Evan Bramasta, cowok berbadan tinggi, kulit putih dan hidung bangir. Berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai guru olahraga di sebuah Sekolah Menengah Atas dan sudah mempunyai seorang istri atas perjodohan dari orang tuanya. Istrinya bernama Sabina Elliana yang bekerja di sekolah yang sama dengan suaminya.
Beberapa bulan belakangan ini, Evan selalu memperhatikan seorang murid perempuan yang selalu membuatnya sakit di bagian bawah. Ia menginginkan gadis itu menjadi miliknya dengan cara apapun.
Namanya Ziyara Liffyani, gadis yatim piatu berparas cantik di usianya yang baru 17 tahun. Dia harus bekerja paruh waktu di toko buku untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Ziyara juga diam-diam sangat menyukai guru olahraganya itu. Apa pun akan Ziyara lakukan untuk menggapai cita-citanya dan mendapatkan keinginannya, termasuk menjadi istri simpanan guru olahraga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap di Rumah Oma
Setelah Selena dilengserkan ke rumah sakit, Ziyara menutup pintu dan berjalan ke lantai atas untuk ke kamarnya. Saat masuk ke kamar, Ziyara melihat kalau suaminya tengah menyusun kembali bajunya yang ada di dalam koper tadi ke dalam lemari.
“Udah, gak usah di beresin," ucap Ziyara.
“Kamu tega banget mau ninggalin mas," ujar Evan dengan tangan yang tetap membereskan pakaian istrinya.
“Lebih tega an mana sama yang diemhdiem mau ketemuan sama mantan?" tanya Ziyara.
“Tapi kan gak ketemu, mas kemarin cuma bohongin dia supaya dia berhenti nangis dan mukulin Dada mas," jawab Evan.
“Dia juga ngiranya mas ini belum nikah lagi setelah cerai sama Sabina, terus dikiranya Bill itu anak mas sama Sabina mungkin," sambung Evan.
“Suka kamu di cium sama dia tadi?" tanya Ziyara.
Evan yang sudah selesai membereskan pakaian istrinya pun berjalan menuju ke arah Ziyara yang sedang duduk pinggir ranjang, Evan duduk di samping Ziyara dan mengangkat Ziyara duduk di pangkuannya.
Evan menyelipkan rambut Ziyara di belakang telinga dan mengecup bibir istrinya.
“Labih suka di cium sama kamu sayang," jawab Evan. “Jangan tinggalin mas, mas gak akan sanggup hidup tanpa kalian, kalian berdua nyawa mas," ucap Evan dengan mata yang sudah berembun.
“CUP ... CUP!" Ziyara mencicip mata kiri dan kanan suaminya.
“Maafin aku ya mas," ucap Ziyara.
“Gak sayang, kamu gak pernah salah, kamu cuma salah paham," jawab Evan.
Lihat lah, betapa beruntungnya Ziyara mendapatkan suami seperti Evan. Ia tak pernah salah di mata suaminya, selalu dimanja dan selalu menjadi ratu di hidup dan di hati Evan.
“Aku sayang banget sama kamu mas," ucap Ziyara.
“Mas lebih sayang sama kamu," balas Evan.
────୨ৎ────
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Evan meliburkan dirinya dari semua pekerjaan kantor dan melimpahkannya pada orang kepercayaannya.
“Dad, kata Mommy dulu kita pernah tinggal di komplek ya, terus di komplek itu ada lapangan basketnya," tanya Bill.
“Iya, kenapa memangnya?"
“Kenapa kita pindah dari sana Dad?" tanya Bill lagi.
“Di sana banyak hantunya," jawab Evan asal.
“Jangan dengerin Daddy kamu, nak," jawab Ziyara yang tiba-tiba datang menghampiri kedua manusia kesayangannya.
Bill bangun dari duduknya dan menghampiri Ziyara.
“Kita nanti ke sana ya mom," ajak Bill.
“Mau ngapain bro?" tanya Evan.
“Pengen aja Dad ... ya mom ya, nanti kita ke sana," mohon Bill.
“Tanya Daddy kamu sayang," jawab Ziyara.
Bill memandang ayahnya dengan tatapan memohon.
“Pengen banget memangnya?" tanya Evan.
“Iya Dad," jawab Bill dengan semangat.
“Oke, tapi ada syaratnya," ucap Evan.
“Apa syaratnya?" tanya Bill.
“Hari ini kamu tidur di rumah Oma, besok pagi Daddy jemput, kita langsung ke rumah lama kita, gimana?" tanya Evan.
“Hmm ... boleh gak mom?" tanya Bill pada ibunya.
“Kok nanya Mommy, Ini kan syarat dari Daddy," ucap Evan.
“Yaudah iya, tapi Daddy jangan macam-macam ya sama Mommy," peringat Bill.
“Ya kenapa memangnya, istri Daddy kok," ucap Evan.
“Kok malah jadi debat?" tanya Ziyara kepada dua orang laki laki di depannya.
“Bill tuh mom." "Daddy tuh mom." jawab Evan dan Bill serempak.
Ziyara menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Evan dan Bill ke dapur.
“Beresin baju kamu, nanti Daddy telfon Tante Millea buat jemput kamu," ucap Evan pada anaknya.
“Oke bos."
Setelah melihat anaknya naik lantai atas, Evan langsung menelpon adiknya untuk menjemput Bill dan menyusul istrinya ke dapur. Kebiasaan Ziyara jika mereka sedang mengumpul, dia pasti akan membuatkan cemilan.
“Lagi ngapain?" tanya Evan sambil memeluk Ziyara dari belakang.
“Mau bikin cookies."
“Gak usah, bikin adek buat Bill aja yuk," ajak Evan.
“Hissh, awas ih."
“Gak usah sayang, mas udah nelfon Millea. Bentar lagi dia mau jemput Bill ... sayang nanti cookiesnya gak ada yang makan."
“Harus banget syaratnya Bill harus nginep di rumah mama?" tanya Ziyara.
“Harus sayang, mas mau gempur kamu tanpa ada yang ganggu” jawab Evan.
“Peluk-pelukan terosss, masih siang kali," celetuk Millea.
Evan dan Ziyara terkejut dan menoleh ke arah Millea dengan Evan yang masih memeluk istrinya.
“Millea ngagetin ih," ucap Ziyara.
“Masuk ke rumah orang itu salam, jangan nyelonong," ujar Evan.
“Aku udah salam ya, Abang sama kakak aja yang gak denger," dengus Millea.
“Auntyyyyyy," teriak Bill dan berlari menuruni anak tangga.
HAPPPPHH
Bill memeluk tubuh Millea dan berkali kali mengucapkan kata rindu.
“Bill kangeeeen banget sama aunty." ucap Bill.
“Aunty juga kangen banget sama Bill," balas Millea
“Yaudah angkut sana."
Ziyara sontak mencubit perut suaminya.
“Aduh, sakit sayang."
Ziyara tak menggubris suaminya lalu ia berjalan mendekati Millea dan anaknya.
Millea menyalami Ziyara dan menanyakan kabarnya.
“Kakak apa kabar?" tanya Millea.
“Baik kok, mama sama papa gimana?"
“Mereka baik kok kak," jawab Millea.
“Pergi sekarang yuk aunty," ajak Bill.
“Buru buru banget mau ninggalin Mommynya," Rajuk Ziyara pada anaknya.
“Tadi dibisikin sama aunty mau di beliin mainan baru mom."
Ziyara melirik Millea dan dibalas cengiran tak berdosa oleh adik iparnya itu.
“Inget ya Mill, jangan terlalu di manjain," peringat Ziyara.
“Kalau mau beliin tuh yang mahal-mahal ya dek," ucap Evan yang berjalan ke arah Ziyara.
Millea memutar bola matanya malas dan segera menyalami tangan abangnya.
“Aku langsung pergi ya kak, males sama Abang ... yuk Bill."
Bill langsung menyalami dan memeluk ayah dan ibunya.
“Jangan nakal ya sayang," ucap Ziyara.
“Iya Mommy," balas Bill.
“Besok Daddy jemput ya," ucap Evan.
“Oke Dad."
Setelah berpamitan, Millea dan Bill langsung pergi ke rumah Omanya.
Belum sempat Ziyara menutup pintu rumah mereka, Evan langsung menggendongnya dan membawanya ke sofa.
“Mas," pekik Ziyara.
“Sssstt."
“Turunin ih, pintunya belum di tutup."
“Diem sayang," ucap Evan.
Sampainya di sofa Evan mendudukkan dirinya di sofa dengan Ziyara dipangkuannya, ia usap pipi istrinya dengan lembut.
“Kenapa makin cantik sih sayang."
“Gombal," ucap Ziyara.
Evan hanya tersenyum manis mendengar ucapan istrinya, ia dekatkan bibir tebalnya ke bibir Ziyara. Ia cibir dengan lembut bibir itu, lama kelamaan hisapan lembut itu menjadi kasar dan brutal. Evan memasukkan lidahnya agar membelit lidah Ziyara, ia hisap dengan gemas lidah istrinya.
Tangannya mulai meraba paha Ziyara, ia buka paha itu agar sedikit melebar, tangannya merayap lagi menuju rahim istrinya yang sudah berapa hari ini tak ia jamah. Ia usap lalu ia garuk-garuk rahim istrinya dari luar celana dalamnya.
“Mas kangen sama ini sayang," ucap Evan sambil menguyel rahim istrinya.
“Akhhh."
Evan memasukan tangannya ke dalam celana dalam Ziyara dan mengelus rahim Ziyara dengan jarinya.
“Sssshh ... Mmhhhh."
“Cepet banget basahnya sayang."
“Uuunghhh."
Ziyara membuka dasternya sendiri, sekarang hanya tinggal bra dan celana dalamnya saja.