Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
***
"Kau merintih untuk Aris demi apartemen. Kau mendesah untuk Gunawan demi saham. Dan kau bersujud pada Baskara demi nyawa ibumu," desis Aditya sembari menuangkan sisa wiskinya ke lantai, tepat di depan kaki Mayang. "Kau bilang aku monster? Tidak, Mayang. Kau adalah pelacur kelas atas yang paling munafik yang pernah kutemui. Kau menikmati setiap fetish mereka asalkan harganya cocok."
"Cukup, Adit... cukup..." air mata Mayang mengalir, membasahi wajahnya yang kuyu.
"Belum cukup!" Aditya menjambak rambut Mayang kembali. "Aku ingin kau mengakui. Katakan! Katakan bahwa kau adalah wanita bayaran!"
"Aku... ahhh... aku adalah wanita bayaran..." rintih Mayang, suaranya hampir hilang.
"Lagi! Lebih keras!"
"Aku adalah wanita bayaran! Aku hanyalah wadah untuk benihmu!" teriak Mayang dalam keputusasaan yang murni.
Aditya tersenyum puas. Ia mengelus perut Mayang dengan gerakan yang tiba-tiba berubah menjadi lembut, sebuah transisi yang lebih menakutkan daripada kemarahannya. "Pintar. Kau mulai ingat posisimu kembali. Jangan pernah coba-coba merencanakan apa pun lagi, atau aku akan memastikan saat kau melahirkan nanti, kau tidak akan pernah melihat wajah anak-anakmu yang lain lagi. Aku akan melenyapkan mereka dari muka bumi ini dengan satu tanda tangan auditku."
Setelah dua puluh empat jam berlalu, Aditya membiarkan pelayan membawa Mayang kembali ke kamar utama. Mayang diberikan minum dan makanan sedikit demi sedikit, namun tubuhnya sudah sangat lemah. Ia hanya bisa terbaring miring, memeluk perutnya yang terasa kaku dan kencang.
Aditya masuk ke kamar, sudah kembali dengan setelan jasnya yang rapi, seolah-olah kegilaan di ruang bawah tanah tadi tak pernah terjadi.
"Dua bulan lagi, Mayang," ujar Aditya sembari memeriksa tekanan darah Mayang. "Dua bulan lagi, kau akan melahirkan putraku. Aku sudah menyiapkan ritual persalinannya. Aku ingin kau benar-benar 'kosong' saat saat itu tiba. Hanya ada rasa sakit dan penyerahan diri padaku."
Mayang tidak menjawab. Ia menutup matanya, berpura-pura tidur. Namun di balik kelopak matanya yang bengkak, otaknya yang dianggap "sedikit" oleh Aditya itu sedang bekerja dengan kecepatan penuh.
Ia menyadari satu hal: Aditya adalah monster yang didorong oleh ego dan trauma masa lalu yang belum sembuh. Pria itu ingin pengakuan. Pria itu ingin Mayang hancur agar ia bisa merasa utuh.
"Tiga menit," batin Mayang sembari merasakan tendangan kuat dari janinnya.
"Hukumanmu tadi justru memberiku jawaban, Adit. Kau terlalu fokus pada kamera pengawas di dalam vila... tapi kau lupa memantau apa yang dikirim oleh sistem alarm kebakaran otomatis jika suhu di gudang anggurmu meningkat drastis."
Ternyata, saat Mayang diseret, ia sempat menyenggol sensor panas dengan sisa kekuatannya, memicu protokol darurat yang terhubung langsung ke pusat pemadam kebakaran distrik—sebuah sistem independen yang bahkan Aditya tak bisa cegah tanpa mematikan seluruh izin operasional vilanya.
"Kau pikir kau sudah menang karena aku merintih di depanmu?" Mayang membisikkan doa paling gelap dalam hatinya. "Kau ingin aku menjadi martir seperti ibumu? Maka aku akan memberikanmu persalinan yang paling tak terlupakan, Adit. Sebuah persalinan yang akan menjadi lagu pemakaman bagi ambisimu."
Mayang mengelus perutnya. Janin itu menendang lagi. Kali ini, Mayang tidak merasa sakit. Ia merasa seperti sedang memegang pelatuk sebuah bom yang siap meledak di tangan pria yang merasa paling berkuasa di Jakarta.
****
Bersambung