Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
"Eh, pengantin baru sudah bangun rupanya," ujar Melati ceria sekali. "Ayo sini, sarapan dulu. Masa mau pindah rumah tanpa isi tenaga?"
"Iya, Nak. Duduk sini!" tambah sinta sambil menepuk kursi.
Reyhan pun duduk. Aroma tempe goreng, sambal tomat, dan sup ayam memenuhi udara.
''Shaqila mana?" tanya Melati sambil menuang teh hangat.
"Masih di kamar," jawab Reyhan.
Namun belum lima detik, suara langkah pincang terdengar dari arah tangga.
Dan muncullah Shaqila,masih dengan handuk di kepala...berjalan pelan sambil meringis.
Dapur langsung hening melihat gadis itu.
Wajah Sinta berbinar sementara Melati menutup mulut menahan tawa bahagia, Wijaya menatap Reyhan seperti detektif baru menemukan bukti besar, sementara Fandi membuka ponselnya dengan wajah serius seperti ada yang penting. Mungkin urusan pekerjaan.
Senyum-senyum simpul merekah di wajah mereka.
"Reyhan, kamu… nggak sabaran ya?" komentar Wijaya sambil mengangkat alis.
"Lihat tuh istrimu sampai pincang begitu. Pasti kamu semangat banget semalam," lanjutnya.
Reyhan dan Shaqila dia dan saling memandang karena tidak mengerti arah pembicaraan orang tua mereka.
"Kita sebentar lagi punya cucu, besan,” ujar Melati sambil menepuk lengan Sinta"
Sinta mengangguk cepat, matanya berbinar seperti baru melihat undian emas.
Sementara Reyhan yang sedang minum lansung tersedak dan Shaqila yang mematung dengan wajah yang merah menahan malu.
"Ma, kalian salah paham. Shaqila cu-"
"Nggak usah banyak alasan, kami paham kok. Namanya juga pengantin baru. Shaqila kenapa diam disitu, nggak usah malu. Itu wajar kok, yuk ikut sarapan sama kita sebelum kalian pindah," ujar Melati yang memotong pembicaraan Reyhan.
...***...
Koper-koper Shaqila sudah berjajar rapi di ruang tamu. Beberapa tas dipegang Reyhan, beberapa lagi oleh Fandi untuk dimasukkan ke bagasi mobil. Sinta sudah mengelus-elus lengan putrinya sejak sepuluh menit lalu seperti tidak rela melepas.
"Ma… Shaqila pindah rumah. Bukan pindah kota, kita masih satu kota kok," ucap Shaqila.
"Tetep aja…" suara Sinta bergetar sambil menyeka air mata. "Anak mama udah besar. Udah punya suami sendiri. Mama…"
Shaqila ikut berkaca-kaca. "Ma… kalau begitu Shaqila tidak jadi pindah deh, Shaqila masih mau disini sama mama," ucapnya.
"Nggak boleh gitu sayang, kamu sekarang seorang istri. Dan kewajiban kamu adalah ikut suami. Nak Reyhan mama titip Shaqila ya. Jaga dan sayangi dia ya nak," ucap Sinta.
Reyhan maju, menunduk sopan pada mertuanya. "Insyaallah saya janji jaga Shaqila baik-baik."
Sinta langsung menangis lebih keras.
Fandi merangkul dan menenangkan istrinya. "Nak, kami percaya sama kamu. Bimbing dia, dan pastikan dia wisuda tepat waktu."
Hati Shaqila sedikit mecelos mendengar perkataan papanya. Walau itu adalah wajar, tapi ia merasa saat ini bukan waktu yang pas untuk bahas skripsi atau kelulusannya. Namun gadis itu memilih diam dan tidak mau merusak suasana.
"Kalau begitu kami berangkat dulu," ucap Reyhan dan menyalimi satu persatu orang tua dan mertuanya.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Shaqila. Dan sekali lagi ia memeluk Sinta lebih lama.
