Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Langkah kaki tegas bergema di koridor kantor saat kedatangan Kompol Hendrawan memecah ketegangan.
Ia baru saja kembali dari rapat koordinasi di Polda, namun disambut dengan wajah cemas buatan dari Riko yang langsung mengatakan bahwa Zaidan adalah pengkhianat.
"Komandan, saya minta maaf harus menyampaikan ini, tapi Zaidan tertangkap basah menjual info intelijen kita kepada jaringan Guntur," ucap Riko sambil menyodorkan beberapa lembar dokumen palsu yang sudah disiapkan.
"Dia melarikan diri saat akan diperiksa, dan kami menemukan alamat persembunyiannya bersama seorang wanita yang diduga sebagai perantara transaksi itu."
Kompol Hendrawan merasa dikhianati. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap.
Sebagai mentor yang selama ini membela Zaidan, kabar ini bagaikan pisau yang menghujam punggungnya.
Tanpa menunggu laporan resmi, ia melajukan mobilnya menuju ke rumah kontrakan Zaidan sesuai alamat yang diberikan Riko, berniat menangkap tangan anak buah kesayangannya itu.
Tok tok tok!
Gedoran keras pada pintu kayu rumah kontrakan itu mengejutkan Sulfi yang sedang merapikan meja makan.
Dengan perasaan was-was, Sulfi membuka pintu. Ia terperanjat melihat seorang pria berbadan tegap dengan seragam perwira tinggi berdiri di hadapannya dengan tatapan menghakimi.
"Ibu Sulfi?" tanya Kompol Hendrawan dengan suara berat dan dingin.
Sulfi tertegun, matanya membelalak mengenali pria di depannya.
Ingatannya kembali ke masa lalu, saat ia masih aktif di dunia hukum dan sering berkoordinasi dalam kasus-kasus besar.
"Pak Hendrawan?" ucap Sulfi lirih, suaranya bergetar antara rasa kaget dan ketakutan.
Kompol Hendrawan seketika terpaku. Amarahnya yang tadi meluap mendadak tertahan di tenggorokan. Ia mengenal wajah ini.
"Bukankah, Anda Sulfi Mentari? Pengacara kasus korupsi kelas kakap tiga tahun lalu?"
Hening menyergap. Kompol Hendrawan kini bingung; ia datang untuk menangkap pengkhianat, namun justru bertemu dengan seorang pengacara handal yang ia tahu memiliki integritas tinggi, yang kini tinggal di kontrakan kumuh dan berstatus sebagai istri dari detektif yang dituduhnya sebagai mata-mata.
Sulfi menganggukkan kepalanya, mencoba menguasai kegelisahannya di depan perwira tinggi yang tampak sangat emosional itu.
"Iya, saya Sulfi Mentari. Ada apa Bapak di sini? Suami saya sudah berangkat tadi pagi ke kantor," jawab Sulfi dengan nada tenang namun tegas, khas seorang praktisi hukum.
"Berangkat ke mana? Ke musuh?" semprot Kompol Hendrawan dengan suara meninggi.
Matanya menyisir rumah kontrakan yang sempit itu, mencari sosok Zaidan.
"Jangan bohong, Sulfi! Saya baru dapat laporan kalau Zaidan menjual informasi tim kita ke jaringan Guntur!"
Sulfi terperanjat, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Maksud Bapak apa? Suami saya mempertaruhkan nyawanya untuk memburu Guntur sampai kami terpaksa hidup begini, dan Bapak menuduhnya berkhianat?"
"Riko punya buktinya! Zaidan melarikan diri saat akan diperiksa!"
Mendengar nama Riko disebut, insting Sulfi sebagai pengacara langsung bekerja. Ia tahu ada yang tidak beres.
Tidak mungkin Zaidan yang semalam tidur dengan lelap karena kelelahan, tiba-tiba menjadi buronan setelah berpamitan dengan senyuman pagi tadi.
"Ini fitnah, Pak Hendrawan. Saya tahu hukum, dan saya tahu suami saya," tegas Sulfi.
Sulfi yang merasa ada yang tidak beres segera mengambil kerudungnya dan mengajak Kompol Hendrawan menuju ke kantor polisi.
"Pak, jika Bapak tidak percaya, mari kita ke kantor sekarang. Saya ingin melihat bukti-bukti itu. Dan satu hal yang harus Bapak tahu, Zaidan tidak melarikan diri. Dia pergi ke kantor untuk menghadap Anda! Jika dia tidak ada di mejanya, berarti ada seseorang yang menahannya!"
Sepanjang perjalanan di dalam mobil dinas Kompol Hendrawan, suasana sangat tegang.
Sulfi terus memanjatkan doa, sementara Kompol Hendrawan mulai merasa ada celah dalam laporan Riko.
Melihat keberanian Sulfi—seorang pengacara yang ia tahu bersih—membuat keraguannya tumbuh.
Sesampainya di kantor, Sulfi tidak menunggu Kompol Hendrawan membukakan pintu.
Ia langsung melangkah masuk dengan aura yang berbeda; bukan lagi janda desa yang lemah, melainkan Sulfi Mentari, sang pengacara handal yang siap membela suaminya.
Langkah Sulfi tidak berhenti di situ. Sambil berjalan cepat menyusuri koridor kantor polisi yang dingin, ia merogoh ponselnya.
Dengan jari yang gemetar namun pasti, Sulfi juga menghubungi Rani, sahabat lamanya yang merupakan seorang jurnalis investigasi berani, untuk datang membantunya.
Ia tahu, dalam menghadapi aparat yang korup, sorotan publik adalah senjata terbaik.
Melihat kedatangan Sulfi bersama Kompol Hendrawan, Riko yang sedang bersantai di lobi seketika menegang. Namun, ia mencoba menutupi kegugupannya dengan agresi.
Ia melangkah maju, menghadang jalan Sulfi dengan wajah angkuh.
"Berani sekali kamu datang ke sini, jalang!" bentak Riko dengan nada merendahkan.
Ia menoleh ke arah Kompol Hendrawan. "Komandan, lihat! Ini dia wanita perantara Guntur itu! Dia pasti datang untuk menyuap kita! Tangkap mata-mata ini!"
PLAKKK!
Suara tamparan keras menggema di seluruh lobi, membuat beberapa anggota yang berjaga di sana mematung.
Kompol Hendrawan langsung menampar Riko dengan kekuatan penuh hingga sudut bibir pria itu berdarah.
"Jaga mulutmu, Riko!" geram Kompol Hendrawan dengan suara yang menggetarkan ruangan.
"Kamu pikir aku tidak tahu siapa wanita ini? Dia Sulfi Mentari, dan dia datang bukan sebagai tersangka, tapi sebagai pembela!"
Kompol Hendrawan mencengkeram kerah seragam Riko, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Amarah yang tadi tertuju pada Zaidan kini sepenuhnya beralih pada Riko.
"Tunjukkan di mana Zaidan?!" bentak sang Komandan.
"Kalau sampai seujung rambutnya terluka karena permainan gila ini, aku sendiri yang akan memastikan kau membusuk di penjara!"
Riko yang ketakutan, melihat nyalinya ciut di bawah tatapan murka Kompol Hendrawan dan tatapan tajam Sulfi yang seolah menelanjangi semua kebohongannya.
Dengan kaki gemetar dan tangan yang dingin, ia membawanya ke ruang bawah tanah atau sel tikus.
Sulfi mengikuti dari belakang dengan jantung yang berdegup kencang.
Sepanjang lorong yang gelap dan lembap itu, ia hanya bisa berdoa agar suaminya masih dalam keadaan selamat.
Setiap langkah kaki yang bergema di tembok beton itu terasa seperti hitungan mundur menuju kebenaran yang menyakitkan.
Lorong bawah tanah yang gelap dan lembap itu terasa semakin mencekam saat langkah kaki mereka bergema di dinding beton.
Bau apek dan pengap menusuk hidung, namun Sulfi tidak peduli.
Fokusnya hanya satu: Zaidan.
Riko membuka sel dengan tangan gemetar.
Kunci besi itu berkerit nyaring sebelum pintu berat tersebut terbuka lebar.
Sulfi membelalakkan matanya saat melihat suaminya yang tergeletak pingsan di lantai semen yang dingin.
Kondisinya sangat mengenaskan. Zaidan tampak lemas dengan tangan terborgol di belakang punggung, dan yang membuat Sulfi hampir kehilangan napas adalah mulutnya yang tersumpal kain yang juga menutup hidungnya, menghalangi jalan napas pria itu hingga wajahnya tampak pucat kebiruan.
"Mas Zaidan!" jerit Sulfi histeris.
Ia langsung lari bersimpuh di samping tubuh suaminya, dengan cekatan menarik kain yang menyumpal mulut dan hidung Zaidan.
Sulfi memeriksa denyut nadi di leher Zaidan sambil menangis tersedu.
"Pak, dia hampir tidak bernapas! Tolong!"
Wajah Kompol Hendrawan merah padam melihat pemandangan keji di depan matanya.
Ini bukan lagi prosedur pemeriksaan, ini adalah upaya pembunuhan berencana.
"Ambulans! Cepat!" bentak Kompol memanggil beberapa orang untuk membawa Zaidan ke rumah sakit.
Beberapa petugas medis kepolisian berlari membawa tandu, mengangkat tubuh kaku Zaidan keluar dari lubang neraka itu.
Sulfi terus menggenggam tangan dingin suaminya, tak mau lepas sedetik pun saat mereka bergerak menuju lobi.
Sebelum meninggalkan lorong itu, Kompol Hendrawan berbalik.
Ia menatap Riko yang kini bersandar di tembok dengan wajah pucat pasi, menyadari bahwa karier dan hidupnya baru saja berakhir.
"Riko, urusan kita belum selesai," ucap Kompol dengan suara rendah yang mengandung ancaman maut.
"Jangan harap kau bisa melihat matahari besok sebagai orang bebas. Borgol dia! Masukkan dia ke sel yang sama dengan yang dia gunakan untuk Zaidan!"
Riko hanya bisa terdiam lemas saat rekan-rekannya sendiri kini berbalik memborgolnya.
Sementara itu, mobil ambulans melesat pergi membelah jalanan kota, membawa Zaidan yang tengah berjuang antara hidup dan mati, dengan Sulfi yang terus membisikkan doa di telinganya.