang nanti, aku bahkan nggak tahu apa aku akan dapat kesempatan untuk bercinta atau tidak. Uh!”
Riko mencengkeram pinggul Christaly, membantunya untuk bergerak lebih cepat. “Kamu pasti dapat kesempatan itu, Sayang. Cuma pria buta atau kehilangan akal sehatnya yang bisa nolak bercinta denganmu. Pak Haris salah satu di antaranya.”
“Ya, kamu benar. Kesal sekali rasanya pak tua itu nolak tawaranku mentah-mentah. Dasar mata duitan,” sahut Christaly sambil mendengus. “Padahal kalau dia sudah pernah main sekali saja, aku jamin dia pasti akan ketagihan dan minta terus. Huh!”
“Sudahlah. Lupakan saja. Memang susah kalau berurusan sama orang mata duitan.” Riko mengerang sambil mencengkeram pinggul Christaly lebih erat. “Emh! Uh! Pelan-pelan, Sayang. Kita punya cukup banyak waktu, jangan khawatir. ”
Christaly bergerak lebih cepat lagi, naik dan turun. Dia memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya sambil membayangkan jika saat dia sedang bercinta dengan Sean, bukan Riko.
Membayangkan betapa luar biasanya pria itu, betapa perkasanya dia. Christaly mengerang penuh kenikmatan. Fantasi liarnya menambah gairah tersendiri untuknya.
“Emh!” desah Christaly.
“Pelan-pelan, Sayang. Aku takut menyakitimu karena kamu masih begitu sempit,” ujar Riko.
“Jangan remehin aku. Aku tahu ukuranmu memang cukup besar. Tapi, kamu nggak boleh lupa kalau aku pemain andal. Lagian juga ini bukan pertama kalinya kita bercinta, kan?” protes Christaly yang tidak terima diremehkan Riko.
“Aku tahu, Christaly. Tapi kamu nggak biasanya begini. Menggebu-gebu seperti orang yang kesurupan.” Riko membela dirinya.
“Enak saja kamu bilang. Bukan aku yang kesurupan. Tapi kamu yang sudah impoten sekarang,” bantah Christaly. “Kamu nggak seperti biasanya, Riko. Kamu malam ini persis pria tua yang bahkan untuk berdiri tegak saja sulit,” sambungnya mengejek.
Ejekkan Christaly itu pun sukses membangkitkan kemarahan Riko yang merasa tersinggung. “Apa kamu bilang tadi?! Coba ulangi sekali lagi!”
“Kamu nggak kayak Riko yang biasanya malam ini. Kamu seperti kehilangan kekuatan, persis pria tua yang mulai impoten,” tandas Christaly yang sengaja memancing emosi pria berambut cepak dan sedikit kemerahan itu.
“Awas kamu, Christaly. Aku jamin kamu pasti merintih dan minta ampun padaku setelah ini.” Tanpa banyak bicara lagi Riko langsung menarik tubuh Christaly agar menyatu dengan tubuhnya dan dia memeluknya kuat-kuat. “Bersiaplah. Aku mulai.”
Sekarang Riko yang mengambil alih kontrol permainan. Dia menghujam Christaly bertubi-tubi, bergerak keluar masuk dengan kecepatan yang lebih cepat, lebih panas, lebih maksimal.
“Aargh!”
“Masih belum. Ini baru permulaan, pemanasan.”
Riko berguling mengubah posisi. Sekarang dia yang berada di atas tubuh Christaly. Tangannya seketika menangkup payudaranya, memainkan puncaknya yang mencuat tegang. Memilin ke kiri dan ke kanan lalu mencubitnya ke atas.
Sementara jari jemari tangannya sibuk bermain di dada Christaly, dia sama sekali tidak punya maksud untuk mengurangi kecepatannya, masih terus menghujami Christaly tusukan demi tusukan yang membuatnya terengah-engah kehabisan tenaga.
Puas bermain dengan puncak payudara Christaly, jari jemari Riko yang trampil langsung meluncur ke bawah. Menuju titik sensitif Christaly di area luar celah sempit yang berada di pangkal kedua pahanya.
“Ah!” seketika Christaly menjerit saat Riko menekan titik itu dan memijitnya. “Uh!”
“Masih belum, Sayang.” Riko kembali memijit, membuat gerakan melingkar sambil terus memijit titik sensitif itu dengan sensual.