"Reyhan, awas aja kalau kamu nelantarin mantu mama. Ingat sekarang kamu punya istri, ubah sikap dinginmu itu," peringat Melati.
Reyhan hanya mengangguk sebagai jawaban
dan menggenggam tangan Shaqila. "Ayo, kita berangkat."
Shaqila mengangguk, masih menahan air mata. Tidak lupa ia mengambil boneka kelinci kesayangannya dan dipeluk.
Mereka pun keluar rumah, berjalan pelan menuju mobil. Saat mobil bergerak meninggalkan halaman, Shaqila menoleh ke belakang, melihat kedua orang tuanya melambaikan tangan.
Hatinya menghangat, tapi juga sedikit perih.
Hari ini ia benar-benar melangkah ke hidup baru.
Di sebelahnya, Reyhan melirik sekilas.
Mobil itu melaju menuju rumah baru yang akan menjadi tempat mereka memulai babak kehidupan baru yang hanya tuhan saja yang tahu skenarionya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Skripsi kamu bagaimana, udah di revisi?" tanya Reyhan. Pandangannya masih tetap fokus.
Shaqila menelan salivanya kasar mendengar hal itu seakan ia baru saja mendengar musibah yang cukup besar. "Ba-baru sebagian pak," ucapnya dengan gugup.
Reyhan mengangguk paham. "Baiklah, setelah sampai nanti beresin barangmu dan setelah itu istirahat. Jangan sentuh revisi ataupun laptop sampai besok. Sesuai janji saya, saya akan bantu kamu sampai mendapatkan nilai yang sangat layak."
"Sebelum itu, baca baik-baik isi kontrak ini dan tanda tangan di atas materai," ucap Reyhan seraya memberikan map berwarna biru yang dia ambil dari dasboard.
Shaqila menerima map itu dengan gugup. Ia kemudian membuka dan memulai membaca.
SURAT PERNIKAHAN KONTRAK SETAHUN
Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan ini, masing-masing kedua belah pihak menyetujui:
1. Pernikahan berjalan setahun
2.Tidak boleh ikut campur urusan pribadi,
3. Pernikahan harus dirahasiakan,
4. Tidak boleh melibatkan perasaan,
5.Pihak kedua sudah dipastikan akan lulus dengan nilai layak,
Tandatangan Tandatangan
Pihak l Pihak ll
( Reyhan Adiyasa, M.M). (Shaqila Ardhani V)
Setelah membaca isi perjanjian itu, Shaqila segera menandatanganinya tanpa berpikir panjang.
Setelah pena meninggalkan tanda di atas materai, Shaqila meletakkan map itu di pangkuannya. Tangannya gemetar halus, meski ia berusaha menyembunyikannya. Reyhan mengambil kembali map tersebut tanpa banyak bicara, memasukkannya ke dalam dasbor dengan rapi, seolah yang baru terjadi barusan hanyalah penandatanganan dokumen proyek biasa, bukan pernikahan kontrak setahun.
Mobil melaju kembali. Hening menyergap seperti kabut tipis.
Shaqila menatap ke luar jendela, tapi matanya tidak benar-benar melihat apa pun. Ia hanya masih berusaha menerima bahwa ia barusan menandatangi kontrak pernikahan dengan dosen pembimbinnya. Dosen yang selalu kritis, perfectionist, mulai sekarang akan tinggal bersamanya selama setahun.
Setengah jam kemudian keduanya sampai di komplek perumahan anggrek. Salah satu perumahan elit dikota itu.
Mata Shaqila berbinar melihat rumah didepannya. Rumah ini tidak terlalu besar dan memiliki dua lantai. Desainnya yang sederhana namun kelihatan elegan sangat enak dipandang.
Di pekarangan rumah itu terdapat kolam ikan kecil dan beberapa ikan hias yang sangat lucu. Di dekatnya ada kandang kura-kura, kelinci dan juga Kucing. Shaqila melangkahkan kaki ke arah itu dengan mata berbinar.
