Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34 Merasa Diabaikan
Di dalam kamar Aksa merebahkan tubuhnya di atas rajang yang empuk. Ia masih kesal kepada Santi yang terlalu baik dan perhatian kepada orang lain. Dan kenapa juga Santi mudah percaya pada orang yang belum lama di kenal? Pikir Aksa saat ini.
"Yang benar saja! Dia benar-benar sangat merepotkan! " gumam Aksa menggerutu sendirian.
Aksa menatap langit-langit kamarnya sesaat. Namun karena lelah ia dan sangat mengantuk tidak terasa ia tertidur begitu saja. Hari yang terasa panjang dan melelahkan ini membuat Aksa tidak pernah kesulitan tidur. Apalagi hari ini ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya terasa tenang dan lega.
Malam pun terasa begitu singkat. Seolah waktunya berjalan lebih cepat. Pagi sudah menyambut lagi, menyapa hari dengan kemunculan sang mentari. Hari yang sibuk di mulai lagi. Namun ada satu hal yang paling pasti, cerita baru sudah menanti.
Aksa terbangun pagi sekali, entah kenapa ia sangat bersemangat hari ini. Ia mandi dan bersiap diri. Namun setiap kali ia melihat Adit yang masih tertidur di sofa sedikit merusak suasana hatinya.
"Oi? Bangun! Oi! " Aksa mencoba untuk membangunkan Aditya dengan menendang pelan bawah sofanya.
Aditya terhenyak dan spontan beranjak duduk dari tidurnya. Ia mendongak menatap Aksa dengan sebelah mata yang ia tutup karena belum sepenuhnya terbangun. Penglihatannya masih samar-samar dan tidak jelas, jadi ia mengucek kedua matanya pelan.
"Apa sudah pagi? Ah, tidur gue nyenyak banget! " serunya seraya menggeliat merenggangkan punggungnya sambil menguap lebar.
"Yah yah yah, yang benar saja. Kenapa loh tidur disini? Apa loh tidak punya rumah? " sahut Aksa dengan datar menatap sinis.
Namun Aditya malah tersenyum lebar sambil beranjak menoleh ke arah dapur yang menebarkan wangi masakan yang begitu lezat menyesuaikan ke dalam lubang hidungnya.
"Wah, aromanya enak sekali. Ibu masak apa? " sahut Adit malah mengabaikan pertanyaan Aksa sambil beranjak bangun berjalan menuju dapur. Ia sama sekali tidak menghiraukan Aksa.
Aksa memekik kesal ketika ia mengabaikan dirinya dan nampak terkejut juga saat mendengar Adit yang memanggil Santi dengan sebutan 'Ibu'.
"Ibu? Hei? Siapa yang loh sebut Ibu? Dia bukan Ibumu? " Aksa menyusul langkah Adit ke dapur sambil ngomel-ngomel.
Tiba di dapur ia melihat Adit yang tengah duduk menunggu masakan yang Santi buat itu siap. Lantas, Aksa hanya bisa ikut duduk sambil mendengus kecil dengan tatapan khasnya yang dingin yang menatap Adit dan Santi silih bergantian.
"Ibu, baunya wangi sekali. Apa itu daging yang kita beli kemarin sore? " tanya Adit dengan penuh semangat dan begitu antusias.
"Iyah, kamu bilang ingin makan semur daging kan? Ini, sudah matang, " jawab Santi sambil memindahkan lauk yang ia masak tadi ke mangkuk besar dan menyajikannya di atas meja.
Wangi yang keluar dari masakan tersebut menyeruak masuk ke dalam lubang hidung Adit sampai membuatnya ngiler dan tidak sabar ingin mencicipinya.
"Wah, kelihatannya enak banget. Ibu, tolong ambilkan buatku, " pinta Adit sambil menyodorkan piringnya yang dipegang sedari tadi.
Santi tersenyum dan segera mengambil semur daging tersebut ke atas piringnya. "Makan yang banyak. Ibu harap kamu suka, " balas Santi.
Disisi lain Aksa hanya tertegun diam memperhatikan kemesraan antara diantara mereka yang sepertinya tidak peduli dengan kehadiran Aksa di sana.
"Yang benar saja. Ibu? Sebenarnya aku atau dia anak Ibu ? Aku merasa menjadi anak tiri disini, " keluh Aksa merengek kepada Santi.
Santi menoleh kepada Aksa yang menatapnya dengan kesal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ah, maaf. Ibu bukan bermaksud mengabaikanmu. "
Santi sadar dan segera mengambil baru untuk Aksa dan mengambilkan semur daging tersebut sama banyaknya dengan Aditya.
"Loh ini cemburuan banget sih!" seru Adit menimpali sambil melahap semur daging yang sangat lezat itu sampai belepotan.
Aksa menoleh dengan tatapan dingin namun sinis. "Loh juga ngapain disini terus? Setelah ini pulang sana, dan jangan datang lagi, " seru Aksa mengusirnya dengan tegas.
