SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran di Antara Dua Sisi
Setelah simulasi berakhir, ketegangan di kelas berangsur mencair, namun tidak bagi Aruna. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi, ada kepuasan intelektual karena ia berhasil menaklukkan soal-soal sulit dengan kepalanya yang jauh lebih ringan.
Di sisi lain, ada tatapan menuntut dari Adrian yang seolah sedang menanti laporan detail mengenai setiap jawaban yang Aruna lingkari.
"Na, kita perlu bahas soal nomor empat puluh dua tadi," ujar Adrian sambil berjalan menyejajarkan langkah dengan Aruna menuju kantin. "Menurutku, jawabannya bukan opsi C, karena protein pengikatnya tidak aktif di suhu setinggi itu. Kamu jawab apa tadi?"
Aruna menghentikan langkahnya sejenak. Ia melihat Sasha, Jelita, dan Lulu sudah melambai-lambaikan tangan dari meja pojok kantin. "Kak, ujiannya baru aja selesai sepuluh menit yang lalu. Boleh nggak kita nggak bahas itu dulu? Aku mau makan bakso dan ketawa-ketawa bareng temen-temen aku."
Adrian tampak sedikit tersentak. Ia tidak terbiasa dengan Aruna yang menolak diskusi akademis. "Aku cuma mau kita sinkron, Na. Biar nanti pas pengumuman kita nggak kaget."
"Aku nggak akan kaget kalau nilaiku turun satu atau dua poin, Kak. Dan Kakak juga harusnya gitu," jawab Aruna tenang, lalu melangkah pergi meninggalkan Adrian yang masih berdiri mematung di tengah koridor.
---
Di meja kantin, suasana jauh lebih hidup. Bau kuah bakso yang gurih dan es teh manis menjadi penawar stres yang paling ampuh.
"Na! Gila ya, gue liat tadi Pak Ketua OSIS kayak kena mental pas lo tinggalin," celetuk Sasha sambil tertawa puas. "Akhirnya sahabat gue ini punya taring!"
"Gue cuma capek dengerin istilah biologi, Sha. Gue mau jadi manusia normal dulu sejam aja," balas Aruna sambil menyuap baksonya.
Tiba-tiba, Jelita menyenggol bahu Aruna dengan siku. "Eh, liat tuh. Si 'manual book' lo lagi lewat."
Aruna menoleh dan melihat Aska berjalan masuk ke kantin bersama teman-teman basketnya. Aska tidak langsung menuju stan makanan, ia justru berbelok dan melewati meja Aruna. Saat jarak mereka sudah cukup dekat, Aska sengaja menjatuhkan sebuah kunci motor di atas meja Aruna dengan suara *klontang* yang cukup keras.
"Ketinggalan di jok gue kemarin," ucap Aska singkat tanpa ekspresi berlebihan.
Meja itu mendadak hening. Sasha, Jelita, dan Lulu saling pandang dengan mata membelalak. Kunci motor? Di jok motor Aska? *Kemarin?*
"Oh... iya, makasih, Ka," jawab Aruna dengan wajah yang mulai memanas. Ia segera menyambar kunci itu dan memasukkannya ke dalam saku.
Aska hanya menyeringai tipis, lalu melanjutkan langkahnya. Namun, sebelum benar-benar menjauh, ia sempat berbisik cukup pelan sehingga hanya Aruna yang dengar, "Jangan tegang gitu, ntar baksonya keselek."
Begitu Aska hilang di kerumunan, ketiga sahabat Aruna langsung menyerbu.
"ARUNA! JELASIN SEKARANG!" tuntut Sasha dengan suara tertahan namun penuh penekanan. "Kemarin katanya mau istirahat total, kok bisa kunci motor lo ada di jok dia? Lo jalan bareng dia pas hari Minggu?!"
"Enggak! Itu... itu kunci rumah yang gantungan kuncinya mirip kunci motor," kilah Aruna panik. "Lagian kemarin itu cuma kebetulan ketemu pas gue beli es krim."
"Kebetulan ketemu terus kunci lo bisa pindah ke jok motor dia? Logika lo di mana, wahai sang juara kelas?" goda Jelita sambil tertawa.
Aruna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tahu ia tidak bisa berbohong di depan para detektif ini. "Oke, oke. Dia emang nemenin gue jalan bentar pas gue lagi suntuk. Tapi itu beneran cuma refreshing, nggak lebih!"
---
Sore harinya, saat Aruna sedang menunggu jemputan di depan gerbang, Adrian menghampirinya lagi. Kali ini wajahnya tampak lebih lembut, mungkin ia sadar bahwa sikapnya tadi siang terlalu berlebihan.
"Na, aku minta maaf ya soal tadi di kantin. Aku sadar aku terlalu ambisius," ucap Adrian tulus. "Sebagai gantinya, sore ini aku nggak akan bahas pelajaran. Kita jalan ke toko buku? Ada novel baru yang kayaknya kamu suka."
Aruna menatap Adrian. Ajakan itu terdengar manis, tapi ia merasa seperti sedang kembali ke pola yang lama. Teratur, rapi, dan selalu tentang "hal-hal yang bermanfaat".
"Maaf, Kak. Sore ini aku udah ada janji lain," jawab Aruna bohong. Padahal ia hanya ingin pulang dan tidur.
"Oh, gitu ya? Sama siapa?"
Belum sempat Aruna menjawab, sebuah raungan mesin motor sport hitam berhenti tepat di depan mereka. Aska membuka visor helmnya, menatap Adrian dengan tatapan menantang, lalu beralih ke Aruna.
"Ayo, Anak Pintar. Katanya mau belajar benerin rantai yang kendor?" ucap Aska.
Aruna tertegun. Aska baru saja memberinya "pintu keluar" yang sangat tidak terduga. Ia melihat ke arah Adrian yang tampak sangat bingung, lalu kembali menatap Aska yang memberikan kerlingan rahasia.
"Ah... iya! Aku hampir lupa. Maaf ya Kak Adrian, aku duluan," Aruna segera naik ke boncengan Aska tanpa menunggu balasan dari Adrian.
Motor itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan Adrian yang berdiri dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Di atas motor, Aruna tertawa kecil sambil memegang pundak Aska.
"Lu bohong ya? Gue nggak pernah bilang mau belajar benerin rantai," teriak Aruna di balik angin.
"Gue cuma liat lu butuh diselametin dari pembicaraan membosankan itu, Na!" balas Aska sambil menambah kecepatan. "Lagian, muka si pangeran tadi bener-benar *priceless*!"
Malam itu, Aruna sadar bahwa garis hidupnya kini tidak lagi lurus. Ada tikungan tajam, ada tanjakan terjal, dan ada kecepatan yang membuatnya merasa benar-benar hidup. Bersama Adrian ia merasa aman, tapi bersama Aska, ia merasa berani. Dan bagi Aruna, keberanian adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini untuk menghadapi dunianya sendiri.
---
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