"Saya sengaja membelikan itu semua termasuk mendesain rumah ini agar otakmu sedikit segar. Setidaknya hewan-hewan itu semua adalah teman yang harus kau rawat agar otakmu sedikit jernih," ucap Reyhan kemudian beranjak masuk ke dalam rumah.
"Apa hubungannya hewan-hewan ini dengan otakku yang harus dijernihkan?" gumam Shaqila.
"Hai kawan-kawan, mulai sekarang Shaqila teman kalian. Shaqila masuk dulu ya istirahat, nanti kita ketemu lagi, dadah," ucap gadis itu lagi seraya berlari masuk.
Tiba-tiba saja gadis itu berhenti berlari ketika melihat Reyhan yang sedang duduk di sofa dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Khem, kamarmu ada dilantai dua sementara kamar saya di sana. Mulai sekarang kau harus menuruti ucapan saya jika mau lulus dengan nilai yang layak!" ucap Reyhan dan beranjak dari sofa itu.
Jantung Shaqila kembali deg-degan mendengar itu. 'Dih semena-mena aja tu dosen galak. Ancam aja terus!' gerutu Shaqila dalam hati dan mengerucutkan bibirnya.
Gadis itu pun naik ke lantai atas untuk melihat kamarnya. Saat terus ke jendela matanya terpana akan keindahan halaman belakang rumah belakang yaitu sebuah taman yang tampak estetik.
Taman tersebut menampilkan suasana yang cerah, lembut, dan sangat estetik, dengan gaya modern tropis yang dipadukan sentuhan warna pastel.
Bagian tengah taman diisi kolam renang berbentuk unik, menyerupai kombinasi bentuk lingkaran dan persegi dengan air jernih berwarna biru turkis. Pinggiran kolam menggunakan finishing putih bersih yang membuatnya terlihat semakin rapi dan elegan.
Di sisi kanan, terdapat hammock berwarna pink lembut yang digantung di antara dua pohon dengan batang tinggi dan mahkota bulat unik, memberikan kesan playful sekaligus cozy. Di dekat hammock ada area duduk kecil berupa kursi santai dengan cushion pastel dan meja bundar mungil yang dihias bunga.
Di bagian belakang terdapat gazebo kayu minimalis dengan atap pergola yang dihiasi tanaman rambat berbunga. Di bawahnya disediakan sofa empuk dengan banyak bantal dekoratif pastel, menciptakan ruang bersantai yang nyaman dan teduh. Tak jauh dari sana, terdapat sudut taman kecil dengan meja kerja atau meja hias yang dikelilingi bunga dan tanaman gantung yang memanjakan mata.
(Kurang lebih seperti ini heheheh)
"Indah banget, apa dosen itu sengaja ngerancang ini semua agar gue betah," gumannya masih dengan menikmati pemandangan itu.
"Saya sengaja merancangnya mulai dari halaman depan hingga halaman belakang biar otakmu sedikit segar. Tempat itu bisa kau gunakan untuk buat skripsi agar pikiranmu tidak kacau," ucap Reyhan yang tiba-tiba datang.
Tatapan pria itu menatap lurus ke arah taman yang ia desain sendiri. Tentu dengan bantuan orang yang dibayarnya. Mata tajamnya terhiasi kacamata yang bertengger serta kedua tangannya yang berada di kantong celananya.
Shaqila terkejut mendengar itu, ia berpikir bagaimana bisa orang ini tiba-tiba datang dan mengangkat suara seolah ia memiliki kekuatan gaib.
"Sebagai langkah awal, tidurlah dengan durasi yang cukup. Saya ada rapat pertemuan di kampus. Siang nanti akan ada art di rumah ini, jadi kau tidak perlu membereskan rumah. Nanti sore saya akan lihat skripsimu," ucap dosen itu dan keluar begitu saja tanpa senyum ataupun basa-basi.
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih