NovelToon NovelToon
INGRID: Crisantemo Blu

INGRID: Crisantemo Blu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: I. D. R. Wardan

INGRID: Crisantemo Blu💙

Di balik nama Constanzo, Ingrid menyimpan luka dan rahasia yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami. Dikhianati, dibenci, dan hampir dilenyapkan, ia datang ke jantung kegelapan-bukan untuk bertahan, tapi untuk menghancurkan. Namun, di dunia yang penuh bayangan, siapa yang benar-benar kawan, dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari bayang-bayang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I. D. R. Wardan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 La Cosa

"Maaf, Ingrid. kepolisian tidak bisa melanjutkan penyelidikan tentang kasus pembunuhan ayahmu." petugas polisi itu menatap Ingrid dengan Iba.

"Maafkan paman, paman sudah berusaha. Tapi, ada campur tangan pihak lain hingga kasus ini harus ditutup," jelasnya dengan suara pelan.

"Apa maksud paman? Pihak lain? Bagaimana bisa?"

Polisi itu melihat ke sekitarnya kemudian mendekatkan diri ke Ingrid. "Kematian ayahmu ada kaitannya dengan orang-orang dunia bawah. Orang mereka telah membayar serta mengancam kepolisian untuk menutup kasus ini."

Jantung Ingrid mencelos. "Apa kaitan ayahku dengan mereka? Kenapa mereka membunuh ayahku?" tanya Ingrid frustasi.

Petugas menggeleng. "Paman tidak tau, tapi yang paman tahu organisasi mafia yang terlibat itu adalah ... "

Ia memberikan secarik kertas pada Ingrid. "Organisasi ini berpusat di kota Noforte."

"La Cosa ... Apa Constanzo bersaudara mempunyai kaitan dengan organisasi itu? Aku harus mencari tau lebih dalam mengenai mereka. Setelah peristiwa penembakan kemarin itu semakin menguatkan kecurigaanku pada mereka."

"Apa aku harus mendekati salah satu dari mereka? Yang paling mudah didekati sekarang sepertinya adalah Frenzzio. Tapi ... " Ia sebenarnya tidak Ingin melakukannya ini. Tapi jika tidak begitu harus bagaimana lagi? Ia sudah mencoba mencari tentang keluarga Constanzo maupun La Cosa namun ia tidak menemukan apapun. Seakan segala berita tentang mereka sengaja di tutup rapat-rapat.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan dari arah balkon terdengar.

Ingrid terperanjat, dia menoleh ke arah jendela, memastikan apakah itu hanya perasaannya saja? Namun, ketukan itu terdengar lagi.

Ingrid memindahkan dirinya dari ranjang ke kursi roda. Lalu, menggerakkan kursi rodanya ke arah balkon. Ia membuka gorden pelan, dan melihat siapa yang berdiri di luar.

"Apa-apaan dia?!"

Frenzzio Constanzo berdiri di luar, tersenyum santai, sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Ia menunjuk ke arah gagang pintu balkon yang terkunci. Ingrid yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya seolah berkata, 'yang benar saja. Aku tidak sebodoh itu membiarkan laki-laki sepertimu masuk ke kamarku.'

Ingrid memutar bola matanya jengah. Tanpa ragu, kembali menutup gorden, membiarkan Frenzzio di luar sana dengan segala kegilaannya.

Namun, belum sempat bernafas lega, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

'Buka pintunya, amore. Apa kau akan membiarkan kekasihmu ini kedinginan di luar?'

Ingrid melotot. Kekasih?

"Dia benar-benar sudah tidak waras."

Ketukan kembali terdengar, disusul dengan pesan lain.

'Aku akan berteriak.'

'Silahkan saja.'

"Amore!" teriak Frenzzio dari luar, yang sontak saja mengejutkan Ingrid. Ia tidak berpikir Frenzzio bisa senekad itu.

Ingrid bergegas kembali menuju pintu balkon lalu membukanya, sebelum laki-laki ini benar-benar membangunkan seluruh rumah.

"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?" Ingrid mendesis.

Tanpa mengindahkan teguran Ingrid, Frenzzio melangkah masuk begitu saja, setelah itu dengan santainya berbaring di ranjang.

Ingrid melotot tajam. "Keluar dari kamarku sekarang juga! Keluar!"

"Tentu. Tapi, tidak sekarang."

Ingrid menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan untuk menetralkan emosinya. 'Bersabarlah Ingrid kau membutuhkan Informasi darinya,' batinnya.

Dengan suara semanis mungkin Ingrid berkata, "Frenzzio, tolong keluar dari kamarku, sekarang!"

Frenzzio mengubah posisinya menjadi duduk sehingga ia duduk berhadapan dengan Ingrid. "Baiklah, tapi sebelum itu, kau harus membacakanku sebuah buku."

"Apa? Kenapa aku harus menuruti dirimu, ini adalah kamarku. Jadi sekarang keluarlah, sebelum ada yang datang," balas Ingrid tidak mau kalah.

"Oh, kalau begitu aku akan keluar dan menyapa semua orang." Frenzzio lekas bangkit dari posisinya tapi lengannya segera ditarik oleh Ingrid hingga ia terduduk kembali.

"Jangan berani-berani melakukan hal itu," Ingrid berbisik tajam.

"Kenapa? Aku hanya—"

"Ingrid, kau butuh sesuatu, sayang?" Suara bibi Nora terdengar dari balik pintu.

Sial!

Sebelum Frenzzio bisa membuka mulut, Ingrid buru-buru menutupnya dengan tangannya.

"Tidak, bibi."

"Baiklah kalau begitu, tidurlah, ini sudah larut malam."

Begitu langkahnya terdengar menjauh, Ingrid menghela nafas lega.

"Tidak bisakah kau diam?" Desisnya. "Baiklah, baiklah. Tapi hanya sebentar, setelah itu kau harus pergi."

Frenzzio tersenyum senang. "Tentu saja, Amore."

"Dan berhenti memanggilku seperti itu." Frenzzio tak menggubrisnya kali ini.

Ingrid menggerakkan kursi rodanya menuju rak yang berisi buku-bukunya. "Buku seperti apa yang kau inginkan?"

"Apapun."

Ingrid mendengus. Ia mengambil salah satu buku kemudian kembali mendekat ke Frenzzio. Tanpa basa-basi, Ingrid segera membacakan isi buku tersebut, sementara Frenzzio dengan tenang mendengarkan semua kata demi kata yang keluar dari bibir pucat Ingrid.

"... Si cantik dan si buruk rupa yang telah sembuh dari kutukannya pun hidup bahagia selamanya, selesai."

Ingrid mengakhiri cerita nya dengan mata yang berkaca-kaca disertai senyuman.

"Hei, ada apa?"

"Tidak ada. Aku hanya teringat masa lalu." Ingrid tersenyum canggung. "Ini buku favoritku. Dulu saat aku kecil, setiap kali malam saat hujan turun, ayahku selalu membacakan buku ini untukku." Ingrid terkekeh canggung. "Maaf, aku memang cengeng." Ingrid menyeka air matanya.

Frenzzio bangkit dari ranjang kemudian berlutut di hadapan Ingrid. Dia membungkus tangan Ingrid dengan tangannya. "Aku akan selalu bersamamu, kau memiliki aku. Aku adalah milikmu."

Ingrid melepaskan tangannya dari genggaman frenzzio. "Sudah cukup, sekarang kau harus pergi."

"Aku bahkan bersedia menjadi si buruk rupa untukmu."

"Tapi kau tidak buruk rupa," lirih Ingrid yang masih dapat didengar oleh Frenzzio.

"Jadi menurutmu aku tampan?" Frenzzio tersenyum menggoda.

Semburat merah mewarnai pipi Ingrid. "keluar!"

Frenzzio sangat suka menggoda gadis itu. Dia selalu tak bisa mengendalikan sudut bibirnya agar tak terangkat naik. "Baiklah, selamat malam, amore." setelah berkata seperti itu Frenzzio mencium pipi kanan Ingrid, sontak membuat perempuan itu mematung. Sementara, sang pelaku dengan santai berjalan keluar dari kamar Ingrid tanpa merasa bersalah.

Dasar menyebalkan.

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

Seorang pria duduk seraya membaca sebuah berkas dengan mata yang menyipit tajam, sebelah tangannya mengetuk-ngetuk meja secara berirama.

"Ini sudah lengkap?" tanyanya pada pria lainnya yang berdiri di depannya.

"Sudah, Tuan. Itu adalah semua yang telah kami dapatkan, semuanya berasal dari sumber yang akurat."

Pria itu tertawa sinis. "Jadi ... Selama ini mereka telah menipuku. Mereka berhasil menyembunyikannya dariku, ya? Lumayan juga." Ia meletakkan berkas itu dengan tatapan dingin. "Tapi mereka lupa, sepandai-pandainya menyembunyikan mayat, pada akhirnya baunya akan tercium."

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

Pagi harinya, semua anggota keluarga duduk bersama untuk sarapan.

"Navarro dua kali memecahkan layar televisi karena bermain tenis di dalam rumah, " ungkap Bibi Nora.

"Benarkah?"

"Ya, dia sangat nakal. Paman hampir saja memasukkannya ke sekolah asrama."

Ingrid terkekeh mendengarkan cerita masa kecil Navarro, di sela-sela menyantap sarapannya. Kenakalan Navarro benar-benar menghiburnya.

Seorang asisten rumah tangga menghampiri mereka. "Nyonya."

"Ada apa?"

"Ada telfon, dia bilang ingin bicara dengan Nyonya."

"Baik, terimakasih." Asisten rumah tangga itu mengangguk kemudian undur diri.

Nora beranjak sebentar untuk menerima telpon. Beberapa saat kemudian, Nora kembali, tetapi dengan raut wajah berbeda. Raut wajahnya begitu tegang dan tertekan, seperti baru saja dikejutkan oleh sesuatu.

"Ada apa, sayang? Telepon dari siapa? Kenapa raut wajahmu seperti itu?"

"Telepon dari ... Adikku." Nora menatap Ingrid cemas. "Dia bilang, dia akan berkunjung untuk makan malam di sini. Dan... Dia ingin mengambil miliknya yang ada bersama kita."

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

1
minato
Terhibur banget!
I. D. R. Wardan: makasih udah mampir, semoga gak bosan ya🥹💙
total 1 replies
Yuno
Keren banget thor, aku jadi ngerasa jadi bagian dari ceritanya.
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹
total 1 replies
Yoh Asakura
Menggugah perasaan
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹 author jadi makin semangat nulisnya 💙
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!