NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Karma yang Punya Nama

Kadang, yang kita kira sudah berlalu... cuma sedang menunggu giliran untuk jadi karma.

...Happy Reading!...

...*****...

"Nomor antri 48, silakan masuk."

Akhirnya. Suara itu datang juga setelah enam jam penuh penantian. Enam jam, ya, benar. Kalau aku naik kereta, mungkin sudah sampai ke luar kota.

Aku sudah makan siang di warung padang. Sudah sempat ngantuk dua kali. Sudah nyaris menyerah dan pulang. Tapi entah kenapa, aku tetap menunggu. Mungkin karena ada rasa penasaran yang belum selesai.

Begitu masuk ke rumah Mbah Sarmini, duniaku terasa berubah.

Bukan rumah gelap dengan dupa mengepul. Bukan suara gamelan mistis. Tapi rumah besar yang terang, dengan interior klasik dan modern menyatu. Jendela tinggi menyambut cahaya sore. Di dinding, lukisan wayang kontemporer berdampingan dengan potret hitam-putih seorang pria muda bersorban.

Aku berdiri terpaku. Apakah ini benar rumah seorang peramal?

Seorang wanita paruh baya dalam kebaya rapi mengantarku masuk. Ia tidak banyak bicara. Hanya menunjuk sebuah pintu di pojok dekat tangga. Saat aku berdiri di depan pintu kayu berukir indah itu, aku menarik napas panjang. Getaran gugup menyelinap pelan.

Kuketuk pintu.

Dan di balik ruangan yang lebih mirip perpustakaan klasik daripada tempat praktik seorang peramal, duduklah seorang wanita lanjut usia. Ia mengenakan lurik cokelat modern. Jarik tradisional rapi terikat di pinggang. Di lehernya, selendang tenun hijau lumut menjuntai lembut. Sebuah topeng beludru hitam menutupi sebagian wajahnya. Rambut putihnya disanggul bersih, dihiasi lilitan kain abu-abu pucat.

Tangannya sedang membuka halaman sebuah buku tua. Mbah Sarmini bahkan tidak menoleh saat aku masuk.

"Duduk," katanya singkat.

Aku duduk perlahan. Tanganku dingin. Ruangan ini terlalu tenang. Terlalu sunyi. Tapi entah kenapa, menenangkan.

"Masalah apa?" tanyanya tanpa melepaskan tatapan dari bukunya.

"Cinta," jawabku pelan.

"Cinta seperti apa?"

"Diselingkuhi. Lagi dan lagi."

Akhirnya ia menutup bukunya. Dengan gerakan pelan, ia menatapku lama. Pandangan matanya seperti menyelami sesuatu jauh di dalam diriku. Ada keheningan beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam.

Kemudian ia berkata pelan, "Kamu kena karma dari masa lalu."

Jantungku langsung terasa kosong.

"Apa maksudnya?" bisikku.

"Siapa namamu?"

"Cayra."

"Lengkap."

"Cayra Ayudhia Astagina."

Dia terdiam lagi. Lalu mengulurkan tangan. "Saya boleh lihat KTP kamu?"

Aku bingung. "Untuk apa?"

"Saya tidak menebak. Saya membaca. Dan saya membaca setelah tahu nama lengkap seseorang."

Dengan ragu, aku menyerahkan KTP-ku. Ia menerimanya, membaca dalam diam. Ekspresinya berubah. Entah itu keterkejutan, atau pengenalan. Tapi jelas bukan wajah biasa.

"Kamu lulusan SMA Gravia Asteria?"

Aku mengangguk. "Iya. Kenapa?"

Ia menyandarkan tubuh ke kursi. Pandangannya kembali menelanku. Lalu ia berkata dengan suara lebih pelan, nyaris seperti gumaman.

"Kamu meninggalkan seseorang."

Aku menelan ludah.

"Lelaki culun. Kamu mungkin sudah lupa. Tapi dia belum. Dan semesta tidak lupa."

"Maaf?"

Mbah Sarmini menutup KTP-ku dan menyerahkannya kembali. Senyum samar mengulas di balik topengnya.

"Kamu tahu siapa yang saya maksud. Karena sekarang... tubuhmu merinding."

Aku memandang KTP di tanganku.

Dan saat itu juga, satu wajah muncul begitu saja di kepalaku.

Kacamatanya tebal. Rambut klimis. Pernah menjadi teman satu bangkuku.

