NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Fantasi Wanita
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Keajaiban Luvya

​"Jangan diminum. Ada racun di teh kita semua," ucap Luvya tegas.

​Suasana di gazebo yang tadinya penuh dengan nostalgia palsu seketika membeku. Cangkir yang dipegang Kaisar terhenti di udara, hanya beberapa sentimeter dari bibirnya. Semua mata tertuju pada Luvya, beberapa dengan tatapan tidak percaya, yang lain dengan kecurigaan yang tajam.

​"Apa yang kau katakan, Putri Vounwad?" suara Kaisar terdengar rendah dan bergetar, bukan karena takut, tapi karena murka yang mulai menyulut. "Kau menuduh pelayan istanaku mencoba meracuni penguasanya?"

​"Luvya, apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Sellia dengan suara lirih, wajahnya memucat karena terkejut.

​Luvya tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik cangkir di hadapannya, lalu mendekatkannya ke indra penciumannya sekali lagi. Aroma itu sangat tipis, nyaris tertutup oleh keharuman daun teh berkualitas tinggi, namun bagi Luvya yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di laboratorium Profesor Hedelon, bau itu seperti jeritan yang memekakkan telinga.

​"Aromanya," jawab Luvya singkat. "Ini adalah tanaman racun yang pernah saya teliti saat melakukan riset sihir, Yang Mulia. Tanaman Obsidian Nightshade yang diekstrak dengan metode sihir."

​"Tidak mungkin!" batin Luvya berteriak. Ia mencoba mengingat kembali detail novel yang sempat ia abaikan karena terlalu fokus pada keselamatannya sendiri. Ingatannya berputar cepat ke bab-bab di mana kekacauan awal dimulai.

​Luvya tersadar. Racun ini bukan untuk membunuh secara instan. Racun ini dirancang untuk melemahkan aliran mana dan kekuatan sihir seseorang secara perlahan. Dalam alur novel asli, Lucius hendak menghidupkan kembali naga api. Agar rencananya lancar, ia harus memastikan tidak ada penyihir atau ksatria yang bisa menghalanginya.

​"Apa? Racun?!" Kaisar kini benar-benar meledak. Ia membanting cangkir porselennya kembali ke meja hingga isinya menciprat. "PENGAWAL! Cepat kumpulkan semua pelayan yang menyiapkan teh kami! Tutup seluruh akses keluar dari taman ini!"

​"Tunggu, Yang Mulia," sela Luvya sebelum para pengawal bergerak. "Ini bukan racun yang dimaksudkan untuk membunuh kita seketika. Ini adalah racun yang berusaha melemahkan sihir."

​Mata Luvya melirik ke arah Sellia, Arken, dan diam-diam ke arah Lucian. Ia tahu rencana jahat dari kakak orang ini. Orang di balik semua ini ingin melemahkan sihir Sellia agar kemampuan penyembuhannya tumpul, melemahkan Arken agar ia tidak bisa melawan saat naga terbangkitkan, dan memastikan Lucius tetap memegang kendali.

​Niat hati Luvya ingin menghentikan kejahatan ini secara total. Namun ia menyadari satu hal yang mengerikan, meskipun ia sudah mencoba mengubah alur, takdir besar novel ini seolah menolak untuk berhenti. Kejahatan tetap bergerak, dan aktor di balik layar tetap menjalankan misinya.

​"Siapa yang berani merencanakan ini di bawah hidungku?!" Kaisar terlihat murka, wajahnya yang semula pucat karena sakit kini memerah padam.

​Kael, yang sejak tadi terdiam, melirik Luvya dengan tatapan dalam. Ia tidak tampak terkejut dengan keberadaan racun itu, melainkan lebih terkejut pada keberanian Luvya untuk mengungkapkannya secara terang-terangan di depan keluarga kerajaan.

Kaisar berdiri, auranya yang menekan membuat semua orang di gazebo ikut bangkit.

​"Kurasa kita sudahi perjamuan ini," ucap Kaisar dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. Ia menatap Luvya dengan pandangan yang sulit diartikan, antara curiga dan berterima kasih. "Aku berterima kasih kepadamu, Putri Vounwad. Jika bukan karena penciuman tajammu, mungkin besok kekaisaran ini akan kehilangan pelindungnya. Aku sendiri yang akan mencari siapa dalangnya."

​Luvya hanya bisa menunduk. Ia tahu, pencarian kaisar mungkin akan berakhir sia-sia atau justru akan menyeret orang yang salah, karena sang dalang sesungguhnya adalah keponakan raja itu sendiri, tidak lain adalah lucius.

​Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Kael dan Luvya berpamitan dengan hormat kepada Kaisar. Kael membimbing Luvya menjauh dari gazebo yang kini dipenuhi aura ketegangan. Namun, baru beberapa langkah mereka menyusuri koridor terbuka di luar taman, sebuah suara lembut yang dipenuhi kecemasan memanggil dari belakang.

​"Luvya, tunggu!"

​Sellia berlari kecil mengejar mereka, wajahnya tampak sangat gelisah. Di belakangnya, dengan langkah yang lebih tenang namun penuh selidik, Arken dan Lucian mengikuti.

