"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 5
Tiga minggu sudah Mila bekerja di rumahnya Hanny, tentunya tanpa sepengetahuan Hardi. Dia kembali ke rumah sebelum Hardi pulang bekerja. Itu dilakukannya agar Hardi tak meminta uangnya dan mengetahui rencananya menggugat cerai.
Mila sengaja turun di ujung jalan masuk ke arah rumahnya. Ia singgah sebentar membeli siomay yang sudah lama tak dimakannya. Begitu sampai, langkahnya terhenti ketika melihat motor suaminya terparkir di halaman rumah. "Kenapa dia cepat sekali pulangnya?" batinnya bertanya.
Menarik napas sejenak lalu dihembuskannya, lanjut melangkah sembari memikirkan kata-kata buat memberikan alasan kepada suaminya.
Mila masuk tak lupa mengucapkan salam, Hardi yang mendengarnya tidak membalas ucapannya. Pria itu malah melemparkan tatapan tajam ke arah Mila yang berdiri ketakutan.
"Dari mana saja, hah??" Hardi yang duduk di ruang televisi bertanya dengan nada tinggi.
"Aku baru pulang kerja," Mila terpaksa jujur.
"Pulang kerja? Kau kerja?" Hardi bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, Mas." Mila berucap dengan nada terbata-bata.
"Sejak kapan?" tanya Hardi.
"Tiga minggu yang lalu," jawab Mila.
"Siapa yang mengizinkan kau bekerja?" tanya Hardi lagi.
"Maaf, aku gak minta izin kepada Mas. Aku pikir Mas pasti akan mengizinkan, lagian aku kerja juga gak mengganggu pekerjaan rumah," jawab Mila memberikan penjelasan panjang.
Hardi melihat ke arah kantong plastik putih yang dipegang istrinya. "Itu apa?"
"Ini siomay. Mas mau?" tanya Mila lagi-lagi terpaksa, padahal dirinya sangat malas menawarkan makanan miliknya kepada suaminya.
"Ya, maulah!" jawab Hardi.
"Kita bagi dua, ya?" Mila meminta pendapat.
"Itu buatku, kau bisa beli lagi!" kata Hardi.
"Aku belum gajian, Mas!" ucap Mila berbohong.
"Memangnya kapan kau gajian?" tanya Hardi penasaran.
"Aku gak tahu, bos tempatku bekerja lagi ke luar negeri. Ini saja anaknya yang belikan, semua karyawan dibagikan," jawab Mila lagi-lagi berbohong.
Hardi pun percaya dengan semua ucapan istrinya.
Mila bergegas ke dapur, mengambil piring lagi membagi dua siomay yang dibelinya. Mengambil segelas air putih lalu membawanya ke ruang televisi. Ia kemudian menyerahkan sepiring kecil siomay dan air minum kepada suaminya.
"Kalau kau sudah gajian, jangan lupa masak makanan yang enak!" kata Hardi seraya memakan siomay.
"Iya, Mas." Mila tersenyum terpaksa.
Mila kembali ke dapur, menikmati siomay yang tersisa setengah porsi lagi. Meskipun merasa kurang, tapi dia sangat lega suaminya percaya kata-katanya.
***
Hari ini Mila tak ke rumah Hanny karena memang tidak setiap hari dia membersihkan rumah itu. Dia berencana ingin menghabiskan waktunya dengan tidur siang yang panjang. Namun, rencananya gagal karena ibu mertua dan adik iparnya datang berkunjung.
"Kenapa mereka harus datang jam segini, sih?" Mila mengomel dalam hati.
"Hardi pulang jam berapa?" tanya Wati, 55 tahun, ibu kandungnya Hardi.
"Sekitar jam enam, Bu!" jawab Mila sembari mengecup punggung tangan ibu mertuanya.
"Oh," ucap Wati.
"Kak Mila masak apa? Aku lapar!" Dhea, 19 tahun, mengelus perutnya.
"Cuma tahu dan tempe balado," kata Mila.
"Ckk.... kenapa cuma masak itu, sih? Apa gak ada makanan yang lain?" Dhea sedikit kecewa, jauh-jauh dari rumahnya yang membutuhkan waktu perjalanan 1 jam cuma disuguhi lauk tempe dan tahu saja.
"Memang uangnya cukup beli itu saja," Mila berkata apa adanya.
"Sudahlah, Dhea. Kamu kalau mau beli makanan, keluar saja. Sekalian belikan buat Kak Mila juga!" kata Wati sembari mengeluarkan dompet dari tasnya.
"Ya sudah, nanti aku belikan!" ucap Dhea.
Wati lalu menyodorkan uang 50 ribu kepada putrinya.
"Kak Mila mau dibelikan apa?" tanya Dhea.
"Bakso saja," jawab Mila.
"Baiklah!" Dhea pun keluar, mengendarai motornya ia mencari bakso dan makanan yang mau dimakannya.
Mila mengambil tas ibu mertuanya dan membawanya ke kamar tamu. Ia kemudian ke dapur membuat teh hangat dan disajikan di meja ruang tamu.
"Lengan tanganmu kenapa?" tanya Wati.
Mila segera menurunkan lengan bajunya, saat membuat minuman dia memang sengaja menggulungnya hingga menampakkan seluruh lengan tangannya karena merasa gerah.
"Oh, ini karena jatuh, Bu. Beberapa hari lalu terjatuh di tempat kerja," jawab Mila dusta.
"Tempat kerja? Kamu kerja?" tanya Wati lagi.
Mila tersenyum nyengir lalu mengangguk mengiyakan.
"Kenapa kerja? Apa Hardi tak memberikanmu uang?" cecar Wati.
"Mas Hardi kasih aku uang, kok. Cuma aku bosan saja di rumah. Apalagi kami belum punya anak. Cuma buat menghilangkan rasa jenuh aja, Bu. Lagian kerjanya juga gak tiap hari," jelas Mila.
"Oh, begitu. Memangnya kerja apa? Tidak terlalu berat 'kan?" Wati tak mau menantunya merasa kelelahan karena harus bekerja diluar lagi.
"Enggak, Bu. Hanya bersih-bersih rumah yang jarang ditempati," kata Mila.
"Oh," Wati manggut-manggut paham.
Dhea pun akhirnya kembali, ia datang membawa 2 bungkus plastik. Ia menyerahkan sebungkus bakso kepada Mila.
"Aku juga beli buat Ibu. Ini lontong pecal sayur. Rasanya entah enak atau enggak. Aku lihat tempat jualannya sangat ramai!" kata Dhea mengeluarkan bungkusan kertas dari kantong plastik dan diletakkannya di meja.
"Kamu beli apa?" tanya Wati.
"Aku beli nasi rendang daging," jawab Dhea.
"Aku ambilkan dulu piring dan sendok!" Mila bergegas ke dapur mengambil peralatan makan.
Mila kembali membawa 2 piring, satu mangkok dan 3 pasang sendok serta garpu. Mereka bersama-sama makan di ruang tamu.
Mila bersyukur mempunyai mertua dan ipar yang baik, tetapi dirinya memang tak hidup bersama keduanya. Dia berhak bahagia, pilihan berpisah dengan Hardi tak dapat diganggu gugat. Sudah cukup dia memberikan nasehat dan mengeluarkan keluh kesahnya kepada Hardi, pria itu tetap pada pendiriannya.
Selesai makan, Mila hendak mencuci piring namun Wati menyuruh Dhea yang melakukannya. Wati malah menyuruh Mila buat tidur siang.
Mila pun tak membuang kesempatannya, dia lantas ke kamar dan memejamkan matanya. Selama mertua dan iparnya menginap dipastikan intonasi nada suara suaminya merendah dan pekerjaan rumahnya sedikit lebih ringan serta dia juga akan disuguhkan makanan lezat dan enak dari masakan mertuanya.
"Seandainya Mas Hardi menikahiku dengan ikhlas dan menyayangiku tulus, pasti aku sangat bahagia. Apalagi mempunyai mertua dan ipar yang baik hati," gumamnya dalam mata terpejam.
Mila terbangun pukul 4 lewat 30 menit, ia bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Ashar. Setelah itu lanjut ke halaman rumah menyapu sampah dedaunan dan menyiram bunga.
"Mila, di mana kedai yang jualan sayur-sayuran di sini?" tanya Wati.
"Di sini cuma ada pasar, buka sampai sore. Kalau Ibu mau belanja biar aku temani!" jawab Mila.
"Ya sudah, ayo kita belanja. Takut keburu tutup!" kata Wati kemudian bergegas ke kamarnya mengambil dompet.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