Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah Lagi?
Willie yang dari tadi hanya menunduk, spontan menoleh menatap ibunya.
"Menikah lagi?" tanyanya seolah tak percaya itu keluar dari mulut ibunya.
Ayahnya ikut menyela, "Iya nak, apa salahnya?. Lagi pula kau ini laki-laki dewasa, butuh orang untuk mengurusmu dan anakmu."
Brak!!
Willie memukul meja didepannya, hingga cangkir-cangkir di meja itu bergetar.
"Apa maksud kalian, menikah lagi?."
Ia menatap mereka dengan sorot mata tajam.
"Baru 3 bulan kepergian Vira, kalian ingin aku mencari penggantinya. Segitunya tidak suka kalian padanya?" tanyanya dengan nada bergetar.
Kedua orangtuanya menunduk. Beberapa saat kemudian, sang Ayah membuka suara lagi, "Bukan untuk menggantikannya, ia tetap ada di hati kita. Tapi ini untuk Alia, Dan kami pikir Bu Tisha bisa menjadi ibu untuk mengobati kesedihannya."
Willie terperangah, "Bu Tisha?"
Willie mengusap mukanya setengah frustasi.
"Dia masih muda, kuliahnya juga belum selesai. Bagaimana Ayah bisa berkata begitu. Aku tak ingin menghancurkan hidup orang lain semata hanya untuk kebahagiaan anakku."
Ibunya mengenggam tangan putranya. "Nak, coba pikirkan lagi. Kami hanya ingin yang terbaik buatmu dan Alia." ucapnya.
***
Setelah mereka pulang, Willie masih kalut dengan pikirannya. Ia tidak butuh seorang istri, Alia juga pasti tidak ingin ada orang yang menggantikan ibunya. Setidaknya begitu pikirnya.
Namun sekilas pikirannya melayang ke sosok Tisha. Ia ingat bagaimana gadis itu sangat baik pada anaknya. Tapi kalau terus menerus mengasuh Tisha, ia bahkan tak punya waktu untuk dirinya sendiri.
Apalagi Alia bukan anaknya sendiri, ia tak ingin hubungan yang berawal dari kasih sayang akan berakhir tidak baik karena rasa yang terlanjur lelah.
Willie menatap foto istrinya yang terpampang besar di kamarnya. Tangannya mengelus lembut wajah sosok di figura itu. "Vira, aku harus apa? Bagaimana bisa aku menggantikanmu dengan orang lain." gumamnya lirih.
Tok..tok..tok.. ia mendengar ketukan dipintunya, pikirannya pun buyar.
"Papa.. Papa.." panggil Alia.
Willie keluar dan ia mendapati anak gadisnya berdiri didepan pintu sambil memegang sebuah bunga kertas.
"Sayang." ucap Willie langsung memeluknya.
"Papa, lihat aku tadi buat ini dengan Bu Tisha." kata Alia riang.
Willie mengambil bunga hias itu dan mengamati. "Bagus banget, Anak papa pintar sekali." pujinya.
Matanya menoleh ke arah Tisha yang sedang berbincang dengan Bi Ratih. Tak sengaja, mata mereka bertemu.
Tisha menunduk menyapa, "Maaf Pak Willie, tadi Bi Ratih memberi kabar bahwa bapak sudah pulang. Jadi saya mengantarkan Alia, mungkin anda butuh ruang untuk menghabiskan waktu berdua."
Willie mengangguk, "Oh, iya. Terimakasih Bu Tisha."
Tisha kemudian mau pamit. Alia berlari menghampirinya. "Nanti jemput aku lagi ya Bu." seru Alia.
Tisha tersenyum dan mereka membuat tos kode yang hanya mereka yang tahu. Willie masih memandang Tisha. Hatinya terasa tak karuan.
"Apa benar pilihan terbaik itu menikahinya?" batinnya.
***
Keesokannya, Willie dan Alia sarapan bersama di ruang makan yang kini terasa terlalu luas. Di seberang meja, Alia tampak lesu memandangi kursi yang dulu selalu ditempati ibunya. Kursi itu tetap rapi, seolah menunggu seseorang yang takkan kembali.
Willie melirik putrinya. “Sayang, ayo makan dulu,” ucapnya lembut.
Alia mengangkat wajahnya perlahan. “Pa, Alia ingin masuk sekolah. Alia ingin main dengan teman-teman, tapi Alia takut.” Suaranya kecil, seperti bisikan yang menahan tangis.
