Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dialah Ratu
Langit menggendong tubuh mungil Gadis dengan mudah hanya menggunakan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menjepit rokok yang setengah terbakar. Asap tipis mengepul di udara malam yang dingin.
Gadis gemetar hebat. Bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk tulang, tapi juga karena rasa takut yang masih menyelimuti hatinya. Langit menyadari hal itu, ia mempercepat langkahnya meninggalkan tempat yang bising itu menuju mobil mewah yang sudah menunggu.
Charlie sigap membukakan pintu mobil. Langit dengan hati-hati memasukkan tubuh Gadis ke dalam, lalu ia berjalan memutar menuju kursi pengemudi dan masuk. Mobil pun melaju, diikuti oleh kendaraan rombongan Charlie dari belakang sebagai pengawal.
Di dalam mobil, Langit melepas jaket tebalnya dan menutupinya seluruh tubuh Gadis. Jaket itu begitu besar hingga menutupi kaki gadis malang itu, memberikan kehangatan sekaligus rasa aman.
Dengan ragu-ragu, jari tangan Gadis menarik pelan ujung lengan kemeja pria di sampingnya. Langit menoleh, menatapnya dalam diam.
"Tuan... kita mau ke mana?" tanya Gadis pelan.
Pandangan Langit terpaku sejenak. Wajah gadis di hadapannya terasa begitu familier, seolah bayangan masa lalu yang selalu menghantuinya muncul kembali. Namun ia cepat-cepat menepis pikiran aneh itu.
Belum mendapat jawaban, Gadis kembali menarik baju pria itu dengan sedikit kesal.
"Tuan, kita mau ke mana?" ulangnya.
Langit mendengus halus. Ia gemas melihat tingkah gadis ini. Setiap kali bertemu, panggilannya selalu saja Tuan. Rasanya ingin ia hapus panggilan itu dari mulut manisnya.
Tanpa aba-aba, tangan Langit dengan cepat menarik tengkuk Gadis, mendekatkan wajah mereka, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang kasar namun penuh hasrat tepat di bibir gadis itu.
Gadis terkejut, matanya terbelalak dan tangannya berusaha mendorong dada bidang itu, tapi kekuatannya tak sebanding. Akhirnya Langit melepaskan ciumannya dengan nafas yang sedikit memburu.
"Itu hukuman untukmu," ucapnya tegas. "Karena selalu memanggilku Tuan. Ingat baik-baik... aku bukan Tuanmu!"
Gadis mengangguk pelan, jari-jarinya menyentuh bibirnya yang terasa panas dan berdenyut.
"Om... Kenapa main nyosor aja sih?" celetuk Gadis dengan wajah memerah. "Kita kan masih di jalan. Nanti kalau kecelakaan bagaimana?"
Kening Langit berkerut, ia menatap heran sekaligus geli mendengar jawaban gadis itu.
"Memangnya kalau di rumah... kamu mau melanjutkan ini?" tanya Langit iseng, mencoba menebak isi hati gadis di depannya.
Gadis tampak ragu, pipinya semakin merah membara. Namun anehnya, kepalanya justru mengangguk pelan, seolah menyetujui ajakan itu sepenuhnya.
Langit tersenyum miring, senyum kemenangan. Namun di balik itu, ia heran dengan dirinya sendiri. Kenapa gadis sederhana ini bisa membuat jantungnya berdegup tak karuan? Ia pun mengusap hidungnya dengan punggung jari, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat merasa gugup atau tersipu.
Karena belum juga mendapat jawaban pasti, Gadis kembali menarik-narik ujung baju pria di sampingnya dengan manja.
"Om... kita mau ke mana sih?" tanyanya lagi, tak mau kalah.
Langit menghela napas pelan, lalu menatapnya dengan tatapan lembut.
"Kita pulang," jawabnya singkat dan padat.
"Pulang ke rumah Om?" Gadis mengerjap bingung, lalu wajahnya berubah sedikit cemas. "Tapi kan Om sudah punya istri... nanti kalau istrinya marah atau curiga gimana? Aku nggak mau jadi perebut suami orang lho..."
Langit terkekeh pelan mendengar ocehan gadis itu. Ia menoleh sedikit, menyunggingkan senyum miring yang sangat memikat.
"Memangnya rumahku cuma satu?" sahutnya santai.
Gadis ternganga. Benar juga... pria sekaya Langit mana mungkin hanya memiliki satu tempat tinggal. Ia pun akhirnya diam, membiarkan mobil itu melaju membelah malam, membawa mereka menuju tempat di mana hanya ada mereka berdua, tanpa gangguan siapa pun.
Akhirnya mobil mewah itu berhenti di hadapan sebuah gerbang besi tempa yang menjulang tinggi nan megah. Begitu gerbang terbuka, mata Gadis seakan dimanjakan oleh pemandangan di hadapannya.
Tempat ini jauh lebih pantas disebut sebagai istana daripada sekadar rumah tinggal.
