Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Adinda terkejut. Matanya langsung menoleh ke arah seorang pria yang tiba-tiba menghampirinya dengan tatapan penuh tuduhan.
Pria itu langsung menghampiri putri kecilnya itu yang menangis kencang. Tangisnya semakin pecah, sesenggukan, seolah menahan rindu yang lama terpendam.
"Kamu apakan anakku itu?" tanya pria itu dengan nada tinggi, penuh kecurigaan.
Adinda menggeleng cepat, wajahnya panik. "Enggak… sa-saya tidak menyakiti anak Anda," sahutnya terbata.
Namun pria itu tidak percaya dan justru semakin menjadi-jadi. "Kalau tidak kamu apa-apakan, kenapa anakku menangis seperti ini? Aneh!" dengusnya kasar.
Adinda semakin bingung. Matanya beralih ke anak kecil itu, tangisnya belum berhenti, bahkan anak itu justru menatap Adinda lekat.
Sangat lekat. Seolah sedang melihat seseorang yang begitu ia kenal.
"Ma… ma…" lirih anak itu di sela tangisnya.
Deg.
Jantung Adinda seketika berdegup kencang, tubuhnya mendadak kaku, ia adalah wanita yang belum pernah melahirkan seorang anak? Tapi kenapa anak sekecil itu menyebutkan kata yang dianggap sangat keramat. 'Mama'
Adinda mulai menepis perasaan itu jauh-jauh ia kembali menatap wajah pria yang mesih terus memberikan tatapan intimidasi terhadap dirinya.
"Aku… aku tidak menyentuh anak Bapak sedikit pun!" sentaknya, kali ini dengan nada lebih tegas, meski hatinya mulai diliputi keanehan.
Namun anak itu justru semakin menangis. Tangannya terulur ke arah Adinda, seolah ingin dipeluk.
Tanpa mengurangi rasa hormat, pada sang bapak entah kenapa tangannya refleks terlentang untuk menyambut uluran tangan anak kecil itu.
Mereka pun akhirnya berpelukan.
"Mama," satu kalimat itu yang membuat jantung Adinda bergetar.
Anisa melepas pelukannya pelan lalu berkata. "Sayang, Tante bukan Mama mu," jelas Adinda.
Tapi dengan cepat anak kecil itu mulai menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mama," sahutnya seolah menegaskan jika seorang wanita dihadapannya itu mamanya.
Adinda mengerutkan dahinya.Ia masih bingung, namun berusaha menenangkan anak kecil itu. Perlahan ia menundukkan tubuhnya agar sejajar.
"Sudah… adek diam ya," ucapnya lembut. "Coba bilang sama Papa, kenapa adek menangis."
Pria itu langsung meraih tubuh anaknya, menggendongnya dengan hati-hati. Tatapannya berubah seketika—lembut dan penuh kasih, sangat berbeda saat ia menatap Adinda tadi yang penuh kecurigaan.
"Sayang… kenapa kamu menangis?" tanyanya pelan.
Anak itu masih sesenggukan. Namun tangannya kembali terulur… menunjuk ke arah Adinda.
"Dia… Mamaku!" ucapnya polos.
Pria itu membeku. Wajahnya menegang.
Perlahan, tatapannya beralih kembali ke arah Adinda—kali ini bukan hanya penuh tanya, tapi juga kebingungan.
Sementara Adinda sendiri terperangah.
Napasnya tertahan.
"Na… Nak, dia bukan Mama," sahut pria itu cepat, mencoba menenangkan.
Namun anak itu justru menggeleng kuat.
Air matanya masih mengalir. "Tapi… Mama di mana?" tanyanya lirih, penuh tekanan.
Kalimat itu menggantung di udara. Pria itu terdiam, seolah tidak ingin menjawab pertanyaan yang mengganggu hatinya dan sorot matanya berubah. Bukan lagi marah,
melainkan rasa bersalah yang perlahan muncul karena telah menuduh wanita di hadapannya tanpa bukti.
Sementara Adinda hanya bisa berdiri terpaku.
Hatinya terasa aneh sesak tanpa tahu kenapa.
"Maaf," kata pria itu akhirnya.
Adinda mengangguk pelan meskipun di dalam hatinya masih merasa kesal, karena memang ia tidak mau memperpanjang masalah kecil ini terlebih lagi ada anak kecil yang mulai menyentuh hati kecilnya.
"Baiklah aku maafkan, tapi lain kali biasakan untuk tidak menuduh orang tanpa bukti," sahut Adinda.
Dan untuk terakhir kalinya ia menunduk lalu mengelus kepala anak itu sambil berkata. "Tante pulang dulu ya," pamitnya dengan lembut.
Anak itu menggeleng pelan tapi Adinda harus pulang karena hari sudah mulai menjelang malam.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Malam mulai turun saat mobil Adinda memasuki halaman rumah. Belum sempat ia membuka pintu sepenuhnya, suara langkah tergesa langsung menyambutnya.
"Mbak!"
Airin datang dengan wajah yang cukup panik, karena memang tadi pagi ada kendala pembayaran di kampusnya.
"Ada apa?" tanya Adinda singkat, masih berdiri di dekat pintu.
"Mbak, uang kuliah aku belum masuk. Ini sudah mau jatuh tempo," ucapnya cepat, nada suaranya terdengar mendesak.
Adinda mencoba bersikap biasa saja, tapi belum sempat Adinda menjawab tiba-tiba Sintia muncul dari dalam rumah. Wajahnya tidak kalah tegang dengan anaknya.
"Dinda, Ibu juga mau tanya. Transfer bulanan belum masuk. Ada apa?" tanyanya dengan nada yang langsung menuntut.
Suasana mendadak hening. Adinda menatap keduanya secara bergantian, tetap tenang tanpa terburu-buru, seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang penting.
Ia melangkah masuk perlahan, meletakkan tasnya di atas meja. Baru setelah itu, ia menoleh.
"Memangnya kenapa?" tanyanya datar.
Airin tertegun. "Ya… itu Mbak, kan biasanya Mbak yang—"
"Biasanya," potong Adinda pelan.
Satu kata itu menggantung di udara, membuat suasana terasa lebih berat, Sintia mengernyit, seolah tidak puas dengan jawaban Adinda.
"Maksud kamu apa, Dinda?"
Adinda tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi hangat seperti dulu. "Kalau tidak salah, sekarang di rumah ini sudah ada orang baru," ucapnya perlahan.
Tatapannya beralih ke arah dalam rumah. Tempat dimana Luna berada.
"Dan bukannya Ibu sangat bangga dengan kehadirannya?"
Deg.
Kalimat itu terasa seperti sindiran yang sangat halus… namun tepat sasaran. Airin langsung terdiam. Sintia menatapnya tidak percaya.
"Dinda, ini bukan bercanda," ucapnya mulai kesal.
Adinda mengangguk pelan. "Aku juga tidak bercanda, Bu."
"Dinda, Ibu harap kamu jangan egois. Hanya karena Arya menikah lagi, kamu jadi seenaknya seperti ini. Rumah ini punya aturan!" kali ini nada Sintia sedikit meninggi.
Namun Adinda tetap menghadapinya dengan senyuman. "Oh ya? Kalau rumah ini punya aturan, berarti aku juga dong," sahutnya tanpa kalah.
"Stop, Din. Kamu itu masih istri dari Arya, dan sudah sewajarnya kamu memberikan sebagian uangmu itu pada kami. Sama keluarga saja kamu perhitungan. Itulah sebabnya Allah tidak memberimu kepercayaan, karena karaktermu yang pelit seperti itu," ucapnya dengan nada ejekan.
Adinda menatap mertuanya itu. Kali ini tatapannya kuat dan tajam, seolah rasa hormatnya hilang begitu saja saat hinaan itu terus menerus digaungkan untuk dirinya.
"Ibu yang harusnya stop. Dari dulu aku yang mencukupi kebutuhan kalian, dan dengan entengnya kalian menyebutku pelit. Apa tidak salah itu?" sahut Adinda segera. "Tanyakan saja semuanya pada anak Ibu, yang hanya mengandalkan sistem kerja kontraknya itu!" cetusnya.
Sintia terdiam, seolah kehilangan kata-kata.
"Dari dulu aku yang banting tulang di keluarga ini, sementara anak Ibu bukan tidak pandai bekerja… tapi terlalu banyak tingkah sampai berani menikah lagi," ucap Adinda tegas.
"Anakku tidak bertingkah tapi karena memang dia menginginkan seorang anak, dan kau sebagai istri tidak bisa memenuhinya!" gelegarnya seolah tidak mau kalah.
Adinda menatap mertuanya itu dengan tatapan nyalang. "Ibu terlalu yakin ya!"
"Memang kenyataannya kamu mandul," ejeknya kembali.
Anisa tersenyum pahit. "Aku tidak mandul, bahkan tiga dokter sekaligus menyatakan aku sehat, yang harus di cek itu anak Ibu, karena sampai sekarang dia yang tidak mau diperiksa bukan aku," sahutnya kembali dengan tegas.
Langkahnya kembali berjalan. Melewati mereka tanpa rasa bersalah, tapi sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu Adinda sempat berkata.
"Mulai sekarang… coba biasakan semuanya tanpa aku."
Dan kalimat itu, jatuh seperti palu yang menghantam kesadaran mereka, terlebih lagi Sintia wanita paruh baya itu langsung memegang dadanya yang terasa sakit dengan semua kejadian ini.
Bersambung...
Selamat pagi