Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Hujan Batu, Fitnah Keji, dan Sup Anti-Pagebluk
Situasi di kediaman Jenderal memanas. Bukan karena kompor Kirana, tapi karena api amarah rakyat.
Fitnah Laras bekerja lebih cepat daripada racun.
"BAKAR! BAKAR PENYIHIR ITU!"
"USIR TANTRI DARI KAMPUNG KITA!"
"KEMBALIKAN KESEHATAN ANAK KAMI!"
Suara teriakan ratusan orang yang bersahut-sahutan membangunkan aku dari tidur siangku yang nyenyak.
Gelas kaca di meja rias bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit.
Aku melompat dari kasur, menyambar keris kecil hiasan dinding (jaga-jaga), dan berlari ke jendela.
Pemandangan di luar gerbang utama kediaman Jenderal mengerikan.
Ratusan warga desa—pria, wanita, tua, muda—berkumpul membawa obor, cangkul, dan batu. Wajah mereka merah padam karena marah dan putus asa. Beberapa di antara mereka terlihat kurus kering, pucat, dan dibopong oleh kerabatnya.
Prajurit penjaga gerbang kewalahan menahan dorongan massa.
"Nyonya! Nyonya jangan keluar!" Sari mendobrak pintu kamarku, wajahnya banjir air mata. "Mereka... mereka mau membunuh Nyonya! Mereka bilang wabah muntah-berak yang menyerang desa adalah kutukan karena Nyonya masih hidup di rumah ini!"
Aku menggeram. "Laras."
Pasti ulah ular betina itu. Kemarin aku mendengar pelayannya menyebarkan desas-desus di pasar bahwa "Hawa jahat dari Putri Selatan membuat Dewa marah".
Sialan. Di zaman tanpa sains ini, "Kutukan" adalah kambing hitam paling mudah untuk setiap bencana.
PRANG!
Sebuah batu sebesar kepalan tangan melayang melewati tembok pagar, menghantam kaca jendela kamarku hingga pecah berkeping-keping. Pecahannya nyaris menggores pipiku.
"Kurang ajar," desisku.
Aku melihat ke arah Paviliun Teratai Putih.
Di balkon lantai dua yang aman dan jauh dari jangkauan lemparan batu, Laras berdiri. Dia memakai baju putih bersih, menatap kerusuhan di gerbang dengan wajah "prihatin" yang dibuat-buat, tapi sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
Dia menikmati pertunjukan ini. Dia ingin massa yang "mengeksekusi" aku, supaya tangannya tetap bersih.
Aku menarik napas panjang.
Oke. Kalau aku diam di kamar, mereka akan membakar rumah ini dan aku mati terpanggang.
Kalau aku keluar, aku mungkin dilempari batu.
Tapi aku punya satu keuntungan: Aku tahu apa itu "Wabah Muntah-Berak".
Itu bukan kutukan. Itu Kolera atau Disentri. Penyakit akibat sanitasi buruk dan air kotor.
Dan obatnya bukan mantra atau tumbal nyawa, tapi Hidrasi.
"Sari," kataku tegas. "Buka pintu gudang dapur. Keluarkan semua garam, gula merah, dan jahe yang kita punya. Sekarang!"
"Nyonya mau masak di saat begini?!" Sari histeris.
"Kita tidak akan masak untuk makan. Kita masak obat. Cepat!"
Aku menyambar jubah tebal untuk menutupi tubuhku (dan melindungi diri dari lemparan kerikil), lalu berlari menuju dapur.
[Dapur Utama - Zona Darurat]
"Mbok Darmi! Rebus air! Sebanyak mungkin! Pakai panci paling besar!" perintahku.
Para pelayan dapur gemetar ketakutan mendengar suara amuk massa di luar, tapi perintahku yang otoriter membuat mereka bergerak otomatis.
Aku meracik Oralit Alami.
Prinsip dasar pengobatan diare dan muntaber adalah mengganti cairan tubuh yang hilang. Air putih saja tidak cukup, butuh elektrolit.
Rumusnya: Air matang + Gula + Garam.
"Masukkan satu genggam garam kasar ke panci itu! Tambahkan sepuluh batok gula merah! Aduk sampai larut!"
Di tungku sebelah, aku membuat Sup Ayam Jahe Anti-Wabah.
Ayam direbus lama dengan bawang putih geprek yang banyak (antibiotik alami) dan jahe tua yang dibakar (menghangatkan perut dan anti-mual). Aku juga memasukkan kunyit (anti-radang) dan serai.
Baunya harus kuat. Harus menyengat. Harus meyakinkan warga bahwa ini adalah "Ramuan Sakti".
"Nyonya... mereka mulai mendobrak gerbang..." lapor prajurit penjaga dapur dengan wajah pucat.
"Biarkan mereka masuk ke halaman depan," kataku tenang sambil mengaduk kuali raksasa. "Bawa panci-panci ini ke sana."
[Halaman Depan Kediaman]
Gerbang kayu jati tebal itu berderit, lalu jebol.
Massa merangsek masuk ke halaman luas.
"MANA PENYIHIR ITU?! KELUAR KAU TANTRI!"
"MATI KAU!"
Prajurit Jenderal Arga menghunus pedang, membentuk barikade. Situasi genting. Sedikit lagi akan terjadi pertumpahan darah.
"BERHENTI!"
Suaraku menggelegar, diperkuat dengan corong seng yang kubuat dadakan.
Aku berdiri di atas undakan teras, dikawal oleh Mbok Darmi dan Sari yang membawa panci besar berasap.
Aku tidak memakai tudung. Aku membiarkan mereka melihat wajahku. Tegas. Berani. Dan sehat walafiat.
Seorang warga melempar tomat busuk. Splat! Mengenai bahuku.
Aku tidak bergeming. Aku mengusap noda itu dengan tenang.
"Kalian bilang aku penyihir? Kalian bilang aku penyebab wabah?" teriakku lantang. "Lihat aku! Aku minum air yang sama dengan kalian! Aku bernapas udara yang sama! Kalau ini kutukan, kenapa aku masih berdiri tegak di sini sementara anak-anak kalian sakit?!"
Hening sejenak. Warga bingung dengan logikaku.
"Itu karena kau punya ilmu hitam!" teriak seorang provokator (pasti suruhan Laras).
"Bukan!" bantahku. "Itu karena kalian minum air sungai yang kotor! Kalian buang kotoran di sungai, lalu mencuci beras di sana! Itu racunnya!"
Aku menunjuk panci besar di sebelahku.
"Kalian mau anak kalian sembuh? Atau mau anak kalian mati sia-sia sambil teriak-teriak di sini?"
Seorang ibu muda yang menggendong anak balita yang lemas menerobos barisan. Wajah anak itu cekung, matanya tertutup, bibirnya kering pecah-pecah. Dehidrasi parah.
"Tolong... tolong anak saya, Nyonya... dia sudah buang air air sepuluh kali hari ini... badannya dingin..."
Ibu itu tidak peduli politik atau kutukan. Dia cuma seorang ibu yang putus asa.
Aku turun dari teras, menghampiri ibu itu. Prajurit mencoba menahanku, tapi aku menepisnya.
Aku mengambil gelas bambu, menciduk Cairan Oralit Gula Merah hangat dari panci.
"Minumkan ini. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit," kataku lembut.
Ibu itu ragu sejenak, tapi melihat tatapan mataku yang yakin, dia menyuapkan air keruh kecoklatan itu ke mulut anaknya.
Satu sendok.
Anak itu menelan. Tidak muntah.
Dua sendok.
Anak itu membuka mata sedikit. Rasa manis asin gurih itu memancing rasa hausnya. Dia mulai meminumnya dengan rakus.
"Lagi... Bu..." suara anak itu serak, tapi terdengar.
Ibu itu menangis histeris. "Dia bicara! Dia mau minum! Tadi pagi dia bahkan tidak bisa menelan air!"
Massa terhenyak. Keajaiban terjadi di depan mata mereka.
Bukan sihir. Cuma garam dan gula.
"Siapa lagi yang sakit perut dan lemas?! MAJU!" teriakku. "Prajurit! Bagikan Sup Ayam Jahe ini ke mereka yang sakit! Bagikan Air Gula Garam ini ke semua orang!"
Suasana berbalik 180 derajat.
Yang tadinya mau melempar batu, kini melempar gelas (untuk minta isi ulang).
Aroma Sup Ayam Jahe yang kuat mulai memenuhi halaman. Bau bawang putih dan jahe yang sedap menggantikan bau keringat dan amarah.
Sari dan Mbok Darmi sibuk melayani warga.
"Ayo, Pak, diminum. Ini resep rahasia Nyonya Tantri. Ampuh!" promo Sari bangga.
Aku melihat warga mulai duduk tenang di rumput, menyeruput sup hangat. Wajah-wajah tegang mulai rileks. Mereka yang sakit perut merasa hangat dan nyaman.
Energi mereka kembali.
Aku mendongak ke arah balkon Paviliun Teratai.
Laras masih di sana. Wajahnya pucat pasi, tangannya mencengkeram pagar balkon sampai bukunya memutih.
Rencananya gagal total.
Bukannya mati diamuk massa, aku malah membuka Posko Kesehatan Dadakan di halaman rumahnya sendiri.
Aku mengangkat gelasku ke arah Laras, lalu meminumnya dengan gaya cheers.
Kesehatanmu lho, Dik.
[Sore Hari - Situasi Terkendali]
Halaman rumah Jenderal sudah sepi. Warga pulang membawa bekal sup dan resep oralit yang sudah kujelaskan (rebus air sampai mendidih, kasih garam gula).
Aku duduk lelah di tangga teras. Jubahku kotor kena tomat busuk.
"Nyonya..."
Seorang pria tua, kepala desa, datang menghampiriku. Dia berlutut, diikuti beberapa warga yang tersisa.
"Ampuni kebodohan kami, Nyonya Tantri. Kami termakan hasutan. Nyonya bukan penyihir. Nyonya adalah tabib dewa."
"Bangun, Pak," kataku lelah. "Saya bukan tabib. Saya cuma tukang masak yang tahu bumbu dapur. Ingat pesan saya: Masak air sampai mendidih. Cuci tangan sebelum makan. Itu saja kuncinya."
"Baik, Nyonya! Kami akan patuhi! Kami akan bangun patung Nyonya di desa!"
"Eh, jangan! Nggak usah lebay!" tolakku panik. Patung Tantri memegang panci? No thanks.
Kepala Desa itu pergi dengan rasa hormat yang mendalam.
Saat aku hendak masuk kembali ke rumah, aku merasakan tatapan tajam dari arah gerbang samping.
Bukan Laras.
Bukan warga.
Di sana, bersandar di bawah pohon beringin, berdiri seorang pria berjubah biru langit dengan kipas lipat yang menutupi separuh wajahnya.
Pangeran Panji.
Dia melihat semuanya. Dia melihat bagaimana "Rana" si gadis pasar memimpin massa dan menyembuhkan wabah.
Dia menurunkan kipasnya. Senyum misterius tersungging di bibirnya.
"Menarik..." gumam Panji pelan. "Rana... Tantri... Ternyata satu orang yang sama. Kakak iparku ternyata menyimpan berlian di dalam lumpur."
Panji berbalik dan menghilang dalam bayangan, membawa rahasia identitasku bersamanya.
[Malam Hari - Paviliun Teratai Putih]
PRANG!
Laras membanting vas bunga mahal hingga hancur berkeping-keping.
"Gagal! Semuanya gagal! Kenapa wanita sialan itu tidak mati-mati juga?!" teriak Laras histeris.
Pelayan pribadinya, Inah, bersujud ketakutan. "Nona... sabar Nona... Nyonya Tantri sepertinya punya ilmu baru..."
"Ilmu baru apa?! Dia cuma masak air gula! Kenapa orang-orang bodoh itu memujanya?!"
Laras mondar-mandir dengan napas memburu. Matanya berkilat jahat.
Cara kasar tidak mempan. Cara halus tidak mempan.
Tantri semakin kuat. Pengaruhnya di rumah ini semakin besar. Pelayan tunduk padanya, warga desa memujanya, dan Arga... Arga mengirim surat khusus padanya.
"Aku harus ganti strategi," desis Laras.
Dia membuka laci rahasia di meja riasnya. Mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening tak berbau.
Ini bukan racun untuk membunuh. Ini racun jenis lain.
Racun Gairah (Afrodisiak).
"Sebentar lagi Jenderal pulang," gumam Laras sambil tersenyum licik. "Jika aku tidak bisa menyingkirkan Tantri, maka aku harus memastikan Arga menjadi milikku seutuhnya. Dan cara tercepat mengikat laki-laki adalah memberinya keturunan."
"Dan untuk Tantri..." Laras menatap cermin. "Aku akan membuat skandal. Skandal perzinahan yang akan membuatnya diusir tanpa hormat."
Laras tertawa pelan. Rencana jahat baru telah disusun.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal