Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Xerra membuka pintu kamar, terlihat Evans berdiri dengan setelan hitam dan juga memakai topi
Malam ini aku punya keperluan di luar,” ucap Evans datar.
“Kau baik-baik di rumah. Kalau urusannya cepat selesai, aku pulang besok. Kalau tidak… mungkin lusa.”
Xerra menatapnya cemas.
“Apakah mendesak? Tidak bisakah menunggu besok saja?”
Evans menatap balik dengan mata tajam namun lembut.
“Ini darurat.”
Xerra terdiam sejenak… lalu mengangguk.
“Hmm… baiklah.”
Evans tak tersenyum. Tapi jemarinya sempat mengusap kepala Xerra pelan… seolah menenangkan anak kucing yang gelisah.
“Kalau butuh sesuatu, minta pada pelayan. Jangan keluar kamar jika sudah larut.”
Lalu ia berbalik…
Di lantai bawah, Ben dan Gerry sudah menunggu.
Mereka juga memakai setelan hitam, sepatu boots, dan topi yang sama.
Namun gaya mereka lebih santai Ben membawa koper hitam panjang, Gerry terlihat mengecek sesuatu di tablet digital.
Begitu Evans mendekat, Ben berbicara cepat.
“Dari informasi yang kami dapat, transaksi senjata terjadi malam ini di dekat pelabuhan selatan.”
Gerry menambah
“Mereka membawa kontainer penuh senjata api ilegal, termasuk senapan laras panjang terbaru.”
Evans memasukkan sarung tangan kulit ke sakunya.
“Kita harus ambil alih. Jangan biarkan mereka bawa barang itu keluar Inggris.”
Ben menyeringai tipis.
“Lumayan, bisa dapat senjata gratis, Bos.”
Evans menatapnya datar.
Ben langsung merevisi ucapannya.
“…maksudku… lumayan dapat senjata gratis, Evans.”
Gerry menahan tawa.
Evans menghela napas panjang.
“Jangan buat kesalahan. Kita bukan pencuri, kita hanya mengambil hak kita.”
Ben dan Gerry saling tatap mereka tahu maksud Evans:l
Ini bukan sekadar rebutan barang,
Tapi pesan bagi kelompok mafia lain bahwa
Merekalah penguasa wilayah ini.
Pintu mansion terbuka otomatis ketika Evans melangkah keluar.
Satu mobil hitam tanpa plat resmi sudah menunggu.
Sebelum masuk mobil, Evans sempat melirik ke lantai dua.
Lampu kamar Xerra masih menyala.
Entah kenapa, ia tersenyum kecil…
Senyum berbahaya namun hangat campuran antara obsesi dan rasa ingin memiliki.
“Jaga semuanya di sini. Jika terjadi sesuatu di rumah ini saat aku pergi…”
Para menjaga menjawab serempak, tegas
“Kami tanggung nyawa kami.”
Evans masuk mobil.
Mesin meraung.
Dalam hitungan detik
Satu mobil hitam meluncur meninggalkan gerbang, turun ke jalan menuju pelabuhan.
Malam itu berkabut tebal.
Jam baru menunjuk pukul 00:17 saat tiga mobil hitam melaju tanpa suara menuju pelabuhan selatan.
Di dalam mobil utama, Evans duduk di kursi penumpang, menatap gelapnya jalan melalui jendela tanpa ekspresi.
Gerry duduk di kursi belakang, memeriksa senjata dan alat komunikasi.
Ben mengemudi, satu tangan di setir, satu tangan menyalakan mode interkom.
Namun ada satu hal berbeda malam ini.
Ketiganya tidak memakai wajah asli mereka.
Kulit mereka tertutup sintetis realistis, seperti kulit manusia, namun dapat dilepas
Warna kulit berbeda
Struktur rahang sedikit berubah
Hidung dan garis mata ditutupi
Bahkan sidik jari mereka dilapisi sarung tangan nano tipis
Tak ada satu pun kamera CCTV yang akan mengenali mereka.
Gerry merapikan masker wajahnya sambil bercermin di kaca kecil.
“Jika aku tidak ingat diriku sendiri, aku pasti sudah mengira aku model Spanyol.” gumamnya.
Ben menyeringai sambil mengemudi.
“Aku justru mirip petinju ilegal dari Rusia.”
Evans menoleh sebentar aura nya dingin, namun ada sedikit senyum.
“Kalian tetap cerewet meski wajah berubah.”
Ben memecah keheningan.
“Jadi… targetnya sudah dipastikan?”
Gerry mengusap layar tablet.