“Emh! Uh!” erang Christaly lagi. Tubuhnya melengkung dan mengejang karena nikmat.
“Aku janji aku bakal bikin kamu nggak akan pernah bisa lupain permainan malam ini,” kata Riko dengan penuh percaya diri. “Anggap saja ini hadiah perpisahan kita.”
“Emh, ya! Memang itu yang aku mau,” jawab Christaly puas karena rencananya berhasil.
“Kalau gitu siap-siap saja kamu.”
Riko tiba-tiba menyentak keluar dirinya dari dalam tubuh Christaly, lalu sedetik kemudian dia menghujamkan ereksinya lagi dengan sangat keras dari bagian belakang yang jauh lebih ketat.
“Ah!”
“Bersiaplah untuk permainan yang sebenarnya, Sayang.” Riko melesakan dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam diri Christaly dari depan. Sementara itu ibu jarinya yang berada di luar menyentuh titik sensitif Christaly, memijitnya, bergerak ke depandan ke belakang seirama gerakan pinggulnya.
“Uh! Ya, ya. Emh!” Christaly mulai menceracau.
Riko bergerak lebih cepat lagi, menekan lebih kuat lagi. Hanya di situ dia menyentuh, terpusat di anatomi bagian tubuh Christaly yang itu. “Bagaimana, Christaly?”
“Ya. Ini hebat sekali. Emh!”
“Sekarang kamu mengakuinya?”
“Ya. Aku akui kamu memang hebat. Ah!” Christaly berteriak saat jari Riko bergerak semakin cepat di dalam dirinya. Dia dapat merasakan jika dirinya sudah dekat, sangat dekat. Semua stimulasi ini membuat dia hampir meledak. “Oh, Tuhan ....”
Christaly menengadahkan kepala ke belakang, dia mengerang lebih kencang sambil memejamkan mata. Dan, akhirnya dia pun mendapatkan pelepasannya saat ledakan kenikmatan itu memenuhi perutnya.
Akan tetapi, tetap saja. Yang ada di bayangan Christaly adalah Sean. Dia masih membayangkan jika yang bercinta dengannya adalah detektif swasta itu bukan Riko.
Tidak berselang lama setelah Christaly mencapai puncak kenikmatan dan mendapatkan pelepasan gairahnya, Riko pun mengikuti. Setelah ledakan kenikmatan itu ia semburkan ke dalam diri Christaly, dia pun berguling ke sisi wanita itu.
Terengah-engah kehabisan napas sama seperti Christaly. Untuk beberapa lama keduanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya terengah-engah dengan dada naik turun bersimbah keringat.
“Astaga, Riko. Tadi itu hebat sekali,” kata Christaly setelah agak lama dan dia sudah berhasil mengontrol napasnya. “Aku nggak nyangka kalau kamu bisa main sehebat itu.”
Riko tertawa mendengar pujian tulus Christaly. “Ini masih belum apa-apa. Aku janji. Nanti kalau kamu sudah pulang dari Malang aku bakalan bikin kamu lebih meleleh lagi dari ini. Karena itu kamu harus cepat pulang ke Jakarta. Oke?”
Christaly tertawa senang. “Oke, oke. Aku jadi nggak sabar permainan apalagi yang bakalan kamu mainkan. Gaya bercinta apa lagi yang akan kamu pakai untuk muasin aku.”
“Rahasia, dong,” sahut Riko. “Tapi, Christaly. Apa kamu udah yakin mau pergi ke Malang sama detektif yang nggak jelas itu?”
“Maksud kamu Sean?” potong Christaly.
“Ya, Sean. Apa kamu yakin mau kerja bareng pria yang punya masalah mental itu?”
“Aku nggak punya pilihan lain, Riko. Aku harus dapat uang buat bayar hutang-hutangku berikut bunganya secepatnya,” ujar Christaly.
“Aku udah coba buat rayu Pak Haris, tapi rayuanku nggak mempan. Jadi, ya, mau nggak mau aku harus ambil pekerjaan yang ditawarkan Sean itu. Apalagi bayarannya luar biasa tinggi kalau kami berhasil menyelesikan kasusnya.”
“Uh! Padahal kan lebih mudah kalau kita bunuh saja Pak Haris. Jadinya kamu nggak perlu pergi jauh ke Malang.”
“Aku juga kepikiran ide itu. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi ....”