NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GIOK KOI DAN KENANGAN LAMA

"Katanya pulang.", batin Eng Sok sambil melirik Ah Chio di spion

Iya. Katanya.

Tapi di jalan, Ah Chio mengajak Eng Sok jalan dulu.

Eng Sok bingung — karena harus ke Universitas Internasional Oliver Hwa. Ada acara. Sudah dijadwalkan. Panitia sudah menunggu.

Ia menepi. Turun dari motor. Telepon panitia.

"Ko, aku bisa bawa teman? Artis. Perempuan. Nama Hok Hiang Chio."

Panitia di seberang — diam sejenak. Lalu suara riuh. Berbisik-bisik. Kemudian:

"Boleh, Ko Sioh Bu! Malah bagus! Pakein Tng Sa aja... Kami mau undang Nona Hok tapi ga punya link. Padahal dana sih ceng li. Kami titipkan kontrak Nona Chio — "

Eng Sok tidak mengerti setengah. Tapi ia menyerahkan HP ke Ah Chio.

Ah Chio menerima. Matanya membaca layar. Tersenyum. Langsung nego — dengan panitia yang tidak ia kenal, lewat telepon, sambil berjalan. Lalu kontrak ditandatangani di atas motor. DP auto masuk.

Eng Sok melongo.

Dunia modern, pikirnya. Aneh. Tapi efisien.

---

"Mampir ke rumah dulu," kata Eng Sok. "Ambil Tng Sa. Acara festival ini sampai tengah malam."

Ah Chio mengangguk. Dia tahu acara Festival Bulan di Cia Agung memang sampai tengah malam di universitas Fakultas Sejarah dan Sastra. Kalo Fakultas lain gak sampai semalam itu tapi tetap malam juga. Dia membayangkan kejadian saat kuliah. Saat masih bersama Ah Peng. Ya, Ah Peng mantannya. Pria pertama yang jadi kekasihnya. Yang mundur setelah sebulan karena capek dengan waktu yang terlalu terbatas.

Ah Chio memeluk Eng Sok lebih erat. “Ah Peng mundur tapi Sioh Bu maju terus. Bahkan berani menantang Ah Guan”, bisiknya dalam hati.

Mereka berdua naik motor — melaju ke rumah baru Ah Me.

---

Di rumah, Ah Me sedang membordir. Ah Ti belajar — buku terbuka, pensil di telinga. Ah Ti bilang ingin tahu pelajaran lebih awal. Ingin belajar sebaik-baiknya. Ah Me sampai bingung. Karena Ah Ti sejak Sioh Bu asli tidak ada jadi begini, tidak perlu diubah.

Pintu terbuka. Eng Sok masuk. Ah Chio di belakangnya.

"Mau ambil Tng Sa," kata Eng Sok.

Tanpa basa-basi. Langsung ke kamar. Mengambil Tng Sa biru tua untuk dirinya. Bordir Harimau dengan benang perak di bagian punggung. Dan satu Tng Sa perempuan dari lemari — yang tidak pernah Ah Me lihat sebelumnya. Juga dalaman kerah palsu agar mudah bergerak.

Warna biru tua juga dari kain yang sama dengan Tng Sa miliknya. Bordiran merak di punggung— rapi, halus, mahal. Di dalamnya, kerah palsu — jadi Ah Chio tidak akan kepanasan.

Ah Me melongo. Mulutnya datar. Tapi matanya menyipit.

Ah Ti terlalu kaget untuk bicara. Mulutnya terbuka. Tidak ada suara.

Koko datang dengan Nona Hok. Koko ambil Tng Sa perempuan dari lemari. Koko sudah siap?

Ah Me tidak bertanya. Hanya melihat — bergantian ke Eng Sok, ke Ah Chio, ke Tng Sa di tangan Eng Sok.

Ah Chio merasakan tatapan itu. Ia menunduk. Malu. Tapi tidak bisa pergi.

---

Ah Chio memakai Tng Sa.

Pas. Sangat pas — seperti diukur khusus untuk tubuhnya.

Ia berdiri di depan cermin. Memutar badan. Melihat bordiran naga dan phoenix — rapi, halus, gemerlap.

Tiga bulan lalu, aku titip jahit blazer dan korset. Sekarang... ada Tng Sa.

Ia menelan ludah.

"Apa Eng Sok..."

Tapi tiba-tiba — kepalanya sakit.

Bukan sakit biasa. Tapi sakit yang menusuk — seperti ada sesuatu yang mencoba keluar dari ingatannya.

Ia melihat.

Bayangan. Samar. Dia dan Eng Sok — di kamar. Bukan kamar kontrakan. Tapi kamar yang lebih besar. Lebih megah. Dengan lilin. Dengan aroma dupa. Seperti lokasi syuting film Wuxia atau drama istana.