​Luvya menghentikan langkahnya, yang otomatis membuat Kael juga berhenti dan berdiri tegap di sampingnya bagai perisai. Luvya menghela napas panjang, ia sudah menduga ini akan terjadi.

​"Aku ingin meminta maaf kepadamu, Luvya," ucap Sellia begitu ia sampai di depan mereka. Napasnya sedikit terengah. "Aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang... tentang kejadian di pegunungan itu. Aku tidak bermaksud membiarkan semua orang menganggapmu sudah tiada."

​Luvya hanya terdiam. Menatap wajah Sellia yang penuh penyesalan justru membuatnya merasa semakin asing. Baginya, semuanya percuma. Ia tidak memiliki dendam, tapi ia juga tidak memiliki niat sedikit pun untuk kembali menjadi teman dekat Sellia seperti di masa lalu tubuh ini. Ia hanya ingin hidup tenang sebagai "orang asing" di dunia ini.

​"Iya, aku terima itu," jawab Luvya singkat, mencoba mengakhiri pembicaraan.

​Namun, Sellia tampaknya belum puas. Ia berusaha meraih tangan Luvya, ingin menggenggamnya seolah ingin menyambung kembali ikatan yang telah putus. Refleks, Luvya menepis tangan itu.

​Zzap!

​Tiba-tiba, sebuah letupan sihir berwarna gelap melesat dari ujung jari Luvya. Serangan itu begitu cepat dan tak terduga, meluncur melewati bahu Sellia dan menghantam seekor merpati putih di dalam sangkar hias yang tergantung di koridor. Burung itu seketika terkulai mati tanpa sempat mengepakkan sayap.

​Sellia terjatuh ke lantai karena terkejut oleh tekanan sihir yang tiba-tiba. Arken dan Lucian serentak maju menolong Sellia, memasang posisi waspada.

​"Sebuah sihir melesat membunuh merpati," ucap Arken dengan nada dingin dan tajam, matanya menatap sangkar burung yang kini tak lagi bergerak.

​"Apa yang kau lakukan, Luvya?! Sellia adalah teman baikmu!" bentak Lucian, wajahnya menunjukkan kemarahan yang tidak tertutupi.

​Suasana membeku. Luvya sendiri terpaku di tempatnya, menatap telapak tangannya sendiri yang masih menyisakan sensasi panas. Dari mana sihir itu datang? Ia menyadari ada sesuatu yang baru saja lepas dari dalam dirinya, sesuatu yang liar dan tidak terkendali.

​Luvya mendekat ke arah sangkar itu dengan kaki gemetar. Ia tidak peduli pada tatapan menghakimi Arken atau Lucian. Ia meraih merpati yang sudah mati itu ke dalam tangkup tangannya. Air mata hampir jatuh karena rasa takut dan bingung.

​Tiba-tiba, sebuah cahaya keemasan yang kontras dengan sihir gelap tadi menyelimuti tangannya. Dalam hitungan detik, merpati itu menggelepar, membuka matanya, dan kembali berdiri tegak. Burung itu mengepakkan sayapnya dengan kuat, seolah tidak pernah ada luka atau kematian yang menjemputnya beberapa saat lalu.

​"Apa ini?" bisik Luvya pada dirinya sendiri, suaranya bergetar hebat.

​"Luvya, kau bisa melakukan sihir?" tanya Lucian, suaranya kini berubah dari marah menjadi penuh rasa tidak percaya yang sangat dalam.

Arken bangkit setelah membantu Sellia berdiri. Matanya yang tajam menatap Luvya dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya. Suasana di koridor itu menjadi sunyi senyap. Keajaiban yang baru saja mereka saksikan bukan sekadar sihir biasa, itu adalah kekuatan yang bisa merenggut nyawa dan mengembalikannya dalam hitungan detik.

​Lucian masih terpaku, menatap tempat di mana merpati tadi mati. Sebagai orang yang sangat paham soal kekuatan sihir, dia tahu bahwa apa yang dilakukan Luvya adalah sesuatu yang berada di luar nalar.

​Luvya merasakan kepalanya mendadak pening. Ia tidak ingin memberikan penjelasan apa pun, ia tidak ingin ditanya-tanya lebih lanjut. Rasa takut bahwa ia akan dianggap sebagai monster atau variabel berbahaya mulai menghantuinya.

​"Kael, ayo pergi," ajak Luvya cepat. Ia mencengkeram lengan baju Kael, memohon dengan matanya agar segera dibawa keluar dari tempat itu.

​Kael tidak banyak bertanya. Ia mengangguk kecil, lalu dengan protektif merangkul bahu Luvya, membimbingnya pergi menjauh dari koridor itu tanpa menoleh lagi ke arah Arken, Sellia, maupun Lucian.

​Luvya berjalan dengan langkah terburu-buru, meninggalkan mereka yang masih mematung dalam kebisuan. Ia tidak peduli lagi dengan takdir novel, ia tidak peduli dengan pertemuan Arken dan Sellia. Yang ia tahu hanya satu, ada sesuatu yang mengerikan sekaligus luar biasa yang baru saja terbangun di dalam dirinya, dan ia tidak tahu bagaimana caranya mengendalikannya.

......................

​Hening menyelimuti ruang sempit di dalam kereta kuda yang membawa mereka pulang. Suara derap kaki kuda dan gesekan roda kayu dengan jalanan berbatu menjadi satu-satunya melodi yang mengisi kekosongan di antara mereka. Luvya duduk bersandar, menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan kosong. Pikirannya kalut, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kejadian di koridor tadi, sihir yang membunuh lalu menghidupkan kembali, terus berputar di kepalanya seperti mimpi buruk.

​Namun, yang membuat Luvya merasa aneh adalah pria yang duduk di hadapannya.

​Kael tampak sangat tenang. Tidak ada raut bingung di wajahnya, tidak ada sorot mata yang menuntut penjelasan. Ia seolah-olah menganggap kejadian ajaib tadi hanyalah angin lalu yang tidak perlu dipertanyakan. Seolah-olah, ia tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Luvya.

​"Ada sesuatu yang terjadi antara kau dengan mereka?"

​Suara berat Kael memecah keheningan. Namun, bukannya bertanya soal sihir, ia malah melontarkan pertanyaan yang sama sekali berbeda.

​"Mereka?" Luvya mengerjapkan mata, mencoba fokus.

​"Tiga orang tadi," lanjut Kael datar.

​Luvya membuang muka ke arah jendela, menatap pepohonan yang berlari menjauh. "Tidak ada," jawabnya singkat.

​Kael terdiam sejenak, memperhatikan profil samping wajah Luvya. "Sepertinya Luvya terlihat membenci Sellia."

​Luvya tersentak kecil, lalu menoleh cepat. "Membenci? Tidak tuh!"

​"Baguslah."

​Mendengar pernyataan barusan, rasa penasaran Luvya mendadak bangkit. Ada nada aneh dalam suara Kael saat mengatakan 'baguslah', seolah ada beban yang terangkat atau justru ada peringatan yang tersembunyi.

​"Apa maksudmu, Kael?" tanya Luvya, matanya menyipit menuntut jawaban.

​"Tidak apa-apa," jawab Kael pendek. Ia kembali menatap lurus ke depan, wajahnya kembali menjadi topeng yang tak terbaca.

​Lagi-lagi, Kael terlihat menyembunyikan sesuatu. Sikapnya yang terlalu tenang menghadapi keajaiban sihir Luvya, namun sangat sensitif terhadap perasaan Luvya pada Sellia, membuat Luvya merasa bahwa pria di depannya ini tahu jauh lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.

Aku benar-benar harus mengawasimu kael.

1
Lauren Florin Lesusien
masa ini luvy udh 2 kali kehidupan mudah duhasut trhur💀
Rembulan Pagi: engga kokk, luvya langsung sadar kok ada yang aneh, nanti dia pura-pura makan umpan🤭
total 1 replies
kiu kiu
lanjut thor...semakin menarik..
kiu kiu
lucius teramat berambisi...jgn pernah mau luvya.istana bukan tempat yg nyaman utkmu luvya...
kiu kiu
hauo loh...si kael mulai bereaksi matanya mulai menajam...seolah olah luvya nggk boleh di sentuh siapapun...
za za
semangat thor ceritamu bagus
za za
cerita menarik
penulisannya sangat bagus
jayyyiee
cepet update ya thor
kiu kiu
lanjut thor....semangat berkarya...
za za
makin penasaran.
jayyyiee
malu maluin sumpah
ojaa.
menye-menye bet dah karakternya
Rembulan Pagi: kalau tidak suka, tidak usah berkomentar dan out saja dari ceritanya😍 toh masih ada banyak karya yang tidak menye-menye yang bisa kakaknya baca
total 2 replies
kiu kiu
lanjutkan thor...apakah luvya akan mengeluarkan kekuatannya...ketika dlm keadaan genting..klu bisa jangan thor.ingat pesan profesor hedelon
kiu kiu
arken ini tk tau terima kasih ya udah di tolong dari racun.masih saja membenci luvya.dan ak rasa luvya tk pernah jujur kepada arken.bagaimna kisah hidupnyabersama luvya.kenpa si author bikin cerita kesengsaraan bagi luvya.
kiu kiu
si profesor nggk tau malu datang hanya ingin mengacaukan pikiran luvya.kasihan luvya.lebih baik keluar dari negeri itu dan asuk ke kerajaan lain..
kiu kiu
kpn updatenya thor..
Fatimah Ima
lanjuuttt thor aku suja ceritanya
kiu kiu
lanjut thor...semangat..💪💪
kiu kiu
kurang ajar ini si lucius...apa thor emang menginginkan lucius jadi pria jahat utk luvya.klupun dia jahat pasti memanfaatkan luvya.kasihan dong thor si luvya tak pernah mendapat kebahagiaaan...
kiu kiu
lanjutkan thor... klupun kael sangat menyayangi luvya.dia tidak akan ragu utk melindunginya.
lexxa
apa kael tau tentang kehidupan sebelumny?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!