Cowok yang pernah mengisi hari-hariku saat SMA.

Tapi jika dugaanku benar...

Aku tahu siapa yang dia maksud.

...*****...

Aku melangkah keluar dari rumah Mbah Sarmini dengan kepala yang masih dipenuhi satu kalimat:

"Kamu kena karma dari masa lalu."

Rasanya seperti ditampar oleh kenangan yang datang tanpa aba-aba. Tanpa undangan. Tapi tetap menyakitkan.

Apa sekarang aku harus mencari lelaki itu, lalu minta maaf demi mengakhiri kutukan ini? Secara teori, bisa saja. Tapi praktiknya? Gengsiku terlalu tinggi. Bahkan lebih tinggi dari menara BTS di pusat kota.

Iya, aku tahu. Selain egois, aku juga keras kepala. Mungkin itu juga alasan kenapa aku bisa berkali-kali diselingkuhi. Aku mengakuinya sekarang. Tapi tolong, jangan rekam.

Aku menarik napas panjang. Rasanya ingin menangis, tapi air matanya sudah tidak tersedia. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk merasakan cinta yang manis. Mungkin tugasku di dunia ini cuma jadi korban cinta yang gagal total.

Matahari sore masih menggantung malas di langit. Aku berjalan pelan menuju pangkalan ojek. Tempatnya sederhana, mirip halte tidak resmi. Tapi sangat tahu fungsinya: mengantar orang pulang dari kenyataan.

Baru saja aku mendekat, seorang tukang ojek langsung menyalakan motor dan menghampiri. Cepat tanggap. Peka. Aku bersyukur karena tidak perlu membuka mulut. Energi sosialku sudah habis. Kalau tubuh manusia punya indikator baterai, dayaku pasti tinggal 9 persen dan berkedip merah.

Aku duduk di jok motor, lalu bersandar diam. Rasanya seperti dibungkus kain hangat setelah dilempar badai.

Motor melaju pelan menuruni jalanan desa Candraloka. Udara sore menyapu wajahku. Untung tukang ojeknya diam saja. Sepertinya dia bisa baca wajah orang yang lebih lelah dari harga saham saat resesi.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di tempat pemberhentian elf. Tempat yang sama seperti tadi pagi. Tapi perasaanku tidak sama lagi. Tadi datang dengan harapan. Sekarang pulang dengan diagnosis.

Aku bertanya pada sopir elf apakah bisa diturunkan di dekat komplek rumah. Jawabannya membuatku ingin peluk dia: bisa.

Artinya aku tidak perlu pesan ojek dua kali. Satu kabar baik di hari yang payah.

Aku naik ke dalam elf yang sudah hampir penuh. Duduk di kursi kosong dan menyender ke kaca. Pandanganku kosong. Badanku capek. Hatiku lebih capek. Kalau boleh milih, aku lebih rela lembur bikin presentasi lima puluh slide daripada mengalami ini lagi.

Tapi kalau aku tidak datang ke rumah Mbah Sarmini hari ini, aku tidak akan tahu... bahwa ini semua adalah harga dari masa lalu.

Dan harga itu ternyata mahal. Karena sejak tadi, wajah culun itu terus muncul di kepalaku.

Mungkin ini karma paling absurd dalam sejarah percintaan.

Bukan karena diselingkuhi. Tapi karena dihukum oleh seseorang yang dulu bahkan tidak pernah kuanggap ada.

Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar.

Notifikasi WhatsApp dari Tasha muncul di layar.

"Caca, pokoknya lo BESOK harus berangkat! Kalau enggak, karier lo TERANCAM! Ini kliennya SANGAT PENTING!!!"

Aku mendesah sambil memutar bola mata.

Tasha kalau panik selalu pakai huruf kapital seperti orator kampus. Tapi aku jadi penasaran juga. Sepenting apa sih klien ini sampai bisa 'mengancam karier'?

Masalah cinta belum selesai. Sekarang datang masalah pekerjaan. Rasanya hidupku kayak sinetron keluarga tanpa ending.

Tuhan, bisakah masalah datang satu per satu? Jangan ditumpuk seperti cucian hari Minggu. Aku ini bukan gudang logistik.

Sekarang aku benar-benar merasa sudah jatuh... lalu disiram kuah bakso panas.

Dan mungkin... di suatu tempat, ada cowok culun yang sedang menyeduh kopi, lalu tersenyum kecil.

Karena akhirnya, semesta membalas untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!