Bayangan itu berputar-putar. Tidak jelas. Tapi terasa nyata.

Pagi harinya — ia diberi giok. Kotak kecil tiga emas tael, beberapa perak, juga beberapa renceng koin. Dan dia diseret ke luar.

Ah Chio memegang kepalanya. Bernapas berat. Apakah itu nyata? Atau mimpi?

Ia tidak tahu. Yang jelas Sioh Bu terlihat kecil seperti anak SMP.

Sejak kejadian viral itu — kepalanya sering sakit. Ia sering melihat bayangan-bayangan aneh itu berkali-kali. Kadang dia takut. Kadang dia bingung. Dan ketika Eng Sok diam — Ah Chio memilih Ah Guan. Karena Ah Guan jelas. Ah Guan memilihnya. Ah Guan tidak membuatnya bingung.

Tapi sekarang — Tng Sa ini — bordirannya — warnanya — semua terasa akrab.

Ia mengeluarkan giok dari dalam bajunya.

Hiasan ikat pinggang. Giok hijau. Ukiran ikan koi. Tali aslinya sudah rusak. Tapi entah bagaimana setiap rusak, jari-jemari Ah Chio selalu dapat memperbaikinya sama persis dengan tali sutra giok atau disebut tali kur Cia. Sebelah atas anyaman lengkung. Bagian bawah giok anyaman bunga dengan rambut-rambut. Talinya selalu dia pilih yang merah.

Ia tidak ingat siapa yang memberinya. Tapi hatinya selalu berdebar — dan sakit — saat melihatnya. Seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ia selalu memakainya kalo pake Tng Sa pribadi. Tidak tahu kenapa. Seperti ada kerinduan yang mencekik bila tidak memakainya.

---

Eng Sok melihat giok itu.

Dengkulnya gemetar.

Hiasan ikat pinggang giok. Ukiran ikan koi. Tulisan "Chhai Lian Hoe Po" dengan aksara kuno yang melingkarinya — aksara yang sudah tidak dipakai lagi saat ini. Tali merahnya… itu jelas bukan tali lama tapi tali baru. Tapi teknik anyam bagian atas dan anyaman bunga di bawahnya sudah nyaris tidak ia temukan di pasar… karena bukan zamannya.

Giok itu... giok miliknya.

Ia ingat.

Di istana dulu, pangeran memberi giok semacam itu pada wanita yang... menyenangkan hatinya. Semalam. Sebagai tanda perlindungan. Jika wanita itu dihakimi massa — giok itu akan menjadi bukti bahwa dia di bawah lindungan pangeran. Biasanya ada kode tanggal di belakang giok..kode yang hanya dibaca pangeran dan kaisar.

Eng Sok tidak bisa berkata apa-apa.

Wajah dayang itu...

Ia mengingat lagi. Wajah dayang yang ia buang dulu — tidak ia ingat jelas. Tapi celakanya — siluet wajahnya seperti wajah Ah Chio dan ia yakin walaupun samar. Tidak bisa lebih tajam karena dia mabuk waktu itu dan tidak ingin melihat dayang itu lagi setelah melakukan dosa malam itu.

Ia membuang dayang itu — memberinya kotak kecil isi giok, uang, lalu menyuruhnya pergi. Ia menulisi giok dengan kode dan tinta khusus warna cokelat. Seperti kebiasaan Pangeran.

Dan sekarang — giok itu ada di tangan Ah Chio.

Apakah Ah Chio... keturunan dayang itu?

Eng Sok tidak bisa membuktikan. Tapi hatinya — sesak. Ia ingin melihat lebih detil giok itu. Tapi sudah tinggal 45 menit lagi dan ia harus sampai di Oliver Hwa.

---

"Ko," Ah Chio memanggil. "Sudah. Kita berangkat."

Eng Sok mengangguk.

Ia melepas Tng Sa. Memasukkan ke ransel. Ah Chio juga.

Mereka berdua — tanpa banyak bicara — keluar rumah. Naik motor.

Ah Me dan Ah Ti masih terdiam di ruang tamu. Tidak bisa berkata apa-apa.

---

Di Universitas Internasional Oliver Hwa, acara berlangsung ramai.

Eng Sok dan Ah Chio mengisi sesi tanya jawab — tentang budaya Cia Agung, tentang melestarikan tradisi, tentang cinta (tidak sengaja).

Ah Chio gembira. Ia tersenyum. Tertawa. Menjawab pertanyaan dengan lincah.

Eng Sok pura-pura gembira. Matanya tersenyum. Bibirnya tersenyum. Tapi hatinya — berkecamuk.

---

Pulang — jam menunjukkan pukul 10 malam.

Mereka masuk ke warung pinggir jalan. Meja kayu. Lampu kuning. Ramai — tapi tidak terlalu.

"Bakmi. Satu porsi dua," kata Eng Sok.

Lalu — "Ang Ciu."

Ah Chio menatap. "Ang Ciu?"

"Sedikit. Tidak untuk mabuk."

Ah Chio mengangguk.

Mie datang. Ang Ciu datang — dua cangkir kecil.

Mereka makan. Diam. Sesekali menyesap Ang Ciu — hangat, manis, pahit.

Eng Sok tidak bisa berhenti memikirkan giok itu.

Wajah dayang itu... mirip Ah Chio.

Ia ingat lagi — malam itu. Dayang itu menangis. Ia takut. Ia membuangnya.

Dan sekarang — mungkin — keturunannya ada di depannya. Eng Sok merasa takut tapi dia tidak peduli. Sudah lebih dari 7 keturunan, seperti aturan ambil istri Pangeran, pikirnya.

Ya. Untuk ambil istri ada ketentuan 7 di Chia Agung. Tujuh atas, Tujuh bawah, dan tujuh samping. Kalo dihitung pasti juga ketemunya dia dan Ah Chio di angka 10 sampai 15 keturunan sih jaraknya, bisa aja lebih.

Ia menenggak Ang Ciu. Habis.

"Ko," Ah Chio memanggil. "Kamu... kenapa?"

Eng Sok menggeleng. "Lelah."

Ah Chio tidak bertanya lebih lanjut. Yang jelas. Ang Ciu ini memang beralkohol dan diminum sedikit untuk semacam tonik. Ah Chio berharap membeli lebih tapi dia melihat Eng Sok. Dia tahu bahwa pria di sebelahnya pria baik-baik sekarang. Jadi tidak akan liar.

---

Eng Sok mengantar Ah Chio ke apartemen.

Sampai di depan lobi, soalnya sudah jam 11 malam. Akses lift tamu diputus hanya lift dengan kartu ID yang bisa dipakai, standar keamanan Apartemen. Bisa sih ke kamar Ah Chio tapi gak bisa turun apalagi pulang.

"Ko, makasih."

Eng Sok mengangguk. Tidak menjawab.

Ia menatap Ah Chio berjalan masuk — hingga pintu kaca menutup.

Lalu ia pulang — naik taksi online. Sepanjang jalan, ia hanya diam.

Perasaannya campur aduk di atas motor. Tapi dia hanya bisa pulang ke rumah Ah Me dan tidur.

Paginya dia melihat laporan di laptop. Dia iseng membuka perguruan Barongsai. Gak taunya malah laris. Sudah ada profit di luar dugaan. Profit yang jika digabung dengan stream, endorse, dan kelas online barunya: Kaligrafi ala Pangeran Kuno cukup beli satu unit apartemen. Kebetulan dia masih hemat. Mungkin makin hemat.

Sayur ada di Rooftop yang ia pasangi atap transparan agar aman, ini bekalnya yang ia kukus lalu bawa ke lokasi syuting. Juga beberapa ayam dan burung puyuh. Telurnya ia rebus dan bawa ke lokasi. Jemuran terang lantai 2 tidak kehujanan.

Rumahnya kecil sampai dihina artis lain. Tapi masuk telinga kiri keluar kanan. “Rumah kecil pajak kecil, tabungan dan aset besar”, itu yang dia ingat dari filsafat kerumahtanggaan istana.

---

Di suatu tempat — di apartemen lain, tidak jauh dari sana.

Seorang pria berambut sebahu berdiri di dekat jendela. Matanya menatap ke arah apartemen Ah Chio.

Tidak terlalu tinggi. Hanya 170 cm. Pakaian santai — kemeja putih, lengan digulung.

Di atas meja — Sakima. Kue tradisional — kesukaan Ah Chio.

Ia mengambil satu. Menggigit. Pelan.

"Ah Chio..." bisiknya.

Ia menatap keluar — ke arah lampu apartemen Ah Chio yang masih menyala.

"Apakah pintu hatimu akan kaubuka lagi untukku?"

Ia tidak tahu.

Tapi ia menunggu.

---

BERSAMBUNG

---

Giok koi. Aksara kuno. Wajah yang mirip.

Eng Sok tidak bisa membuktikan apa-apa.

Tapi hatinya — sesak.

Di tempat lain — seorang pria menunggu.

Memegang Sakima — kue kesukaan Ah Chio.

"Apakah pintu hatimu akan kaubuka lagi?"

💐🪷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!