"Tidak bisa. Mulai hari ini dan seterusnya. Gue tinggal disini. Iyah, Bu? " balas Adit dengan begitu yakin.
Aksa melirik ke arah Santi yang tersenyum canggung kepada Aksa. "Tidak ada salahnya kalian jadi saudara. Ibu akan senang, kalau kalian menjadi saudara yang rukun, " balas Santi tergagap karena merasa bersalah kepada Aksa.
"Ibu! Bagaimana Ibu bisa menerima orang lain sebagai putra Ibu? Wah, yang benar saja. Tidak bisa, aku menolak dengan tegas. Suruh dia pulang dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi. Aku pergi! " tolak Aksa sedikit berteriak dengan tegas lalu melengos pergi berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
"Aksa? Makan dulu!" teriak Santi merasa sedikit bersalah karena memang mengambil keputusan ini sendirian tanpa melibatkan Aksa.
"Dia ini pemarah sekali dan juga sangat dingin. Ibu? Apa aku merepotkan mu? Kalau memang Iyah, aku sangat menyesal dan minta maaf. Kalau Ibu meminta aku untuk berhenti. Aku akan berhenti, " ujar Adit dengan mulut yang penuh oleh makanan. Ia berhenti mengunyah karena menunggu jawaban Santi.
"Tidak. Ibu harap dengan keberadaan mu disini akan perlahan merubah sikap Aksa kembali seperti dulu. Dia sebelumnya jarang sekali bicara atau mengeluh kepada Ibu. Dia lebih sering diam dan termenung. Tapi, sejak keberadaan mu, sikapnya berubah. Dia jadi lebih berisik. Ibu menyukainya. Kedepannya, Ibu harap dia menjadi anak yang selalu mengeluh dan merengek kepada Ibu disetiap ketidak berdayaan nya, " jelas Santi kemudian.
Adit pun merasa sangat terharu seolah kehadirannya itu memang diakui dan sangat dihargai. "Ibu tenang saja. Aku akan membuat dia menjadi anak yang paling berisik, " balas Adit.
"Iyah, terima kasih, " sahut Santi sambil mengelus pelan kepala Adit. "Cepat makan, dan berangkat ke sekolah, " tambahnya lagi.
Lantas, Aditya pun makan dengan begitu lahap tanpa adanya rasa sungkan terhadap Santi. Ia terlihat sangat senang dan sangat bahagia untuk pertama kalinya.
Usai sarapan Aditya bersiap untuk berangkat sekolah. Sore kemarin Aditya sengaja pulang dulu untuk mengambil beberapa pakaian dan peralatan miliknya. Setelah siap, Aditya berangkat ke sekolah dengan langkah yang penuh semangat dan hati yang gembira. Tidak lupa ia membawakan bekal makan untuk Aksa permintaan dari Santi.
Setibanya di sekolah, Aditya menghampiri Aksa yang terlihat bengong duduk di taman sekolah dibawah pohon besar yang biasanya. Ia masih bingung dengan biaya rumah sakit Ayahnya yang belum lunas dan rumah sakit terus saja mengiriminya pesan. Aksa lagi-lagi kembali melihat berita balapan liar di forum sekolah dan berniat untuk mendaftar. Namun niatnya ia urungkan ketika Aditya datang dari belakang sambil menepuk bahunya cukup keras, kemudian duduk di sampingnya. Aksa bergas mematikan layar ponselnya takut kalau Adit melihatnya.
"Hei, Bro? Ngapain disini sendirian? Yang lain belum pada datang yah? " sapa Adit sambil celingak celinguk melihat ke sekeliling.
Aksa menepis rangkulan tangan Aditya di bahunya. "Jangan bersikap sok akrab. Gue gak suka, " bala Aksa begitu dingin.
"Baiklah. Ini! Ibu sangat khawatir karena loh tidak sarapan tadi. Makanlah! " Aditya menyerahkan kotak bekal yang dibawanya itu kepada Aksa. Lalu ia hendak pergi setelah memberikannya.
"Hei? Jangan kembali lagi ke rumah. Apalagi meminta Ibuku memasak ini itu yang loh mau. Apa loh gak punya Ibu? Sampai Ibuku harus loh akui juga? "
Perkataan Aksa menghentikan langkah Aditya. Jujur saja ia tersinggung dengan apa yang dikatakannya. Namun, ia hanya kesal dan tidak marah sebab perkataannya memang tidak salah juga. Aditnya menoleh ke arahnya dengan wajah tersenyum kecil nyaris tidak nampak.
"Iyah, gue gak punya Ibu. Karena itu, gue sangat senang karena diakui menjadi seorang anak oleh orang lain. Loh puas? " jawab Aditya sambil melengos pergi setelah mengatakannya.
Aksa pun terdiam mendengar jawaban Aditya. Entah kenapa ia malah merasa kalau ucapannya sudah keterlaluan. Padahal ia sebenarnya tidak bermaksud demikian. Dan tidak menduga kalau Aditya pun akan menjawab seperti itu.