Willie tersenyum, lalu mengusap lembut rambut anaknya. “Baiklah. Siap-siap, kita akan ke sekolah. Papa akan tunggu di sekolah sampai Alia pulang.”
Alia menatap papanya dengan mata berbinar untuk pertama kalinya pagi itu. “Benarkah, Pa?”
Willie mengangguk. “Iya. Tapi sekarang makan yang banyak dulu, ya. Setelah ini kita siap-siap.”
Beberapa saat kemudian, di perjalanan menuju sekolah, mobil mereka meluncur pelan melewati jalanan yang mulai ramai. Alia menatap kosong ke arah luar jendela mobil.
Willie melirik sekilas dari kemudi, mencoba mencairkan suasana.
“Sayang, kenapa sih Alia suka banget sama Bu Tisha?” tanyanya lembut.
Alia menoleh lalu tersenyum tipis.
“Bu Tisha baik banget. Main dengan Bu Tisha seru, Bu Tisha juga sering peluk Alia. Rasanya seperti Mama.”
Willie terdiam sesaat. Ia menatap jalan di depan dengan rahang yang menegang halus, berusaha menelan perih yang tiba-tiba menyeruak.
“Oh begitu." Willie mengangguk mencoba mengerti. Ia menoleh lagi ke arah Alia dan berdehem pelan.
"Bagaimana kalau Bu Tisha tinggal dirumah kita? maksud papa, Bu Tisha menjadi bagian dari keluarga kita.” tanyanya sedikit ragu.
Alia sontak menoleh ke ayahnya, "Menjadi pengganti mama?" tanyanya penasaran.
Willie mengeleng, "Ia tinggal dirumah kita seperti mama. Tapi tak seorang pun yang bisa menggantikan Mama." ucap Willie pelan dan tegas.
Alia menunduk, tangannya menggenggam boneka terakhir pemberian mamanya. Namun ada sedikit senyum di ujung bibirnya. Lalu ia berkata pelan, "Alia mau."
Willie sedikit kaget dengan reaksi dan jawaban dari Alia. Hatinya merasa aneh antara rasa lega namun juga perih.
Mobil Willie berhenti di depan gerbang sekolah. Alia langsung tersenyum melihat Tisha yang sudah berdiri di halaman, menyambut murid-muridnya satu per satu.
“Bu Tisha!” serunya sambil berlari kecil.
Tisha membungkuk ringan, “Selamat pagi, Sayang. Wah, hari ini rambutnya dikuncir ya, cantik sekali.”
Alia tersipu, lalu berbalik sebentar ke arah ayahnya dan mencium tangannya. “Pa, Alia masuk dulu ya.”
Willie mengangguk, “Iya Sayang.”
Alia masuk ke halaman sekolah, lalu bergabung bersama teman-temannya yang sedang riuh bermain.
Tisha menatap Alia dari kejauhan, lalu berbalik ke arah Willie. “Terima kasih, Pak, sudah mengantar. Saya akan jaga Alia seperti biasa, jangan khawatir.”
Willie mengangguk. “Saya tahu Alia aman di tangan Ibu.”
Ada jeda sunyi di antara mereka. Willie menatap Tisha sesaat lebih lama dari biasanya.
“Ibu Tisha,” ucap Willie pelan. “Boleh saya tanya sesuatu?”
Tisha menoleh, agak bingung tapi tetap sopan. “Tentu, Pak.”
Willie mengembuskan napas, matanya masih tertuju pada halaman tempat Alia berlari-lari kecil.
“Menurut Ibu, kalau seorang anak kehilangan ibunya terlalu cepat, apa dia masih bisa merasa lengkap?”
Tisha terdiam sejenak, pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira.
“Saya pikir, selama ada kasih sayang di sekelilingnya, anak itu tetap bisa tumbuh dengan baik,” jawabnya hati-hati.
Willie mengangguk pelan. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
“Kalau begitu,” katanya lirih, “Bagaimana kalau suatu hari yang memberi kasih itu adalah Bu Tisha?”
Tisha tertegun. Ia menatap Willie, mencoba membaca maksud di balik kata-kata itu. Namun Willie segera mengalihkan pandangannya, menatap kembali ke arah putrinya, seolah ingin menarik kembali ucapannya barusan.
“Ah, maaf, saya cuma basa-basi saja,” katanya cepat, dengan senyum kikuk.
Tisha menunduk, tapi pipinya memanas tanpa ia sadari.