“Konvoi kapal kecil masuk jam 01:00. Barang langsung dipindah ke truk kontainer. Pengawalnya sekitar 30 orang. Semua bersenjata.”
Ben bersiul rendah.
“Banyak juga.”
Evans menanggapi datar.
“Itu berarti kita tidak akan bosan.”
⚓ PEL A B U H A N S E L A T A N 00:58
Kabut laut bergerak seperti asap hantu.
Deru mesin kapal terdengar samar.
Lampu-lampu gudang pelabuhan berkedip, terlihat lusuh dan terabaikan.
Sebuah kapal kargo kecil baru saja bersandar.
Di sampingnya, terlihat dua truk kontainer hitam, dan puluhan pria dengan senjata laras panjang.
Mereka bukan mafia kecil.
Pakaian tak seragam, tapi gerakan mereka disiplin.
“Kelompok Gagak hitam” gumam Ben. “Aku kenal gaya jalan mereka.”
Gerry menimpali dengan suara pelan
“Kepala mereka dulu menolak kerjasama dengan Evans. Sepertinya sekarang mereka pikir bisa bermain di wilayah kita.”
Evans membuka bagasi, mengambil penutup wajah keempat sehelai masker transparan yang menutupi mata dan suara.
“Tidak perlu negosiasi. Tidak perlu warning.”
Ia menatap dua sahabatnya tajam.
“Kita bukan datang untuk mengantar surat. Kita datang untuk mengubur pesan.”
Ben menekan tombol jam tangan memberi sinyal ke tim bayangan mereka yang sudah tersebar di area pelabuhan.
Gerry menyiapkan senapan peredam suara.
Evans melangkah paling depan.
Tidak terburu-buru
Tidak ragu
Langkahnya tenang seperti seseorang yang tahu seluruh tempat ini sudah menjadi kuburan orang lain
DUAR!
Suara ledakan kecil berasal dari gudang kiri.
Para penjaga kaget menoleh panik.
Dalam detik berikutnya
TAR TAR TAR Tembakan berperedam suara menghujani mereka.
Tapi tak tahu dari mana.
Karena
Bayangan hitam bergerak tak terlihat di antara kontainer seperti hantu.
Ben menembak tepat di leher lawan tanpa suara.
Gerry menjatuhkan dua orang dengan peluru jarak jauh.
Evans, Menonaktifkan dua orang hanya dengan pisau tempel tak bersuara.
Satu tebasan ke arteri, satu tusukan tepat di jantung.
Dalam waktu kurang dari 6 menit,
15 orang tumbang.
Tanpa alaram.
Tanpa jeritan.
Hanya suara benda logam jatuh…
dan bunyi ombak menghantam dermaga.
Evans memeriksa peti kontainer.
Senjata laras panjang.
Bukan sembarang senjata,senjata itu Model Eropa timur yang baru masuk pasar.
Ben bersiul panjang.
“Kalau dijual satu peti saja, kita bisa beli satu hotel.”
Evans hanya menjawab singkat
“Tidak dijual. Gunakan.”
Gerry tertawa kecil.
“Sudah kuduga.”
Tapi mereka belum selesai.
Ada 12 orang lagi di kapal.
Dan kapal itu tidak boleh berangkat hidup-hidup.
Evans memberi isyarat tangan.
Tiga granat asap, satu flashbang.
BOOM! Cahaya putih meledak.
Teriakan panik pecah dari dalam kapal.
Dalam kabut asap, Evans naik ke geladak.
Hanya butuh 2 menit sebelum kapal itu sunyi.
01:22
Gudang pelabuhan penuh mayat.
Truk kontainer kini sepenuhnya milik mereka.
Evans melepas masker sintetisnya.
Wajahnya kembali normal dingin, tampan, mematikan.
Ben bersandar sambil menghisap permen mint.
“Selalu cepat ya kalau kau yang turun tangan.”
Gerry menendang tubuh salah satu bos gagak hitam
Evans hanya berkata
“Kirimkan kepala pemimpin mereka ke markas. Beri pita merah. Jangan kirim pesan apa pun selain itu.”
Malam semakin dingin.
Evans menatap langit.
Bukan bintang yang dia pikirkan.
Tapi seorang gadis kecil…
yang mungkin sedang tidur di kamarnya sekarang tanpa tahu bahwa pria yang menjemputnya dengan roti hangat…
…baru saja kembali dari neraka sebagai pembawa kematian.
“Pulang?” tanya Ben.
Evans mengangguk.
“Pulang.”
Mobil melaju kembali ke mansion.