Bangunan utama berdiri gagah dengan arsitektur mewah, diterangi oleh ribuan lampu yang membuatnya bersinar terang bak permata di tengah kegelapan malam. Segala ornamen yang menghiasi dinding dan tiang-tiangnya berkilau memancarkan warna emas, memberikan kesan sangat mewah, mahal, dan penuh wibawa.
Gadis terpana menatapnya lekat-lekat. Ia tak pernah menyangka bahwa tempat tinggal manusia bisa seindah dan sebesar ini.
Gadis masih terpaku, tenggelam dalam kekaguman melihat kemegahan di hadapannya. Ia begitu larut dalam lamunan hingga tak sadar mobil sudah berhenti sempurna.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka lebar. Charlie berdiri sopan di sampingnya menunggu.
"Eh?!" Gadis tersentak kaget, matanya membesar seketika.
Melihat tingkah polos dan kagetnya Gadis, Langit tak kuasa menahan tawa.
Tawa renyah dan bahagia itu terdengar sangat indah. Gadis refleks menoleh ke arah sumber suara, dan seketika itu juga napasnya tercekat.
Saat Langit tertawa, tampak jelas lesung pipi yang dalam dan manis terukir di kedua sisi pipinya yang tegas. Senyum itu begitu hangat, begitu manis, hingga rasanya bisa membuat siapa saja yang melihatnya terkena diabetes seketika!
Gadis menatapnya terpana. Ternyata... kalau dia tertawa, wajahnya bisa semanis ini, batinnya meletup-letup, wajahnya ikut memerah menahan rasa gemas.
"Ayo turun... apa kamu mau tidur di mobil?" tanya Langit sambil tersenyum menggoda, suaranya berhasil membuyarkan lamunan Gadis yang kembali melayang.
Gadis mengangguk cepat, lalu dengan hati-hati ia melangkah turun. Tak lupa ia menoleh ke arah Charlie yang masih berdiri sopan memegangi pintu.
"Makasih ya, Kak Charlie," ucap Gadis manis dengan senyum tulus.
Mendapat ucapan terima kasih dan senyuman itu, Charlie pun ikut tersenyum lebar dan mengangguk hormat.
Namun, suasana hangat itu seketika berubah saat terdengar suara "Hm!"
Langit berdeham keras tepat di sebelah mereka.
Sontak Charlie menoleh ke arah bosnya. Tatapan mata Langit yang tajam dan penuh aura posesif itu langsung membuat nyali Charlie ciut seketika. Senyum di wajah Charlie lenyap seketika, ia langsung menunduk hormat dan mundur perlahan.
"Jaga matamu baik-baik," ucap Langit dingin sambil melirik tajam ke arah sekretarisnya, seolah memberi peringatan keras agar tidak berani melirik wanita miliknya.
Tanpa menunggu jawaban, Langit langsung mengaitkan lengannya dengan tangan Gadis, menariknya mendekat dan membawanya berjalan masuk dengan gaya yang sangat memilik.
Saat mereka melangkah memasuki ruangan utama, pemandangan di depan mata Gadis membuatnya ternganga. Ratusan pelayan, kusir, koki, dan staf rumah tangga berdiri rapi berjajar di sisi kiri dan kanan.
Seketika...
Sreegg...
Serentak mereka semua membungkuk dalam-dalam memberi hormat pada tuannya dan wanita yang bersamanya.
Gadis tersentak kaget, wajahnya langsung memerah padam karena merasa sangat sungkan dan canggung. Ia menarik pelan tangan Langit.
"Nggak perlu begini..." ucap Gadis lagi, suaranya terdengar canggung dan malu.
Nadia, sang kepala pelayan yang berdiri paling depan, hendak menyela dan berkata bahwa itulah prosedur standar, namun Langit lebih dulu menatapnya tajam. Tatapan itu cukup membuat Bella menutup mulutnya rapat-rapat dan menunduk patuh.
Langit tidak peduli dengan rasa sungkan Gadis. Ia perlahan memutar tubuh gadis itu hingga menghadap tepat ke hadapannya, lalu kedua tangannya yang besar dan hangat menopang bahu mungil itu dengan lembut namun tegas.
Ia menatap seluruh staf yang berjajar rapi dengan aura penguasa yang tak tertandingi.
"Dengar baik-baik semua..." suara Langit menggema lantang memenuhi ruangan.
"Mulai detik ini, dialah Ratu di tempat ini. Segala perintahnya, segala ucapannya... sama dengan perintah dan ucapanku. Apa yang dia mau, harus kalian lakukan. Apa yang dia larang, harus kalian hargai. Kalian dengar?!"
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah titah.
Seketika suasana hening pecah. Serentak seluruh pelayan dan staf bersorak dengan penuh semangat dan hormat:
"SELAMAT DATANG, NYONYA RATU!!"
Gadis terpana, matanya berbinar tak percaya. Ia tak pernah menyangka, gadis miskin yang kemarin masih hidup susah, hari ini justru dinobatkan menjadi seorang Ratu di istana megah ini oleh pria yang menyelamatkannya.
Meleleh nggak tuh...